Ketika Menyusui Menjadi Sebuah Tribe

Memang tidak ada yang lebih disyukuri hidup di zaman canggih seperti sekarang ini selain terkoneksi pada internet.  Internet memudahkan semua orang untuk mencari dan memasarkan sesuatu, termasuk menciptakan gerakan dan mewujudkannya.  Tidak peduli letak geografis, di jantung kota atau di pelosok desa, internet menghilangkan penghalang orang-orang untuk bisa mengakses informasi yang sama melintasi status sosial dan waktu. Hingga akhirnya mereka terhubung dalam sebuah tribe.

Tribe adalah sekelompok orang yang terhubung satu sama lain. Terhubung dengan seorang pemimpin, dan terhubung pada sebuah ide. Suatu kelompok hanya memerlukan dua hal untuk menjadi sebuah tribe: minat yang sama dan sarana komunikasi (Seth Godin, Tribe. 2008). Semua blog dan jejaring sosial di internet telah membantu tribe yang sudah ada menjadi semakin besar dan membuat tribe baru berkembang membuat sesuatu yang luar biasa. Melalui tribe, kita menyumbangkan dan mendapatkan banyak hal dari orang-orang yang memiliki pemikiran sejalan.  Anggota tribe biasanya peduli terhadap apa yang terjadi, terhadap tujuan mereka dan peduli satu sama lain.

Sebagai seorang mantan ibu menyusui dan pengguna media sosial Twitter, saya tertarik untuk membahas betapa menyusui sudah menjadi tribe yang luar biasa. Jika anda adalah seorang follower @aimi_asi atau @id_ayahasi, atau apapun yang berhubungan dengan menyusui, maka Anda  adalah bagian dari Tribe Menyusui.  Bisa jadi Anda adalah seorang ibu menyusui, ayah asi, dokter, konselor asi, ibu bekerja , mahasiswa atau apapun latar belakang pendidikan dan profesi Anda, ketika tergabung dalam tribe ini berarti Anda memiliki minat dan perhatian yang sama soal menyusui.  Sementara pemersatu lainnya adalah Twitter. Media komunikasi ini dipilih karena para penggunanya merasakan kenyamanan bersosialisasi untuk berbagi hal yang sama. Ketika ada ribuan orang melakukan hal yang sama dengan Anda, maka sebenarnya apa yang dilakukan orang-orang ini adalah ingin mentransformasikan kesamaan minat menjadi sebuah target dan keinginan yang kuat akan perubahan.

Perubahan macam apa yang sebenarnya diinginkan oleh Tribe Menyusui ini? Dukungan positif dari lingkungan sekitar agar seorang bayi mendapatkan ASI ekslusif sebagai haknya dan sang ibu bisa mendapatkan kesempatan menyusui di manapun dan kapanpun. Di dunia nyata, tantangan yang dihadapi para ibu menyusui mungkin begitu besar. Dari sekian banyak sarana sosial media yang ada, Twitter seolah menjadi tempat bagi para ibu menyusui untuk berteriak lantang tentang apa yang mereka perjuangkan. Mereka saling memberikan dukungan dan bantuan. Mereka disatukan oleh kepentingan yang sama hingga membuat sebuah kekuatan untuk mendukung kegiatan menyusui. Komunitas bisa berbeda, tapi semangat yang diusung sama, memberikan ASI ekslusif untuk bayi-bayi mereka, baik ibu rumah tangga, maupun ibu berkerja. Kemudahan mengakses informasi dari teknologi yang ada tidak hanya membuat orang menjadi tahu bagaimana gaya menyusui yang benar, metode penyimpanan asi , fakta mengenai susu formula , dan hal remeh temeh soal menyusui yang berfokus pada solusi tidak bisa diabaikan begitu saja.

Tribe Menyusui ini kemudian menarik perhatian orang-orang untuk mau mengedukasi diri soal menyusui , lalu membuat media massa tertarik untuk memberitakannya. Ketika isu menyusui sampai di ranah publik cetak dan eletronik dalam skala nasional, maka masyarakat luas seolah tersadar bahwa selama ini seperti ada sesuatu yang berjalan salah soal isu menyusui.

