“Branding” Untuk Keluarga, Perlukah?

sahm2

Telah genap satu tahun saya hijrah dari peran sebagai working mom menjadi stay-at-home mom. Ketika teman atau keluarga mendengar ini, komentar mereka kurang-lebih sama, “Wah, nggak terasa, ya udah satu tahun aja?”

Apa iya waktu terasa cepat berlalu selama saya menjalani proses peralihan peran ini? Untuk menjawabnya dengan gamblang: NOPE, the past year didn’t feel like a blink of an eye. Bagi saya, masa-masa adaptasi ini sangat terasa laju perubahannya. Saya meresapi capeknya, rempongnya, bosannya beraktivitas di rumah. Tapi, to be fair, saya juga menyesapi senangnya bisa lebih sering bersama anak, rasa bebas tak perlu terikat aturan 5-to-8 dan berjibaku dengan kemacetan, maupun pembelajaran dari setiap hal baru yang saya alami di rumah.

Dalam masa-masa ini, kadang satu hari terasa panjang, kadang begitu singkat, kadang saya menemukan diri bertanya-tanya, “Would anyone remind me why i chose to do this?”

Galaukah saya? Lihat di halaman selanjutnya!


One Comment - Write a Comment

  1. Ide bagus! Selama ini sih emang udah ngomong tentang skala prioritas dengan suami, walau belum tertulis dan detil. Intinya sih kalau udah punya skala prioritas jadi enak dan tenang, terutama jika berhubungan dengan orang-orang di luar keluarga kita. Kayak di kantor gini nih, kalau aku ambil cuti urusan anak/keluarga, ada bbrp rekan yang komentar sinis “sering banget sih acara keluarga” atau “kenapa enggak pengasuh aja yg ngurus”. Oh well, kita beda skala prioritas, titik.

Post Comment