Ibu Bekerja dan ASI

by: - Wednesday, April 18th, 2012 at 8:00 am

In: Breastfeeding Infants (4 weeks - 12 months) Mommy Chatter 52 responses

0 share

Saya berkomitmen memberikan ASIX bagi Talita, tanpa campuran sufor atau apa pun, bahkan setelah memasuki masa MPASI-nya. Buat saya, sufor bukan pilihan. Tapi karena satu dan lain hal, karena kurangnya ilmu, semua stok ASIP dari Talita usia 2 bulan harus dibuang karena rusak. Jadi mulailah saya kejar tayang dalam memenuhi kebutuhan ASIX Talita.

Seminggu menjelang kembali bekerja, hari-hari saya diisi hanya dengan mengurus Talita & memompa ASI. Bahkan mandi pun terburu-buru. Tak ada me time sama sekali. Bude yang bakal bantu momong Talita, walaupun agak mengerutkan kening, tapi nggak komen banyak-banyak. Saya hanya bilang, optimis, kita bisa dengan ASIP kejar tayang.

Hari pertama kerja, saya sounding ke atasan. “Beh, saya masih menyusui, mau ASIX, jadi saya minta waktu untuk memompa ASI sampai 6 bulan. Saya akan pakai ruang mana pun yang tersedia. Oke, ya, Beh.” Siiippp … saya keluar rumah dari pukul 07.30 dan sampai rumah lagi pukul18.30. Jadwal mompa ASI: 4 kali (pukul 08.30; 11.00; 13.30; 16.00) di kantor, 3 kali (21.00; 01.00; 04.00) di rumah. Semua pake BP. Sekali perah hasilnya beragam bisa 50-250 ml.

Satu bulan berlalu, tekanan kerja meningkat. Atasan pun merasa toleransinya sudah di ambang batas. RUU ASI tidak jelas dan tidak bisa dijadikan pegangan, nggak pentinglah untuk kepentingan bisnis. Dan lembur? JANGAN! Saya terlalu rindu pada Talita *padahal dulu bisa kerja sampai pukul 10 malam* Sindiran demi sindiran, si Bude yang momong mulai berkeluh kesah, ASIP kurang. Saya keukeuh, buang air kecil masih 6 kali kan, toh berat naik sekilo tiap bulan juga. Tapi si Bude juga pegel, soalnya Talita rewel, nggak bisa tenang kecuali nenggak ASIP.

Iman pun tergoyahkan, setelah 2 bulan bekerja. Terjadilah dialog ini:

Bunda: “Sayang, ntar pulang kita mampir k C4 ya. Kita beli sufor ya. Yg paling mahal.”

Ayah: “Insya Allah”

Bunda: “Serius, nih, buat kakak. Kayanya ASIP-nya kurang deh. Kasihan si Mbak, panik tuh, Mas” *bawel*

Ayah: “Ya, Insya Allah, ya”

Begitu pulang, lempeng saja, tuh. Dan terjadilah dialog berikut:

Bunda: *takut-takut* “Eh, gak ke C4 dulu, ya? Kan mau cari susu?”

Ayah: “Ya, pulang saja dulu. Ntar keluar lagi kan bisa. Kita liat kakak dulu, ya. Kan kasihan.” (tumben, biasanya juga santai)

Bunda: “O, ya, sudah”

Sampai rumah, ya, malas pergi-pergi lagi. Capek gila! Lagipula sudah kelonan sama Talita mah, enak gitu. Sekitar seminggu kemudian dialog yang sama pun terulang. Tapi Alhamdulillah, suami nggak pernah yang sampe keturutan nurutin panik si istri. Hehehe. Dan Alhamdulillah, Talita tetap naik secara signifikan baik berat, tinggi, dan lingkar kepala. Buang air kecilnya pun minimal 6 kali sehari.

Menjelang 6 bulan, mulai bersiap menyambut masa MPASI, Makanan Pendamping, bukan Makanan Pengganti. Jadi masih ASI yg utama. Jadwal pumping tidak berubah. Saya pun mulai subscribe milis lagi. Sekarang ikutnya 2 milis aja: MPASI dan kesehatan.

Sekarang saya harus lebih rajin lagi cari informasi. Untuk MPASI saya ambil WHO sebagai panduan. Saya pake serealia sebagai MPASI awal. Diikuti sayur di minggu ketiga, dan buah di akhir minggu keempat. Di 7 bulan, masuk 2 kali sehari dengan penambahan protein baik hewani seperti ayam & sapi, maupun nabati seperti olahan kedelai. Dan ASI tetap yang utama, sesuka Talita. Jadi … jadwal pumping, ya, tetap seperti biasa.

Saat Talita 8 bulan, sudah makan nasi tim saring, frekuensi makan 3 kali sehari. Pumping berkurang: 3 kali di kantor, 2 kali di rumah. Alhamdulillah, sudah bisa sedikit mencurahkan tambahan waktu untuk kerjaan.

