Masih Ada Harapan Untuk Film Anak Indonesia

by: - Wednesday, March 30th, 2011 at 8:00 am

In: Books / Movies / TVshow / Music / Web Mommy Chatter 15 responses

0 share

Pada suatu malam, untuk pertama kalinya, saya dan anak pertama saya, Biru Langit (saat itu 1,5 tahun) menonton Finding Nemo sampai selesai. Saya memang sudah berulang kali menonton film itu. Pertama, karena saya suka dan kedua, karena film itu adalah salah satu contoh kasus pada saat saya atau suami saya mengajar tentang penulisan skenario.

 

Tapi malam itu, adalah pertama kalinya saya menonton “Finding Nemo” dalam posisi sebagai orang tua. Bila selama ini saya menonton dari sudut pandang si anak: Nemo. Malam itu (dan seterusnya) saya adalah Marlin.

Kalau dulu saya bilang kalau Marlin adalah ayah yang terlalu over protektif, malam itu saya bilang: “Ya iyalah, over protektif! Coba aja lo jadi Marlin”.

Di tengah lamunan saya itu tiba-tiba Biru bertanya: “Ibunya Nemo kemana?”

Saya terdiam. Tak bisa menjawab. Otak saya berpikir keras. Bagaimana coba menerangkan kematian pada anak sekecil itu. Ya ampun? Mikir apa sih orang-orang di Pixar bikin ibu si Nemo meninggal.

Di sisi lain, saya sebagai pemuja Pixar, muncul dengan pembelaan: “Hey, tapi ini Pixar. Pasti mereka memilih memasukkan itu ke cerita dengan penuh pertimbangan.”

Belum ada jawaban dari pertanyaan itu, lalu muncul kekhawatiran saya yang lain: “Ya ampun, tontonan apa lagi yang bakal Biru tonton saat dia besar nanti. Bagaimana kalau saya tak ada di sampingnya untuk menjawab rasa penasarannya.”

Apalagi saya tahu betul kalau TAK semua pembuat film punya proses dan tanggung jawab seperti Pixar.

***

Kenapa sih masih jarang ada film Indonesia untuk anak?

Bahkan saya yang seorang filmmaker juga sering bertanya seperti itu. Yang jelas sih karena membuat film anak itu jauh lebih rumit. Setidaknya begitu kata suami saya, Salman Aristo. Dia beruntung bisa menulis skenario film anak “Laskar Pelangi” dan “Garuda Di Dadaku”.

 

Para pembuat film anak harus punya kesadaran kalau film mereka ditujukan untuk anak-anak. Untuk itu, kadang, harus ada penyesuaian yang bisa membuat penonton dewasa mengkritik kalau ceritanya terlalu simpel (untuk mereka).

Bahkan pada cerita yang simpel pun, para filmmaker-nya harus tetap waspada pada apa yang akan dikonsumsi oleh penonton anak.

Pada film “Garuda Di Dadaku”, awalnya karakter Bayu memanggil dirinya dengan nama saat berbicara dengan orang yang lebih tua. Namun akhirnya Bayu menyebut dirinya sebagai “Aku” setelah skenarionya mendapat masukan dari seorang pendidik yang bilang kalau anak Indonesia harus dibiasakan untuk menyebutkan jati dirinya agar mengenal siapa dan apa mau dirinya. Untuk itu jangan lagi mereka dibiasakan untuk memanggil diri mereka dengan sebutan orang ketiga seperti generasi sebelumnya.

Belum lagi waktu shooting yang lebih panjang karena pemainnya adalah anak-anak. Serta masalah lainnya yang memang jadi masalah sehari-hari industri film Indonesia yang belum ajeg benar.

Untungnya suami saya tidak kapok :) Tahun ini dia sedang menyiapkan empat film anak lagi yang akan tayang tahun ini dan tahun depan.

***

Tapi tentu anak Indonesia butuh lebih banyak film anak. Butuh lebih banyak beragam cerita yang diciptakan oleh banyak orang. Seorang guru besar skenario, Robert McKee, bilang kalau cerita adalah cara sebuah peradaban bertahan karena nilai-nilai kemanusiaan diturunkan ke generasi selanjutnya melalui cerita.

Akhirnya, daripada menjadi orang tua seperti Marlin yang berusaha menjauhkan Nemo dari kenyataan dunia, saya dan suami serta dua sahabat kami membuat sebuah sekolah pelatihan menulis: PlotPoint.

Kami para “potensial Marlin” sadar kalau sudah pasti tak mungkin melindungi anak-anak kami terus menerus. Hal terlogis yang bisa kami siapkan adalah mereka harus kritis dengan isi media dan berusaha agar mereka bisa menikmati karya yang lebih baik daripada yang kami nikmati sekarang.

Dengan sekolah ini, kami berusaha agar semakin banyak penulis yang menciptakan cerita-cerita yang bisa membuat hidup penikmatnya jadi lebih baik.

Mungkin, sekitar dua puluh tahunan yang akan datang, cucu-cucu kami akan bertanya kepada anak-anak kami dengan kritis pada saat mereka menonton sebuah film Indonesia yang jauh lebih bagus daripada Finding Nemo dan film-film Pixar lainnya.

Dan semoga tak lama lagi industri film Indonesia bisa merayakan hari film nasional dengan lebih bahagia. Saat muncul film-film Indonesia yang bagus serta dibuat dengan penuh tanggung jawab dari para penulis baru yang berbakat.

Amin.

Selamat hari film nasional teman-teman. Jangan keburu skeptis dengan film negeri kita sendiri ya. Ayo ikut ciptakan cerita-cerita untuk film Indonesia :)

*Ditulis oleh Gina S. Noer [penulis skenario film dan CEO dari PlotPoint! www.tulissekarang.com], ibu dari Biru Langit (2,5 tahun) dan Akar Randu (1 bulan)

Share this story:

Recommended for you:

15 thoughts on “Masih Ada Harapan Untuk Film Anak Indonesia

  1. Pingback: Mommies Daily
  2. Pingback: resti
  3. Pingback: Caroline Simarmata
  4. Pingback: lita iqtianti
  5. Pingback: ɑmel.sugeng
  6. Pingback: indri Widyastuti
  7. Pingback: Hanifa Ambadar
  8. Pingback: PipiPego
  9. betul gin, menciptakan sesuatu untuk anak itu butuh tangung jawab yang besar. gw jg pernah terlibat bikin program untuk anak, dan apa yang kita pandang sudah betul sebagai program TV pas dikonsultasikan dengan salah satu tokoh parenting/ pendidikan, ternyata banyak hal2 kecil yang luput dari mata kita sebagai pihak yang memproduksi.
    kebetulan waktu itu produksinya program untuk balita, jadi sangat diperhatikan mulai dari warna yang dipilih, kalimat yang diucapkan berapa panjangnya, sampai kecepatan gerak si tokoh.

  10. Pingback: Mommies Daily
  11. Pingback: Marsahid Agung S
  12. Pingback: Mommies Daily
  13. Pingback: Mommies Daily
  14. Pingback: Mommies Daily
  15. Pingback: Yumi Yulanda

Leave a Reply