Keluarga Kocar-Kacir

Saya punya istilah sendiri untuk keluarga besar kami yaitu keluarga kocar-kacir. Yup, orangtua saya dan suami keduanya bercerai. Rumah tangga mertua berakhir sejak suami kelas 6 SD sedangkan orangtua saya baru resmi bercerai beberapa tahun lalu setelah melalui masa ‘perang’ cukup lama. Kalau diingat sekarang, lucu juga saya berjodoh dengan orang yang memiliki latar belakang mirip padahal tidak sengaja (ya iyalah namanya jodoh yang atur, kan,Yang Di Atas :P). Saya dan suami melalui masa pacaran cukup lama, 8 tahun, dan selama itu pulalah kami menjalani pendewasaan pikiran terutama soal hubungan dengan pasangan, perceraian, juga hubungan kami dengan orangtua masing-masing.

Kami berdua punya daddy issue alias bermasalah dengan para ayah. Kami memiliki marah yang begitu besar terhadap mereka, kekecewaan anak yang dipendam bertahun-tahun. Bahkan suami enggan memanggil ayahnya dengan sebutan “papa” seperti yang ia lakukan dulu waktu kecil, ia memanggilnya dengan nama. Saya pun malas sekali sowan ke rumah keluarga ayah. Paling saya menyempatkan diri untuk datang tiap lebaran saja, terlalu banyak amarah sampai kadang saya sesak dibuatnya. Kami lebih memilih untuk ‘lupa’ walau tak jarang kami berdiskusi soal rasa marah tersebut.

Kami tidak pernah membicarakan detail rumah tangga seperti apa yang kami inginkan. Belajar dari pengalaman, kami jadi tahu rambu-rambunya. Saat pernikahan mulai dibicarakan, tiba-tiba saja kami bertekad untuk memperbaiki hubungan dengan para ayah. Pernikahan memang awal “hidup baru”. Kedua ayah kami libatkan dalam acara pernikahan (walau dari pihak saya sempat memicu ketegangan antara saya dan ibu), apa pun … mereka adalah ayah kami.

Menjalani hidup sebagai suami-istri juga membuat kami lebih bisa menelaah dan memahami masalah yang dihadapi orangtua dulu. Kami menemukan perspektif baru. Saat Igo hadir dalam keluarga, kami pun (secara tidak langsung) berjanji untuk lebih berusaha memperbaiki hubungan dengan para ayah. Komunikasi lebih intens dan sering, kami belajar melupakan ego dan kemarahan kami. Saya tidak akan bohong, sulit sekali awalnya tapi saya terus berpikir sampai kapan saya akan marah. Kemarahan saya tidak akan mengubah apa pun, hanya membuat hati ini capek saja. Kebetulan, mungkin juga karena faktor umur (piss dulu ah, Papa dan Papa Mertua, hehe), para ayah juga mengalami perubahan. Jadi proses baikan (tanpa salam kelingking LoL) jadi lebih mudah.

Suami tidak pernah membahas ingin jadi ayah seperti apakah ia pada anak-anak. Tapi selama ini ia cukup membuktikan dengan usahanya dalam meluangkan dan menghabiskan waktu bersama Igo. Sekarang kami menikmati kondisi keluarga kocar-kacir ini. Lebih repot mengatur jadwal tapi, ya, itu salah satu tantangannya. Alhamdulillah Igo cukup dekat dengan kakek-neneknya. Di rumah eyang saya, ia merasa seperti di rumah sendiri … berlarian ke sana kemari, asyik ngobrol dengan eyang buyutnya, dan seseruan dengan eyang kakungnya. Begitu juga dengan eyang kakung dari pihak suami, akrab banget sampai-sampai susah pisah tiap kali ketemu.

Lalu bagaimana dengan daddy issue kami? Ibarat buku, sudah kami tutup. Tidak kami buang tapi disimpan rapi di rak kehidupan. Sewaktu-waktu bisa kami lihat dan baca untuk jadi pengingat.


