Are You Ready For a(nother) Child?

Anak saya kini berusia 3,5 tahun. Tiba-tiba, saya dikagetkan bukan hanya oleh semakin banyak celoteh dan tingkahnya, tapi juga oleh celetukan orang-orang di sekitar saya, “Kapan Bumy punya adik?”

Uh-oh.

Saya akui pertanyaan itu kerap membuat saya tidak nyaman, bahkan kadang tersudut (tergantung seberapa kepo yang menanyakan). Memang saya bisa menjawabnya dengan sepintas lalu, tapi ketidaknyamanan yang saya rasakan ini membuat saya ingin menggali apa yang ‘mengganjal’ di diri saya (sekaligus curhat, hehe).

Sejak awal menikah, saya dan suami punya semacam kesepakatan tidak tertulis bahwa “Satu anak saja cukup, kok.” Yang mendasari pemikiran kami saat itu adalah kami merasa tidak mampu mencintai anak (pertama) kami sebesar anak-anak lainnya nanti. Romantis sekali, ya? :))

Kami menikah selama hampir 1,5 tahun sebelum akhirnya saya dipercayai untuk hamil. Usaha saya untuk hamil didahului dengan konsultasi ke dokter kandungan spesialis fertilitas. Saya didiagnosis mengidap PCOS dan harus mengikuti terapi pengobatan agar bisa hamil. Syukurlah tak lama setelah melakukan terapi, saya berhasil hamil. Tapi saya tetap harus mengonsumsi obat hingga usia kandungan mencapai 4 bulan.

Saat itu, saya merasa minum obat sebagai usaha yang cukup berat. Karena didera mual-mual, makan saja sulit, apalagi ditambahi kewajiban mengonsumi obat yang harus saya kunyah karena saya tidak bisa menelan kapsul.

Pada usia kehamilan 38 minggu, saya melahirkan secara caesar. Saat berada di meja operasi, saya sempat terserang panic attack karena merasa dada saya sesak (yang ternyata wajar akibat anastesi  tulang belakang). Ini mengakibatkan tekanan darah saya naik dan meracau karena ketakutan :(

Saya akui saya cukup trauma atas kejadian di ruang operasi itu, dan hal itu membuat saya berpikir dua kali untuk melahirkan secara caesar lagi.

Pasca kelahiran, saya menghadapi drama menyusui (yang untungnya tidak berlarut-larut), kolik, dan konflik seputar pengasuhan anak dengan ibu saya sendiri. Saat itu saya memang masih tinggal di rumah orangtua. Mungkin saat itu saya didera baby blues juga ya, jadi perasaan kesal akibat konflik (yang kalau diingat-ingat sekarang sesungguhnya sepele) dengan ibu membuat saya merasa semakin tidak berdaya.

Ketika anak saya berusia 2 bulan, saya terserang demam selama 2 minggu diikuti batuk-batuk. Karena khawatir salah minum obat (saat itu saya masih memberi ASI ekslusif), saya konsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam. Saya kaget ketika dokter memvonis saya menderita penyakit pernapasan yang menular. Dunia saya seolah runtuh…. Saya harus minum obat yang sebagian besar antibiotik selama paling tidak 6 bulan, padahal saya masih menyusui. Saya mencoba berkonsultasi pada dokter yang berbeda, dan syukurlah dokter itu ternyata jauh lebih atentif dan, yang terutama, empatik. Beliau menjelaskan panjang-lebar tentang penyakit yang saya derita, dan mengatakan bahwa obat-obatan yang saya minum tidak berpengaruh pada ASI. Beliau juga membesarkan hati saya dengan mengatakan bahwa penyakit ini curable, asal disiplin minum obat.

Tapi badai memang pasti berlalu. Saat anak berusia 3 bulan, kami berjodoh dengan sebuah rumah. Di rumah sendiri, saya merasa punya kontrol atas pilihan dan cara saya mengasuh anak, dan ini menjadikan saya lebih rileks menjalani parenting. Sementara dalam hal kesehatan, setelah melalui 6 bulan pengobatan, saya dinyatakan sembuh.

