Suamiku, Sang “Menteri” Keuangan

Kalau banyak istri yang dipercaya  jadi menteri keuangan dalam urusan  rumah tangga, saya justru sebaliknya.  Di rumah, justru bapaknya Bumi-lah yang memegang jabatan ini. Alasannya, bukan saya mau melepas tanggung jawab ataupun nggak dipercaya suami. Bukan.  Tapi kalau urusan manajemen keuangan suami saya memang jauh lebih jago mengatur keuangan.

Ya, memang sih, harus saya akui hal ini nggak terlepas karena sifat saya yang cenderung lebih boros ketimbang suami. Ya, namanya juga perempuan, ya. Bawaannya gatel kalau sudah melihat sesuatu dengan embel-embel ‘sale’, *cari pembenaran* :D

Karena  cukup sadar diri akan kekurangan yang satu ini, makanya di awal pernikahan kami sudah punya kesepakatan bahwa suami lah yang jadi menteri keuangan di rumah. Hal ini nggak terlepas karena kami paham benar kalau pemasalahan uang sangat sensitif. Makanya, apa-apa memang harus dibicarakan dari awal. Toh, semua kami lakukan demi mendapatkan kondisi keuangan keluarga yang sehat. Jangan sampai setelah suami menyerahkan seluruh gajinya untuk saya kelola, malah akhirnya jadi defisit. Besar pasak daripada tiang dan justru bikin saya morat marit. Ujung-ujungnya, nanti  saya juga pusing tujuh keliling cari cara untuk menutupi defisit tersebut. Ish, emoh!

*foto dari sini

Lagipula, bukankah tugas suami istri itu saling melengkapi? Ditambah lagi, sebenarnya nggak ada aturan pakem yang mewajibkan kalau istri yang jadi menteri keuangan dalam rumah tangga bukan? Buat kami berdua, sih, yang paling penting bukan siapa yang jadi menteri keuangannya. Tapi, siapa yang paling pintar mengatur keuangan dan sama-sama tau hak dan kewajiban masing-masing.

Meskipun suami yang jadi menteri keuangan, saya tetap mengetahui roda perputaran keuangan rumah tangga juga kok. Misalnya, soal pemasukan dana yang datang setiap bulan, atau pos apa saja yang harus kami keluarkan setiap bulannya.

Supaya nggak terjadi kesalahan kesalahan manajemen kuangan dalam keluarga, pelan-pelan saya dan suami terus membenahi pengelolaannya.  Yang paling penting buat kami adalah sama-sama menyadari kalau dalam mengatur keuangan keluarga harus ada kesepakatan bersama. Dan, yang nggak kalah penting jangan sampai ‘mendewakan’ uang.

Sejauh ini, cara yang kami terapkan sangat sederhana, kok. Saya coba share, ya, siapa tau berguna untuk Mommies yang lainnya :)

Identifikasi  Pendapatan Tambahan

Hal pertama yang kami lakukan adalah mulai mengidentifikasi pendapatan yang masuk setiap bulannya. Soalnya, selain gaji bulanan, kadang kala saya ataupun suami menerima pendapatan tambahan lewat kerjaan sampingan. Kalau saya, salah satunya tentu lewat BumikuBatiku, usaha kecil-kecilan yang sudah setahun belakangan ini saya rintis. Kalau lagi beruntung, sekali dua kali kami juga tawaran untuk jadi ghost writer atau penulis lepas. Tambahan pemasukan seperti ini tentu bisa jadi kasih keuntungan karena ada dana tambahan untuk post renovasi rumah atau investasi. Kalau memang ternyata jumlah lumayan besar, pos untuk hura-hura kan juga bisa bertambah :D

Membuat Daftar Kebutuhan

Setelah itu, kami berdua sama-sama membuat daftar kebutuhan yang kami perlukan setiap bulannya. Mulai dari kebutuhan pokok hingga kebutuhan hiburan. Kebutuhan pokok sudah pasti wajib  dikeluarkan, sedangkan daftar yang terdiri dari kebutuhan hiburan bisa nomor buntut. Maksudnya, kebutuhan seperti nggak jadi prioritas, sehingga baru bisa kami lakukan atau jalankan apabila sisa pendapatan berlebih. Nah, dari daftar yang telah dibuat bersama-sama, kami pun menentukan pos mana yang jadi kewajiban saya ataupun suami penuhi.

