“Konsentrasi, Dong, Nak…”

 Kids-Gadgets*Gambar dari sini

Seperti disebut tadi, dua tahun pertama usia anak adalah waktu yang penting untuk perkembangan otak. Televisi dan media elektronik lainnya bisa menghambat proses eksplorasi, bermain, dan interaksi dengan orangtua di saat anak seharusnya didorong untuk mempelajari hal-hal baru dan mencapai perkembangan fisik serta sosial yang baik. Seiring dengan anak bertambah besar, screen time yang terlalu banyak bisa mengganggu aktivitasnya yang lain, seperti untuk menjadi aktif secara fisik, membaca, mengerjakan PR, bermain, dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Tapi tentu saja, televisi dalam dosis yang tepat dapat memberikan efek positif. Beberapa acara televisi dapat mengedukasi, memberi informasi, dan juga menginspirasi. Televisi bisa lebih efektif mengajarkan anak tentang proses dibandingkan buku, misalnya menunjukkan  bagaimana tanaman bertumbuh atau cara membuat kue.

Beberapa studi juga menunjukkan bahwa anak-anak yang menonton acara bersifat edukasi dan tidak mengandung kekerasan dapat mengerjakan tes membaca dan matematika dengan lebih baik dibandingkan yang tidak. Mereka juga cenderung menonton acara-acara bersifat serupa ketika dewasa kelak. Sementara anak-anak usia pra-sekolah yang menyaksikan tayangan edukasi cenderung mendapatkan nilai yang lebih baik, kurang agresif, dan lebih mementingkan pendidikan (Anderson, et. al, 2001).

Tapi, terlalu banyak menonton televisi juga bisa merugikan. Anak-anak yang secara konsisten menonton televisi lebih dari 4 jam sehari lebih mungkin menjadi overweight. Anak-anak yang menyaksikan kekerasan lebih besar kemungkinannya menunjukkan perilaku agresif tapi juga berpikir bahwa dunia adalah tempat yang menakutkan dan akan terjadi hal-hal buruk pada mereka. Televisi juga kadang menampilkan karakter dengan perilaku yang berisiko, seperti merokok, minum-minum, dan juga dapat menguatkan stereotype ras serta peran gender tertentu.

Lalu, bagaimana caranya agar interaksi anak dengan televisi dan media elektronik lain menjadi lebih banyak positif daripada negatif?

  • Batasi waktu menonton televisi dan memakai gadget. Dari sini kita juga bisa mengajarkan anak tentang cara membuat dan mematuhi kesepakatan, lho.
  • Tempatkan televisi, gadget, dan komputer di ruangan yang berisi banyak hiburan non-screen seperti buku, majalah, mainan, puzzle, board games, dll, untuk mendorong anak-anak melakukan hal selain menonton televisi.
  • Jauhkan televisi dan koneksi internet dari kamar tidur.
  • Matikan televisi dan gadget saat sedang makan, family time, atau mengerjakan PR.
  • Jadikan menonton televsi dan memakai gadget sebagai privilege yang perlu diraih – bukannya hak. Tetapkan aturan terkait menonton televisi dan memakai gadget, seperti misalnya boleh menonton televisi sesudah mengerjakan tugas-tugas sekolah dan rumah tangga.
  • Cobalah untuk melarang pemakaian televisi dan gadget pada hari sekolah.
  • Tonton televisi bersama-sama anak sehingga kita dapat mengajak anak berdiskusi mengenai apa yang ditontonnya. Ini dapat menjadi kesempatan bagi orangtua untuk membicarakan nilai-nilai yang dianut dalam keluarga, juga menjelaskan topik  yang sulit atau membingungkan seperti cinta, seks, alcohol, merokok, dan lain-lain.
  • Last but not least, berikan contoh yang baik dengan membatasi screen time terhadap diri sendiri.

 

Bagaimana, Mommies, tidak susah, bukan?


5 Comments - Write a Comment

  1. Vanshe: Pas banget artikelnya, kebetulan anakku juga punya permasalahan yang hampir sama dengan Bumy. Kira2 kalau udah “terlanjur” antisipasi ke depannya gimana ya? Apa mengurangi gadget dan lebih banyak stimulasi uda cukup bantu menambah konsentrasi? atau ada masukan lain dari gurunya?

    1. Hai Shinta, setelah tahu hasil observasi itu, jatah screen time Bumy aku cut. No more gadget, at least not until he’s 6 yo. Sementara TV aku cut jadi 30 menit per minggu. Drastis bangetttt, memang… Konsekuensinya ya Bumy jadi “sakaw” TV dan gadget xD Suka tau-tau merengek bilang kangen main game, kangen nonton tokoh favoritnya di Disney Channel, as expected lah yaa. Tapi mungkin karena usianya udah cukup gede, dia ngerti sih, saat aku jelasin kalau kebanyakan TV dan gadget nanti bisa bikin nggak pinter… yah kadang pakai trik nge’dongeng’ juga biar dia lebih termotivasi.

      Saran dari Wakepsek-nya senada banget dengan tips yang aku tulis di artikel, kayak:
      1. Sediakan corner khusus buat Bumy main dan beraktivitas yang nggak melibatkan gadget dan TV. Jadinya aku limpahi aja dia dengan mainan yang fisikal, peralatan arts & crafts, buku, dll.
      2. Ajak dia engage dalam aktivitas sehari-hari. Ini sebenernya mudah aku terapin karena nggak hire PRT di rumah, hehe… Jadi ya kalo aku cuci piring, dia bantuin ngebilas (yang enteng dan aman-aman aja). Aku nyikat kamar mandi, dia bantu nyiram. Nyuci mobil sama papanya, gitu-gitu deh.

      Sementara soal tv, dari yang tadinya bisa nonton tiap sore atau malam selama 3 jam, sekarang cuma dapet jatah seminggu sekali, selama 30 menit, dengan supervisi xD Aku juga nggak ngasih nonton tv sebagai reward, ya sesuai jadwal aja tiap minggu dia dapet jatah nonton tv 30 menit.

      setelah 3 minggu, akhirnya Bumy bisa move on dari An*ry B*rds dan bilang udah nggak suka lagi, nggak mikirin lagi :))) Kalo kebetulan lagi di tempat yang nyetel TV (kayak di rumah Oma Opanya), Bumy juga jadi kurang tertarik melongo di depan TV. Dia kayak bisa nge-distract dirinya sendiri dengan latihan piano, main mobil-mobilan, atau minta kertas dan pensil buat ngegambar. Fiuuh Alhamdulillah :D

Post Comment