
Ketahui 7 peran ayah dalam tumbuh kembang anak untuk membangun kemandirian, rasa percaya diri, kecerdasan emosional, dan kedekatan keluarga.
Pernah merasa anak lebih mudah bercerita kepada salah satu orang tuanya? Atau, tanpa sadar, urusan menemani belajar, mengingatkan jadwal sekolah, hingga mendengarkan keluh kesah anak lebih sering dilakukan oleh ibu?
Padahal, tumbuh kembang anak bukan hanya tanggung jawab ibu. Ayah juga punya peran penting dalam membentuk anak yang mandiri, percaya diri, dan mampu memahami emosinya sendiri.

Lantas, bagaimana peran ayah dalam tumbuh kembang anak dan apa saja yang bisa dilakukan sehari-hari?
Baca juga: 9 Momen Kecil Ayah yang Paling Diingat Anak hingga Dewasa
Keterlibatan ayah yang hangat dan konsisten berperan dalam mendukung perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak. UNICEF menyebut keterlibatan ayah dapat mendukung perkembangan bahasa, kesiapan akademis, empati, dan resiliensi anak.
Artinya, peran ayah bukan sekadar mencari nafkah atau menegakkan disiplin, tetapi juga menjadi sosok yang membuat anak merasa aman untuk bercerita, mencoba hal baru, dan belajar mandiri. Yang terpenting bukan hanya kehadiran ayah, melainkan kualitas interaksi yang dibangun bersama anak.

Berikan kesempatan kepada anak untuk mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri sebelum turun tangan untuk membantu. Jika anak kesulitan, ayah bisa memberi petunjuk tanpa langsung mengambil alih.
Yang bisa ayah lakukan:
Dengan begitu, anak belajar memecahkan masalah, bertanggung jawab, dan memahami bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar.
Jadilah pendengar yang baik ketika anak bercerita, termasuk saat ia melakukan kesalahan atau menghadapi masalah. Hindari langsung menghakimi atau memberi ceramah. Dengarkan sampai selesai sebelum menawarkan solusi.
Menurut Harvard University Center on the Developing Child, interaksi timbal balik yang responsif (serve and return) mendukung perkembangan otak serta keterampilan bahasa dan sosial pada anak.
Yang bisa ayah lakukan:
Anak yang merasa didengarkan akan lebih terbantu untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya secara sehat.

Kecerdasan emosional membantu anak mengenali perasaan, memahami pemicunya, dan meresponsnya dengan tepat. Ayah bisa mengajarkan bahwa marah, sedih, atau kecewa adalah hal yang wajar, selama diekspresikan dengan cara yang aman.
Yang bisa ayah lakukan:
Anak belajar mengelola emosi bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari teladan orang tua dalam menghadapi situasi sulit.
Baca juga: 75 Jokes Bapak-Bapak yang Receh tapi Selalu Bikin Ketawa
Kepercayaan diri anak dapat dibangun dengan menghargai proses dan usaha, bukan hanya hasil. Selain merayakan prestasi, ayah juga perlu mengapresiasi ketekunan, keberanian mencoba, dan kemauan anak untuk belajar dari kesalahan.
Yang bisa ayah lakukan:
Dengan begitu, anak belajar bahwa dirinya tetap berharga, terlepas dari prestasi yang berhasil diraih.

Ayah bisa melatih anak mengambil keputusan sejak dini, mulai dari memilih kegiatan hingga mengatur uang saku. Ketika anak membuat keputusan yang kurang tepat, ajak ia mengevaluasi konsekuensinya tanpa langsung menyalahkan.
Yang bisa ayah lakukan:
Dengan begitu, anak belajar berpikir kritis, mandiri, dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.
Baca juga: Kesalahan Ayah yang Bikin Susah Dekat dengan Anak, Para Ayah Harus Tahu
Ayah bisa mengajarkan bahwa menangis dan mengungkapkan perasaan bukan tanda kelemahan. Dengan mencontohkan cara mengelola emosi secara sehat, anak belajar bahwa laki-laki bisa bersikap tegas sekaligus penuh empati.
Yang bisa ayah lakukan:
Dengan begitu, anak belajar menghadapi kesulitan tanpa harus memendam emosinya.

Membangun kedekatan dengan anak tidak harus melalui kegiatan besar atau liburan mahal. Rutinitas sederhana, seperti sarapan bersama, berolahraga, atau mengobrol sebelum tidur, bisa menjadi momen berharga untuk mempererat hubungan.
Yang bisa ayah lakukan:
Kuncinya bukan seberapa lama waktu yang tersedia, melainkan kualitas perhatian yang diberikan.
Baca juga: Ide Ucapan Hari Ayah Nasional: Rayakan Hari Ayah dengan Hangat
Ayah dan ibu tidak harus memiliki peran yang berbeda. Keduanya bisa saling bekerja sama dalam memberikan kasih sayang, menetapkan batasan, dan mengajarkan tanggung jawab. Yang terpenting, orang tua mau terus belajar, memperbaiki kesalahan, dan menjaga komunikasi dengan anak.

Bagaimana jika ayah sibuk bekerja dan memiliki sedikit waktu bersama anak?
Mulailah dengan waktu berkualitas yang realistis, seperti mengobrol selama perjalanan, makan bersama, atau menyediakan waktu khusus secara rutin. Konsistensi, perhatian, dan kualitas interaksi lebih bermakna daripada sekadar hadir secara fisik tanpa terlibat.
Jadi, Mommies, mari kita mulai dari hal sederhana: memberi ruang kepada ayah untuk terlibat lebih aktif dalam keseharian anak, bukan hanya dalam urusan disiplin atau mencari nafkah.
Sebab, salah satu bekal berharga yang dapat diberikan ayah bukanlah kemampuan untuk selalu menyelesaikan masalah anak, melainkan keyakinan bahwa anak mampu belajar menghadapinya dengan dukungan orang tua.