Saat pelan-pelan mengingat ini semua, saya menjadi paham kenapa saya begitu enggan untuk ‘mengulangi’ seluruh tahapan tadi jika punya anak lagi.

Meskipun saya sadar bahwa kesulitan yang saya hadapi pada saat punya newborn kemarin juga dialami banyak ibu lain. Bahkan, pasti ada yang masalahnya jauh lebih berat ketimbang saya.

I just think I’m not emotionally ready for another child.

Mungkin saat ini saya masih berada dalam tahap “pemulihan”-bukan dari segi fisik, tapi jiwa. Saat melihat anak saya tumbuh dengan sehat dan cemerlang, saya bersyukur kondisi saya yang tidak prima saat menyusuinya dahulu tidak mempengaruhinya. Saat saya melihat rumah mungil kami pelan-pelan terisi dan semakin terasa sebagai ‘rumah’ untuk hati kami, saya bersyukur bisa memberikan tempat tinggal yang nyaman untuk anak saya.

Saya sedang menunggu dan menyaksikan satu demi satu kekhawatiran lama saya tumbang.

The “bulky,” smile-y, 6-month-old baby.

Tapi, semakin lama berpikir, saya malah dihinggapi segudang kekhawatiran baru: jika kami menambah anak, bagaimana dana pendidikannya? Bagaimana saya membagi waktu sebagai ibu bekerja dengan DUA anak kelak? Apakah saya bisa menjadi ibu yang adil?

Tapi saya juga khawatir apakah anak saya akan ‘baik-baik saja’ jika menjadi anak tunggal? Will we make our child miss anything ‘important’ by not giving him any sibling?

Di tengah badai pemikiran ini, saya memilih untuk berpegang pada 2 hal utama, yaitu:

1. Kesepakatan saya dan suami.

Saya selalu berusaha mengkomunikasikan pertimbangan saya kepada suami. Baik dari segi finansial, maupun kesiapan kami secara emosional untuk menjadi orangtua dengan dua anak.

Dari situ, kami mencoba menyelaraskan pandangan apakah SAAT INI kami sudah siap menambah anak atau belum. Sejauh ini keputusannya sih belum :D

2. Apa yang dikatakan hati saya.

Meskipun saya sadar ada banyak orang dengan perjuangan lebih tough dalam usaha memiliki atau membesarkan anak, namun saya ingin keputusan saya didorong oleh hasil mengukur diri secara objektif, bukan karena dorongan emosi atau sosial saja.

Saya teringat potongan dialog dari film The Back Up Plan (2010) yang menurut saya menggambarkan dengan tepat (dan kocak) seperti apa rasanya memiliki anak:

Stan: “What’s it like, the whole kid thing?”

Playground Dad: “The best way I can describe it is, it’s awful awful awful awful, and then, something incredible happen, and then awful awful awful awful awful awful and then something incredible happens again. It’s like this all day every day. I feel like I’m drowning, like I’m gasping to get my old life back. And then, a small moment happens that’s perfect, that’s so magical, so life-affirming that makes it all worth while. “

The less-chubby, (still) smile-y, 3-and-a-half-year-old baby.

Memiliki, atau menambah anak, jelas is not for the ones who don’t have the guts :)

Yang jelas, apapun keputusan Mommies, it’s all yours, and make it yours! Mau punya satu anak saja, atau keluarga besar, atau bahkan a childless marriage, you’re the one who’s gonna be in ‘the game’ 24/7, and everything will come back at you in the end. So, are you ready for a child, or two? Please do share your thoughts about this. :)

