Seperti Apa Anak Kita 20 Tahun Lagi?

Kemarin, jagad socmed rame dengan ‘drama’ perempuan muda—sebut saja D—yang ngeluh di Path, tentang kekesalannya pada ibu hamil yang minta kursi di kereta. Tidak terhitung jumlah teman maupun saudara (rata-rata sudah menjadi orangtua) ikut menyebarkan screen capture-nya. Tentunya, sebagian besar disertai hujatan, makian, sumpah-serapah, bahkan harapan yang isinya cukup jahat sehingga tidak layak disebut doa.

Pernyataan D yang minus empati tentu bukan hal yang bisa dibanggakan. Tapi rasanya, rame-rame menyebarkan screen capture tanpa mengaburkan identitas D juga bukan hal yang dapat dibenarkan, ya? Apapun alasannya.

D bukan pelaku kejahatan.

Miskin etika, iya. Tapi, bukan pelaku kejahatan.

Menyebarkan supaya D terintimidasi dan malu? Ingat, itu cyberbullying.

Menyebarkan sebagai pengingat diri agar tidak menghasilkan anak serupa D? Halah. Ini bukan ilmu matematika atau fisika yang perlu dicatat rumusnya agar tidak lupa. Tidak perlu mencari-cari pembenaran.

Asli, saya cukup takjub dengan reaksi ibu-ibu kemarin. Apa karena nge-bully sesama ibu-ibu sudah so yesterday, maka saat ada perempuan—yang saya asumsikan belum pernah hamil—menulis pernyataan seperti itu, para ibu langsung bersatu-padu nge-bully?

Ironis sekali, jika selama ini banyak ibu-ibu menentang bullying (dan gemas luar biasa saat anak sendiri jadi korban), tapi kemarin malah ikut-ikutan nge-bully anak orang.

Cocok dengan kalimat bijak yang bunyinya kurang lebih: saat satu jari menunjuk orang lain, sesunggguhnya empat jari lain sedang menunjuk diri sendiri.

Padahal, katanya anak adalah mesin fotokopi orangtua. Katanya, orangtua harus memberi teladan. Saya, sih, tidak melihat adanya teladan baik dari hujatan massal terhadap D, ya. Justru ngasih contoh, bahwa sah-sah saja nge-bully orang lain di internet—bahkan yang tidak dikenal sekalipun. Sah-sah saja nge-judge sesama perempuan, toh, yang di-judge bukan ibu-ibu (karena kalau sesama ibu-ibu, enaknya nge-judge dalam hati saja, ya, biar pertemanan di dunia maya tetap akrab).

Tidak, saya bukan sedang membela D. Saya tidak kenal D, dan tidak tertarik juga mencari tahu siapa dia.

Tapi, langsung menyebar screen capture D sesaat setelah membacanya adalah perbuatan yang tidak kalah konyol dan kekanak-kanakan.

Bagaimana jika ternyata itu akun palsu? (misalnya ada orang iseng mengambil foto D, lalu membuat akun atas namanya). Jika ikut menyebar, bukankah sama dengan fitnah?

Bagaimana jika D miskin etika karena memang tidak memiliki sosok dewasa yang mengajarkannya? (misalnya keberadaan bapaknya tidak jelas, sementara ibunya depresi). Bukankah dibanding menghujat, sebaiknya justru mengasihani?

Bagaimana jika D ternyata sudah menikah tapi tidak kunjung hamil atau bahkan divonis mandul? (sehingga keluhannya pada ibu hamil sebenarnya merupakan caranya membentengi diri untuk mengurangi kekecewaan karena tidak bisa berbadan dua).

Munculnya ‘drama’ D ini membuat saya berpikir, seperti apa anak-anak saya 20 tahun lagi, ya? Bagaimana kelakuan mereka di usia dewasa? Akankah mereka jadi sosok penuh empati, atau justru setali tiga uang dengan D?

Saya tidak ikutan menyebar screen capture D bukan karena tidak peduli, tapi justru takut takabur. Takut karma. Takut kemakan omongan.

Kualat banget, kan, jika saya begitu pede menghujat D dan makhluk sebangsanya, tapi di masa depan ternyata kelakuan anak saya sama ‘bangkek’-nya?

Masih 20 tahun lagi anak-anak saya dewasa.

