Papa Saya Nggak Asik!

Dulu saya sering berpikir, kok bisa ya mama dan papa saya memutuskan untuk menikah dan bertahan sekian lama dengan perbedaan karakter mereka yang sangat terlihat mencolok? Mama saya adalah seorang perempuan yang rame, hangat, ekspresif, dan terbuka. Sebaliknya papa saya adalah sosok pria yang pendiam, tertutup, dan kaku. Saya tidak mempunyai kenangan digendong atau dipeluk Beliau semasa kecil dan menurut mama saya hal itu memang jarang sekali dilakukannya. Tak heran jika akhirnya saya, kakak dan adik saya pun merasa lebih dekat dengan mama kami.

Selain karakternya yang tidak hangat, papa saya pun bersikap sangat protektif terhadap anak-anaknya. Banyak sekali larangan untuk kami yang didasari alasan agama ataupun kekhawatirannya yang kadang berlebihan. Larangan-larangan ini mulai terasa mengganggu bagi saya ketika mulai menginjak masa remaja, di mana saya sedang ingin bebas menikmati waktu bersama teman-teman. Ingin menginap di rumah teman? Tidak boleh! Sahabat saya berulang tahun dan mengadakan perayaan di malam hari? Harus mengajukan ‘proposal’ minimal seminggu sebelumnya dan itupun belum tentu ‘gol’. Dibandingkan dengan teman-teman yang relatif lebih dibebaskan oleh orang tuanya, papa saya sungguh tidak ‘asik’. Habis Maghrib saya harus sudah ada di rumah dan alasan apa pun, walaupun jalanan macet yang dia sendiri tahu tidak mengada-ada, akan dihadiahi kuliah panjang mengenai bagaimana seharusnya anak perempuan bersikap. Yang mengesalkan, pada saat itu kakak saya yang juga perempuan sudah mulai kuliah dan sebagai anak pertama, Ia dianggap lebih bisa dipercaya. Sementara adik saya laki-laki dan dia bisa bebas pulang ke rumah jam berapa saja dan bergaul dengan siapapun. Saya merasa diperlakukan tidak adil dan perlahan-lahan saya mulai memberontak.

Ketika mulai kuliah dan peraturan-peraturan itu belum juga melonggar, saya mulai coba-coba berbohong. Sebetulnya saya tidak berniat melakukan kenakalan, biasanya kebohongan saya hanya karena saya ingin ikut ngumpul bersama teman-teman. Sering kali saya ketahuan dan dimarahi, tetapi berulang kali saya lakukan hal yang sama. Hubungan saya dan papa semakin diperparah dengan adanya beberapa fakta tentang Beliau yang saya ketahui dan membuat saya makin mempunyai persepsi negatif terhadapnya. Papa pun merasa saya semakin bandel dan sikapnya malah tambah keras terhadap saya. Saya ingat sekali pada saat saya sedang dimarahi karena ketahuan pergi ke sebuah klab malam, papa mengatakan “Kalau kamu nanti punya anak kamu akan mengerti kenapa papa bersikap seperti ini.” Dalam hati saya berjanji, saya tidak akan memperlakukan anak saya seperti ini nanti.

Secara tidak sadar, saya terus-terusan melakukan hal-hal yang menentang kemauan papa. Saya mengambil pekerjaan di sebuah kafe franchise yang mengharuskan saya bekerja hingga larut malam hampir setiap hari. Untuk papa, pekerjaan saya ini adalah mimpi buruknya karena selain sering pulang malam, Ia menganggap pekerjaan ini dekat dengan dunia maksiat. Ia ingin anak-anaknya mempunyai pekerjaan yang ‘serius’, seperti di bank misalnya, di mana kami bisa pulang ke rumah pukul 5 sore sebelum Maghrib seperti dirinya. Tentu saja ide ini saya tolak mentah-mentah. Kerja di bank? Membosankan sekali! Setiap papa memprotes pekerjaan itu, saya marah luar biasa dan menuduh papa menghalangi jalan saya untuk maju dan mempunyai karir yang bagus. Mama berulang kali meminta saya untuk tidak melawan papa, tapi tidak saya gubris karena saya sudah memendam kekecewaan dan rasa marah kepada papa selama bertahun-tahun. Puncaknya, saya keluar dari rumah orangtua saya dan hidup sendiri di Bali. Tentu saja keputusan saya ini ditentang habis-habisan oleh Papa, tapi toh saya berangkat juga.

