Pro-Kontra Rooming In

Detik-detik menjelang melahirkan biasanya ibu hamil ‘diganggu’ dengan banyak pikiran. Mulai dari pernak-pernik si bayi, proses melahirkan apakah akan sanggup secara normal atau terpaksa operasi, hingga pemberian ASI Eksklusif nantinya. Perkara yang terakhir ini, biasanya didukung dengan pertanyaan rooming in alias rawat gabung yang kadang menimbulkan pro-kontra bagi ibu baru.

Sebenarnya, apa sih rooming in?

Singkatnya, rawat gabung adalah kondisi dimana si ibu pasca melahirkan langsung dirawat dalam ruangan atau kamar yang sama dengan bayinya.

Terdengar sulit yah? Sebetulnya kalau sudah dijalani malah cenderung mengasyikkan. Lalu mengapa ada pro kontra?

Pro :

  • Terdukungnya pemberian ASI Eksklusif. Bukan rahasia lagi, bahwa ada beberapa rumah sakit atau klinik bersalin yang gencar mengkampanyekan susu formula. Mulai dari ‘bergerilya’ hingga terang-terangan. Dengan rooming in, anak pasti akan selalu berada dekat kita sehingga orangtua bisa ‘mengontrol’ tindakan yang dilakukan RS. Selain itu, dengan rooming in, ibu tak perlu capek-capek bolak balik ke kamar bayi untuk memberikan ASI-nya. Malah bisa sesering mungkin! Ingat, konsep ASI kan supply and demand!
  • Bonding antara ibu dan anak. Ini masih berkaitan dengan poin pertama tadi tentunya. Bisa dibayangkan, bayi yang selama 9 bulan lebih ada di rahim kita, menempel pada badan kita, hapal dengan bau dan suara kita, tiba-tiba saat diluar rahim dia harus dipisahkan dari ibunya?
  • Latihan menjadi ibu. Saat di RS, biasanya ibu baru akan banyak mendapat pertolongan dari suster/ pihak RS. Tapii berdasarkan pengalaman saya waktu melahirkan Langit 2 tahun yang lalu, rooming in sangat berguna melatih mental saya. Malam pertama pasca operasi sesar yang saya jalani, Langit langsung tidur bersama saya. Tengah malam Langit menangis dan saya sama sekali kikuk menghadapi bayi. Putus asa, saya memanggil si suster yang dengan sigap datang lalu menggendong anak saya dan ajaibnya langsung terdiam. Melihat itu, rasanya saya ‘sakit hati’. Langit kan anak saya, masa orang lain bisa menenangkannya saya yang ibunya malah nggak bisa? Dengan tekad bulat, besok paginya saya minta copot infus dan kateter, lalu latihan duduk, berdiri, bahkan menggendong! Mulai malam itu, sambil menahan nyeri sakit pasca operasi, saya berusaha ‘menangani’ anak saya sendiri. Alhamdulillah, sampai saat ini saya selalu berhasil mengatasi Langit (walau kadang kalo capek banget suka stress juga, hehehe). Oh iya, selain itu di RS kita juga bisa mulai berlatih menggantikan popok, mulai mengenali tangisan lapar, haus atau ngantuknya loh! Memang sih, ini semua bisa dipelajari setelah ada dirumah, tapi menurut saya lebih cepat lebih baik kan?

Kontra:

  • Kekhawatiran anak akan dicolak colek atau bahkan terkena virus/ kotor orang-orang yang menjenguk. Berdasarkan sharing beberapa teman di forum ini , sesungguhnya sejak lahir bayi sudah terpapar lingkungan non steril, jadi nggak perlu terlalu khawatir. Yah, minimal sediakan saja hand sanitizer untuk para penjenguk yang datang :D
  • Ibu ingin istirahat pasca proses melahirkan yang biasanya melelahkan. Jangan khawatir, newborn itu hanya akan menangis kalau lapar, poop atau tidak nyaman. Sisanya ia akan tidur. Pengalaman saya lagi nih, waktu di RS kemarin malah banyak tidurnya. Atau kalau mommies memang lelah sekali, saat si kecil tidur biasanya boleh kok dibawa ke ruang bayi supaya ibunya bisa istirahat. Tapi saya malah berasa ada yang hilang kalau anak saya nggak ada di samping ranjang.
  • Rooming in hanya boleh untuk kelas-kelas tertentu saja. Untuk yang ini, rasanya mommies harus menegaskan ke pihak RS. Dulu saya melahirkan Langit bukan di kelas tinggi-tinggi amat macam VIP atau utama kok, dan memang pas sebelum melahirkan menurut informasi yang saya dapatkan, rooming in hanya boleh di ruangan dengan kelas tersebut. Namun saya pesan-pesan sponsor ke dokter bahwa saya ingin rooming in. Setelah operasi, masih antara ada dan tiada akibat bius, seorang suster bertanya ke saya “Ibu anaknya ASI Eksklusif? Mau rooming in?” dan langsung saya jawab iya (padahal jujur, waktu hamil saya nggak terlalu mikirin akan ASI Eksklusif apa nggak, rooming in atau nggak. Sumpah!). Malam itu juga, setelah saya masuk kamar, makan dan tenang, Langit langsung diantar ke kamar!

Nah, setelah penjabaran diatas, sekarang balik lagi ke pilihan mommies aja, mau rooming in atau tidak?


23 Comments - Write a Comment

Post Comment