Selama rentang waktu tersebut, banyak hal yang bisa terjadi. Tentu, saya berusaha mendidik sebaik yang saya bisa. Menyiapkan mereka jadi pribadi tangguh yang memiliki integritas. Tapi tetap saja, tidak ada jaminan bahwa keduanya akan baik-baik dan lurus-lurus saja.

kidsfuture

*gambar dari sini

Bisa saja anak yang sekarang dibanggakan karena jarang tantrum, besarnya malah hobi cari gara-gara.

Bisa saja kakak-adik yang sekarang dibanggakan karena superakur, besarnya malah musuhan karena berebut warisan.

Banyak hal yang bisa terjadi dalam kurun waktu 20 tahun.

Ah, jangankan 20 tahun.

15 tahun lalu, orangtua Syifa dan Hafitd tidak tahu anaknya kelak jadi pembunuh.

10 tahun lalu, Ahmad Dhani tidak tahu anak bungsunya kelak menghilangkan 7 nyawa di jalanan.

My point is… sah-sah saja menghujat kelakuan minus anak orang.

TAPI, nanti saja menghujatnya, sekitar 20 tahun lagi. Tepatnya setelah anak kita yang masih pada piyik ini telah beranjak dewasa. Saat itu baru benar-benar terbukti, apakah didikan kita memang benar menjadikan mereka pribadi positif, atau sebaliknya.

Karma does exist. Jika kemarin banyak ibu-ibu heboh menghujat D, tidak tertutup kemungkinan 20 tahun mendatang tahu-tahu gantian D yang menghujat kelakuan anak-anak mantan penghujatnya :D

 


19 Comments - Write a Comment

  1. Saya juga agak kurang setuju sama isi artikel ini. Kalau kasus D ini dibiarkan saja alias tdk terjadi apa2, ibu2 tdk pada protes, apa yg dilakukan D akan dianggap sebagai sesuatu yg biasa saja. Malah seakan pendapat dia adalah benar.
    Namun kalau mendoakan dgn doa2 yg cukup sadis saya juga ga setuju, sama halnya waktu orang2 rame menghujat Ahmad Dhani karena kasus si Dul saya jg ga berani komen, kuatir suatu saat kejadian di saya (bismillah, jgn sampai).
    Kasus D ini jg membuktikan bahwa banyak orang blm paham aturan bersosmed yg benar, tdk semua pikiran bisa dipost utk umum (ataupun kalangan terbatas).
    Masalah kemudian katanya si D ini sakit kaki sehingga perlu duduk juga ya sudah silahkan duduk toh dia kan sakit jg dan termasuk yg berhak duduk? Saya cuma sedih aja, selain empatinya ga ada, niatan utk berbuat baik pada sesama juga ga ada. Kalau hal sepele seperti ini saja dia tdk mau berbuat, apa hal2 besar yg bisa kita harapkan utk dia perbuat kelak? Semoga kasus D ini jadi pembelajaran dan pengingat buat kita semua.

  2. mel….gw selalu suka ama point of view nya kamu……. gw selalu percaya sama teori sebab n akibat, pada prinsipnya tdk ada org yang ujug2 langsung jadi org jahat, there’s always a story behind them…….. let’s be a better parent for our kiddos……

  3. Saya termasuk orang yang ngeshare screencapt nya si Dinda ini, ngedoain jelek? semoga aja gak, tapi kalau di bilang cyberbullying, akan selalu ada sisi negatif dan positif dari setiap hal yang kita lakuin di Dunia Maya maupun Dunia Nyata. menurut saya perempuan ini sdh dewasa, seharusnya dia bisa ngontrol kata-katanya dengan baik, sekalipun dia emosi, saya yakin banget ada banyak kata yang bisa dia pakai untuk ngegantiin kata-kata “Gw benci banget sama Ibu Hamil..” , atau kalau merujuk ke artikel ini “pembenaran” *mungkin* karena dia divonis gak bisa hamil? kalau semua orang cari pembenaran atas semua hal salah yg dia lakuin ssh banget ya ngertiinnya.
    Tapi karena artikel ini juga saya jadi sadar untuk lebih hati-hati lagi dalam men-share segala sesuatu, *bener juga ya, kalau ini akun palsu saya jadi ikut”an fitnah dong..* Tfs ya Mbak Amel, tulisannya menarik untuk kasus yang menarik jg.. :))

    Bdw, entah berapa doa hamba haturkan untuk anak hamba Ya Rabb, tapi tolong jaga segala perilakunya dia dari hal-hal keji dan munkar.. lindungilah segala tutur kata, perilaku, dan pola pikirnya Ya Allah. Aamiin