Di Bali saya seperti menemukan jati diri saya sesungguhnya. Saya bebas melakukan apa saja tanpa ada yang cerewet mengomeli saya dan rasanya menyenangkan sekali. Terlebih lagi saya menemukan kekasih yang saya pikir akan menjadi pasangan hidup saya selamanya. Walaupun pada saat itu saya tahu kekasih saya itu tidak akan disetujui oleh orangtua saya, terutama papa, karena beberapa perbedaan, saya tetap nekat dan berjanji akan memperjuangkan hubungan itu sampai kapanpun.

Tetapi kebebasan itu hanya berlangsung beberapa tahun saja karena setelahnya hidup saya malah berantakan. Hubungan saya dengan kekasih hancur, karir saya juga biasa-biasa saja dan cenderung stagnan. Saya merasa jauh dengan teman-teman saya yang pada saat itu sudah mulai menikah dan otomatis mempunyai kesibukan sendiri. Saya merasa sangat kesepian dan limbung. Saya tidak bisa menceritakan kesedihan saya kepada keluarga karena selain tinggal berjauhan, hubungan saya dan papa sudah sangat aneh sehingga saya merasa tidak mungkin bisa curhat kepadanya. Saya pikir, bukannya rasa tenang saya dapatkan, jangan-jangan saya malah kena marah! Kepada mama pun saya tidak bisa bercerita karena takut membuat beliau sedih dan kepikiran.

Didorong dari kemauan untuk menolong diri saya sendiri, saya pun pelan-pelan mulai membuat perubahan-perubahan kecil. Karena merasa tidak berkembang di Bali, saya mencari kesempatan untuk bisa pindah lagi ke Jakarta. Syukurlah, perusahaan tempat saya bekerja membuka kantor cabang di ibukota dan menempatkan saya di sana. Keputusan ini tentu saja disambut baik oleh keluarga saya dan sayapun kembali tinggal bersama orangtua. Bukan hal yang mudah karena saya sudah terbiasa tinggal sendiri, tetapi saya kali ini saya mencoba untuk banyak mengalah dan mengikuti aturan-aturan yang ditetapkan papa. Ajaibnya, papa seperti melakukan hal yang sama karena sikapnya tidak lagi keras dan kaku seperti dulu, melainkan lebih memberikan kepercayaan terhadap saya. Ngomel, sih, masih dilakukan sekali-sekali, tetapi kalau dulu omelannya selalu saya tanggapi dengan perlawanan, kali ini saya biarkan saja lewat seperti angin lalu (tentunya sambil pasang tampang menyimak, dong!)

Kembali ke Jakarta terbukti merupakan langkah yang baik karena saya kembali mendapatkan support system saya yaitu keluarga. Saya juga berusaha membina kedekatan dengan teman-teman lama saya yang ternyata walaupun sudah berkeluarga, tetap mau diajak ngumpul-ngumpul dan mendengarkan curhat perempuan jomblo seperti saya ini. Perlahan, kehidupan saya mulai kembali nomal dan semangat saya untuk maju muncul lagi. Saya juga menyadari bahwa untuk bisa merasa bahagia, saya perlu ‘berdamai’ dengan kenyataan bahwa ada hal-hal di hidup ini yang tak bisa saya ubah, bagaimanapun kerasnya saya mencoba.

Satu tahun setelah kembali ke Jakarta, saya mendapatkan pekerjaan yang sudah saya impikan sejak lama. Bagusnya lagi, jenis pekerjaan ini mendapatkan anggukan setuju dan senyum bangga dari papa. Tak lama setelahnya saya menemukan jodoh saya dan menikah. Nyaris tak ada ‘drama’ yang mewarnai proses pernikahan saya dan suami, semuanya mendapatkan doa restu dari papa dan mama.

Satu tahun setengah setelah menikah, sayapun melahirkan anak pertama. Walaupun masih kaku menggendong bayi perempuan kecil saya, papa terlihat bangga dan bahagia dengan kehadiran satu lagi cucu di keluarganya. Suatu hari, sambil menunggui anak saya tidur, kata-kata papa dulu waktu memarahi saya kembali terngiang. Rupanya papa benar. Saya sekarang sangat bisa mengerti mengapa papa dulu selalu khawatir dan menerapkan larangan-larangan yang terasa kaku dan tidak masuk akal. Orangtua mana yang tidak takut akan kemungkinan buruk yang bisa terjadi kepada anaknya? Walaupun tetap tidak setuju dengan beberapa cara yang dia gunakan untuk melindungi anak-anaknya, saya jadi bisa lebih mengerti jalan pikirannya dan merasa sangat menyesal telah melakukan hal-hal yang kurang terpuji semasa ‘pemberontakan’ saya terhadapnya. Papa mungkin bukan orang yang hangat dan suka memeluk kami, Ia mungkin adalah papa yang kaku, tukang ngomel dan ngelarang, tetapi hal tersebut sebenarnya adalah bentuk cintanya terhadap anak-anaknya.

