Sorry, we couldn't find any article matching ''

Bayi Sering Gumoh Setelah Minum Susu, Apakah Normal? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Bayi sering gumoh setelah minum susu? Kenali penyebab, perbedaan gumoh dan muntah, cara mengatasinya, serta tanda bahaya yang perlu diperiksa dokter.
Menyaksikan bayi gumoh saat sedang menyusu pasti bikin ibu baru mendadak kaget dan panik. Dalam hati pun bertanya-tanya, “Duh, kenapa bayiku sering gumoh setelah minum susu? Apa yang diminum tadi keluar semua, ya? Berbahaya nggak, sih?”
Mommies tidak sendirian. Fenomena bayi sering gumoh adalah pemandangan sehari-hari yang sangat umum di dunia parenting. Namun, wajar banget kalau muncul kekhawatiran, bayi gumoh apakah normal atau justru menandakan masalah kesehatan tertentu.
Supaya hati Mommies jadi lebih tenang, yuk kita cari tahu bareng-bareng penyebab bayi gumoh, perbedaan gumoh dan muntah pada bayi, hingga cara mengatasi bayi gumoh.
Kenapa Bayi Sering Gumoh Setelah Minum Susu?
Mungkin Mommies penasaran, kenapa bayi sering gumoh setelah minum susu padahal jumlah yang diminum rasanya tidak terlalu banyak?
Kondisi medis di balik gumoh ini dikenal dengan istilah gastroesophageal reflux atau infant acid reflux. Melansir dari Mayo Clinic, gumoh terjadi ketika cairan ASI atau susu formula di dalam lambung mengalir kembali ke esofagus, yaitu saluran yang menghubungkan mulut dan lambung. Dalam tiga bulan pertama usianya, sekitar separuh dari seluruh bayi mengalami kondisi ini secara rutin.
Alasan utamanya ternyata cukup sederhana: sistem pencernaan bayi Mommies memang belum sempurna.
Dr. Aubrey Bonhivert, MD, FAAP, seorang dokter spesialis anak bersertifikat dari Franciscan Physician Network di Greenwood, Indiana, menjelaskan bahwa lingkaran otot (sfingter) yang berfungsi sebagai penutup antara esofagus dan lambung bayi belum kuat. Menyadur dari blog Franciscan Health, Dr. Bonhivert menyampaikan bahwa otot penutup tersebut belum berkembang sempurna, sehingga ASI maupun susu formula mudah naik kembali ke atas.
Seiring berjalannya waktu dan bertambah kuatnya otot tersebut, frekuensi gumoh akan berkurang dengan sendirinya.
Selain itu, Dr. Mitchell T. Walton, MD, dokter spesialis anak di ARC Four Points, menegaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian alami dari tumbuh kembang. Dikutip dari Austin Regional Clinic, selama bayi tetap mau menyusu dengan baik, berat badannya naik sesuai grafik, dan tampak nyaman, gumoh sesekali umumnya merupakan bagian dari proses tumbuh kembang bayi yang sehat.
Namun, jika gumoh makin sering, bayi tampak kesakitan, atau kenaikan berat badannya tidak sesuai harapan, sebaiknya Mommies berkonsultasi dengan dokter anak. Gejala yang terlihat mirip gumoh juga bisa berkaitan dengan kondisi lain, sehingga penyebabnya perlu dinilai berdasarkan kondisi bayi secara keseluruhan.
BACA JUGA: Mengenal Kolik pada Bayi Baru Lahir
Mengenal “Happy Spitters”: Ketika Gumoh Cuma Masalah Cucian
Para dokter anak punya istilah unik untuk bayi yang hobi gumoh tapi tetap ceria, yaitu “happy spitters”.
Menurut Franciscan Health, julukan ini diberikan untuk bayi yang sering gumoh setelah menyusu tapi tetap terlihat ceria, berat badannya terus naik, dan sama sekali nggak merasa terganggu atau kesakitan saat asupan susunya naik kembali ke tenggorokan (acid reflux).
Pada kondisi ini, fenomena bayi yang sering gumoh sebenarnya lebih merupakan “masalah tumpukan cucian kotor” ketimbang masalah medis yang serius! Meski begitu, Mommies tetap perlu memantau pertumbuhan, kenyamanan, dan pola menyusu si Kecil. Jika muncul gejala yang tidak biasa, jangan ragu meminta saran dokter.
