What We Need; Women Supporting Women!

Mommies, tahukah kalau dalam dunia korporat, komposisi wanita di level awal (entry level) ada sebanyak 53%. Sedikit lebih banyak daripada laki-laki. Tapi, komposisi itu semakin berkurang pada tingkat atas dan atasnya lagi sampai hanya ada sisa 3% pada level CEO?

Jadi dari pertama mulai kerja dan kemudian menaiki tangga karir, banyak perempuan yang berguguran. Alasannya pasti banyak; ada yang memang mau punya usaha sendiri aja, ada yang ingin self employed, atau ada yang memang ingin jadi ibu rumah tangga. Ada juga yang sebenarnya ingin sekali mencapai ke sana, tapi merasa mempunyai banyak kendala sehingga tidak bisa terlalu mengejar karir.

Info di atas saya dapatkan dari Ibu Betti Alisjahbana saat beliau menjadi pembicara conference Women Wired Weekend lalu. Siapa, sih, yang nggak kenal Bu Betti? Wanita pertama di IBM Asia Pacific yang menjabat sebagai Country Manager. Selain itu Bu Betti juga sukses menjaga keseimbangan dunia kerja dan keluarga. Jadi pastinya, there are a lot of things we can learn from her. Beruntung sekali Mommies yang datang ke seminar kami kemarin karena selain Betti Alisjahbana, bisa belajar  juga dari Najelaa Shihab dan Ligwina Hananto, yang keduanya juga wanita hebat yang sukses dalam karir dan keluarga.

Anyway, salah satu yang masih terngiang di otak saya adalah Betti Alisjahbana mengatakan bahwa perempuan HARUS saling dukung. Najelaa Shihab juga mengatakan hal yang sama dan juga menekankan bahwa supporting other women will make us happier!

Kata-kata tersebut bikin saya tertegun, “Kok mereka berdua bilang hal yang sama? Apa betul perempuan selama ini tidak saling dukung?” Setelah saya pikir lebih jauh lagi, baru saya menyadari dasar pemikiran mereka itu. Coba saja …

  • Perempuan  lebih kejam menanggapi penampilan perempuan lain dan juga suka mengukur kemampuan dari segi penampilan. Padahal kita sendiri yang sering teriak-teriak bahwa kita nggak mau dinilai dari penampilan aja, cepat menuduh bahwa si A di promosi karena berpenampilan menarik. Tapi ternyata kita sendiri berlaku seperti itu pada sesama perempuan. Secara nggak sadar, kita suka merasa bahwa lebih baik dari rekan kerja kita, hanya karena kita berpenampilan lebih oke.
  • Terkadang, women don’t celebrate others’ success. Kalau ada yang karirnya menanjak, punya tas baru, atau yang sedang naik daun, bukannya ikut senang, kita malah bertanya-tanya dalam hati dan kasak-kusuk sana sini untuk mencari tahu ada apa di balik semua itu?  “Kok bisa posisinya naik? Pasti ada yang nggak beres, nih?” atau “Tasnya baru lagi? Nyicil, ya?” . Benar seperti salah satu riset yang pernah saya baca, katanya ketika laki-laki karirnya beranjak, dia akan lebih disukai sekelilingnya. Tapi untuk seorang perempuan, ketika dia lebih sukses dan lebih mempunyai power, semuanya, baik perempuan maupun laki-laki, akan mengurangi dukungannya.
  • Banyak dari perempuan sulit untuk berbagi. Dari mulai hal-hal remeh seperti berbagi dapat barang bagus dan murah di mana karena takut diikutin, atau kasih resep tapi ada satu bumbu yang nggak dikasih tahu, sampai hal-hal serius di kantor seperti nggak memberikan mentorship kepada yang junior di kantor karena takut tersaingi. Ya, perempuan itu sangat kompetitif dan takut tersaingi. Bahkan saya juga pernah baca bahwa bos perempuan biasanya lebih senang untuk menjadi mentor junior laki-laki. Kenapa? Karena nggak ribet katanya, nggak yang sedikit-sedikit “anak sakit” atau “Mbaknya si anak lagi pulang kampung”. Padahal, lagi-lagi menurut riset, perusahaan yang CEO-nya perempuan mendulang keuntungan 10 persen lebih banyak daripada perusahaan yang dipimpin oleh CEO laki-laki. Dan kita masih “malas” mendukung sesama working Mommies?
  • Sometimes we can be super judgmental. Terutama untuk para mommies, nih, yang persaingan dalam menjadi super mom and raising super kids-nya cukup ketat. Sedih, deh, kalau membayangkan betapa judgmental-nya kita. Saya ingat waktu itu pernah heboh di Twitter karena ada seseorang mengirim tweet karena melihat anak yang asyik bermain dengan pengasuhnya di playground. Padahal ibunya ada, sedang duduk di meja makan, dan (katanya) asyik bermain smartphone-nya. Duh, duh. Itu kan hanya beberapa menit atau paling hanya sejam dari perannya orang itu sebagai ibu yang dilihat ya? Dan kita sudah bisa bikin asumsi bahwa dia bukan seorang ibu yang baik. Ada juga yang sampai memotret seorang anak yang sedang disuapi pengasuhnya di restoran sementara si ibu juga ada di situ. Please, we never know the whole story, so who we are to judge?

