Dongeng Langit

langit“Nama ibu siapa nak?”
“upa..” (Artinya lupa)
Doeeengggg… Semenjak anak saya sekitar 11 bulan (lupa tepatnya) dia udah jadi beo. Ngoceh….melulu kerjaannya! (Plus makaaaaannnn…mulu). Kalimat pertamanya selain baba, bu, adalah ‘embang’ yang artinya kembang dan ‘owa’ yang artinya bola.

Semakin kemari, makin banyak pula perbendaharaan kata yang dia miliki. Walau kadang melenceng dari kata yang dimaksud, tapi cukup membanggakan. Kalau beberapa bulan yang lalu Langit menjawab hal-hal yang sepertinya sudah ia hapal, menginjak usia 18 bulan Langit malahan senang memodifikasi jawaban-jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Contohnya, yah yang diatas tadi. Padahal dia sudah tau persis nama saya, ibunya, itu siapa. jawaban modifikasi lain misalnya ketika saya tanyakan “siapa yang bawel?” Atau “siapa yang rempong?” Kalau dulu dia pasti jawab “sayaaa..” Maka sekarang .jawabannya bener2 suka2 dia dengan wajah jahilnya, mulai dari nin (neneknya), ncung (kakeknya), budhe (kakak saya) sampai nama tante2nya. Semua ini tentu mengundang tawa yang justru bikin Langit semangat untuk memodifikasi jawaban.

Dalam proses penyapihan, saya selalu menceritakan tentang berbagai karakter kartun favoritnya, mulai dari Barney and friends, Dora, sampai kancil yang tidak pakai nenen kalau mau tidur. Langit yang merasa akrab dengan mereka, selalu dengan bangga bilang ke orang2 yang ia temui, “na-niiii (barney) ga nenen, mboop (baby bop) ga nenen, angiiit (langit) ga nenen..” Hingga suatu saat ditengah teman2 yang sedang berkunjung kerumah, ia kembali memamerkan segala kebisaannya mulai dari nyanyi, joged, berhitung 1 – 10 ( sejak 17 bulan langit sdh bisa berhitung loh ) sampai ‘ngaku-ngaku’ ga nenen. Diantara nama2 yang ia sebutkan dengan akhiran “ga nenen” tiba2 ia berteriak “bapak…? Nenen!”

Wakwaoooowww… :)


22 Comments - Write a Comment

Post Comment