Motherhood Monday: Yuna Kristina Dan Manajemen Waktu

Saya yang rumah dan kantornya berjarak 1,5 jam saja sering merasa waktunya habis di jalan. Nah, bagaimana kalau para ibu bekerja yang jarak tempuh rumah ke kantornya di atas 2 jam?

Yuna Eka Kristina, PR Manager Orang Tua Group adalah salah satu di antara sekian banyak ibu bekerja yang harus menjalaninya. Bayangkan, rumahnya di Bogor, kantor di Cengkareng. Can you imagine?

Tapi Yuna menjalaninya dengan happy, lho! Menurutnya, yang penting time management yang baik. Seperti apa, sih? Simak obrolan saya, yuk.

Ceritain daily routine-nya, dong? Bangun jam berapa, berangkat, sampe kantor hingga sampai rumah?

Kalau di hari kerja biasanya saya bangun jam 4 untuk siapin keperluan anak- anak sekolah (mulai dari seragam, bekal sekolah, dll)

Nah, selebihnya menyiapkan diri sendiri untuk berangkat kerja. Paling lambat pukul 5.15 pagi, berangkat ke kantor, dan akan sampai di kantor rata- rata pukul 07.30 (dengan catatan keadaan jalan dengan macet normal :) )

Sampai kantor seperti biasa, diisi dengan pekerjaan, meeting, dll. Rata- rata setiap hari, paling cepat pulang jam 18.00 (kecuali harus gym, selesai sekitar 19.00). Sampai dirumah lagi rata- rata pukul 21.30, atau paling cepat jam 21.00 :)

Pas berangkat dan pulang, apa masih sempat ketemu anak-anak atau suami?

Dalam jadwal normal seperti di atas, sampai rumah jam 21.00, saya masih sempat bertemu dengan suami dan anak- anak.

Btw, anak- anak saya punya jadwal tidur yang agak beda dengan anak lainnya :) Mereka biasa tidur di atas jam 23.00. Banyak orang bilang, kalau jadwal mereka terbentuk karena terbiasa menunggu mamanya sampai pulang :) (keberuntungan buat saya? atau kesalahan saya? silahkan menilai sendiri :), but I enjoy every second with my kids, walaupun saya harus mengurangi waktu tidur saya). Nah, dari waktu bertemu yang cuma sedikit itu, saya berusaha tidak mengerjakan apa- apa kecuali menemani mereka bermain atau bercerita, selelah apa pun….tapi banyak orang memang bilang kan, rasa lelah semua hilang seketika waktu ketemu anak- anak, ya, dan itu benar! They’re my energy reserves.


Pernah mengalami drama ibu bekerja, misal mau berangkat anak rewel ga mau ditinggal? Atau anak sakit sehingga semalaman ga tidur? Atau malah ga ada pengasuh! Gimana mengatasinya?

Oh, tentu. Semua ibu bekerja biasanya pasti pernah mengalami itu. Akhir- akhir ini Nesha (5 y.o) dan Kinesh (3,5 y.o) sering melontarkan kata- kata ini: Aku ga setuju mama kerja. Atau karena mereka sudah mengerti hari, dimana mereka tahu seharusnya mamanya di rumah, dan ternyata harus ikut training atau event, dari malam sebelumnya mereka akan sibuk melarang mamanya pergi. Karena saya berusaha untuk tidak berbohong pada mereka, jadi saya akan berusaha menjelaskan alasan mengapa saya harus pergi atau mengapa saya harus kerja, dengan berbagai sanggahan tentunya :). Nah, kalau sudah begitu, maka saya akan coba dengan membujuk. Biasanya triknya adalah berjanji menggantikan hari itu dengan waktu lain (sengaja ambil cuti memang untuk short gateaway, walau sekedar ‘nginep- nginep cantik’ di Jakarta :))

Kalau anak sakit dan semalaman ga tidur, kayanya sudah menjadi makanan ibu ya. Tapi saya bersyukur memilki manajemen yang dapat mengerti fungsi saya yang sekaligus juga seorang ibu. Ketika anak saya sakit, saya tak pernah dihalangi untuk mengajukan ijin. Saya akan masuk kantor, bila saya yakin bahwa anak saya bisa ditinggal. Anak- anak selalu memenuhi sebagian besar pikiran saya, apalagi ketika mereka sakit. Prinsip saya, daripada saya masuk kantor, tapi hati dan pikiran saya tidak disana, lebih baik saya fokus pada anak saya.

