Saya Pernah Keguguran

Percaya nggak? Ini  adalah pertama kalinya saya menceritakan soal keguguran yang pernah saya alami. Cerita keguguran untuk pertama kalinya, no one, not even my mother, know about it. Eh, suami sih tau, tentunya. Kenapa bisa keguguran? Begini ceritanya…

Gambar dari sini

Kami menikah pada awal Oktober 2010. Bulan November saya menyadari kalau telat haid, biasalah pengantin baru, super deg-degan ceritanya nungguin si menstruasi. Cek menggunakan test pack, hasilnya pun positif. Tapi entah mengapa, saya merasa enggan untuk pengumuman dini. Ketika cek ke dokter kandungan, beliau menyatakan ada kantung janin sekitar 2 minggu umurnya. Masih terlalu muda, penuh dengan risiko, namun jika bisa dijaga, maka akan terus berkembang sehat. Dokter hanya meminta saya untuk menjaga kesehatan dan tidak terlalu lelah, serta kembali kontrol 2 minggu lagi. Perkiraan dokter, jika sudah masuk usia 4 minggu, bisa terlihat lebih jelas.

Saya kembali tiga minggu kemudian, iya skip satu minggu karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Ketika kontrol, dokter dengan bantuan mesin USG 2D memeriksa dengan seksama, berulang kali memutar alat ke kiri dan kanan di sekitar rahim, dan sesekali mengernyit ketika kantung janin terlihat di layar.

“Saz, saya nggak bisa menemukan janin, ini kantungnya kosong, istilahnya Blighted Ovum. Saya resepkan penguat rahim terlebih dahulu, siapa tahu ada keajaiban Allah SWT, dan janinnya bisa berkembang. Tapi jika dalam satu minggu tidak ada perkembangan, berarti memang tidak ada janinnya.” DEG! Entah mengapa, saya benar-benar putus asa sore itu.

Dokter berpesan agar tidak stres, which was impossible, ya kan? Pulang ke kos, saya masih ling lung. Rasanya aneh, mual hebat saya rasakan, tapi tidak ada janin yang harusnya tumbuh dalam rahim. Kemudian harapannya tipis, dan terus terang, saya tidak ingin kontrol ke dokter minggu depan. Suami menyemangati, ia juga menelepon atasan saya di kantor, meminta izin karena kondisi saya saat itu. Seminggu kemudian, dengan pesimis saya kembali kontrol dan 3 menit setelah di USG, saya menangis. Tidak ada janin, hanya kantung kosong dalam rahim. Dokter Ridwan saat itu menenangkan, sambil tersenyum beliau menerangkan langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya. Saya kira akan ada operasi minor untuk tindakan kuret, saya kira akan ada drama saya menginap di rumah sakit dan akhirnya seluruh keluarga akan tahu berita sedih itu. Ternyata karena kondisi kantung yang memang kosong melompong, dokter hanya akan memberi obat oral, sifatnya sebagai peluruh untuk membersihkan kantung kosong tersebut.

Dokter memang sudah mengingatkan akan rasa sakit yang akan saya alami. Beliau juga mewanti-wanti agar suami ada menemani saya, jadi jika terjadi pendarahan berlebihan, saya bisa langsung dibawa ke rumah sakit. Sebelum pulang, dokter meminta nomor HP saya. Katanya untuk mengecek keadaan. Sampai di kost yang memang tidak jauh dari rumah sakit, saya bersiap-siap. Memakai baju yang paling nyaman, memasang alas di atas tempat tidur, agar tidak tembus ke kasur, dan meminta suami menyiapkan handuk hangat untuk mengompres. Saya minum obat peluruh setelah maghrib, sejam kemudian obatnya bereaksi. Kontraksi hebat terjadi, rasanya mirip-mirip pembukaan lima, lumayan ya! Selanjutnya seperti haid saja, hanya volume darah jauh lebih banyak.

Tiga jam kemudian, saya menerima SMS dari dokter. Beliau menanyakan keadaan, dan setelah suami membalas sms-nya, beliau menjawab “Sazkia yang sabar, diatur nafasnya, dan duduk saja di toilet. Biasanya bisa mengurangi sakit. Tiga jam lagi tolong kabari perkembangan. Jika Sazkia terlihat pucat, bawa segera ke UGD. Nanti saya susul.” Duh, beruntung rasanya punya dokter dengan perhatian penuh begini. Tiga jam kemudian, saya masih merasakan sakit hebat di rahim. Segala posisi dicoba, jongkok, nungging, berlutut di pinggir tempat tidur, jalan-jalan, semuanya deh! Rasa sakit mulai reda memasuki pukul 2 pagi. Dokter mengirim SMS pukul 5 pagi, kata suami saat itu saya sedang tidur, tidak terlihat pucat, dan sudah tidak ada lagi  gumpalan yang keluar. Hari itu saya disuruh bed rest, dan  lusa saya disuruh kembali ke rumah sakit. Saat kembali kontrol, rahim dinyatakan bersih dan menurut beliau saya bisa hamil kapan saja.