Talita setahun! Yaayy! Walaupun belum bisa table food, nasi pun masih campur. Setengah utuh, setengah dihaluskan. Lauk dan sayur masih dicincang atau dihaluskan. Saat 13 bulan, coba UHT plain. Huek … nggak suka. Dicampurlah dengan ASIP. Komposisi 30:70 dan sejauh ini, sih, suka. Setelah 13 bulan, baru bisa nasi lembut, lauk dan sayur masih dicincang. Dan masih no gulgar. Frekuensi  pumping sudah menjadi 2 kali di kantor dan sekali di rumah.

Alhamdulillah, setahun penuh kami bertiga sudah menjadi tim yang solid melalui suka duka komitmen ini. Insya Allah, masih panjang tahun-tahun yang masih harus kami lalui. Sekali lagi, terima kasih yang tak terhingga buat si breastfeeding father yang telaten & penuh kasih.

I PUSHED MYSELF TO THE LIMIT AND I MADE IT!

Share this story:

Recommended for you:

52 thoughts on “Ibu Bekerja dan ASI

  1. Pingback: Yoke Pratiwi
  2. Pingback: Yessy Fajariati
  3. Pingback: riska midori
  4. Pingback: nurul fadhila
  5. Pingback: mayang anjani
  6. Pingback: Ershy Rafanti
  7. Pingback: Daud Arkajenar
  8. Pingback: teti novitasari
  9. Pingback: miee
  10. Pingback: AIMI
  11. Pingback: chacariez
  12. Pingback: Annisa
  13. Pingback: maya firstia
  14. Pingback: Fadhila Ovi
  15. Pingback: Dara Qafy
  16. Pingback: poppy kartikasari
  17. Pingback: yosa wisandya
  18. Pingback: diana youlita o
  19. Saluut, i’ve been there, dan kerasanya berat banget jadi ibu bekerja yang menyusui. Begitu kelar masa ASIX, whooaaa… langsung sujud syukur! Dan ngaruh banget di produksi ASI, karena udah nggak stress mikirin stok ASIP, eh malah lebih banyak produksinya!
    TFS, La!

  20. Enggak pernah ngerasain ngasih ASI sambil kerja apalagi kejer2an mompa, karena dulu Maika cuman mau nyusu langsung karena Mamanya selalu available :)
    Jadi kagum banget sama Ibubekerja yang berjuang kasih ASI ama anaknya, kebayang capek dan rempongnya.

  21. i’m still on that position now..tapi jadwal pumping ga se extrem mbak’e, cuma 3x dikantor sama 3x dirumah..dan bos saya walaupun org Jepang tapi bener2 support banget..4 days to to MPASi and i just can’t hardly wait :)

  22. Pingback: Lydianna Fahmi
  23. Selalu bersemangat klo ada yg ngebahas per-ASI-an. Kyknya anak kita seumuran deh mbak Ella.. Sampe skrg ak msh takut klo kurang stok ASIP, secara dr dulu ga pernah berlebih tp ga pernah kejar tayang juga. Sampe skrg ak mompa 4x dikntor, kadang ditambah sekali dirumah. Tangguhku mimik ASIP-nya “brutal”, mau MPASI udah bnyk dan table food pun, nenen bun2 tetep nomor 1. Jadi ga bisa lengah barang sedikitpun, secara juga ak ga rela utk mengkombinasikan dgn UHT (klo utk campuran makanan sih oke2 aja). Makanya kmrn ak sampe coba resep wasiat “jus pare” demi menjaga produksi ASIP terjaga. Suamiku sih jrg bgt muji2 usahaku ini, tp diem2 dia suka bilang ketemen2nya “Anak gw donk, cuma ASI aja, hebatkan?” (ga lgsg muji istrinya, heheheh… So, bagiku perjuangan per-ASI-an belum selesei, tetap semangat…

  24. Pingback: Eline Raidy
  25. Pingback: nunik maharani
  26. Pingback: Mommies Daily
  27. Pingback: Puspa Melati
  28. Pingback: Revita Sari Dewi
  29. Pingback: Beboo® BabynKids
  30. Pingback: mega zunnurain
  31. Pingback: beibinix
  32. Pingback: beibinix
  33. Pingback: Soekiyah Permani
  34. Pingback: indah siregar
  35. Pingback: Fauziah Ayu R.
  36. Pingback: herra c siahaan
  37. Pingback: Lulu Rahadi
  38. Pingback: ratih_putri
  39. Pingback: oktavia priandini
  40. Pingback: acha wahid
  41. Pingback: Amilla Agus
  42. Pingback: Shinta Sonata
  43. Semangatttttt ibu menyusui…sayah sekarang masih kejar tayang buat ASI nya andra, pompa hari ini buat besoknya..gak bisa nyetock karena kurang ilmu waktu masih cuti melahirkan..hiksss…alhamduliillah sampai sekarang Andra tetap bisa Asi full..dan bulan depan Andra udah mulai MPASI…berarti ujian S1 ASI kelar..lanjut S2 ASI…semangattttt

Leave a Reply