Saya Ingin Sehat (Sampai Tua) !

Seorang teman pernah bertanya pada saya, “Apa lagi sih yang kamu pengen? Kiloan sudah turun, badan sudah cukup oke. Mau ngapain lagi sih sok-sok pilah pilih makanan dan olahraga setiap hari?” Jawaban saya sederhana, hanya ingin sehat sampai tua. Ya paling tidak, saat saya  tua nanti dan punya cucu, saya bisa mengunjungi anak dan cucu tanpa harus merepotkan mereka. Minimal, diajak jalan kaki keliling Kebun Binatang Ragunan masih oke deh.

Klise ya kedengarannya. Tapi itulah tujuan saya sekarang, sehat. Dan setelah menjalaninya selama dua tahun lewat satu bulan, ternyata hidup sehat itu nggak sulit. Cukup lihat-lihat dan pikir  ulang apa yang mau saya konsumsi dan tetap berolahraga setiap hari. Iya, saya pilih olahraga tiap hari selama 30 menit ketimbang olahraga 4x seminggu selama satu jam, karena kalau sudah berhenti atau ada libur sehari saja, pasti berat banget untuk memulai olahraga di keesokan hari (baca : malas).

Kenyataan bahwa ibu saya mengalami gangguan jantung dan merembet ke diabetes juga kolesterol, membuat saya semakin menghargai kesehatan badan. Pelajaran yang bisa diambil, apa yang saya lakukan hari ini akan berdampak di masa yang akan datang. Iya, mungkin kalau saya tetap ‘barbar’ dan tidak memulai hidup sehat sejak dua tahun yang lalu, bisa jadi diabetes dan kolesterol tinggi akan membayangi saya (ya, beberapa dari kawan dekat yang seumuran dengan saya sudah mengalaminya). Dan, jika saya tidak memulai hidup sehat sejak dua tahun yang lalu, saya yakin angka kiloan saya tidak akan berkurang, mungkin bisa lebih dari 85 kg, hehehe…  Jadilah saya tetap mempertahankan diri untuk memilah makanan dan minuman yang akan saya konsumsi selama 5 hari dalam seminggu. Dan dua hari dalam seminggu, saya membolehkan diri untuk menikmati satu atau dua menu (yang bisa dibilang tidak sehat) dalam rangka memanjakan lidah.

Sedangkan olahraga, saya sudah menganggapnya sebagai bagian dari kebutuhan hidup. Awalnya memang berat untuk melakukan olahraga, apalagi menjadikannya sebagai rutinitas. Tapi, salah satu artikel kesehatan dan beberapa info yang saya dapatkan dari member-member di forum weightloss, bahwa lemak di tubuh hanya bisa dipangkas melalui olahraga, terutama lemak-lemak di bagian organ dalam tubuh dan perut. Mendadak saya merasa horor membayangkan lemak-lemak yang tersebar di bagian organ dalam tubuh saya (kebayang ya ada lemak-lemak warna putih dan menyelimuti organ dalam tubuh, errr…). Sejak saat itu, saya bertekad untuk rajin olahraga. Meski tidak mudah dan kadang kurang dari 30 menit, tapi tetap saya lakukan. Toh, tidak ada ruginya menyisihkan sedikit waktu untuk menggerakkan badan. Alhasil, sejak saat itu saya tidak pernah meninggalkan olahraga. Justru badan terasa aneh manakala saya melewatkan jam olahraga.

Sekarang, semua yang saya lakukan mendapatkan hasilnya: berat badan turun ke level ideal, gelambiran di tubuh mulai terkikis (nggak ada yang menyangka bahwa saya pernah mengalami obesitas!) dan saya bisa memakai pakaian dengan ukuran yang saya inginkan. Namun, bukan berarti setelah semua dicapai maka pola makan sehat dan kebiasaan berolahraga saya hentikan. Karena tujuan saya sehat sampai tua, bukan sekedar langsing.

Mumpung masih awal tahun, yuk sama-sama kita hidup sehat. Stay healthy, friends! *psst.. sampaikan ini ke para suami juga, ya!*

"before-after"

weightloss

 

*keterangan foto :

tahun 2009, saya belum menikah dan berat badan betah di kisaran 63-65kg

tahun 2011, satu bulan setelah melahirkan dan berat badan berada di posisi 85kg

tahun 2012 : foto di bulan Desember, setelah selama 3 bulan berjuang menurunkan berat badan dari 72kg

tahun 2013 : berat badan stabil antara 52-53kg

*thumbnail dari sini