Mom Knows Best

Really?

Seringkali saya mendengar, “Namanya juga orangtua, pasti pengin yang terbaik untuk anaknya”. Atau bahkan tanpa sadar, saya juga mengucapkan hal serupa. Tapi apa benar semua yang dilakukan oleh orangtua adalah yang terbaik untuk anaknya? Coba sama-sama kita lihat video ini:

Video di atas diambil dari salah satu episode sebuah reality show berjudul Toddler and Tiara. Sebuah acara beauty peagent yang pernah ditulis panjang lebar oleh Sazkia di sini.

Waktu nonton video ini pertama kali, rasanya saya ingin menendang si ibu. Beneran deh! Anak ini usianya sama dengan Langit, anak saya. Saya nggak kebayang kalau harus mencabuti alis anak saya demi sebuah acara tv.

Kita semua pernah jadi anak dari seseorang. Kita semua pasti pernah merasakan harus menuruti kemauan orangtua kita. Hal-hal yang baik ataupun yang bertentangan dengan diri kita sendiri. Apakah semua yang dikatakan oleh orangtua kita benar adanya? Belum tentu. Lalu, apa mereka ada salahnya? Bisa jadi.

Contoh kasus pada saya. Kalau mau mengikuti keinginan orangtua, pasti saya sudah berkuliah di jurusan ekonomi dan saat ini bekerja di sebuah bank, kayaknya. Tapi, untungnya dalam kasus ini, orangtua saya bisa diajak kompromi. Saat saya ingin kuliah di jurusan jurnalistik (pertama dalam sejarah keluarga). Jurusan apa pula ini? Mau jadi wartawan? Aduh, nggak elit banget pilihannya. Dan lain sebagainya, pasti pernah masuk ke telinga orangtua saya. Tapi mereka mau berkompromi dengan saya, memercayai keinginan saya, bismillah, saya kuliah deh!

Saya yakin, dalam hati mereka saat itu pasti ada keinginan anaknya kuliah yang ‘normal’, berprofesi ‘normal’ dan aneka kenormalan yang biasa mereka tau. Tapi mereka meredam keinginan mereka.

Nah, sekarang giliran kita yang jadi orangtua. Kita pernah pernah merasakan nggak enaknya jadi anak, kalau diatur. Kita pernah merasakan nggak enaknya dilarang-larang, padahal kita suka kegiatan itu. Kita pernah mengalami dipaksa suruh les ina itu, padahal kita nggak suka. Dan lain-lain. Mungkin saat ini ada beberapa dari kita yang masih ingat rasanya dipaksa untuk mengikuti kemauan orangtua.

Haruskah kita mengulanginya lagi? Memaksa anak mengikuti apa kemauan kita?

Bukan, bukan berarti juga kita harus menuruti apa kemauan anak. Bener, deh. Seperti saya sudah sebut di atas, kompromi. Anak-anak memang akan selalu menjadi anak kita. Tapi seiring bertambahnya usia, mereka punya pendapat sendiri. Kompromi, negosiasi, ngobrol untuk mencapai kesepakatan. Itu sih, intinya.

*gambar dari sini

Balik lagi ke masalah mom knows best. Pernah lihat bayi-bayi atau anak-anak yang mengemis di pinggir jalan sementara ibu mereka nungguin setorannya di pojokan jalan? Apakah ini untuk kebaikan si anak?

Lesson learned, legowo. Walaupun kita sudah jadi orangtua, tapi kita nggak selalu benar. Apa yang kita lakukan mungkin baik. Tapi buat siapa?

 


7 Comments - Write a Comment

Post Comment