*thumbnail dari sini


15 Comments - Write a Comment

  1. kalo gw gak sempet mikir mau nambah anak atau enggak, karena pas anak pertama gw 8 bulan, gw udah hamil lagi. Akhirnya pas anak pertama gw umur 1,5 tahun, anak kedua gw lahir. Sekarang maksain harus pake KB supaya gak kebobolan lagi. Udah cukup deh punya 2 anak cowok. Walaupun orang bilang tambah 1 lagi biar ada ceweknya, gw tetep gak mau. lah kalo kebeneran cewek ya Alhamdulillah, kalo dapet cowok lagi gimana? bisa gempa terus rumah gw kalo ada 3 balita cowok. hahaha

  2. Sama seperti apa yang sepupuku alami, dari awal dia sudah berketetapan: 1 ANAK CUKUP! ^^

    Anaknya sekarang sudah 10 tahun (cewe) dan meski anaknya itu merengek2 pengen punya adik + desakan orang2 sekitar supaya memberikan adek ke anaknya, sepupu saya ini tetap TAK BERGEMING sedikit pun!

    “Lah.. emang yg mau ngurus anak gw nanti sapa? Apa mereka mau kasih makan? Bayar susu + sekolahnya, dll?” begitu tukasnya pada saya ^^.

    Iya juga ya… soal jumlah momongan mah urusan pribadi masing2 rumah tangga itu ya. Apapun keputusannya kan pasti sudah dipikirkan secara matang ^^.

    Nah! Kalau saya pribadi sebenernya malah nda kepengen Danny-boy cepet tambah gede (emak2 egois ya) supaya tetep bisa saya peluk2, timang2, cium2 dengan mesranya…. Maklum kata orang, anak cowo cenderung cepet mandiri dari mamanya nanti… dan mungkin itu juga yang akhirnya membuat saya dan suami memberinya adik sebagai teman bermainnya kelak ^o^. Dan ya… saat ini Danny-boy masih 19 bulan ketika saya mengandung calon adiknya (21w) ^^

  3. Sama dengan nengapril, belom sempat mikir buat nambah, dah dikasih rejeki lagi sama Allah SWT. Kalo sekarang disuruh nambah cowok, karena anak cewek semua, slalu bilang insha Allah dua aja cukup. Dikomentarin macem2, dibales pake senyum aja.

    Yaa, kemungkinan berubah sih ada mengingat suami yang masih pengen nambah, tapiii mengingat usia yang makin menua gini sihh, sepertinya kemungkinan itu, kecilll sekali :D.

  4. sebenernya yang cukup mengganggu dengan keputusan hanya akan memiliki 1 anak adalah pertanyaan – pertanyaan di sekitar kita. Gue baru mulai merasakan betapa kurang peka-nya orang indonesia menyangkut pilihan2 seseorang. Dari pertanyaan : “udah punya anak berapa?” nyambung ke “mau punya lagi ga?” nyambung ke “kenapa kok gitu?”

    trus nanti berkelanjutan ke masalah agama dkk. ga ada menghargainya sama sekali *jadi curhat hahaha*

    1. cibs, waa iya ada aja yang mengaitkan ke urusan agama yahh. dibilang setiap anak ada rejekinya itu salah satu yang sering gue dengar. yaa namapun orang beriman tentu saja harus percaya kalau Tuhan pasti akan memelihara dan mencukupi kebutuhan umatNya. tapi mengukur diri bukan dari segi kecukupan lahiriah aja kan. hehehe, lebih baik kita mulai dari diri sendiri ya untuk gak “merongrong” orang lain nambah anak heheh.