33 Comments - Write a Comment

  1. ameeel

    mandaaaaaa, kisahnya persiiiis banget sama suami gw… ortu dia pun cerai pas SD/SMP (lupa persisnya), dan dia pun sempat memendam amarah yang sangaaaattt besar (pada kedua ortunya bahkan!)
    tapi begitu nikah dan punya anak, ya jadi kayak lo juga gitu, ibaratnya udah tutup buku… meski awalnya grogi, pelan-pelan hubungan makin membaik…
    dan, gw sangat nggak setuju pada mereka yang bilang bahwa anak yang ortunya cerai akan jadi anak broken home yang ‘rusak’… karena kalo ngeliat ke suami, kok suami sepertinya justru belajar banyaaaaaaaakkk banget dari perceraian ortunya, dan berusaha sebisa mungkin agar Rakata-Ranaka nggak usah ngalamin yang dulu dia dan adeknya alamin…

    btw, kalo buat gw pribadi sih, untungnya dulu suami nggak terlalu deket ke ortunya adalah begitu nyiapin pernikahan tuh gw bebas merdeka, nggak ada mertua yang ngegrecokin mau ini-itu :D

    1. sanetya

      Kadang gue sama suami suka ketawa aja kalau ada yang bilang anak hasil perceraian itu ‘rusak’ … ga merasa, sih, soalnya. Malah bener tuh, bisa belajar banyak banget.

      -__- gue pas nyiapin pernikahan malah rempong krn harus “adil”.

  2. nenglita

    A very nice story, Man!
    Takjub sejak pertama elo ceritain kisah ini ke gue, bukan krn ceritanya tapi karena gaya lo menceritakan. Ringan, tanpa beban, takjub karena lo punya rasa maaf yg begitu besar.
    Salut sama lo dan Febri, kalian berdua did the good job mengatasi isu ini. Semoga kebaikan akan selalu menyertai kehidupan rumah tangga kalian, ya.. Amin.

  3. Gue berkaca-kaca lho Man bacanya. Hebat!
    Gue selalu tahu teori ‘memaafkan’, bahwa memendam amarah itu malah bikin kita sendiri yang rugi. Tapi gue gak pernah kebayang kalo itu kejadian ama orang yang ‘seharusnya’ melindungi kita. Dan lo udah ngelewatin itu. Luar biasa, Man :)

    1. sanetya

      Dendam/marah itu seperti minum racun tapi ngarep yang kenapa2 itu pihak yang kita sebelin. Lah rugi ndiri :D
      Masih belajar untuk lebih ikhlas lagi, Pai … sisa-sisa kesel masih ada tapi, ya, harus bisa dilupakan. Salah satu hal yang dulu membuat kami sangat marah adalah yang lo bilang … orang ini kan harusnya menjaga dan mengayomi kami tapi kenapa kelakuannya malah begitu? But then again … kalau tanya kenapa ga bakal ada abisnya. Orang bisa khilaf.

      Thank you, Paaaiii …

  4. Terharu T_T
    I know your feeling Man..
    Cerita yang sama, tapi bedanya gw sampe sekarang gak tau dimana bokap gw, dia pun gak nyari gw..
    Jadi ya.. beginilah adanya hehehe

    Punya suami yg dari latar belakang keluarga bahagia, ortu lengkap dan penuh kasih sayang, beda banget 180 derajat dari keluarga gw. Agak susah juga pd awalnya buat adaptasi, gw yg lebih byk “sirik” jadinya, tp seneng juga akhirnya punya orang yang bisa gw panggil Papa, ya dialah Papa mertua :)

    Yah tp dari peristiwa itu semua kan jd byk hikmah yg bisa kita ambil ya..belajar banyak banget terutama buat keluarga sendiri yg kita punya sekarang :).

    Makasi ya buat ceritanya, it means a lot lho hehehe

    1. sanetya

      Plus-minus … *teteup* kalau kasus lo pas nikah “tinggal” minta wali hakim/diwalikan … pas gue jreng jreng … bokap ada tp nyokap ga ngasih gue dinikahkan beliau. Lah? LoL. Drama bener.