  4. Hmm … beberapa hal sy setuju sudut pandang mba Amel yt lebih hati2 soal share screencapt org yg ga kita kenal karena bisa jadi akun palsu dan akhirnya hanya jadi fitnah …

    Tapi kl untuk segala latar belakang alasan mengapa D menuliskan kata2 yang penuh benci serta penghakiman thd ibu2 hamil, well i think theres no excuse mam … Apalagi kl dilihat dari komen2 teman2 D yg meng Amin i kata2 hujatan tersebut dg mengajarkan pura2 tidur pasang earphone biar ga digangguin ibu hamil … Duh sepertinya kl semua ibu2 pd diam tunggu saja nanti ada ibu hamil mau naik krl kedorong, jatuh, terluka n dianggap wajar … Mungkin nanti malah diteriakin rame2: Hamil ??? Jangan naik angkutan umum !!! Astaghfirullah … Ibu hamil itu ada 2 lho nyawa yg dibawa jd wajar kl minta diistimewakan …

    Tentang cyberbullying, saya setuju dg pendapat di atas yg mengatakan cyberbullying adalah kondisi seseorang yg tidak berbuat macam2 tp selalu dicemooh/dihina … Apa yg dilakukan ibu2 bahkan para laki2 jg lho, adalah reaksi atas aksi hujatan D itu sendiri thd orang yg meminta hak istimewa nya … Bahwa ada norma tidak tertulis yg sudah sangat disalahi oleh D dan tidak adanya empati … Saya yakin jika D masih punya empati dia sanggup menulis ketidaknyamanan thd ibu hamil yg dianggapnya manja dg kalimat yg lebih sopan …

    Terlepas semua itu saya suka dg sudut pandang yg ditawarkan oleh penulis, memberikan gambaran yg lebih luas dan mencoba lebih bijak dan berkaca diri … Tapi menurut saya ketegasan tetap harus ada untuk hal2 seperti ini … :)

  5. Thank you Ameeel, atas artikel nya. Artikel yang bagus untuk gw renungkan & melihat segala sesuatu dari point of view yang berbeda2 :)

    Dalam kasus Ms. D, gw adalah salah satu Emak yang ikut me-repath postingan pertama Ms. D dan 1 candaan yang tertuju ke Ms. D

    Saat itu tujuan gw me-repath di awal adalah ingin ‘menampar sesaat’ tentang semakin menipis nya simpati & empati bahkan untuk sesama wanita sekalipun (banyak contoh) ;)

    Dan repath gw kedua tentang isi path candaan si X tentang imaginasi nya mengenai Ms. D setelah kejadian itu.
    Itu pun gw lakukan sebagai sentilan bahwa saat ini udah semakin gampang jadi seleb di Indonesia.. Kasar nya “Lo buat kasus aja, langgar hukum/norma sosial maka lo akan jadi seleb mendadak” :D
    *mungkin efek (not so) reality show yang bertebaran di TV*

    Tapi gw pribadi memang menghindarkan hujatan, makian terutama di media sosial, karena buat gw pribadi hujatan/makian bukan solusi.
    Yang terpenting adalah, jika nanti gw ada di posisi Ms. D dan gw dalam keadaan sehat, Inshaa Allah, gw akan melakukan hal yang bertolak belakang dengan dia serta gw pun akan berusaha terus mengajarkan hal itu kepada anak cucu gw walo gw ga tau apa yang akan terjadi pada etika anak cucu nanti nya di 20 tahun mendatang.
    Satu hal yang pasti, gw ga akan pernah menyesali karena sudah memberikan beberapa ‘bekal’, memberikan contoh, aplikasi-kan setiap saat secara kontinue dan bersama2 anak cucu ;)

    Selain itu gw juga percaya dengan kalimat;
    – What goes around comes around –
    Contoh kasus :
    Karena dulu pada saat gw masih wara wiri naik transportasi umum, gw akan memberikan tempat duduk gw kepada Ibu Hamil/Ibu-Bapak yg membawa anak, OrangTua atau kepada Orang2 yang memang terlihat sakit.
    Dan di-saat2 tak terduga, kala capek pulang kuliah, gw sering mendapatkan tempat duduk akibat pemberian beberapa orang.. Hehehehe

    Huaaa, maaf.. maaf, jadi panjang benar komen gw seakan curcol.. Hahaha

    Kesimpulan nya ;
    “Bijaksana saja dengan Media Sosial atau apapun –> Lihat, Saring, Ambil (+) Buang (-), Serap & Sebarkan (apabila ada manfaat nya).”

    Have a nice day, Mommies :)

Post Comment