  5. waktu belom sebulan ngelahirin anak pertama 2011 kemarin, udah sesumbar ke suami.. pengen 3 anak !! alasannya, karena saya & suami hanya 2 bersaudara jadi kalau udh besar berasa sepi, dan lagi targetnya usia 32 udah tutup pabrik ( 6 taun lagi), suami dengan berat hati mengiyakan karena dipaksa, padahal dia yang kekeuh gak mau karena : biarpun asuransi di kantor cover sampe 3 anak tapi jatahnya lebih kecil, belom capeknya, belom biaya dll.. ( padahal yang hamil juga siapa ya? ) he..

    tapiiii….. semuanya berubah, sekarang saya hamil 3 bulan, dan lagi masa mual muntah yang masyaallah kadang suka bikin nangis saking kesiksanya, pleus capek jg ngeladenin batita 23 m yang lagi pecicilan sementara emaknya pengen istirohat, huhu,, blame to hormones :p
    akhirnya.. begging ke suami “: udah ah 2 anak aja yah cukup ! jadi sebelum 30 tutup pabrik, lalu fokus ke pendidikan anak2 dan tentunya kita bisa hanimuuun” hahaha…

    dan tentunya dijawab dengan tertawa kemenangan oleh suami -__-“

  6. Ris, gw dulu sama kaya lia kirana. Besar dari keluarga yang rata-rata beranak lebih dari 2 membuat gw berfikir untuk mempunyai lebih dari 2 anak.

    Itu dulu, sebelum punya anak :))))) Sekarang gw masih labil antara hanya 1 atau 2 anak :)))

  7. Vanshe: Ah, pas tulisan ini keluar pas aku lagi ngerasain yang sama. ga kepikiran nambah anak lg. Aku jg punya pengalaman gak enak pas hamil, melahirkan, smp awal2 kelahiran dengan drama vs mertua. Kalo suami mikirnya biaya pendidikan dll yg mahal.
    Ditanyain sm org2 kpn punya anak lg, okelah masih bisa ngeles ato becanda. tapi kalo dah nasehatin dng sok tahu bhw anak tunggal tuh egois, kesepian/ penyendiri, manja n tgantung sm orangtua, Itu yang bikin sebel. Gak ada jaminan anak yg punya saudara kandung lain lebih baik dr anak tunggal. tergantung anaknya dan cara didik orangtuanya kan…

  8. pagi2 baca artikel ini langsung bilang ‘Yes!’ untuk paragraf terakhir Vanshe :D
    anak ku sekarang baru 13 bulan, sementara banyak orang bertanya ‘kapan nambah lagi?’ ditambah ada rekan kerja ku yang anaknya seumuran juga lagi hamil. ketika orang2 di sekitar mulai bikin anak, aku & suami mah tenang2 aja. aku sih maunya nantilah klo anak udah 3-4 tahun, biar minimal udah bisa lebih mandiri. klo suami malah bilang nti aja klo anaknya 5 tahun! alasan suami, selama hamil aku lebih rewel n manja dari biasanya (_ _)”
    tapi di luar itu, urusan rumah yang sekarang rasanya bakal repot klo aku nambah anak. pembantu aja nggak ada, sementara aku kerja, kayaknya belum siap sekarang. lagi asik menikmati ngurus si kecil yang ini! so, do I ready for another child? in next 3-4 years I think :)
    TFS!

  9. waww..sama banget nih sama vanshe,abs menikah dokter mendiagnosa aku PCOS, dng merubah gaya hidup alias makan sehat + Pilates rutin +minum metformin dan ditambah doa siang malem akhirnya Tuhan menjawab doa saya.Setelah 3bln hidup sehat akhirnya hamil, dan sekarang anak ku udh 2 th 8bln. Nah..sekarang udh mulai bnyk yg nanyain kpn punya ank ke 2, sampe dokter aku bilang “cepetan bikin dari sekarang ..belum tentu langsung hamil lagi” Sempet jg tergoda untk cepet hamil lagi..tp setelah dipikir2 dan dihayati aku belum siap untk mengulangi segala jenis baby blues dan keletihan mengurus semuanya sendiri.
    Sebaiknya kita harus siap mental jasmani rohani ketika memutuskan ingin memiliki momongan kembali,yg pd akhirnya untk kebaikan keluarga juga

    Thanks for sharing vanshe dan yg lainnya..

Post Comment