Sedangkan tak ada pengasuh, menjadi alasan mengapa cuti saya cepat habis :) Biasanya di tengah tahun, saya akan panik, melihat sisa cuti tahun itu :) Tapi untuk hal ini, saya rela, sebab saya bekerja memang untuk keluarga dan anak- anak saya, so, anak- anak tetap yang utama. Ketika ada sesuatu yang berhubungan dengan anak yang menghalangi saya masuk kantor, maka tentu karena anak adalah prioritas, maka saya tak segan untuk meminta ijin. Menurut saya, selama kita bisa menunjukkan perfomance kerja yang baik, maka manajemen pun akan memahami multifungsi kita sebagai ibu sekaligus karyawan. Saya bahkan hampir dikatakan tak pernah absen menghadiri rapat- rapat atau acara- acara di sekolah anak.

Bagaimana dengan suami, apa tidak keberatan dengan jarak kantor yang jauh (banget) dari rumah? :D

Haha…jarak yang jauh (banget) itu memang kerap menjadi kendala, namun bukan untuk suami melainkan untuk saya sendiri (ya iyalah, kan saya yang merasakan :) ). Yang menjadi keberatan suami saya adalah mengenai jam sampai rumah atau waktu- waktu yang seringkali tersita, untuk lembur atau keluar kota. Namun, yang saya coba bangun adalah kepercayaan suami, bahwa saya bekerja untuk keluarga, dengan bonus aktualisasi diri, bukan sebaliknya. Sehingga, saya akan selalu menjadikan keluarga sebagai prioritas. Waktu yang tersita adalah bagian konsekuensi dari sebuah pekerjaan, namun bila pada hari- hari biasa, maka saya akan selalu berusaha pulang secepatnya dan selalu menggantikan waktu keluarga yang terhilang.

Memiliki waktu khusus dengan suami, nggak?

Punya dong :) Kami berdua berkomitmen untuk menyisihkan satu hari dalam seminggu untuk bertemu after office hour. Waktu ini biasa kita habiskan untuk nonton, atau yang paling sering sih makan dan ngobrol (secara kami berdua jarang punya waktu untuk ngobrol :)). Atau, kalau memang di minggu tersebut, kami berdua tidak sempat, maka kami meggantikannya dengan keluar berdua sebentar di akhir Minggu setelah anak- anak tidur (konsekuensinya begadang :)) Yang paling penting, peraturannya itu: jangan ada gadget di antara kita :) Walaupun hanya sekali seminggu, kami berhasil membangun quality time berdua

Kerja dari Senin- Jumat, plus sering biz trip juga. Waktu luang kan pasti untuk keluarga, kalau me time-nya kapan?

Me time saya, tuh, cukup sederhana. Mencuri waktu saat anak belum bangun, untuk menikmati secangkir kopi sudah menjadi me time yang bisa membuat saya refresh. Setiap pagi, di kantor pun demikian. Sambil sarapan, saya biasanya membaca novel.

Pokoknya walaupun hanya 15 menit atau 30 menit dan melakukan hobby, cukup menjadi me time saya.

Catatan saya adalah me time memang penting, tapi semenjak jadi ibu, saya memang terbiasa mengesampingkan keinginan pribadi dan meletakkan kepentingan keluarga di atasmya. Dengan demikian keinginan saya untuk diri sendiri tidak muluk- muluk dan menikmati saat- saat saya melakukan “sesuatu yang berarti” untuk keluarga. :)

Pernah merasa jenuh dengan kondisi ini? Lalu apa yang dilakukan?