Oh, ya, berkaitan dengan pos pengeluaran setiap bulannya, kami masih menggunakan cara tradisional. Di mana, setelah gajian, kami akan langsung mengambil uang dengan jumlah total sesuai daftar yang telah kami buat. Mulai dari akomodasi ke kantor, hinga biaya lainnya yang harus kami bayarkan. Dengan cara tradisional seperti ini justru lebih memudahkan kami untuk melihat berapa banyak sisa gaji dan bisa menjadi bahan pertimbangan untuk memilih menghabiskannya atau justru memasukannya untuk pos tabungan. Selain itu, dengan cara seperti ini kami jadi sama-sama bisa mengetahui kondisi keuangan keluarga.

Cita Cita Finansial

Siapa sih yang nggak mau setiap tahun liburan bersama keluarga? Nggak perlu muluk-muluk dulu. deh, liburan ke Eropa atau negara eksotis lainnya. Buat saya, jalan-jalan dalam kota seperti ke Lombok, Gunung Bromo, Padang, ataupun Bali itu sudah lebih dari cukup. Nah, urusan mimpi-mimpi  seperti ini juga sangat penting dan masuk dalam daftar pengelolaan keuangan rumah tangga. Belum lagi soal keinginan yang jauh lebih penting seperti dana pendidikan untuk Bumi. Harapannya,  sih, Bumi nanti bisa masuk SD yang memiliki standar yang baik. Termasuk soal rencana kami untuk merenovasi rumah. Dengan berbagai tujuan seperti ini, tentu akan memudahkan kami untuk lebih fokus.

Nabung dan Investasi

Terus terang saya ini bukan tipe orang yang bisa nabung. Namun, pola pikir saya mulai berubah ketika saya berencana untuk menikah terlebih setelah punya anak. Kalau ada rezeki nomplok atau uang tambahan dari kerjaan sampingan, biasanya kami akan masukan untuk dana investasi dalam bentuk logam mulia. Reksa Dana? Umh, saya baru benar-benar melek soal jenis investasi ini setelah mengikuti #FDKickStarter beberapa waktu lalu bersama CommonWealth Bank. Dulu, saya pikir investasi Reksa Dana ini butuh dana yang begitu besar, tapi ternyata saya keliru. Dengan uang seratus ribu saja, kita sudah bisa investasi.  Sekarang, setelah menerima gaji, jatah menabung dan investasi ada dalam urutan atas dan harus segera saya sisihkan. Sebisa mungkin, jumlahnya  sesuai cita-cita finansial keluarga.

Hindari Utang

Seperti yang saya tulis dalam artikel ini, salah satu resolusi saya akhir tahun ini adalah menutup kartu kredit yang saya miliki. Tujuannya, saya mau lepas dari utang. Terlebih utang tersebut untuk barang-barang yang sifatnya konsumtif. Untuk itulah saya mau memulainya dengan cara ini. Kalaupun memang ada sesuatu yang bersifat urgent dan membutuhkan kartu kredit, masih ada suami yang memang memilikinya.

Buat kami berdua. yang terpenting dari masalah keuangan rumah tangga adalah selalu bersikap terbuka dan selalu mendiskusikan segala hal yang menyangkut keuangan. Mulai dari pengeluaran, pemasukan, tabungan, dan lainnya. Harapannya, dengan kesepakatan yang telah dibuat bersama-sama kami lebih mudah menjalaninya. Masalah keuangan yang konon sering  jadi sumber masalah dalam keluarga pun bisa dihindari. Aamiin.


7 Comments - Write a Comment

    1. Halooo Mbak Pupun :D

      Salam kenal, ya *salim*
      Suami Mbak Pupun di detik juga? Iya, suamiku di sana, desk sport. Wah, waktu itu ikutan seminar di JDC? Coba ketemuan kita. Lain kali, kl dtg lagi kabar2in, ya, Mbak. Biasanya kl ada seminar Supermoms, aku juga datang, kok.
      Ngomong2 soal berguru, hahahaha, nggak salah, nih? Wong, masih amatiran gini :)))

  1. abis baca…wah jadi mengurangi ketakutan “berumah tangga ” lho mbk… aku yg gak bisa mengatur keuangan dg baik..lg yari2 solusi gmn caraya bs ngatur keuangan..apalagi aku ngrencanain buat menikah mbk.insyallah sece[patya..saat2 ini lg kelabakan buat ngatur keuangan..huhuhu….
    setelah baca2 merasa ada masukan positif mbk… #thanks alot

Post Comment