“Jalan Kaki Saja Yuk, Nak!”

Waktu Langit TK, Setiap hari saya mengantar Langit ke sekolah berjalan kaki sekitar 1km. Baik saat cuaca panas atau hujan. Tapi kalau hujan superderas, terpaksa ngeluarin mobil dari garasi, sih.

Tetangga pernah ada yang bertanya, kok nggak diantar pakai mobil atau motor saja, apa nggak kasihan harus jalan kaki begitu?

Demi jawaban singkat, biasanya saya jawab, lebih praktis sekalian saya berangkat ke kantor, kan saya nggak bawa mobil ke kantornya.

Di balik jawaban itu, sebenarnya ada misi lain. Saya tidak mau anak saya hidup dalam dunia yang serba nyaman. Lho?

Persis seperti yang Kirana ceritakan saat mengajak Si Sulung makan di warung. Mampukah saya setiap pagi mengantar ke sekolah pakai kendaraan pribadi? Saat ini mampu. Tapi 5 tahun lagi? 10 tahun lagi? Saya salah satu orang yang amat sangat percaya bahwa roda kehidupan ini berputar. Saat ini kita mungkin berada di atas dengan segala kenyamanan, bukan nggak mungkin roda berputar lalu mengubah posisi kita ada di bawah.

Pesimis? Nggak ah. Saya banyaaaaak menyaksikan hal ini di sekeliling saya. Saya kenal banyak orang yang terbiasa hidup senang saat kecil/ saat orangtua masih ada, kemudian kesulitan menyesuaikan diri saat roda kehidupan berputar.

2014-05-10 14.02.08*Naik Commuter Line saat mau pergi ke Kota

Alih-alih hanya fokus mempertahankan diri berada di atas, saya juga membiasakan Langit untuk hidup nggak enak; kepanasan dan berdesakan naik angkutan umum, makan di pinggir jalan, dan lain sebagainya. Kalau lagi bercanda sama Langit, saya suka bilang “Kamu bukan raja yang semua permintaannya harus dituruti”.

Selanjutnya: I’m not sorry you hurt :)


6 Comments - Write a Comment

  1. Lit, gue juga gitu :D

    Dulu mobil ada, sih. Tapi Bokap tetep ngajak naik kendaraan umum tiap akhir pekan setiap mau pergi. Gue juga udah naik angkot sendiri sejak SMP, padahal rasanya pengen deh dianter naik mobil hahahahaha.. Belajar nyupir mobil dikasih yang manual, kata beliau “Dalam hidup ini, yang otomatis gampang, asal yang manual dikuasai. Dalam segala hal.” Mudah-mudahan gue bisa begini juga sama Menik. Karena benar, Lit, hidup itu harus realistis.

  2. Wow… ini keren deh!

    Kebanyakan orang malah suka memaksakan diri supaya bisa mendapatkan kenyamanan terutama jika untuk anak loh!

    Kalau aku pribadi, dari baby anak-anak sudah merasakan naik angkot, commuter line, dll, diajak ke pasar tradisional, makan lesehan dekat rumah, dll. Setuju banget sama kata Lita, roda kehidupan itu berputar dan belum tentu keadaan kita sekarang akan terus berlangsung ke depannya. Kita sebagai orang dewasa mungkin lebih mudah beradaptasi, tapi kalau anak-anak terlanjur serba dimanjakan malah kasihan nanti sulit beradaptasi….

    Tambahan lagi, anak-anak itu energinya melimpah banget loh! Meski capek jalan kaki dan naik turun kendaraan umum, mereka sebenarnya senang loh karena tiap hari bisa menemukan hal berbeda ( ya iya kan tiap hari penumpang angkot dan orang yang ditemui sepanjang perjalanan pasti berbeda)…

    CMIIW…

    1. Iya beneer!
      Aku pernah ngajak Langit naik Trans Jakarta setelah acara MD, tadinya mau lanjut naik kereta baliknya. Tapi kok capek ya, dan akhirnya balik naik taksi. Padahal akunya yang capek, anaknya malah kecewa karena nggak jadi naik kereta :))

  3. Iya ya .. Qt sbg ortu ga boleh terlalu manjain anak, anak2 hrs pny tanggung jawab dr kecil.. Cm klo masalah transportasi agak merisaukan deh, niat hati pgn ngajar anak prihatin.. Tp kondisi nya ko nyeremin ya, mau jln di trotoar skr byk motor naik trotoar.. Qt udah bener, org lain blm bener.. Aduuhh.. Untuk 1 itu masi PR bgt yaa.. Sementara ajarin anak mandiri dibidang lain deh, takut nyesel..

Post Comment