Edukasi Perangkat Lunak Asli Sejak Dini

BSA | The Software Alliance, yang dulu BSA (The Business Software Alliance), mewakili perusahaan-perusahaan besar pembuat perangkat lunak dunia, diantaranya adalah Apple, Corel, Microsoft, Dell, Intel, Oracle, termasuk salah satu software house lokal juga, Mitrais. BSA memfokuskan diri pada memerangi pembajakan dan penggunaan ilegal perangkat lunak.

Bulan Maret lalu, BSA menyosialisasikan komik edukasi dan microsite tentang HAKI dan penggunaan perangkat lunak bajakan, BSA juga mengumumkan penunjukan Zain Adnan sebagai Kepala Perwakilan BSA yang baru di Indonesia. Zain akan memimpin BSA menjalankan upaya organisasi mencakup kebijakan, edukasi, pemasaran, komunikasi serta upaya penegakan hukum di Indonesia.

Peluncuran komik edukasi ini sudah digagas sejak setahun lalu dengan pemikiran bagaimana cara mengedukasi masyarakat, terutama generasi muda dan mahasiswa, calon pembuat perangkat lunak di masa depan. Komikus Beng Rahadian yang didapuk menjadi co-author komik ini mengatakan bahwa sebagai seniman yang berkarya di bidang kreatif, beliau ingin karyanya juga dihargai. Sama dengan membeli perangkat lunak asli, berarti kita menghargai hasil karya orang dan menjaga kelangsungan produksi perangkat lunak favorit kita tersebut.

Aktor Dennis Adhiswara yang turut diundang dalam acara tersebut menambahkan bahwa programmer perangkat lunak adalah orang-orang seperti kita juga, punya anak punya keluarga punya pekerjaan selama kita membayar pekerjaan mereka instead of mengunduh bajakannya atau menggunakan pirantinya secara ilegal. Tadinya di pikiran Dennis, programmer game adalah orang yang sukses dan kaya, tapi ketika diperlihatkan keseharian para programmer ini, baru ngeh bahwa kehidupan mereka ternyata sama saja dengan kita.

Hmmm…kalau saya, sih, ngerti banget karena saya sendiri pernah jadi bagian dari industri software daann.. bapaknya D4 sendiri tukang ‘mrogram’ :D Jadi memang buat saya sama sekali nggak pernah terlintas persepsi bahwa programmer itu kaya, hahaha.. Yang ada, buat saya programmer itu kerjaannya berbulan-bulan kurang tidur, riset dan testing yang lamaaaa dan berulang-ulang, belum lagi kadang program setengah jadi (atau malah hampir jadi!), tahu-tahu desain harus dirombak karena perubahan selera dan kebutuhan pasar *lah curcol dia :D*.

Dari beberapa narasumber di acara kemarin, bagi saya memang penjabaran Dennis yang paling mendekati kenyataan di lapangan. Pengakuan bahwa baru belakangan berusaha ‘mengaslikan’ seluruh software dan game yang digunakan setelah sebelumnya juga pakai bajakan karena yang original harganya mahal, sangat mewakili sebagian besar pengguna piranti lunak di Indonesia. Saya yakin, kok, pengguna Indonesia bukannya ngga mau pakai yang asli kalau harganya terjangkau.

Pihak BSA menanggapi masalah harga yang mahal ini hanya memberikan komentar,”Ada banyak produk di luar sana. Gunakan yang paling sesuai.” Paham, sih, yang dimaksud ‘sesuai’ itu termasuk ‘sesuai dengan kantong’. Nah, tapi kalau yang sesuai kantong itu nggak kaya fitur dan nggak bikin produktivitas bagus seperti yang mahal, nggak selesai lingkaran setannya, dong?

Paling pas memang cara Dennis, mulailah dari satu program atau game dahulu. Beli saat diskon atau sale.
Kalau masih dirasa kemahalan, mulailah dari program di ponsel atau tablet. Program komputer okelah mahal, bisa ratusan ribu. Mari kita tunggu diskon…hehehe. Tapi program ponsel atau tablet, biasanya hanya sepuluh-duapuluh ribu, lho. Untuk seumur hidup pula, nggak perlu beli lagi kalau ada update-nya. Masa bisa beli ponsel atau tablet berharga jutaan, tapi aplikasinya masih pakai bajakan?

Yuk, dimulai. Stop beli perangkat lunak bajakan dan dukung yang asli.

Nggak lama dari sekarang, mungkin salah satu programmer yang makan sehari-harinya dan keluarganya dari penghasilan membuat atau menjual program, adalah anak atau cucu kita :)

sumber: rilis konferensi pers BSA


Post Comment