Tentang kesalahan-kesalahan yang dia perbuat di masa lalu, saya pun mempunyai cara pandang yang berbeda sekarang. Saya menyadari bahwa papa adalah manusia biasa. Orangtua memang seharusnya menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya tetapi kenyatannya hidup tidak selalu seperti itu. Orangtua juga bisa melakukan kesalahan dan kita sebagai anak harus belajar untuk memaafkan mereka. Dan tentu saja hal ini akan lebih mudah jika kita bisa mencintai mereka seperti bagaimana orang tua mencintai anak-anaknya. Tanpa kondisi.

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Parenting Indonesia.


35 Comments - Write a Comment

  1. sukses deh mewek pagi2… :'(
    papa gw sama bgt nih..kaku, ga pernah gendong keempat anak nya waktu bayi atau balita
    tapi pas cucu nya lahir which is cucu pertama dari gw digendong2 mulu loh walaupun awalnya kaku…hehehe
    sampai mama ngedumel, coba dr dulu bisa gendong bayi…

    btw, kerja di bank ga boring kokkk…. *pembelaan diri ;)

  2. aduh jadi inget alm. papa gw :((
    semalem gw baruuuuu aja keingetan sama dia sampe ga bisa tidur, kangennnnnn banget :(
    papa gw juga bukan tipe org yg suka meluk anak2nya, bilang sayang, dan itu berimbas ke gw & adek gw yg ngga pernah mengungkapkan rasa sayang ke ortu lewat kata2. tapi gw bersyukur waktu papa gw sakit, somehow kata2 “aku sayang sama papa” bisa meluncur tanpa rasa awkward (-_-) dan waktu dia sakit itu muncul rasa penyesalan gw selama ini klo gw pernah bohong, berantem sama dia and i realize klo semua sikapnya dia yg keras & protektif itu krn sayang sama anak2nya. ah, if only i could turn back time…

    hiiiiiiksssss… ambil tissue dulu aah….

    1. affi

      Dulu pas gue lagi ribut-ributnya sama bokap, nyokap gue juga sering ngingetin tuh ren, katanya nanti kl bokap udah nggak ada, gue pasti akan nyesel banget. Untung gue nggak sampe titik itu, nggak kebayang sedihnya kalo sampe ada apa-apa so I feel you, Irene…hang in there ya, he’s watching over you :) *hugs*

  3. cerita nya baguus :'(
    apa semua papa mayoritas kaya gitu ya? kaku? klo papa ku selain kaku orangnya pendiem banget.. tapi dibalik diam nya itu dia sebenernya menyimpan rasa over protektif ke anak2nya.. aku justru dari dulu deket sama papa dan nyaman sama papa di banding ke mama..

    tapi emang bener ya, waktu kita punya anak, biasanya kita menyadari klo apa yg dilakukan ortu kita itu sebenernya untuk kebaikan kita..karena mereka mencintai kita..

    suka deh sama kalimat penutupnya ” Dan tentu saja hal ini akan lebih mudah jika kita bisa mencintai mereka seperti bagaimana orang tua mencintai anak-anaknya. Tanpa kondisi…”

  4. Affi, gue jadi brebes mili pagi-pagi nih :'(

    Bokap gue juga kayak bokaplo, Fi. Kaku, nggak asik, ribet lah pokoknya. Dulu anak-anaknya dilarang merokok dengan alasan “rokok itu pintu gerbang menuju narkoba.” Tiap hari ada razia rokok di tas dan mobil. Trus kalo ada cowok dateng, meskipun cuma temen, bokap gue bakal kasih muka jutek. Makanya temen-temen cowok gue suka salting kalo lagi main ke rumah dan ketemu bokap hehehe.. Satu-satunya cowok yang disenyumin dan diajak ngobrol sama bokap ya cuma laki gue pas kita masih pacaran. Selain laki gue itu Jawa banget dan doyan basbisbus (cucok sama bokap), mungkin waktu itu bokap udah rada desperate kali ya karena gue belum kawin-kawin juga, hihihi..

