Bayi BBLR dan Prematur

IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) secara rutin mengadakan seminar media untuk menyosialisasikan informasi mengenai masalah-masalah kesehatan yang umum terjadi di masyarakat.

Kali ini, Kamis 21 Februari 2013, topik-topik yang dibahas adalah:
  • Mencegah dan Merawat Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), oleh dr. Risma Kerina Kaban Sp.A(K) dan
  • HIV/AIDS: Bagaimana Mencegah dan Mengobatinya pada Anak oleh dr. Nia Kurniati Sp.A(K), Ketua Satgas HIV IDAI.

Mulai dari bahasan BBLR dulu, ya. BBLR berbeda dengan prematur karena BBLR diukur dari berat/massa, sementara prematur diukur dari umur bayi dalam kandungan. BBLR bisa tidak prematur, lho, kalau lahirnya diatas 37 minggu. Sementara yang prematur juga belum tentu BBLR kalau berat lahirnya diatas 2500 gram. Hanya saja di banyak kasus kedua kondisi ini muncul bersamaan karena penyebabnya saling berhubungan.

Penyebab BBLR dan prematur sangat banyak dan bervariasi, dari yang sifatnya genetis, riwayat medis (misalnya riwayat kelainan genitourinary, kehamilan sebelumnya, riwayat infeksi, dll), sampai yang sifatnya lifestyle (misalnya merokok, konsumsi alkohol, dan kekurangan nutrisi). Penyebab genetis tentunya susah kita cegah, ya, jadi lebih mudah fokus ke medis, yaitu menyembuhkan dan mencegah infeksi penyebab BBLR/prematur dan perbaikan kebiasaan sehari-hari.

Beberapa infeksi yang diketahui menjadi penyebab BBLR/prematur seperti ISK (infeksi saluran kencing, hati-hati yang sering anyang-anyangan, ya), rubella (campak jerman), dan cytomegalovirus (CMV) bisa disembuhkan atau minimal bisa dicegah. ISK bisa sembuh dengan pengobatan dan perawatan teratur, sedangkan rubella dan CMV bisa dicegah dengan vaksinasi sebelum hamil.

Menurut dr Risma, merokok, walaupun pasif, meningkatkan risiko kemungkinan BBLR sampai 2x lipat, lho. Jadi walau ibu hamil tidak merokok atau stop merokok ketika hamil, bila orang-orang di lingkungannya sehari-hari seperti rekan kerja, suami, atau orang-orang yang serumah tetap merokok, risiko akan tetap sama. Stres juga faktor risiko, lho. Ada teman saya yang mengalami PJT (perkembangan janin terhambat), yaitu berhentinya perkembangan janin, diurut-urut penyebabnya ternyata karena pada saat itu dia sedang ada masalah keluarga yang berat. Janin berhenti berkembang pada usia 34 minggu, dan saat akhirnya diputuskan untuk dilahirkan saja pada usia 37 minggu, kondisinya sama dengan bayi 34 minggu. Alhamdulillah, si bayi sehat dan selamat sampai sekarang berusia dua tahun.

Pencegahan yang bisa dilakukan untuk mengurangi kasus dan risiko BBLR/prematur antara lain:

  • stop merokok dan merokok pasif.
  • meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan.
  • rutin melakukan pemeriksaan selama kehamilan.
  • memastikan kecukupan nutrisi selama hamil.
  • pemeriksaan dan perawatan sejak sebelum hamil, seperti perencanaan kehamilan dan mengatur jarak antar kehamilan.
  • vaksinasi sebelum kehamilan untuk memastikan bebas dari infeksi yang dapat menyebabkan BBLR/prematur.

Masalah yang paling utama pada bayi BBLR/prematur adalah mempertahankan daya dan kualitas hidupnya sampai kondisi kesehatannya dianggap stabil. Mereka yang lahir prematur, belum sempat mendapatkan antibodi karena antibodi baru ditransfer dari ibu di trimester ketiga. Pembentukan lemak tubuh juga belum sepenuhnya selesai di usia prematur. Sehingga dari dua kondisi ini, infeksi dan hipotermia (penurunan suhu tubuh) merupakan musuh utama dari BBLR/prematur.

