Si Ibu Mahasiswa

Sampai Januari lalu, saya adalah ibu yang merangkap jadi mahasiswa. Saya kuliah lagi.  Waktu itu pertimbangan saya, Aira sudah TK B, jadi kesibukan menunggu anak di sekolah sudah berkurang. Saya sempat berpikir, kok, kayaknya saya amat sangat nggak produktif ya. Jadi saya pikir apa pekerjaan yang menarik minat saya dan tidak menuntut saya untuk meninggalkan rumah 9-5. Maka saya memutuskan untuk belajar lagi. Tadinya cuma mau ambil kursus-kursus aja, tapi setelah dipikir, karena sebelumnya saya baru menyelesaikan D3 Bahasa Jepang, kenapa saya tidak melanjutkan untuk mendapat S1 sekalian.

Saya memang sudah tertarik dengan dunia pendidikan, terutama anak usia dini (AUD). Karena banyak yang menjadi concern saya dari pengalaman mencarikan pre-school, kelompok bermain, dan TK untuk Aira. Maka, saya membatalkan niat saya untuk melanjutkan studi Bahasa Jepang dan memilih untuk mengambil S1 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berarti saya harus mulai dari nol lagi, dan kuliah 4 tahun penuh. Pertimbangan lainnya, jurusan ini akan bermanfaat bagi saya sebagai ibu di rumah, kalaupun nantinya ternyata tidak saya gunakan di dunia kerja (seperti yang akhirnya terjadi … haha..).

Suami saya mendukung keputusan saya, apalagi setelah saya menjelaskan pilihan jurusan yang saya inginkan dan setelah itu saya memang membuktikan bahwa saya belajar serius dan IP saya bagus. Karena saya pikir, untuk apa saya bela-belain meninggalkan anak kalau saya nggak bisa dapat nilai yang bagus, kalau saya belajarnya cuma setengah-setengah. Suami saya di awal memang sudah bilang, kalau saya memutuskan untuk kuliah lagi, berarti harus komitmen untuk diselesaikan, tidak boleh berhenti di tengah-tengah. Orangtua juga mendukung, setidaknya dengan cara nggak keberatan kalau sekali-kali dititipi anak karena ibunya mau kuliah. Bahkan anak saya, Aira juga mendukung. Dia sibuk cerita ke semua orang kalau Bunda “juga sekolah”. Dia akan mengerti kalau saya bilang, ‘”Bunda ada tugas/ujian, Kakak main sendiri dulu, ya”.

Untungnya kuliah saya, karena banyak diikuti ibu-ibu guru yang sudah mengajar, dimulai pukul 1 siang. Jadi saya masih sempat ke sekolah Aira jika memang ada kegiatan. Sulitnya adalah soal antar-mengantar les. Biasanya saya titipkan ke orangtua atau mertua. Pagi hari saya mengurus urusan rumah tangga, baru siangnya jadi anak kuliahan lagi. Kalau ada tugas biasanya saya selesaikan di malam hari kalau suami dan anak sudah tidur. Atau pagi hari kalau mereka sudah berangkat kerja/sekolah. Tapi suami dan anak saya mengerti dan tidak akan mengganggu saya kalau ada tugas yang mepet atau ujian. Maklum ibu-ibu, mengerjakan tugasnya sering mepet-mepet :D

Waktu saya kemudian hamil lagi, saya mengurangi jumlah mata kuliah yang saya ambil untuk jaga kesehatan. Saya tidak cuti selama hamil, karena dari apa yang saya pelajari di kuliah PAUD, kalau ibunya belajar saat mengandung, pengaruhnya positif untuk perkembangan otak janin juga. Baru setelah Aidan lahir, saya memutuskan untuk cuti 1 semester karena saya mau ASI eksklusif. Saya lebih baik mundur dulu kuliahnya, nggak apa-apa lebih dikit dari target 4 tahun (ternyata 7 tahun!), yang penting ASI eksklusif beres dan anak bisa saya pegang sendiri tanpa baby sitter. Setelah mulai kuliah lagi, umur si bayi sudah 7 bulan, jadi sudah bisa ‘diganjal’ makanan kalau ditinggal kuliah bundanya, tapi ASI jalan terus. Jadi, saya harus ekstra sabar dan kerja keras dalam mengerjakan tugas dan belajar. Karena bayi tentunya nggak sepengertian ayah atau kakaknya. Sering juga di malam hari saya mengerjakan paper sambil gendong Aidan, atau bahkan tangan kiri menggendong bayi untuk disusui ASI, tangan kanan mengetik paper. Tapi, kan, katanya kalau sedang menyusui sebaiknya kita ‘mengisi’ dengan sesuatu, seperti doa atau dzikir, atau bicara dengan si bayi. Jadi, ya, mudah-mudahan ilmunya masuk juga ke ASI-nya, yaaa … :)