Sadarkah Tribe Menyusui ini memiliki efek yang begitu besar untuk mendorong sebuah perubahan? Mari lihat hasilnya. Jika dulu kegiatan menyusui hanya seputar rumah dan tempat tidur, sekarang sudah begitu banyak ruang publik, mulai dari kantor,  bandara, terminal, hingga mal,  yang menyediakan nursing room. Jika dulu mitos-mitos menyusui berkembang menjadi sebuah paham, maka saat ini fakta-fakta seolah berbicara lantang mematahkan kesimpang siuran. Rumah Sakit Bersalin bebenah diri agar bisa mengakomodir kepentingan pasiennya untuk mendapatkan rumah sakit yang pro ASI. Ketika orang sudah menyadari bahwa sebuah plang di taman bermain atau boks bayi di rumah sakit bersalin terdapat stiker susu formula adalah sebuah pelanggaran, maka level kepedulian sesungguhnya sedang bergerak naik. Bahkan ketika Tribe Menyusui ini mampu mendorong pemerintah untuk mengesahkan undang-undang yang melindungi hak ibu menyusui, maka bisa jadi Tribe Menyusui memiliki kekuatan yang sama dengan kekuatan partai politik.

Ada sebuah masa di mana  citra ibu menyusui merosot karena menyusui itu hanya dilakukan oleh ibu yang berasal dari golongan menengah kebawah karena tidak mampu membeli susu formula. Entah bagaimana mulanya sebuah tren itu mucul. Yang jelas, di masa itu bayi-bayi dianggap keren sebagai hasil produk’kaleng silver’ atau ‘kaleng emas’ dan lainnya.

Tribe Menyusui sepertinya menjungkirbalikkan masa itu. Ketika  sarana komunikasi begitu terbuka luas, maka hanya ada dua kemungkinan alasan seorang ibu tidak menyusui; bayinya yang membutuhkan tindakan medis melalui pemberian makanan selain ASI, atau sang ibu yang tidak membuka diri untuk mengakses informasi. Ketika sarana tersedia tapi tidak dimanfaatkan, adakah sebutan lainnya untuk menggantikan kalimat bahwa ia ‘tidak peduli’ ?

Meski menyusui adalah proses yang sangat alamiah, tapi memang tidak selamanya mudah. Masih banyak mitos yang menurunkan kepercayaan diri ibu untuk menyusui bayinya secara ekslusif selama 6 bulan dan dilanjutkan sampai 2 tahun. Padahal aktivitas menyusui sudah berlangsung sepanjang zaman.

Tribe Menyusui ini seolah memberikan akses kemudahan untuk menemukan jawaban dari 1001 permasalahan menyusui untuk mereka yang berusaha mencarinya. Mereka juga seolah mengingatkan bahwa menyusui memang membutuhkan komitmen. Dan komitmen itu tidak akan menjadi berat jika ia menjadi gaya hidup. Mungkin sama rasanya ketika teknologi sudah merasuk dalam kegiatan sehari-hari. Betapa terasa hambar jika keluar rumah tidak membawa ponsel atau ketika satu hari tidak terkoneksi dengan internet.

Apa yang sudah terjadi begitu besar di sosial media, tentu harus diteruskan ke dunia nyata agar bisa ‘disentuh’ dan menyentuh mereka yang belum atau tidak tersentuh internet. Pekerjaan besarnya adalah membawa dan menciptakan Tribe Menyusui dalam lingkungan kita.  Tribe itu bisa jadi adalah keluarga kita sendiri, seperti Suami, nenek, kakek, kakak ipar adik ipar, om, tante, pak De, bu De, teman-teman di kantor, ibu-ibu arisan RT, dan semua orang yang berpotensi menjadi Tribe Menyusui.

Jika Tribe Menyusui di dunia maya dan nyata sudah bisa berjalan dalam ritme yang sama, maka itu akan menjadi sebuah kekuatan yang maha dahsyat akan sebuah perubahan. Mengembalikan menyusui menjadi sebuah gaya hidup, seperti yang dilakukan pada masa-masa terdahulu bahkan sejak zaman nabi. Saat tujuan tribe menyusui tercapai, saat itulah Anda boleh berbangga hati bahwa Anda adalah bagian dari tribe yang membawa perubahan penting bagi Dunia Menyusui Indonesia..

Salam Menyusui

@adenitaa

Mantan Ibu Menyusui. Konselor Laktasi. Pengguna Twitter.

 


Post Comment