Emosi Seorang Ibu

Apa pekerjaan yang mampu memunculkan seluruh spektrum emosi manusia?
Jawabannya adalah menjadi seorang ibu (bunda, mama, emak, mami apa pun sebutannya).
Mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak bisa menjadi pekerjaan paling membahagiakan atau paling membuat frustrasi bagi perempuan bertitel “ibu”.

Menjalani hidup sebagai seorang ibu dari 2 anak selama 6 tahun terakhir sungguh mengubah hidup dan diri saya dalam begitu banyak sisi. Berjuta pengalaman bisa membuat saya menangis bahagia atau justru karena kesal. Berbagai emosi yang bisa muncul dalam menjalani peran sebagai ibu ini sungguh luar biasa luasnya!

Menggunakan roda emosi manusia tentang 8 emosi dasar dan emosi lawannya yang disusun oleh Robert Plutchik (1980), berikut emosi-emosi yang dialami seorang ibu:

Joy vs Sadness

Bahagia.
Ah, tentunya tak terhitung banyaknya kebahagiaan yang dirasakan seorang ibu, mulai dari saat pertama melihat bayinya yang baru lahir, mendengar kata pertama, menyaksikan langkah pertama, dan berjuta peristiwa bahagia lainnya. Betapa kebahagiaan seorang ibu sangat dipengaruhi oleh anak-anak mereka. Menjadi ibu membuat seseorang merasakan kebahagiaan yang bahkan di luar dirinya sendiri, yang berasal dari orang lain. Rasa bahagia yang mungkin belum pernah saya rasakan sebelum saya menjadi ibu. Kebahagiaan yang sejati.
Sedih.
Banyak pula saat-saat yang membuat ibu sedih, seperti saat anak jatuh sakit dan terbaring lemah sambil menangis, hati semua ibu jadi berkeping-keping. Rasanya ingin menukar apa pun yang dimiliki demi mengakhiri penderitaan anak tercinta. Begitu pula saat menyaksikan anak mengalami kegagalan, meskipun ibu paham bahwa hal itu penting bagi proses belajarnya, tidak ada ibu yang tega.

Trust vs Disgust

Rasa percaya.
Hal ini menjadi nyata terutama di tahun-tahun pertama, saat ibu dan bayi menjalin serta membangun ikatan di antara mereka. Ibu merasa ingin selalu berada di dekat bayi, ingin memberikan sebanyak mungkin rasa aman yang dibutuhkan bayi. Begitu pun saat bayi mulai besar dan selalu ingin berada dekat ibu, ada rasa saling percaya yang demikian kuat satu sama lain, bahwa akan saling ‘menemukan’ dan merasa nyaman satu sama lain. Saat anak mulai bersekolah atau bahkan kuliah di luar kota, meski rasanya berat melepas anak untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa Anda, tiap ibu tahu, jauh di dalam hati kecilnya, di balik air mata, dan senyumannya, ada rasa percaya pada sang anak, bahwa ia telah siap dan terbekali untuk menghadapi dunia ini.
Rasa benci/jijik.
Saat menjadi ibu, saya ingin dunia ini menjadi lebih baik, jauh daripada sebelumnya. Naluri keibuan yang kuat senantiasa membangkitkan keinginan kita melindungi sang buah hati. Setelah menjadi ibu, saya sungguh jijik (dalam arti yang sebenarnya!), tiap kali harus melihat adanya bayi yang dibuang, anak yang ditelantarkan, kekerasan pada anak, pedofilia, penculikan, trafficking, prostitusi anak, eksploitasi, dan berbagai hal buruk yang dialami anak-anak di dunia yang kejam ini. Saya juga membenci segala bentuk kekerasan, bullying, pornografi, kecanduan, penyalahgunaan obat, dan semua bentuk kejahatan yang mungkin memengaruhi anak saya. Mungkin selama saya hidup, belum pernah saya merasakan rasa benci/jijik yang sedemikan besar terhadap sesuatu hal seperti ini sebelumnya.

