“Maafin Mama Ya, Nak…”

Teddy-saying-sorry

Meminta maaf bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Terkadang kita terlalu gengsi untuk mengakui kesalahan kita dan meminta maaf duluan, baik kepada orangtua, teman, maupun suami. Terutama sama anak. Betul tidak Mommies? Jarang sekali orangtua meminta maaf kepada anaknya karena sering kali orangtua ingin selalu dianggap benar dan sempurna oleh anaknya.

Nah lho… Kalau kita aja sebagai orangtua yang selalu menggembar-gemborkan pentingnya meminta maaf dan selalu memerintahkan anak untuk meminta maaf setiap kali mereka melakukan kesalahan tidak pernah mencontohkannya, bagaimana mereka mau meniru dan mempraktikkannya?

Dr. John Gottman, penulis buku Raising an Emotionally Intelligent Child, mengatakan bahwa sangat penting bagi orang dewasa untuk meminta maaf karena sikap tersebut dapat menunjukkan kepada anak bahwa tidak masalah untuk melakukan kesalahan dan mengatakan maaf. Ketika orangtua mengatakan “Tidak seharusnya saya melakukan itu”, anak akan memiliki feeling yang kuat bahwa perasaan mereka diperhatikan oleh orang yang paling penting bagi mereka.

Ketika orangtua meminta maaf, mereka menanamkan nilai dan keyakinan bahwa tidak masalah menjadi manusia biasa yang tidak sempurna. Mereka menunjukkan bahwa menerima tanggungjawab setelah melakukan kesalahan itu lebih penting daripada kesalahan itu sendiri.

Ketika orangtua mengenali kekurangan mereka sendiri, mereka mengajarkan beberapa hal kepada anak mereka. Beberapa hal yang dapat dipelajari oleh anak adalah:

  • Orang dewasa juga dapat melakukan kesalahan.
  • Mengajarkan anak untuk mengakui kesalahan mereka.
  • Mengajarkan anak bagaimana cara meminta maaf yang benar.
  • Mengajarkan anak bahwa orang dewasa tidak dapat berbuat sesuka hati mereka.
  • Mencontohkan anak sikap rendah hati.
  • Mengajarkan anak untuk tidak menutup-nutupi kesalahan mereka.
  • Mengajarkan anak untuk tidak keras kepala ketika mereka melakukan kesalahan.
  • Mengajarkan anak untuk dapat memaafkan.
  • Penerimaan diri termasuk kekurangan diri. Ketika orang tua meminta maaf, mereka menunjukkan bahwa mereka tidak sempurna tetapi juga memiliki kelebihan dalam waktu yang bersamaan dan hal tersebut tidak menjadi masalah.
  • Salah tidak sama dengan lemah. Anak perlu diajarkan bahwa meminta maaf dan menerima kelemahan tidak hanya untuk menutup kesalahan mereka, tetapi juga sebagai tanda keberanian dan kekuatan.
  • Mengajarkan bahwa menghindari diri dari kesalahan dengan berbohong justru semakin memperbesar kesalahan mereka.
  • Kesempatan untuk belajar. Orangtua dapat berkata kepada anaknya “Lihat kesalahan yang telah aku buat, mari kita belajar dari kesalahan tersebut.”
  • Kesalahan tidak dapat dihindari, bahkan beberapa hal tidak dapat dipelajari tanpa melakukan kesalahan terlebih dahulu. Misal, anak tidak dapat belajar bahwa merebut mainan dari anak lain itu tidak boleh sebelum mereka pernah melakukannya dan dimarahi atau dilarang oleh orangtuanya.
  • Ketika orangtua melakukan kesalahan, mereka menunjukkan kepada anak bahwa mereka  merasa percaya diri untuk menghadapi konsekuensi dari perbuatan mereka. Sikap tersebut mengajarkan kepada anak mengenai sikap percaya diri.

Satu hal yang perlu diingat. Jangan meminta maaf kepada anak dengan cara membelikan mereka mainan atau memanjakan mereka, karena sikap tersebut sama saja dengan menyogok anak. Boleh saja menghibur anak dengan hal-hal yang mereka sukai, tetapi pertama-tama orangtua harus meminta maaf terlebih dahulu dan berbaikan serta menyelesaikan masalahnya dengan anak.

“Never too proud to say I am sorry to your child when you’ve made a mistake”


Post Comment