    Kalo inget segala tingkah laku gue yang menentang bokap dengan cara gue, plus bohongin Beliau, rasanya pengen jitak kepala sendiri deh. How stupid I was back then :'(

    1. affi

      Hahah sama banget ra sama gue, bokap gue juga dulu sangar abis kalo ada temen cowok gue yang dateng. Kalo ada cowok yg telpon aja suka dibilang gak ada sama dia, padahal gue jelas-jelas duduk di sampingnya dan bisa denger dia ngomong! :D Asli ngeselin abis deh. Iya, emang banyak jg kok hal2 yang gue sesalin banget, but I also see it as a process of growing up. Dengan segala ‘pemberontakan’ itu gue jadi sampe ke tahap accepting, dan bokap gue pun setelah melewati itu semua kayaknya jadi lebih bisa menerima anak bandelnya ini apa adanya :)

  5. huhu bikin berkaca-kaca..Papa-ku jg seperti ini tipenya, pendiem, kaku juga serba ga boleh tapi karena pembelaan Mama aku bisa melewati masa muda dengan indah ;p..bliau sempet ngediemin aku smingguan gt pas aq mau nikah, dl aq ngerasa sedih bgt, tp seiring berjalannya waktu itu mungkin saat terberatnya utk melepaskan anak pertamanya menikah huhu ga tau juga sik pastinya apa, blio jg ga pernah cerita apa2..skrg suka berkaca2 jg klo Papa main sm cucu2-nya :)..rasanya setiap ayah punya caranya sendiri untuk menunjukkan cintanya pada anak2nya dan itu mmg berbeda seperti cinta ibu pada anak2nya..:)

  6. nenglita

    Yah, bokap gue udah diceritain juga sama @irrasistible :))

    Overall, apalagi melihat saat ini bagaimana bokap ke cucu2nya, bela2in pulang kerja setiap hari ke rumah gue/ kakak gue. Kadang2 kehujanan *bokap gue paling nggak demen bawa mobil* lalu nungguin sampe salah satu gue atau suami gue sampe rumah, karena nggak tega cucunya berduaan hanya sama pengasuhnya itu bikin gue mewek dan pengen buru2 sampe rumah karena semakin malam gue pulang, semakin malam lagi bokap gue sampe rumah. Pernah suatu hari gue harus pulang malam sekali, gue pikir bokap udah pulang, ternyata bokap belum pulang dan masih ngajak main Langit sambil menahan ngantuk, mata setengah tertututup dan bolak balik nguap. I feel bad. Ngebayangin bokap gue masih harus menempuh perjalanan dari Bekasi ke Condet lagi :'((

    1. affi

      Huaa Lit, bokap lo manis banget, jadi ikutan terharu bacanya. Bokap gue nggak sampe segitunya sih tapi banyak banget pengorbanan-pengorbanan beliau yang mungkin dulu gue take for granted, tapi setelah gue pikir-pikir lagi, luar biasa banget sebenernya artinya buat anak-anaknya..

  7. ini ortu gw bgt, sama gw jg pernah mikir ky lo fi, “nanti kl gw punya anak bebas deh plg jam brp aja”.. Tp skrg udah punya anak, tau bgt rasanya kaya apa.. Bener yah semua orang tua mau yang terbaik untuk anaknya, cara mereka emang beda2..
    mewek gw bacanya.. TFS ya affi..

  8. untung bapak gw asik… tapi tetep tegas. klo yang kaya begini seperti bapak mertoku gw. tapi gw insyaallah bisa mengerti kenapa orang tua, khususnya ortu laki2 terhadap anak perempuannya bersikap begitu protektif. dan sebetulnya mereka tetep sayang dan cinta sama anaknya, namun mereka juga punya cara sendiri2 dalam mengungkapkan dan meluapkannya. terharu gw baca ini… :’)

  9. Waaa, kalo saya kebalikannya Affi nih. Alm.Bapak saya orang asiikk banget, bayangin, kelas 2 SMP udah dikasih kunci rumah sendiri. Pas mau kuliah keluar kota dibekelin nasehat “kmu jangan seks bebas, jangan narkoba. Tapi klo tiba-tiba hamil atau jadi pecandu, pulang aja.. kita selesaikan masalahnya bersama-sama” hahahaa langsung gak kepengen nyobain yang dilarang.

    Tapi Almarhum gak panjang umur, beliau meninggal waktu saya masih kuliah, masih single. Waktu nikah, yg jadi walinya Adek, langsung mau nangis inget almarhum. Sekarang pun suka ‘iri’ ngeliat temen-temen yang bisa bawa cucu ke kakeknya :’) IMO, apapun tipe bapak kita, somehow kita bakal terus ngerasa ‘gadis kecil’-nya, yang walaupun udah dimarahin kayak apaan juga tetep pengen manja-manja atau ngadu sama beliau. Jadi kangeeenn…..

    1. affi

      Nah dulu gue juga punya temen yang bapaknya juga santai kayak alm. bapakmu, saz, jadi kalo dibandingin sama bokap gue yang kaku, apa-apa dilarang, kayaknya hidup gue nggak bebas banget. Duh pasti kamu kangen banget ya sama bokap, apalagi kl memang biasa sering manja-manja dan ngobrol

Post Comment