ASI sangat membantu daya tahan bayi melawan infeksi. Sebisa mungkin semakin cepat bayi diberi ASI, semakin kecil pula kemungkinan terkena infeksi. Pada bayi BBLR/prematur, kadang diperlukan tambahan HMF (human milk fortifier) untuk membantu pertambahan berat badan bayi.
Pada kasus hipotermia, pencegahannya adalah penggunaan inkubator, yang pasti sudah default di RS, ya. Selain inkubator, ada cara yang lebih sederhana tapi efektif yaitu KMC (kangaroo mother care). KMC adalah skin-to-skin contact antara ibu dan bayi. Badan ibu berlaku sebagai termomodulator yang memastikan bayi selalu pada suhu yang tepat. Saat suhu tubuh bayi turun, suhu tubuh ibu akan naik. Demikian pula sebaliknya, saat bayi terlalu panas, suhu ibu akan menurun. Amazing, ya!

O, ya, pastikan bayi dalam keadaan stabil dan sudah lepas dari peralatan bantuan kehidupan seperti alat bantu nafas/ventilator sebelum bisa KMC, ya, moms.

Terapi KMC didasarkan pada penelitian bahwa bayi yang dipisahkan dari ibunya di jam-jam awal kehidupannya akan menunjukkan gejala stres, lebih sering menangis, dan menurunkan daya hidup.

Keuntungan KMC untuk bayi adalah:

  • selalu dekat dengan ibu sehingga menghilangkan faktor stres karena perpisahan.
  • denyut jantung & pernafasan bayi stabil. Kemungkinan sesak berkurang 75%.
  • tidak ada stres yang disebabkan karena tubuh dingin. Energi bayi tidak perlu terpakai untuk menghangatkan diri.
  • waktu tidur lebih panjang.
  • kenaikan berat badan lebih cepat.
  • perkembangan otak lebih baik.
  • lebih jarang menangis.
  • lebih sukses menyusu langsung pada ibu.
  • memperpanjang durasi menyusu
  • memperpendek masa perawatan di RS.

Sementara keuntungan untuk ibu adalah:

  • lebih percaya akan kemampuan diri merawat bayi prematur.
  • bonding yang lebih bagus dengan bayi.
  • bayi lebih cepat lancar latch-on/perlekatan saat menyusu.
  • mendukung ASI eksklusif.
  • mengurangi penelantaran anak.

Sayangnya belum semua dokter aware akan pentingnya KMC, atau mungkin sudah aware tapi cenderung enggan menjalankannya karena berbagai alasan.

Teman kuliah saya mengalami pre-eklamsia karena ACA (kekentalan darah), melahirkan pada usia 34 minggu dengan berat bayi 1440 gram. Ketika teman saya meminta untuk KMC, dokter menolak dengan alasan berat bayi belum 1800 gram. Nah, padahal dari baca-baca tentang KMC, sama sekali tidak ada batasan berat bayi sebagai syarat KMC. Asal bayi stabil, itu sudah cukup. Bahkan waktu itu hendak belajar menggendong saja juga disyaratkan harus tunggu berat 1800 gram dulu. Belajar menyusu juga belum boleh dengan alasan bayi prematur refleks hisapnya kurang. Nah, kalau memang kurang, kenapa nggak malah dilatih? Mungkin bisanya lebih lama dari bayi full-term, tapi kalau tidak mulai belajar bukankah akan lebih lama lagi bisanya?
Sedangkan teman yang lain saat bayi 1500 gram sudah diperbolehkan KMC, dan bahkan belajar menyusu langsung. Cukup asal bayi sudah lepas alat bantu saja.

Semoga Mommies yang sedang berjuang bersama bayi prematur atau BBLR dokternya kooperatif semua, yaa.. Dan semoga bayi cepat stabil dan bisa cepat pulang berkumpul bersama keluarga yang lain.

 

sumber: print out presentasi

sumber foto dari sini dan sini


16 Comments - Write a Comment

  1. Ranirain, turut berduka cita yaa atas kehilangannya. Semoga ananda bisa jadi pembuka pintu surga bagi kedua orang tuanya dan semoga keluarga diberi ketabahan ya.

    Untuk berat 1.7kg sebetulnya besar kemungkinan selamat Mom, walau memang harus rawat inap sampai (biasanya) beratnya diatas 2kg. Di RS besar biasanya ditahan memang tidak diperbolehkan pulang sambil dilihat perkembangannya untuk memantau kelainan yang belum terdeteksi atau infeksi sekunder.

Post Comment