Saat Anak Suka Memukul

Saya baru sepenuhnya sadar jika Kayyis suka memukul sejak kami pindah ke Sydney. Saya lalu lamat-lamat mengingat jika semasa di Serang itu dia juga kadang mukul, entah neneknya, teman mainnya, atau saya, kadang juga ayahnya. Namun, saat itu saya tak terlalu mikirin. Nah, belakangan saya sangat terganggu dengan kebiasaan mukul si Kayyis ini, karena dia suka mukul temannya jika merasa terganggu atau mereka merebut mainannya.

Selain merasa terganggu, saya juga merasa sedih. Saya jadi mikir, “kok anak saya nakal?”. Setiap kali memergoki dia mukul temannya atau siapa pun, saya dengan tegas mengatakan padanya bahwa, tidak boleh mukul, begitu terus berulang-ulang. Ayahnya juga suka menekankan padanya, mendukung larangan saya, “Gak boleh mukul, Nak, sayang aja”. Jadi, kami memintanya untuk meminta maaf dan memeluk temannya setelah dia memukul. Kayyis, sih, menurut, dan tampak menyesal setelah mukul apalagi jika melihat yang dipukul menangis. Tetapi dia masih saja mengulangi memukul jika kesal atau mainannya direbut atau keinginannya tak tercapai.

Mewarnai di acara storytelling di Campsie Library.

Puncak kesedihan saya adalah saat acara storytelling di library, tak ada angin tak ada hujan, mendadak Kayyis iseng nabok anak cewek yang lebih kecil. Anak itu lagi asyik main sendiri, Kayyis melintas dan tangannya iseng, plak. Anaknya sih nggak nangis, malah bengong liatin Kayyis. Tetapi saya syok, dan langsung menatap Kayyis di matanya dan mengulang-ulang nasihat saya sebelumnya supaya jangan mukul. Nah, yang membuat saya lebih syok, ibu si anak itu marah. Dia sangat marah sampai menunjuk-nunjuk saya. Saya hanya bisa bilang, I’m so sorry. Tapi tak menyalahkan dia juga jika marah. Saya menempatkan diri di posisi ibu itu, jika anak saya ditabok orang lain, saya juga mungkin akan sangat marah.

Saya semakin sedih sejak peristiwa itu, saya tidak mau anak saya dicap nakal, atau semacamnya. Saya juga sedih jika anak saya dibenci anak lain atau orangtua lain. Saya mencoba memikir ulang dari mana Kayyis mendapatkan kebiasaan buruk ini. Saya juga banyak membaca referensi dari Google, bagaimana mengatasi anak yang suka memukul. Lalu saya ingat jika dulu neneknya suka mengajari Kayyis buat mukul apapun yang bikin dia nangis. Misalnya dia kesandung tangga, lalu dia nangis. Nah untuk mendiamkannya, si nenek nabok si tangga, lalu Kayyis diam. Begitu berlaku buat apa aja yang bikin dia nangis, lantai, dinding. Nah, saya rasa itulah yang membekas di benak Kayyis. Alih-alih belajar supaya berhati-hati, dia malah diajari untuk mencari kesalahan orang/benda lain. Saya tidak bermaksud menyalahkan nenek, saya berpikir, tiap generasi ya punya cara yang berbeda dalam membesarkan anak. Dari yang saya baca di beberapa referensi, cara mengatasinya adalah ya itu, dibilangin terus-menerus sampai dia mengerti.

Selain terus-menerus mengingatkan Kayyis supaya tidak memukul, saya juga selalu mendoakannya. Saya adukan kerisauan saya soal kebiasaan buruk Kayyis ini kepada-Nya. Saya juga meminta tolong kepada tetangga, Mbak Fitri, ibunya Tiara dan Darin, teman main Kayyis di rumah, supaya mendukung pelarangan saya. Biasanya anak-anak lebih nurut sama orang lain ketimbang sama orangtuanya sendiri.

Sebulan ini saya sering membawa Kayyis ke playgroup-playgroup di sekitar tempat tinggal kami. Saya dengan ekstra hati-hati menjaganya supaya jangan sampai mukul anak orang. Dan saya lumayan takjub dengan kemajuan yang ditunjukkan Kayyis dalam mengontrol emosinya. Saat seorang anak merebut mainan yang tengah dipegangnya, dia akan langsung memberikannya tanpa tampak kesal, dia segera mencari mainan lain. Dia juga bisa sharing mainan dengan anak-anak lain. Jika ada anak yang dengan kasar merebut mainannya atau memukulnya, dia justru bilang, No pukul, sayang aja. Ah, saya terharu sekali, akhirnya dia bisa mengerti pesan yang kami ulang-ulangi selama ini. Ibu bangga padamu, Nak, be a good boy, oke?

*thumbnail dari sini

 


3 Comments - Write a Comment

  1. yayy.. ikut seneng denger kebiasaannya udah bisa berubah…
    Beruntung mama-nya peka.. :D

    jadi inget, anak perempuan umur 3tahun tetangga rumah.. kalo mukul temennya(Vito–anakku– juga pernah jadi korban, digetok pake mainan), ibunya dengan manis lemah lembut bilang: “jangan dipukul dong sayaaaaaaang… disayang aja temennya.. jangan nakaaaaaaaaaall…bunda gak sukaaa..” ini kejadian depan mataku,

    Pas aku cerita sama neneknya Vito, beliau cerita balik, giliran lagi nyuapin, anaknya ga mau makan, dibentak2 dan didorong2 dengan kasar: “makan dong kamuh! bego nih! dodol! makan!” hih… miris!

  2. Chuwey dan Lita: Aku sedih banget kenapa anakku begitu, makanya bersungguh-sungguh kepingin segera mengubah kebiasaan itu. Siapa yang senang anaknya dibenci orang atau dijauhi teman, ya kan? Hehehe
    Katanya sih, bisa jadi itu fase saja, tapi tetap saja harus segera diluruskan, ga boleh sampai berlarut-larut apalagi sampai in denial. :D

Post Comment