Melahirkan Normal Setelah Cesar, Mungkinkah?

Saat sebelum hamil anak kedua, saya memang sudah baca soal VBAC – Vaginal Birth After Cesarean. Dan sudah bertekad kalau nanti saya hamil anak kedua saya ingin VBAC saja. Jujur aja saya memang takut dioperasi lagi, itulah kenapa rencana untuk nambah momongan lagi agak jauh dari anak pertama. Karena saya pikir kalaupun tidak bisa VBAC paling tidak saya sudah siap mental kalau harus di cesar lagi.

Jadiii waktu saya udah ketahuan hamil anak kedua, saya langsung minta VBAC ke DSOG langganan saya. Awalnya beliau sih menyanggupi, menurut beliau nggak selamanya kelahiran pertama dengan cesar maka kelahiran berikutnya juga harus dengan cesar. Tapi, beliau mengingatkan bahwa semuanya tetap akan dilihat lagi nanti di minggu-minggu akhir kehamilan.

Ternyata saya harus mengambil keputusan drastis saat kehamilan saya masuk minggu ke-38. Jadi ceritanya saat saya control kehamilan di minggu ke-37, dilihat lewat usg kalau kepala bayi belum masuk jalan lahir, walaupun sudah di bawah. Masih menurut beliau, hal tersebut bisa disebabkan karena kakunya bekas luka operasi saya atau hal lain di luar itu seperti misalnya tali pusat yang pendek.Akhirnya saya diminta untuk datang satu minggu kemudian, saya dijadwalkan untuk segera operasi bila hasil kontrol minggu depan bayi tetap belum masuk jalan lahir. Jujur aja saat itu saya sudah meragukan penjelasan pak dokter, entah kenapa saya berpikir rasanya kehamilan saya baik baik saja. Saya coba tanya apakah tidak lebih baik saya tunggu, paling tidak sampai kehamilan saya berusia 40 minggu? Jawaban pak dokter sudah bisa saya tebak: tidak bisa karena dikhawatirkan akan merobek rahim apabila bayi dipaksa melalui jalan lahir yang kaku tersebut.

Perasaan saya sangat gelisah setelah pulang kontrol. Apalagi saat itu suami sedang tugas di luar kota hingga waktu yang tidak bisa ditentukan. Hati kecil saya bilang saya harus cari second opinion, tapi di sisi lain saya juga takut, bagaimana kalau pak dokter benar?. Apalah saya dibanding beliau yang sudah bertahun-tahun menggeluti masalah kandungan. Akhirnya saya diskusikan dengan suami saya, saya bilang saya akan cari second opinion dulu sebelum memutuskan. Suami saya sempat ragu awalnya, saya tahu pasti itu karena dia tidak mau suatu yang buruk menimpa saya. Selain itu biaya juga menjadi pertimbangan kami, karena kami harus mempunyai spare cukup banyak bila ternyata pada saat persalinan saya harus kembali cesar bila di tengah persalinan normal terjadi sesuatu. Tapi akhirnya suami setuju setelah saya yakinkan kalau memang pendapat dari second opinion itu memang menganjurkan saya untuk cesar, maka saya akan langsung memutuskan untuk tidak akan menunda lebih lama lagi.

Akhirnya tiga hari setelah control saya putuskan untuk mencari opini kedua. Sebelumnya saya tuntaskan dulu PR saya, yaitu cari informasi lebih banyak soal VBAC. Saya bongkar arsip milis sehat untuk baca pengalaman orang orang yang pernah VBAC, saya bahkan intip forum ibu-ibu di Internet untuk cari dsog yang pro normal.

Dari hasil mengerjakan PR saya simpulkan bahwa tidak ada ketentuan khusus kapan bayi harus masuk jalan lahir bahkan untuk ibu dengan riwayat cesar. Dari situ juga saya mulai paham ada beberapa “syarat” agar kita bisa VBAC. Antara lain bayi tidak lebih besar dari 3.5 – 4 kg, Ibu hamil berumur tidak lebih dari 40, umur kehamilan tidak lebih dari 40 minggu, penyebab utama pada cesar terdahulu tidak menetap misalnya karena CPD atau kelainan panggul pada sang ibu dan lain lain.

Kehamilan saya masuk minggu ke 38 minggu saat saya memutuskan mencari second opinion dengan seorang dsog di rumah sakit ibu dan anak di daerah Ampera, Jakarta Selatan. Jujur saya katakan pada beliau kalau saya datang karena butuh opini kedua untuk VBAC. Setelah diusg dan periksa dalam hasilnya sungguh melegakan. Saya hanya diminta yakin dan sabar menunggu sampai minggu ke-40, karena semua memungkinkan untuk melahirkan normal. Berat bayi sekitar 3.2 kg (saat itu), jarak dengan kehamilan pertama 3 tahun, ketebalan rahim cukup dan penyebab utama saya cesar bukan sesuatu yang menetap atau major cause.

Masuk minggu ke-39, bayi sudah masuk jalan lahir. Duuh saya deg-degan sekali. Saya  berdoa semoga bayi saya cepat keluar, kebetulan suami juga sedang pulang libur lebaran Idul Adha. Saat Idul Adha itu pula jam 11 malam saya masuk rumah sakit, padahal siangnya saya masih jalan jalan ke mall. Saat datang ke rumah sakit, walaupun kontraksi sudah 5 menit sekali, ternyata belum ada pembukaan. Saya hanya masuk ruang observasi. Jam 6 pagi dicek lagi, saya sudah bukaan 4, jadi perkiraan lahir jam 12 siang. Beneran lho ternyata jam 12 bukaan sudah komplit! Dibantu pak dokter dan krunya akhirnya lahir lah anak perempuan kedua saya: Sabina Zahra Alluna dengan proses persalinan normal. Alluna juga melalui proses IMD hal yang tidak saya dapatkan saat saya melahirkan Sabitah, kakaknya. Takjub, antara percaya dan tidak percaya akhirnya saya bisa melahirkan normal. Banyak yang meragukan keinginan saya untuk melahirkan normal. Hanya ibu saya saat itu yang yakin kalau saya pasti bisa melahirkan normal :)

Untuk yang berencana VBAC, persiapkan diri terutama mental sejak sebelum hamil. Cari informasi sebanyak-banyaknya soal VBAC dan mulailah window shopping untuk mencari dsog yang pro normal dan pro VBAC. Yang terakhir berdoa dan pasrah, kalau memang akhirnya tidak bisa VBAC dan harus dioperasi lagi nggak perlu menyesal, toh kita sudah berusaha dan yang terpenting ibu dan bayi selamat dan sehat. Proses melahirkan tidak pernah bisa dipastikan, jadi kita harus siap untuk segala kemungkinan yang terjadi. Semoga sharing saya berguna yaah.

*Dikirim oleh Inta Mardwityo (@IntaMardwityo), ibu dari Sabitah dan Alluna