Motherhood Monday : Belajar Jadi Pengusaha dengan Ligwina Hananto

ligwina

Siapa di antara Mommies yang punya cita-cita jadi pengusaha? Punya usaha sendiri yang bisa menghasilkan pundi-pundi uang? Dan harapan yang nggak kalah penting tentunya supaya jam kerja bisa jauh lebih fleksibel sehingga punya banyak waktu untuk suami dan anak-anak di rumah. Benar nggak?

Ngomongin masalah jadi pengusaha, saya jadi ingat salah satu kalimat teman dekat semasa kuliah yang selalu bilang kalau saat lulus dia nggak akan mau bekerja dengan orang lain. Waktu itu dia mengatakan, “Kalau mau sukses dan kaya itu, ya, nggak mungkin bisa tercapai kalau kita bekerja. Kalau cuma jadi karyawan, sampai lebaran monyet juga kondisinya akan begitu-gitu aja. Nggak bakal berubah”.

Waktu itu saya sih nggak bisa kasih banyak respon, kecuali bilang “Amin”. Berdoa supaya cita-cita teman saya ini bisa terwujud. Apa yang ia katakan memang nggak salah karena menurut pandangan saya, jadi pengusaha itu merupakan impian semua orang. Banyak yang menganggap profesi pengusaha identik dengan kemapanan hidup. Kalau sudah jadi pengusaha yang terbayang di pikiran adalah hidup yang nyaman dan aman. Tapi apa iya selalu begitu?

Setelah sempat bikin usaha kecil-kecilan membangun Bumiku Batiku yang memproduksi fashion item seperti tas dan sepatu, ternyata saya membuktikan sendiri kalau jadi pengusaha itu nggak gampang! Sama seperti saat membangun ikatan rumah tangga, punya usaha juga butuh komitmen yang tinggi. Jadi, menurut saya, sih, faktor keberhasilan untuk membuka usaha itu nggak urusan modal, thok.

Pertanyaannya, lalu apa saja dong yang bisa kita persiapkan?

Nah, biar nggak salah langkah saya pun sempat ngobrol dengan Mbak Ligwina Poerwo Hananto. Seperti yang kita ketahui, perempuan yang akrab disapa dengan Mbak Wina ini memang sudah bisa dikatakan sukses membangun usahanya lewat Quantum Magna Financial.

Setelah resmi jadi istrinya Doni Hananto dan memutuskan ingin memiliki momongan, Mbak Wina memang memutuskan untuk berhenti bekerja. Di tengah-tengah kesibukannya menjalani peran sebagai istri sekaligus ibu dari Muhammad Azra Ishak Hananto, Nadira Aisha Hananto dan Medina Asri, perempuan kelahiran Bandung ini pun memberanikan diri membuka usaha sendiri. Walaupun jadi perencana keuangan bukanlah cita-cita awalnya, tapi toh apa hasil yang ia dapatkan terbilang sukses.

Supaya bisa sukses jadi pengusaha, banyak hal yang bisa pelajari dari Mbak Wina, lho. Nggak percaya? Simak obrolan saya dengannya, yuk.

Hal apa sih yang perlu dipersiapkan seorang perempuan saat ingin berhenti bekerja dan memutuskan untuk membuka usaha sendiri supaya tidak ‘terjun payung tanpa parasut’?

Satu hal yang perlu dihadapi adalah : nggak gajian lagi!!! Nah lho, udah siap belum? Kebiasaan selama ini sebagai ‘orang gajian’ tentu sangat berbeda. Jangan sampai kita terus saja melaksanakan kebiasaan keuangan dan belanja saat masih gajian, begitu sudah pindah haluan memulai bisnis.

Kebanyakan bisnis kecil dimulai dengan kenyataan pahit, bisnisnya masih terlalu kecil sehingga belum bisa memberikan gaji tetap, bahkan belum bisa memberikan bagi hasil.

Lalu solusi keuangannya seperti apa? Mari siapkan DANA DARURAT! Kita perlu secara jelas menyadari bahwa hidup kita berubah dan untuk kita pun siap. Dana Darurat ini adalah uang kas yang serba likuid dan dapat kita pergunakan untuk beberapa bulan ke depan. Idealnya sebuah keluarga dengan 1 anak membutuhkan 9 x biaya hidup, sedangkan untuk 2 anak membutuhkan 12 x biaya hidup. Terlalu ribet? Jangan kuatir. Siapkan saja 1 – 3 x biaya hidup dulu. Paling tidak kalau kita tidak gajian, bisa makan dalam masa transisi 3 bulan ya?

 

Ada nggak, sih, investasi yang tepat untuk mengumpulkan dana sebagai modal awal usaha?

Tidak pernah ada ‘investasi yang tepat’, semua investasi mengandung risiko. Maka yang terpenting adalah menyadari dulu risiko apa yang perlu diambil saat mengumpulkan modal usaha.

Prinsip mengatur risiko ada dua, yaitu mengatur jangka waktu dan mengatur alokasi penempatan. Untuk jangka waktu pendek di bawah 3 tahun, saya cenderung menyarankan masuk produk dengan risiko sangat rendah. Tidak apa-apa menabung biasa dalam Tabungan dan Deposito asal tidur nyenyak! Tetapi jika memang menyadari bahwa menabung saja tidak akan mencapai tujuan, kita juga bisa menggunakan produk lain dengan risiko lebih tinggi seperti Reksadana. Tentu saja pelajari dulu cara kerja dan risikonya.

Jika sudah mengerti cara kerja produk dan siap masuk produk dengan risiko lebih tinggi, , perhatikan juga alokasi penempatan produk. Saya sering bertemu kasus di mana perencana keuangan sudah menjelaskan produk investasi dengan risiko tinggi, alokasi diperhitungkan masuk hanya 10% dari dana yang ada. Lalu klien memutuskan masuk dengan 50% alokasi dana yang ada. Otomatis risiko yang harus dihadapi menjadi sangat berbeda!

Selanjutnya: Peluang bisnis perempuan, nggak semata yang berbau feminin! >>


Post Comment