“Konsentrasi, Dong, Nak…”

Menurut Janet Lansbury, penulis buku “Elevating Child Care,” orangtua sebaiknya:

1) Meminimalisir hiburan dan stimulasi.

Saat anak masih bayi, mereka membutuhkan waktu untuk mencerna berbagai pengalaman yang dihadirkan oleh lingkungan di sekelilingnya. Mulai dari gerakan tubuh, penglihatan, suara, aroma, dan lain-lain. Stimulasi yang terus-menerus dapat menjadikan anak overstimulated dan mudah bosan. Padahal secara alamiah, bayi tidak mengenal rasa bosan. Mereka belajar dari kebiasaan, dan dapat menjadi terbiasa untuk mengharapkan hiburan atau stimulasi dibandingkan meresapi hal-hal di sekitarnya.

kids_tv*Gambar dari sini

2) Meniadakan televisi atau media elektronik lainnya selama dua tahun pertama usia anak.

Televisi dan media elektronik  adalah dua hal yang paling drastis merusak rentang perhatian anak, karena dua hal ini menguasai perhatian anak, bukannya secara aktif melatih otot-otot yang berperan dalam fokus anak.

3) Tempat yang aman dan nyaman di mana anak bisa bereksplorasi.

Sediakan tempat yang aman dan nyaman untuk ditempati anak selama beberapa waktu tertentu; semacam corner khusus, begitu. Sediakan fasilitas yang mudah dijangkau anak, lengkapi dengan buku, art & craft tools dan biarkan ia keleluasaan untuk berkreasi serta bereksplorasi tanpa gangguan atau interupsi/larangan dari orangtua.

4) Sediakan mainan dan benda-benda yang simple, aman, dan dapat dieksplorasi anak.

Misalnya sapu tangan dapat dijadikan bahan eksperimen untuk dilambaikan, dibuat lap, menutupi bagian tubuh, dilipat,dan lain sebagainya. Bayi bisa mudah lelah atau overstimulated akibat benda-benda yang tidak dapat mereka pahami (seperti rattles atau mainan yang mengeluarkan suara-suara) atau mainan yang tidak menjadikan mereka aktif, seperti ditonton, didengar, atau punya fungsi tunggal (musical mobiles atau wind-up toys). Benda-benda ini merebut perhatian anak alih-alih menguatkan kemampuannya untuk secara aktif fokus dan menginvestigasti, mirip seperti televisi dan media elektronik. Kita juga dapat melibatkan anak dalam aktivitas sehari-hari maupun pekerjaan rumah tangga; ajak ia menyiapkan barang-barangnya sendiri, menyiram tanaman, mencuci piring, dan hal-hal lain yang memupuk kemandiriannya.

5) Observasi anak dan jangan menginterupsi.

Memerhatikan anak memilih aktivitasnya sendiri bisa membuat kita menyadari bahwa mereka bukannya tidak bisa melakukan apa-apa, tapi SEDANG melakukan sesuatu. Entah itu hanya bengong menatap ke luar jendela, ke langit-langit, atau mencoba menangkap debu. Setiap kali kita menginterupsi anak dari hal-hal yang menarik perhatiannya, kita mematahkan semangatnya dalam berkonsentrasi.

6) Biarkan anak memilih.

Faktanya, anak-anak lebih tertarik pada hal-hal yang mereka pilih dibandingkan yang kita pilihkan untuk mereka. Dengan demikian, hal yang sama dapat kita berlakukan dengan membiarkan mereka memilih aktivitas bermainannya.Anak-anak yang diberikan kesempatan untuk fokus pada satu aktivitas yang mereka pilih dalam waktu yang lama, bisa memerhatikan dengan lebih baik pada masa dewasa.

7) Jangan mengalihkan perhatian anak.

Misalnya saat mengganti popok anak, orangtua kerap memberikan anak mainan untuk mengalihkan perhatiannya. Masalahnya, hal ini mengajarkan anak untuk TIDAK memerhatikan. Padahal anak-anak secara alamiah tertarik pada seluruh aspek kehidupannya, mereka ingin diajak berpartisipasi dan dilibatkan.

Nah, ternyata kemampuan berkonsentrasi memang salah satu faktor penting penentu perkembangan dan juga keberhasilan anak. Lalu, bagaimana dengan pengaruh menonton televisi dan pemakaian gadget terhadap konsentrasi anak? Jawabannya, ada di halaman selanjutnya.


5 Comments - Write a Comment

  1. Vanshe: Pas banget artikelnya, kebetulan anakku juga punya permasalahan yang hampir sama dengan Bumy. Kira2 kalau udah “terlanjur” antisipasi ke depannya gimana ya? Apa mengurangi gadget dan lebih banyak stimulasi uda cukup bantu menambah konsentrasi? atau ada masukan lain dari gurunya?

    1. Hai Shinta, setelah tahu hasil observasi itu, jatah screen time Bumy aku cut. No more gadget, at least not until he’s 6 yo. Sementara TV aku cut jadi 30 menit per minggu. Drastis bangetttt, memang… Konsekuensinya ya Bumy jadi “sakaw” TV dan gadget xD Suka tau-tau merengek bilang kangen main game, kangen nonton tokoh favoritnya di Disney Channel, as expected lah yaa. Tapi mungkin karena usianya udah cukup gede, dia ngerti sih, saat aku jelasin kalau kebanyakan TV dan gadget nanti bisa bikin nggak pinter… yah kadang pakai trik nge’dongeng’ juga biar dia lebih termotivasi.

      Saran dari Wakepsek-nya senada banget dengan tips yang aku tulis di artikel, kayak:
      1. Sediakan corner khusus buat Bumy main dan beraktivitas yang nggak melibatkan gadget dan TV. Jadinya aku limpahi aja dia dengan mainan yang fisikal, peralatan arts & crafts, buku, dll.
      2. Ajak dia engage dalam aktivitas sehari-hari. Ini sebenernya mudah aku terapin karena nggak hire PRT di rumah, hehe… Jadi ya kalo aku cuci piring, dia bantuin ngebilas (yang enteng dan aman-aman aja). Aku nyikat kamar mandi, dia bantu nyiram. Nyuci mobil sama papanya, gitu-gitu deh.

      Sementara soal tv, dari yang tadinya bisa nonton tiap sore atau malam selama 3 jam, sekarang cuma dapet jatah seminggu sekali, selama 30 menit, dengan supervisi xD Aku juga nggak ngasih nonton tv sebagai reward, ya sesuai jadwal aja tiap minggu dia dapet jatah nonton tv 30 menit.

      setelah 3 minggu, akhirnya Bumy bisa move on dari An*ry B*rds dan bilang udah nggak suka lagi, nggak mikirin lagi :))) Kalo kebetulan lagi di tempat yang nyetel TV (kayak di rumah Oma Opanya), Bumy juga jadi kurang tertarik melongo di depan TV. Dia kayak bisa nge-distract dirinya sendiri dengan latihan piano, main mobil-mobilan, atau minta kertas dan pensil buat ngegambar. Fiuuh Alhamdulillah :D

Post Comment