Kendalanya apa saja? Anak sakit atau tiba-tiba PRT pulang kampung. Kalau ini, sudah nggak ada cara lain, saya harus absen kuliah. Maka jatah absen yang hanya 3 kali untuk tiap mata kuliah itu selalu saya ‘sayang-sayang’, biar bisa digunakan untuk saat-saat emergency seperti itu. Terkadang saya bahkan membawa si kakak ikut kuliah. Saya minta izin pada dosen dulu, kalau diizinkan si kakak Aira akan ikut ke dalam kelas. Saya bekali buku-buku cerita, atau buku gambar dan krayon. Lengkap dengan bekal cemilan dan minum agar dia anteng ikut kuliah di kelas. Sejauh ini, sih, selalu diizinkan dosen, mengingat kuliahnya tentang anak, masa ibunya nggak boleh bawa anak kalau memang terpaksa? Hehehe.

Untuk saya pribadi, manfaatnya luar biasa banyak, mengingat jurusan yang saya ambil. Judulnya saja sudah Pendidikan Anak Usia Dini yang di dalamnya mencakup psikologi perkembangan, psikologi pendidikan, pendidikan agama anak usia dini, ilmu gizi, pengembangan kecerdasan dan kreativitas, kurikulum TK-SD, analisis kebutuhan anak, pemeliharaan anak, dsb. Bahkan saya mendapat mata kuliah kesenian di mana belajar art & craft untuk anak dan juga nyanyian anak-anak. Pokoknya segala sesuatu yang menyangkut pendidikan anak. Walau tentunya teori tidak semudah praktiknya, yaa … saya tetap bukan ibu sempurna, masih ‘mislek’ di sana-sini.

Di luar apa yang saya dapat dari kuliah saya, saya juga bisa membuktikan pada anak saya, kalau saya mengatakan padanya ‘ayo belajar’, anak saya bisa melihat sendiri kalau ibunya juga melakukan hal yang sama. Bundanya sekolah dan belajar juga, seperti dia. Kalau dia ikut saya kuliah pun dia bisa melihat langsung bagaimana saya belajar di kelas. Dalam hal belajar, saya jadinya tidak hanya bicara dan menyuruh, tetapi anak saya melihat sendiri contohnya dari saya. Ini perlu extra effort tentunya.

Mengatur waktu adalah yang paling penting, apalagi kalau anak kita masih usia sekolah dasar ke bawah. Kita harus sadari kalau sudah benar-benar berkomitmen  untuk sekolah lagi, jangan sampai sudah meninggalkan anak untuk kuliah, tapi tidak serius. Termasuk ketika saya akhirnya bisa menyelesaikan skripsi dan sidang walaupun lama luar biasa. Saya merasa punya komitmen untuk menyelesaikan kuliah, karena bagaimana pun juga kuliah ini sudah mengurangi waktu saya bersama anak-anak. Saya merasa perlu menunjukkan ke Aira Aidan bahwa kalau kita sudah memutuskan melakukan sesuatu, ya, kita harus menjaga komitmen tersebut. Selain itu saya menghindari jangan sampai stress menghadapi tugas atau ujian, karena bisa-bisa nanti dilampiaskan di rumah dan ke anak. Karena bagaimanapun juga tanggung jawab kita yang utama itu sebagai ibu  dan istri. Jadi ketika tugas sudah dirasa overload ditambah urusan rumah dan mengasuh anak,  mata kuliah yang diambil  saya kurangi saja agar di kampus dan di rumah bisa sama-sama berjalan dengan baik.

Kunci saya adalah jangan bolos kuliah untuk hal yang tidak penting, sebaiknya absen ‘disimpan’ untuk saat-saat emergency, karena ketika di kampus status kita adalah mahasiswa, jadi tetap harus mengikuti peraturan kampus. :)

*thumbnail dari sini


One Comment - Write a Comment

Post Comment