Asyiknya Bertetangga

Sebagai orang yang tumbuh di lingkungan yang individualis, kepindahan saya ke rumah baru setelah menikah merupakan hal yang awalnya cukup mengganggu. Bayangkan saja, yang biasanya berpapasan dengan tetangga cuek saja (karena tidak kenal), sekarang harus berbasa-basi. Minimal senyum deh.. kebetulan lingkungan tetangga yang baru ini sangat berbeda. Orang-orang saling menyapa satu sama lain, bahkan saling bersahut-sahutan.

Bukannya antisosial, namun ada perasaan tidak pede ketika melewati segerombolan ibu-ibu yang tengah asyik mengobrol, yang belum benar-benar saya kenal. Akhirnya, pulang kerja pun saya hanya sekadar bilang “Mari Bu”, lalu buru-buru masuk dan mengunci pagar. Pernah sih, saya diajak untuk rujakan bareng sambil ngobrol, tapi saya keburu takut mati gaya. Akhirnya saya tolak deh, hehe…

Belum lagi masalah anak-anak yang banyaknya minta ampun. Waktu itu saya sedang hamil. Tau sendiri kan, kalau hamil itu bawaannya sensitif sama yang serba berlebihan. Lebih bau, lebih wangi, dan…lebih berisik. Menjelang tahun baru, bunyi terompet siang malam di depan rumah cukup membuat emosi. Mau diingatkan kok tidak enak, orang anaknya tetangga saya. Apalagi saya orang baru, salah-salah malah dapet musuh..!

neighbour*Gambar dari sini

Namun, semua itu berubah sejak saya melahirkan dan memutuskan untuk berhenti kerja.
Sempat saya ragu, apakah saya bisa survive di lingkungan baru yang sangat berbeda, hanya berdua dengan suami merawat bayi kami?

Kenyataannya ternyata jauh di luar bayangan saya. Lingkungan yang selama ini saya klaim tidak cocok untuk saya, malah kemudian menjadi sesuatu yang sangat saya syukuri keberadaannya.

Setiap pagi, saya harus keluar rumah untuk menjemur Aksa, anak saya. Interaksi dengan tetangga pun tidak dapat dihindari. Ternyata, mereka sangat ramah dan welcome. Kami pun jadi kerap mengobrol. Bahkan, beberapa dari mereka menawarkan diri untuk menjaga Aksa jika suatu saat saya ada keperluan yang harus diselesaikan. So sweet, eh?

Begitu sore harinya, beberapa kali saya bergabung dengan sejumlah ibu yang sedang mengobrol –aktivitas yang selama ini saya kurang nyaman melakukannya. Tentu saja tidak untuk bergosip yaa..(tapi mendengarkan gosip iya, hehe). Dari mereka, saya mendapat banyak informasi, mulai dari bidan yang bagus di dekat rumah, biaya sekolah, sampai jenis obat dedaunan yang bisa dipetik di komplek kami.

Saya pun jadi punya beberapa teman baru, sebut saja tukang jamu, mas-mas penjual roti keliling, anak-anak tetangga, termasuk ART mereka, haha… Semua perubahan ini hanya gara-gara satu hal, mempunyai anak.

Kini, ketika Aksa sudah setahun lebih, sudah bisa berjalan dan bersosialisasi, lingkungan yang didominasi oleh anak-anak ini menjadi suatu berkah untuk Aksa. Tentu saja, ia jadi bisa melihat anak-anak seusianya dan yang lebih besar bermain. Walaupun belum bisa bicara, saya tahu ia sangat menikmati suasana riuh ketika melihat anak-anak yang sedang bermain. Lebih senang lagi, ketika ada kucing, burung, kupu, atau ayam yang seliweran didepannya. Indah sekali dunia ini..

Bagi saya sendiri, lingkungan yang “ramai” seperti ini cukup menenangkan hati jika sedang berdua saja dengan anak ketika suami tugas ke luar kota selama beberapa hari. Serambi warung di sebelah rumah merupakan meeting point bagi kalangan ibu, anak-anak, maupun remaja. Sampai jam 10 malam pun kadang masih ramai. Kalau lapar dan tidak bisa keluar, berbagai macam makanan dijajakan keliling dari pagi sampai malam. Tinggal sebut saja deh… Kalau mati lampu malam hari, biasanya anak-anak ramai-ramai keluar rumah, jadi enggak sepi..

Saya pun berandai-andai, jika Aksa tumbuh di lingkungan yang individual, tentu akan sangat banyak hal yang ia lewatkan. Meskipun, pada beberapa situasi, kita tidak bisa memilih lingkungan tempat tinggal kita.

Hal ini bukan berarti saya menganggap lingkungan seperti ini yang terbaik untuk anak, sementara lingkungan yang lain kurang baik. Namun, lebih kepada bagaimana kita sebagai orangtua melihat sisi positif dari setiap keadaan. Yang semula kurang menyenangkan bagi kita, bisa saja pada akhirnya menjadi suatu hal yang kita syukuri. Atau sebaliknya. Setuju?


One Comment - Write a Comment

  1. hai mbaa…samaan dg saya deh.tinggal di lingk yg cukup ramai. dulu waktu blm jd IRT saya jg mikir bakalan mati gaya kalo join kumpulan emak2 itu..dan bahkan mikirnya “nggak banget deh join gitu2an” krn identik dg gossip yg ga produktif

    tp ternyata saya salah. di forum informal kayak gitu kita bisa dpt sharing hal2 bguna atau kita yg share hal2 bguna. buat saya yg pendatang, jauh dr ortu+kelurga besar plus misua srg tugas luar kota, bertetangga sgt pentiing. krn kalau ada apa2 dan saya cm sama anak di rumah, siapa yg bisa kasih pertolongan pertama? ya tetangga kan…

    semua mmg plus minus yaa…jd tgantung gmn kita mhadapinya.

Post Comment