Perbedaan Gumoh dan Muntah pada Bayi

Foto: Magnific
Banyak orang tua sering tertukar antara gumoh biasa dan muntah. Padahal, perbedaan gumoh dan muntah pada bayi bisa terlihat dari cara keluarnya cairan tersebut.
Dr. Aubrey Bonhivert menjelaskan bahwa gumoh biasanya terjadi secara halus, pelan, dan tanpa dorongan kuat. Cairan yang keluar mengalir begitu saja di sekitar mulut dan tidak menyembur jauh. Sebaliknya, muntah jauh lebih bertekanan, kuat, dan bisa menyembur (projectile vomiting).
Dikutip dari Austin Regional Clinic, tekstur gumoh bisa terlihat seperti susu yang bercampur dengan air liur. Warnanya umumnya putih atau menyerupai susu yang diminum. Namun, warna cairan saja tidak cukup untuk menentukan apakah kondisi bayi aman.
Jika bayi muntah menyembur, muntah berwarna hijau atau kuning, terdapat darah pada muntahannya, atau bayi menunjukkan tanda-tanda penurunan berat badan, Mommies perlu segera mencari pertolongan medis. Jangan menganggap muntah yang kuat sebagai gumoh biasa, terutama pada bayi berusia sangat muda.
Kapan Bayi Stop Gumoh?
Kapan ya bayi Mommies berhenti membasahi baju Mommies dengan gumohnya?
Melansir dari Texas Children’s Hospital, sebagian besar bayi akan berhenti gumoh saat berusia 6 hingga 12 bulan. Meski begitu, waktunya bisa berbeda pada setiap bayi.
Berikut gambaran perkembangan yang umumnya terjadi:
- Usia 3–6 bulan: frekuensi gumoh dapat mulai berkurang seiring perkembangan sistem pencernaan dan otot penutup lambung.
- Usia 6–12 bulan: banyak bayi sudah berhenti gumoh atau hanya mengalaminya sesekali. Pada rentang usia ini, bayi biasanya mulai makan Makanan Pendamping ASI (MPASI) dan semakin sering berada dalam posisi tegak saat terjaga.
- Usia 1 tahun ke atas: gumoh umumnya sudah jauh berkurang atau berhenti. Jika bayi masih sering gumoh setelah berusia 1 tahun, terlebih jika disertai rasa tidak nyaman, sulit makan, atau berat badan tidak naik, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya.
Gumoh yang sering terjadi belum tentu berarti bayi mengalami gastroesophageal reflux disease (GERD). Dokter akan menilai gejala, kenyamanan bayi, pola menyusu, dan pertumbuhan untuk menentukan apakah diperlukan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut.
Cara Mencegah dan Mengatasi Bayi Gumoh setelah Menyusu

Foto: Magnific
Ada beberapa cara mengatasi dan mencegah bayi gumoh setelah menyusu yang bisa Mommies dan Daddies terapkan di rumah.
1. Jaga Posisi Bayi Tetap Tegak Setelah Menyusu
Saat menyusu, pastikan posisi kepala dan tubuh bayi tersangga dengan baik. Setelah selesai menyusu, Mommies bisa menggendong bayi dalam posisi tegak selama sekitar 20–30 menit, sambil tetap mengawasi dan memastikan kepala serta lehernya tersangga dengan baik.
Hindari mengajak si Kecil bermain aktif atau menekan bagian perutnya langsung setelah menyusu. Namun, jika bayi tertidur, pindahkan ke tempat tidur yang aman dan baringkan telentang di permukaan yang rata dan kokoh. Jangan membiarkan bayi tidur dalam posisi miring atau tengkurap untuk mencegah gumoh.
2. Berikan Susu Sedikit Demi Sedikit tapi Sering
Porsi susu yang terlalu banyak dalam satu waktu bisa membuat lambung bayi yang kecil terlalu penuh. Jika bayi sering gumoh, Mommies bisa berkonsultasi dengan dokter atau konselor menyusui untuk menilai jumlah dan frekuensi pemberian susu yang sesuai dengan kebutuhan bayi.
Jangan mengurangi asupan susu secara berlebihan tanpa memastikan kebutuhan nutrisi bayi tetap terpenuhi. Bayi tetap membutuhkan asupan yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya.
3. Sendawakan Bayi Mommies
Proses menyendawakan bayi di sela-sela dan setelah minum susu bisa membantu mengeluarkan udara yang tertelan selama menyusu. Mommies bisa menggendong bayi dengan posisi tegak, menyangga kepala dan lehernya, lalu menepuk atau mengusap punggungnya dengan lembut.