Karena banyaknya para mommies yang judgmental ini ketika 2 minggu yang lalu saya ke Pejaten Village sama anak saya yang umur 4 tahun, dan ajak mbaknya, saya jadi mikir, “Mungkin yang melihat saya selewat di lobi atau di eskalator ada yang menghakimi saya, ya. Anak sudah besar masih bawa mbaknya juga.” Apalagi kalau orang itu tahu jarak mal dan rumah saya hanya 10 menit. Wah, komentarnya pasti tambah panjang. Padahal, dia nggak tahu kalau alasan saya ke Pejaten Village itu karena mau belanja bulanan di Hypermart. Nah, biasanya belanjaan akan sampai 2 kereta dorong penuh. Nggak mungkin, kan, saya dorong keduanya sendiri sambil menuntun anak.

Saya juga sering harus bekerja atau menghadiri acara di akhir minggu dan saya nggak mau meninggalkan anak lama-lama jadi saya selalu ajak mbaknya untuk menemani ketika saya sedang kerja. Mereka yang suka menghakimi, kan, tidak tahu alasan kenapa saya harus mengajak mbaknya anak-anak. Mereka hanya lihat ketika saya, anak-anak dan mbaknya sedang makan di restoran.

Saya nggak pungkiri bahwa memang ada dari kita yang sangat tergantung pada pengasuh anak sampai kelewat batas sampai-sampai anaknya jauh lebih dekat dengan mbaknya daripada ibunya. Tapi just as in other case, kita nggak bisa mengeneralisasikan bahwa para ibu yang bawa mbaknya ke mal adalah ibu pemalas yang nggak mau mengurus anaknya. Karena kita nggak tahu cerita lengkapnya, kita nggak tahu hari itu mereka ada aktivitas apa saja, dari jam berapa sampai jam berapa.

Pastinya ada banyak contoh lain tentang “kejamnya” perempuan terhadap sesama perempuan … silahkan berbagi pesan dan kesan   di kotak komentar di bawah artikel ini yaa.

Kembali ke paragraf awal di atas, tentang menurunnya jumlah perempuan di setiap jenjang karir. Ada satu video dari Sheryl Sandberg, Facebook COO yang selalu saya tonton berulang-ulang dan selalu sukses bikin saya merinding (transkripnya bisa dibaca di sini). Video ini diambil dari upacara kelulusan Barnard College (liberal arts college for women). Ini memang tidak berhubungan dengan gerakan saling dukung untuk perempuan. Tapi berhubung hari ini hari perempuan dan ada pembahasan tentang perempuan dan karir di artikel ini, jadi berhubungan, deh.

Katanya: Often times, women stop before they really need to stop, they leave before they really need to leave! Jadi maksudnya kita itu berpikir terlalu jauh, “Gue ambil kuliahnya yang gampang aja, ah, yang nanti karirnya nggak terlalu berat biar bisa urus keluarga juga.” Atau ketika sudah kerja dan baru menikah, kita sengaja nggak mau menerima tawaran yang lebih menantang dan mau yang aman-aman saja karena takut kalau misalnya hamil nanti pekerjannya akan keteteran.  Memang sah-sah saja untuk nantinya memutuskan menjadi ibu rumah tangga. Tapi sampai pada hari pertama kita menjadi ibu rumah tangga, kita harus tetap menggunakan seluruh potensi kita dan tetap at full speed di kantor dan jangan pernah meremehkan kemampuan diri sendiri. Apalagi, kita sudah meninggalkan anak selama 10 jam setiap harinya. Sayang sekali kalau di kantor performance kita biasa-biasa saja.

Selamat hari perempuan!. Remember, It’s an honor and a privilege to be a woman. And we can do so much more than what we have limiting ourselves all this time. Let’s increase that 3% number, so women can have more voice, more power to make decisions and create a more Mommies friendly company.

And when we’re climbing the carporate ladder, don’t forget to support fellow women ya Mommies *group huuugggg* :’)

 


60 Comments - Write a Comment

Post Comment