Wah! Walau saat itu masih sedih dan trauma dengan perasaan sakit yang tidak karu-karuan, tapi saya semangat saat mendengar pernyataan kalau saya boleh dan bisa hamil kapan saja. Dokter memberikan beberapa link bacaan untuk persiapan pra kehamilan, dan alhamdulillah saya hamil Februari 2011.

Itu adalah cerita keguguran pertama yang tadinya tidak seorang pun tahu. Ada satu lagi cerita keguguran yang pernah saya alami. WHAT? Iya, setelah melahirkan Menik, saya memang memakai IUD sebagai alat kontrasepsi. Tapi siapa yang sangka, saat Menik berusia 16 bulan, saya telat haid. Tadinya saya tidak sadar, karena haid memang tidak teratur sejak memakai IUD. Tapi suami memaksa saya untuk melakukan tes urin, hasilnya negatif.

Bulan Januari 2013 saya tidak haid sama sekali dan akhirnya saya periksa ke dokter kandungan. Another blighted ovum! Lagi-lagi ada kantung janin tapi kosong. Kuasa Tuhan, ya, sudah pakai alat kontrasepsi yang kabarnya bisa mencegah kehamilan 98%, tapi tetap saja ada kemungkinan 2% dan kejadian tersebut saya alami. Saat itu saya di ruang dokter sendirian, Menik dan ibu saya menunggu di luar ruangan, dan suami ada di luar kota. Dokter meresepkan obat peluruh lagi hanya untuk membersihkan sisa kantung kosong di rahim yang kondisinya pun ternyata rusak, terkoyak.

Si kantung kosong yang saya foto untuk dikirim ke suami :’)

Saya memang tidak menyangka akan hamil, tapi saya lebih tidak menyangka akan mendengar kabar hamil dan juga sekaligus mendapat resep obat peluruh dan kembali kehilangan janin, sendirian. Setelah 40 menit di ruang dokter, saya keluar dengan senyum setengah terpaksa, bilang ke Ibu kalau harusnya saya hamil tapi tidak jadi. Ibu menepuk punggung saya, kemudian mengajak makan. Ketika menyusui Menik dalam perjalanan kembali ke Bandung, sayapun menangis. Entahlah, sedih saja rasanya. Menurut dokter, kejadian ini 1 : 1000, lah! Sangat jarang terjadi.

Ternyata kehilangan kantung janin saja sangat menyedihkan, ya. Apalagi mommies yang harus mengalami keguguran ketika janin sudah terbentuk. Pasti sedih sekali. Untuk menghindari kehamilan, saya mulai rajin menghitung masa subur kembali. Saya dan suami punya rencana, mudah-mudahan disetujui sang Pencipta, jadi kalaupun saya hamil lagi, saya dalam keadaan sehat dan IUD sudah dilepas. Terus terang, saya takut menerima berita saya hamil tapi tidak jadi lagi untuk ketiga kalinya.


6 Comments - Write a Comment

  1. ki, sebelum Rasya gue juga satu kali BO, bedanya gue dikuret lewat operasi. ceritanya di sini http://ceritasihejo.blogspot.com/2011/03/well-meet-again.html?m=0
    pas habis kontrol, masih di RS gue pendarahan. panik n lemes, langsung deh ke ruang tindakan. mungkin karena gue shock banget makanya gue diopname. itu usia kandungan 10 minggu klo ga salah. cuma gue bandel, kosong 45 hari aja. habis haid pertama, bikin lagi dan jadi! dokternya sampe kaget hehehe :p tapi katanya sepanjang masa subur perempuan, dari ribuan telur yg ada itu ada beberapa yg klo dibuahi nggak jadi, ya kosong itu. jadi memang banyak juga yg ngalamin ;)
    semoga menik bisa cepet punya adik yaaaa

  2. Iya.. Emang cerita keguguran itu menyedihkan, kakak ipar saya,, keguguran saat kandungan menginjak usia 7 bln! Karena kelilit tali pusar,Kebayang ya,,
    Akhirnya terpaksa dilahirkan dan normal lho! Tapi.. Disambut dengan tangis keluarga,, krna sudah tau janinnya meninggal.
    Dg tubuh yg lengkap, rambut keriting yg lebat,janin itu perempuan,, :'(

  3. *peluk Sazki* Gue juga pas tau kalau janin gue meninggal (sudah 10 minggu lebih), pas sendirian juga. Di ruang dokter kayak numb. Ngga bisa ngerasa apa-apa. Cuma bengong dan bingung. Mau sudah jadi “bayi”, masih kantung, atau bahkan “false alarm” sekalipun, gue rasa pasti akan bikin sedih. Biar gimana, pas tau test pack positif, akan ada harapan dan ekspektasi. Jadi, kalau sampai kehilangan pasti bakalan sedih banget ;'(

Post Comment