      Satu hal yang gue syukuri dari dapat jodoh dengan latar belakang sama, kami bisa melalui proses pendewasaan untuk area masalah tsb sama-sama dan tidak perlu menjelaskan lagi kalau di keluarga kocar-kacir tuh gimana. Hihi.
      Berarti sekarang adalah waktunya lo bisa menjalani kehidupan keluarga yang “lengkap”, Rin. Akhirnya.

      Sama-samaaaa ^__^

  5. wuaaa hebaaatt yaa mba, uda bs memaafkan dan nerima, sayangnya aku kalo blm bisa :(
    terkadang masih ada amarah dan rasa “ngga terima” dengan kelakuan dan keputusannya, karena aku dan adik masih menerima konsekuensinya baik secara moral maupun tekanan sosial. tapi mungkin sejalan waktu akhirnya bisa ikhlas dan beban dihati bisa ilang. karena memang ngga enak banget memendam kekecewaan dan pengharapan kalo saatnya nanti dia akan berubah :(
    huhu maafff jadi curcoll >_<

    1. sanetya

      Mungkin gue udah sampe di titik gue capek marah jadi lebih mudah membuka diri. Mudah-mudahan segera menemukan titik itu, ya. Dan jangan harapkan orang lain berubah … tapi DOAKAN supaya dia berubah. Sementara itu kita coba ubah hal2 yang menurut kita menggerogoti diri dari dalam :)

  6. salam kenal, mbak…

    walau gak persis sama, tp saya juga ngalamin *dendam kesumat* sama ayah saya. Ayah dan ibu saya memang gak bercerai, tp recently, kami semua baru tau kalo ayah punya wanita lain selain ibu, dan hal itu sudah berlangsung selama kurang lebih 12 tahun.

    saya, adik dan terutama ibu hancur berkeping-keping, karena selama ini ayah adalah sosok panutan kami. manalagi keluarga kami terbilang keluarga harmonis. saat ini saya sedang *berjuang* keras untuk menghilangkan rasa dendam atau marah terhadap ayah saya. membaca cerita mbak sanetya, memberikan semangat untuk saya, agar segera menghilangkan rasa dendam terhadap ayah saya.

    thank u for sharing, mbak…

    1. sanetya

      Get mad, then get over it. ~Colin Powell

      Di keluarga kami tidak pernah ada pembahasan “maaf”, semuanya berjalan sendiri. Mungkin untuk sebagian orang “maaf” itu langkah awal dari perubahan tapi mungkin untuk kasus kami, kami belajar untuk mengenali dan menghargai “niat baik” yang dulu tidak pernah terlihat. Juga mensyukuri hal-hal kecil sekalipun. Mungkin dalam kasusmu, ini hanya asumsi … fokus pada hal-hal baik yang dilakukan ayah; bagaimana dia bisa bertanggungjawab pada kedua keluarganya, bagaimana dia bisa menjaga keharmonisan dengan ibu. Saya tidak bilang ini mudah, ya :) Maaf kalau terkesan menggurui, saya pun masih terus belajar ikhlas punya keluarga seperti ini.

  7. @ sanetya : phew… aku bacanya sampe menahan nafas loh awalnya… pasti bukan hal yang mudah untuk akhirnya bisa “menikmati” ke-kocar-kacir-an keluarga… tapi salut karena akhirnya dirimu dan suami bisa terus maju sampai sekarang (life must go on, rite?)

  8. ahahaha, Mandaaaa, si keluarga sinetron :)), daddy issue-mue kan nyaris sama dengan daddy issue-nya daus ya. serasa baca pengalaman pribadi nih jadinya. tapi gw beneran salut ama kalian berdua yg dikaruniai jiwa besar untuk memaafkan dan mulai lembaran baru …. eh btw, gw belum diceritain tuh Igo yang lari-larian di rumah eyangnya, apalagi yg lengket sama eyang dr febri, hihihi

  9. dewdew

    “Lalu bagaimana dengan daddy issue kami? Ibarat buku, sudah kami tutup. Tidak kami buang tapi disimpan rapi di rak kehidupan. Sewaktu-waktu bisa kami lihat dan baca untuk jadi pengingat.”

    Cakep banget kalimat di atas.

Post Comment