Puasa Yuk, Nak!

Gimana caranya ngajarin anak puasa? Seperti juga masalah parenting lainnya, nggak ada acuan baku untuk melakukan hal ini. Yang bisa dilakukan hanyalah mencari tau, berbagi pengalaman, dan kemudian menyesuaikan dengan anak kita. Bagaimanapun cara yang berhasil diterapkan pada anak lain, belum tentu bisa berhasil pada anak kita.

Aira mulai belajar puasa di kelas 1 SD. Belum setiap hari, masih mengikuti kemampuan dia saja. Itu pun terkadang dari sahur sampai tengah hari, terkadang dari sarapan. Di tengah hari setelah berbuka, kadang dilanjutkan lagi puasa sampai maghrib, kadang “ya sudah lah ya, Bun, sampe sini aja puasanya”. Saya nggak maksa. Yang pasti, karena sekolah Aira sekolah Islam, selama jam sekolah Aira puasa, dan tentunya tugas saya untuk menjelaskan makna puasa terbantu dengan apa yang didapat Aira di sekolah.

Di kelas 2 SD, Aira puasa dari sarapan sampai maghrib. Belum sempurna memang, tapi puasa yang semacam ini ia jalani terus selama bulan Ramadan, 30 hari penuh. Buat Aira, yang jadi masalah sepertinya bukan soal menahan lapar (berhubung Aira pada usia itu makan masih harus disuruh-suruh.. hehe), tapi lebih ke sulit makan sahur. Makan dalam kondisi bangun segar bugar saja dia malas, apalagi ini dalam keadaan ngantuk dibangunin di pagi buta.

Di kelas 3 SD, Aira sudah lebih bisa ‘menahan diri’ dan ‘memaksakan diri’ untuk melakukan apa yang memang harus dilakukan. Jadilah pemandangan Aira merem di meja makan sambil nyendokin nasi ke mulut jadi pemandangan biasa selama bulan Ramadan itu. Tapi dia berhasil, puasa dari sahur sampai maghrib, 30 hari penuh. Bangganya luar biasa, apalagi kemudian saat lebaran dapat ‘salam tempel’ ekstra dari Ayah, Bunda, Kakek, Nenek karena berhasil penuh puasanya.

Jadi Mommies, seperti proses belajar lainnya pada anak, masa peka penting banget untuk keberhasilan proses ini. Saat anak memang sudah siap, apapun itu yang dipelajari tentu akan jadi lebih mudah. Nah, ini dia sedikit kiat yang bisa saya bagi soal mengajak anak belajar puasa:

  • Jangan memaksa. Apapun yang dipelajari dengan cara terpaksa, tentu tidak akan optimal hasilnya.
  • Perhatikan usia anak. Ini erat kaitannya dengan apakah anak memang sudah siap berpuasa atau belum.
  • Belajar puasa butuh proses, jadi kalau hari ini belum berhasil, dorong anak untuk tetap semangat dan coba lagi keesokan harinya. Jika tahun ini belum bisa puasa penuh, ayo coba lagi tahun depan. :)
  • Rewards bisa jadi pemicu semangat anak untuk berpuasa. Tapi, pastikan rewards yang diberikan sesuai, jangan berlebihan. Pastikan juga yang diberikan itu rewards atau penghargaan atas keberhasilan anak, bukannya suap agar anak mau melakukan sesuatu.
  • Jika mau membandingkan anak dengan temannya yang sudah mampu puasa, pastikan karakter anak sesuai dengan metode semacam ini. Ada anak yang jadi bersemangat jika melihat temannya, tapi ada pula yang malah kecil hati.
  • Perhatikan asupan gizi anak selama berpuasa. Terutama saat sahur, bantu anak agar bersemangat bangun dan makan sahur.
  • Last but not least, ajak anak memahami makna sesugguhnya dari puasa, sesuai usia anak tentunya.

Have a blessed Ramadhan, Mommies!:)


2 Comments - Write a Comment

Post Comment