Money Talks: Perempuan Dan Biaya Kecantikan

Sebagai perempuan, sewajarnya  saja kita ingin terlihat cantik dan menarik. Alasannya bisa bermacam-macam,  mulai dari tuntutan pekerjaan, atau ingin membuat diri sendiri bahagia ketika berkaca :) Untuk terlihat atraktif,  kebanyakan dari kita melakukan perawatan dan juga membeli produk kecantikan untuk mendukung penampilan tersebut.  Berbagai perawatan dan produk ini pun banyak jenisnya, dan tentunya dengan harga yang beragam juga.

Jika dilihat dari sisi perencaan keuangan, apakah boleh membeli produk kencantikan dan perawatan tersebut? Tentu saja  boleh. Masalah utamanya adalah bukan boleh atau tidaknya membeli produk kecantikan atau melakukan perawatan, tapi bagaimana kita menyiasati anggarannya sehingga tidak mengganggu pengeluaran kita untuk kebutuhan yang lain.

*gambar dari sini

Lalu bagaimana dengan mengatur anggaran untuk biaya kecantikan tersebut?

Yang pertama harus diingat adalah biaya kecantikan ini adalah bagian dari porsi pengeluaran pribadi, di mana pengeluaran pribadi itu kita jaga supaya tidak lebih dari 20% dari penghasilan bulanan kita. Jadi misalnya, jika pendapatan kita Rp 10 juta per bulan, maka anggaran untuk pengeluaran pribadi kita adalah maksimal Rp 2 juta per bulan. Yang perlu diingat lagi, bahwa dalam pengeluaran pribadi itu tidak hanya biaya kecantikan/perawatan tubuh saja yang kita hitung, tapi juga di dalamnya ada biaya entertainment seperti menonton, kemudian makan di luar, atau biaya membership tempat berolahraga. Artinya, jika kita mau menggunakan Rp 2 juta itu full untuk biaya kecantikan, maka dana untuk menonton, beli majalah, atau makan di luar sudah tidak ada lagi di bulan tersebut. Oleh karena itu, bagi yang sudah memiliki pasangan penting untuk menganggarkan pengeluaran pribadi ini secara bersama-sama, dan kemudian bersepakat untuk menentukan porsi untuk kebutuhan pengeluaran pribadi per item-nya.

Untuk memudahkan menentukan porsi pengeluaran biaya kecantikan tersebut, sangat penting untuk menjabarkan secara rinci, biaya kecantikan apa saja yang memang rutin kita keluarkan selama ini. Misalnya, jika setiap 3 bulan sekali membeli produk perawatan kulit sebesar Rp 1,2 juta, maka setiap bulannya disisihkan Rp 400 ribu untuk biaya perawatan kulit tersebut. Lalu dalam seminggu sekali pergi ke salon untuk perawatan rambut, dan menghabiskan biaya Rp 250 ribu, maka setiap bulannya disisihkan Rp 1 juta.  Tiap dua bulan sekali kita membeli peralatan kecantikan Rp 600 ribu, maka sisihkan setiap bulannya menjadi Rp 300 ribu. Setelah mendapatkan angkanya dengan detail, maka kita tahu bahwa kebutuhan kita adalah Rp 1,7 juta per bulan,  seperti  dijabarkan dalam tabel di bawah ini:

Dengan mengetahui angka dari kebutuhan tersebut secara akurat, maka kita dapat melakukan action berikutnya, apakah setiap bulannya bisa menyisihkan sebesar kebutuhan biaya kecantikan tersebut, atau harus dilakukan pengehematan. Jika mengambil contoh kasus pendapatan bulanan Rp 10 juta, maka sisa pengeluaran pribadinya yang bisa dialokasikan untuk pengeluaran non-kecantikan adalah Rp 300 ribu.  Jika terasa pengeluaran kecantikan terlalu besar, maka kita dapat melakukan penghematan. Contohnya, mengurangi biaya salon, yang tadinya seminggu sekali, menjadi dua minggu sekali.

Jadi, mommies yang memang perduli dengan kecantikannya, pastikan melakukan budgeting secara bijak, ya. Yang paling mengetahui prioritas dalam kebutuhan keluarga kita adalah kita sendiri, jangan sampai pemenuhan kebutuhan tersebut menjadi tidak seimbang.

*Penulis, Reliza Arfiani (Icha- @relizakodri) adalah Planer di QM Financial. Icha menyelesaikan S1 di Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi Universitas Indonesia. Kemudian meneruskan S2 di International University of Japan di Niigata, Jepang.


Post Comment