Tentu ada :) Cara paling ideal adalah ambil cuti, ajak keluarga liburan.

Namun, tak selamanya hal itu bisa dilakukan kan? Cara- cara praktis yang biasa saya lakukan adalah mencoba melakukan hal- hal di luar rutinitas. Sesekali mengantar anak sekolah, menantang diri membuat program- program baru (di pekerjaan), memanfaatkan waktu weekend sebagai waktu untuk men-charge kembali energi dan refresh pikiran :)

Menurut Yuna, menjalani kehidupan sbg wanita karir, ibu dan istri itu gimana, sih?

Amazing sekaligus complicated. :) Amazing karena banyak pengalaman dan pelajaran yang tidak pernah saya dapat di sekolah atau di lembaga pendidikan manapun. Terutama pelajaran mengenai kesabaran, menekan ego, pelajaran manajemen waktu serta pelajaran menjadi seorang wanita tangguh yang tidak mudah menyerah dan cerdik :) .

Complicated, sebab rasanya 24 jam sehari dan 7 hari seminggu itu tidak cukup. Banyak hal yang harus dilakukan, semua menuntut pemikiran matang, menguras energi, menguras emosi :)

Ada kalanya, dunia berasa jungkir balik di tengah load pekerjaan yang padat, serta keinginan untuk membagi waktu dengan keluarga.Namun, di situlah seninya, sebab dari triple peran ini saya menjadi semakin matang, semakin dewasa. Ini proses yang luar biasa.

Yang saya ambil inti dari pembicaraan kami adalah, jalani semuanya dengan santai, tanpa beban. Karena, peran kita sebagai ibu, istri, pekerja, jika dijadikan beban, semulus apa pun pasti akan terasa berat. Setuju?

Thanks for sharing!

 


5 Comments - Write a Comment

  1. saluuuuuttttt bwat Mom Yuna *acung 4 jempol*
    saya yang jarak kantor-rumah “cuma 1,5 – 2 jam saja kadang ngerasa pegel sama macetnya Jakarta yang makin aduhai ^o^
    eh tapi bener loh!! Kalau kita memprioritaskan keluarga dan perusahaan juga mengerti kondisi kita sebagai istri dan ibu, pasti akan jadi lebih mudah menjalaninya…

    seperti saya yang pastinya ijin nda ngantor kalau Danny-boy sakit disertai demam. Kalau hanya batuk pilek dan anaknya masih aktif sih biasanya saya hanya pantau kondisinya dari kantor ^^.
    dan memang harus merelakan me-time yang muluk-muluk ^^ Kadang bisa mandi santai (+ luluran 20 menit) saat Danny-boy sedang bobo pules saja sudah jadi me-time yang sangat berharga.

  2. Asli, dari pertama dengar cerita Yuna rumah di Bogor aja udah pusing kepala ngebayangin waktu di jalannya :)) Tapi setelah ngobrol serius, salut dengan time management dan kekonsistenannya menjalankan jadwal. Salut, deeeeh :)

  3. Holllaaaaa Mbak Yuna, sambil cipika-cipiki :). Memang salutttt deh sama ibu yang satu ini, keren.
    Suka banget sama quote ini,” Setiap pagi, di kantor pun demikian. Sambil sarapan, saya biasanya membaca novel”. Me time yang simple tapi tetap menambah wawasan, patut dicoba nih. Thanks to sharing, Mbak!.

  4. “Mencuri waktu saat anak belum bangun, untuk menikmati secangkir kopi sudah menjadi me time yang bisa membuat saya refresh…. ” Samaan nih dengan saya, meskipun ga bisa setiap pagi karena anak juga ga tentu bangunnya. Tapi sarapan sambil baca novel, ini bisa jadi tambahan ide menarik buat saya, Thanks sharingnya mba Yuna

Post Comment