Fear vs Anger

Rasa takut.
Bisa jadi, emosi inilah yang seringkali mendominasi hati dan pikiran para ibu. Rasa takut, kekuatiran akan hal-hal buruk yang bisa dialami atau menimpa anak. Kita takut akan segala bentuk sakit-penyakit (virus, bakteri, apa pun bentuknya), penyebaran, dan wabah penyakit berbahaya, bahkan sejak janin masih di dalam kandungan. Kita takut akan segala bentuk gangguan psikologis yang mungkin dialami anak, takut, dan mencemaskan pergaulan anak di sekolah,  takut akan pengaruh media bagi anak, takut akan doktrin-doktrin sesat yang beredar, takut akan berita negatif yang terpapar pada anak, takut akan segala kontaminasi dan penggunaan zat-zat berbahaya pada makanan atau mainan anak. Semuanya. Semua hal yang bisa menimbulkan bahaya fisik maupun mental bagi anak kita, membuat kita takut. Rasa takut yang sedemikian intens sehingga mampu membuat ibu melakukan apa saja untuk berusaha menghindarkannya. Bagi saya, hal ini mendorong saya menjadi manusia yang lebih baik, sejak jadi seorang ibu, saya meninggalkan kebiasaan-kebiasaan saya yang buruk, berusaha menjalani hidup lebih sehat, lebih sabar dan semuanya itu didorong rasa takut akan menjadi panutan yang buruk bagi anak-anak saya.
Marah.
Semua ibu rentan menjadi marah, apalagi dengan anak yang terus bertumbuh besar setiap hari dengan tingkah polah mereka yang tidak selalu ‘manis’. Balita yang seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi kesabaran ibu, belum lagi remaja yang mulai melawan dan rasa-rasanya semakin tidak menghormati ibu! Ya ampun! Jujur atau tidak, pada titik tertentu, semua ibu pasti pernah merasa marah, dan itu manusiawi, mengingat kita berurusan dengan manusia lain yang sedang berkembang secara fisik, emosional, dan intelektual. Di tiap fase berbeda dengan tantangan berbeda sungguh tidak mudah, apalagi kita terlibat secara emosional pada mereka, tak lain adalah karena kita sungguh-sungguh mencintai mereka.

Surprise vs Anticipation

Hidup seorang ibu tidak pernah lepas dari keterkejutan. Mulai dari pertama bayi sukses berguling, mengucapkan kata “mama”, anak berhasil menyanyikan lagu pertamanya, dan semua hal-hal kecil menyenangkan yang menghiasi kehidupan ibu. Takjub dengan segala pencapaian anak yang baru, prestasi-prestasinya yang membanggakan bahkan bantuan dan kata-kata tulusnya di saat yang tidak mama harapkan. Terkesima dengan perkembangannya yang begitu menakjubkan, seakan tak percaya dengan semua yang sudah bisa anak lakukan sendiri sekarang, yang terlintas di pikiran justru seperti baru kemarin ibu melahirkannya!

Seorang ibu selalu mengantisipasi, apa saja yang mungkin terjadi. Bagaimana kalau nanti di jalan Neo muntah ya? Atau bajunya ketumpahan sesuatu? Bagaimana kalau di jalan beberapa kali BAB? Bagaimana kalau tisu basahnya kurang? Jadilah akhirnya si ibu pergi menenteng-nenteng tas berat berisi 10 buah popok, 5 pasang baju ganti, 3 bungkus tisu, 4 kain lap, dan setengah lusin bib! Belum termasuk beberapa pilihan kaus kaki, topi dan jaket, kalau-kalau cuaca menjadi dingin! :D
Tidak hanya antisipasi akan pemenuhan kebutuhan fisiknya, bahkan emosional anak. Bagaimana kalau nanti di sekolah dia susah mencari teman ya? Bagaimana kalau nanti anak sedih kalau tahu anjing peliharaannya mati? Bagaimana nanti kalau di acara dia bosan dan rewel ya? Bagaimana nanti waktu saya lagi kerja di kantor, dia pasti menangis mencari saya? Ratusan pertanyaan berputar-putar di benak ibu, semuanya mengarahkan para ibu, mengatur dan memastikan semua akan baik-baik saja dan berjalan lancar. Selalu berusaha mengambil satu langkah lebih maju untuk mempersiapkan semuanya bagi anak. Selalu preventif dan selalu berusaha untuk efektif.

Semua bentuk emosi manusia yang dapat terpikirkan, melanda kehidupan seorang ibu. Tak terelakkan dan tak terbantahkan. Sungguh istimewa hak yang saya terima untuk menjadi ibu. Sesuatu yang tidak ingin saya tukar dengan apa pun di dunia ini.

*Dikirim oleh Elga Welan (@ElgaBenedicta) ibu dari Arvin (6 tahun) dan Neo (1 tahun)


45 Comments - Write a Comment

Post Comment