Namun, tidak semua bayi akan selalu bersendawa setiap selesai menyusu. Jadi, jika si Kecil tidak bersendawa setelah beberapa saat tetapi tampak nyaman, Mommies tidak perlu memaksakannya.
4. Perhatikan Asupan Makanan Ibu jika Menyusui
Jika Mommies menyusui langsung (direct breastfeeding atau DBF), terkadang muncul kekhawatiran bahwa makanan tertentu yang dikonsumsi ibu, seperti produk olahan susu (dairy), bisa memicu reaksi pada bayi.
Namun, gumoh saja tidak otomatis menandakan bayi mengalami alergi protein susu sapi. Jika gumoh disertai gejala lain, seperti darah pada tinja, ruam, atau gangguan pertumbuhan, konsultasikan dengan dokter untuk menilai kemungkinan alergi atau kondisi lainnya.
Jangan langsung menghilangkan kelompok makanan tertentu dari menu harian tanpa saran tenaga kesehatan, ya, Mommies. Ibu menyusui tetap perlu memenuhi kebutuhan gizinya.
5. Jauhkan Bayi dari Asap Rokok
Paparan asap rokok berbahaya bagi kesehatan bayi, terutama sistem pernapasannya. Karena itu, pastikan rumah dan lingkungan tempat bayi berada bebas dari asap rokok.
Langkah ini penting untuk menjaga kesehatan si Kecil secara keseluruhan, meskipun bukan berarti menjauhkan bayi dari asap rokok saja akan menghentikan gumoh.
6. Pastikan Posisi Tidur Bayi Aman
Mommies mungkin berpikir bahwa memiringkan tubuh bayi atau meninggikan bagian kepala kasur bisa membantu mencegah susu naik kembali. Namun, cara tersebut tidak dianjurkan untuk mengatasi gumoh karena dapat meningkatkan risiko bayi tergelincir ke posisi yang berbahaya atau mengalami gangguan pernapasan.
Saat tidur, bayi harus selalu dibaringkan telentang di permukaan yang rata dan kokoh. Hindari penggunaan bantal, ganjalan, atau alat tidur miring untuk mengurangi gumoh. Posisi telentang tetap merupakan posisi tidur yang paling aman, termasuk bagi bayi yang mengalami refluks.
Kapan Bayi Gumoh Harus Diperiksa ke Dokter?
Pertanyaan penting berikutnya: kapan bayi gumoh harus diperiksa dan jika bayi gumoh banyak apakah berbahaya?
Melansir dari NHS UK, Mommies perlu segera membawa bayi ke dokter atau fasilitas kesehatan jika menemukan tanda-tanda bahaya berikut:
- Cairan muntah berwarna hijau atau kuning, atau bercampur darah.
- Muntah menyembur dengan sangat kuat (projectile vomiting).
- Terdapat bercak darah pada kotoran atau tinja bayi.
- Perut bayi terlihat membengkak, tegang, atau sakit saat disentuh.
- Bayi mengalami demam tinggi atau tubuhnya terasa sangat panas, dingin, maupun menggigil. Pada bayi berusia di bawah 3 bulan, suhu tubuh 38°C atau lebih perlu segera dinilai oleh tenaga medis.
- Bayi terus-menerus muntah hingga tidak ada cairan yang bisa masuk atau bertahan di lambung.
- Bayi mengalami diare lebih dari seminggu atau menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, seperti popok lebih jarang basah, mulut kering, atau mata tampak cekung.
- Bayi menangis terus-menerus dan tampak sangat kesakitan atau gelisah.
- Bayi menolak untuk menyusu sama sekali.
- Berat badan bayi tidak naik sesuai harapan atau justru menurun.
- Bayi tampak lemas, sulit dibangunkan, atau mengalami gangguan pernapasan.
Jika bayi menunjukkan tanda bahaya, jangan menunggu sampai gumohnya berhenti sendiri. Segera cari pertolongan medis sesuai tingkat keparahan gejalanya.
Gumoh memang bikin tumpukan cucian menggunung, tapi selama bayi tetap ceria, mau menyusu dengan baik, dan tumbuh kembangnya oke, Mommies bisa lebih tenang dan menikmati setiap prosesnya! Tetap pantau kondisi si Kecil, ya. Jika ada yang terasa tidak biasa, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter anak.
BACA JUGA: 8 Tanda Penting Bayi Cukup ASI yang Mudah Dikenali Mommies
Cover: Magnific
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS