THR, Oh, THR…

thr

Sudah beberapa hari ini akun Path ataupun Facebook sering dipenuhi foto di atas. Selain bikin senyam senyum, melihat foto tersebut seakan ngajak saya untuk nge-rewind, THR saya tahun ini dihabiskan untuk apa saja, ya? Jujur saja, saya termasuk perempuan yang nggak jago mengelola uang. Makanya, yang  jadi menteri keuangan di rumah bukan saya, tapi suami :D Walaupun begitu, kami sama-sama tau ke mana alur keuangan keluarga.

Balik lagi ke masalah THR, walaupun THR ini rutin saya terima setiap tahunnya tapi tetap saja nggak bikin saya lihai mengelolanya. Supaya kesalahan yang lalu nggak terulang lagi, saya pun akhirnya mencoba untuk mengubah kebiasaan yang sering dilakukan di tahun-tahun sebelumnya. Yang pasti, untuk masalah THR ini saya  memberlakukan untuk membedakan mana yang jadi kebutuhan dan mana yang sifatnya hanya berdasarkan keinginan.

Buat saya dan keluarga, prinsipnya sih, pengeluaran untuk Hari Raya ini sebaiknya nggak boleh berlebihan, terlebih kalau sampai wujud suka cita di Hari Lebaran menimbulkan hutang. Lagipula, di luar sana sebenarnya masih banyak orang atau keluarga yang tidak seberuntung kita mendapatkan THR. Iya, kan?

Dari sini akhirnya saya pun bisa mengetahui hal apa saja yang jadi prioritas dan wajib dikeluarkan dalam saat Lebaran. Berhubung, kebutuhan untuk Lebaran memang nggak sedikit, saya pun akhirnya mengalokasikan 50% dari jumlah THR. Toh, THR ini kan memang diberikan untuk kebutuhan Hari Raya, jadi wajar saya dong kalau pengeluarannya sampai 50%?

Dana ini saya gunakan untuk menyiapkan hidangan lebaran, walaupun di rumah nggak menyelenggarakan open house, tapi bukan berati kita jadi nggak masak menu spesial, dong? Apalagi kalau ingat saya masih tinggal di rumah orangtua, di mana Mama saya adalah anak perempuan ke dua sehingga sering kunjungan tamu melebihi biasanya. Selain itu tentu saja THR akan digunakan untuk memberikan THR juga untuk Mbak di rumah, satpam kompleks, atau orang-orang terdekat yang memang membutuhkan. Dan pastinya digunakan untuk salah satu tradisi keluarga, bagi-bagi angpau untuk keponakan!

Lagipula, bukankah salah satu bentuk perayaan Lebaran adalah bisa berbagi dengan orang-orang? Baik keluarga, sahabat ataupun lingkungan sekitar. Saya yakin hal ini juga dilakukan oleh Mommies yang lainnya dalam wujud bersyukur atas rezeki yang sudah dititipkan ke tangan kita. Setelah kebutuhan di atas dipenuhi, baru deh sisanya saya sisihkan untuk urusan shopping! Toh, sebenarnya urusan beli baju lebaran bukan sebuah tradisi yang harus dilakukan setiap tahunnya.

Sedangkan sisa THR yang 50% lainnya, mau saya gunakan untuk keperluan yang lain. Misalnya, tabungan untuk Hari Raya Idul Adha yang jatuh beberapa bulan setelah Lebaran. Meskipun perayaan Idhul Adha nggak seheboh Lebaran, tapi kalau ada dana kan bisa digunakan untuk membeli hewan kurban.

Selain itu, tentu saja saya mau memaksimalkan uang THR ini untuk biaya liburan keluarga. Kalau memang dananya terbatas, destinasinya tinggal disesuaikan saja. Yang paling penting kan kebersamaan keluarga. Maunya, sih, paling nggak 10% dari jumlah THR juga saya bisa dimanfaatkan untuk menambah investasi.

Kalau Mommies yang lain bagaimana? Kalau punya rumus dalam mengelola THR yang baik, boleh, lho share di sini.

 


One Comment - Write a Comment

  1. Mudik adalah ritual tahunan bagi saya dan keluarga. Kalau belanja persiapan mudik menunggu THR wah itu sudah telat. Harga tiket mahal, pusat perbelanjaan penuh sesak, waktunya juga mepet. Nah kalau ‘taktik’ saya, THR tahun ini justru saya simpan sebagian utk budget lebaran thn depan. Sehingga tiket pesawat bisa beli jauh2 hari. harganya masih murah, bisa setengah atau bahkan seperempat dari harga ‘normal. Belanja baju sebelum ‘musim belanja’. Tempat belanja masih sepi, bisa pilih2 baju dengan tenang dan membandingkan harga dengan toko sebelah hehe. Menghemat dari 2 item saja lumayan loh bisa buat nambah angpao dan nraktir keluarga di kampung. selamat hari raya bun :)

Post Comment