Anak Mulai Membandingkan Tubuhnya dengan Teman? Ini Cara Bijak Orang Tua Merespons

Parenting & Kids

Sisca Christina・in 2 hours

detail-thumb

Bukan dengan sanggahan apalagi pujian kosong, ini cara bijak orang tua merespon anak ketika mereka mulai membandingkan tubuhnya.

Memasuki usia praremaja hingga remaja, pada umumnya anak mulai semakin sadar terhadap tubuh dan penampilannya. Mereka juga mulai membandingkan diri dengan teman, termasuk tinggi badan, berat badan, bentuk tubuh, warna kulit, hingga penampilan. Menurut penelitian, pada beberapa anak hal ini mulai muncul sejak usia 8-10 tahun.

Ketika menemukan bahwa ada perbedaan fisik yang menyolok dengan temannya, bisa jadi itu membuatnya tidak nyaman, kemudian muncul pertanyaan:

 “Ma, kenapa badanku nggak kayak dia, ya?”
“Aku dibilang gendut sama teman..”
“Kenapa aku paling pendek di kelas?”
Anak merasa ada yang tidak pas dengan tubuhnya.

Orang Tua Harus Bagaimana?

Perlu diingat bahwa ketika anak mulai membandingkan diri dengan orang lain, itu merupakan bagian dari perkembangan sosial. Tetapi, ketika anak mulai merasa dirinya “kurang” karena tubuhnya berbeda, di sinilah orang tua perlu hadir.

Bukan untuk buru-buru meyakinkan bahwa anak “cantik” atau “nggak gemuk”, melainkan membantu anak memahami bahwa tubuhnya berharga dan tidak perlu terlihat seperti tubuh orang lain.

Ketika Anak Mulai Membandingkan Tubuhnya, Jangan Langsung Panik

Psikolog anak dan peneliti body image Janet Boseovski, PhD, dan Ashleigh Gallagher, PhD seperti dilansir dari situs American Psychological Association, menjelaskan bahwa orang tua punya peran penting dalam membantu anak membangun persepsi yang sehat mengenai tubuhnya.

anak mulai membandingkan tubuhnya

Foto: Image by magnific

Cara orang tua berbicara tentang tubuh, makanan, dan penampilan dapat ikut membentuk bagaimana anak memandang dirinya sendiri.

Jadi, hindari keinginan untuk langsung menyanggah perkataan anak dengan mengatakan:

 “Ah, kamu nggak gemuk, kok!”
“Jangan ngomong gitu, kamu tuh cantik.”
“Temanmu juga belum tentu lebih bagus.”

Sebelum buru-buru memperbaiki perasaan anak, coba dengarkan dulu apa isi pikiran dan perasaan anak yang sebenarnya.

Ketika anak mengatakan, “Aku gendut,” bisa jadi yang sebenarnya ingin ia sampaikan bukan sekadar soal ukuran tubuh. Mungkin ia sedang mengatakan, “Aku merasa berbeda dari teman-temanku,” atau “Aku takut mereka tidak menyukaiku.”

Jadi, respons pertama orang tua tidak harus berupa solusi. Orang tua bisa mencoba untuk merespon dengan menunjukkan keinginan untuk mendengar anak, misalnya:

“Kamu kepikiran soal itu, ya? Cerita sama Mama, dong, kenapa kamu merasa begitu?”

Setelah itu, orang tua bisa membantu anak melihat persoalannya dari sudut pandang yang lebih sehat.

Baca juga: Toxic Friendship pada Remaja: 7 Tanda dan Cara Menghadapinya

Bagaimana Cara Bijak Orang Tua Merespons Ketika Anak Mulai Membandingkan Tubuhnya?

Jangan bilang: “Kamu nggak gemuk, kok!”
Coba bilang: “Kamu merasa badanmu berbeda dari temanmu?”

Tujuan dari respon ini yaitu orang tua ingin membangun pemahaman pada anak bahwa menjadi menjadi gemuk, kurus, tinggi, pendek, atau memiliki bentuk tubuh tertentu tidak menentukan nilai seseorang.

Dengan bertanya balik, orang tua juga bisa mencari tahu sumber kekhawatiran anak. Apakah ada teman yang mengomentari tubuhnya? Apakah anak melihat sesuatu di media sosial? Apakah ia mulai membandingkan dirinya sendiri? Atau anak tidak puas dengan kondisi tubuhnya? Dengan demikian, orang tua bisa menolong anak sesuai dengan permasalahannya.

Katakanlah, anak ternyata kelebihan berat badan dan ingin menurunkan berat badan, orang tua bisa membantunya untuk menerapkan pola makan sehat, demi tubuh yang lebih sehat, bukan sekadar demi penampilan semata.

Jangan bilang: “Lihat tuh, temanmu saja nggak masalah.”
Coba bilang: “Setiap orang punya tubuh yang berbeda dan tumbuh dengan waktunya masing-masing.”

anak mulai membandingkan tubuhnya

Foto: Image by pvproductions on Magnific

Anak mungkin mulai merasa tertinggal ketika melihat teman yang lebih tinggi, lebih kurus, lebih berisi, atau lebih cepat mengalami perubahan tubuh.

Alih-alih membandingkan dengan anak lain, lebih baik bantu anak memahami bahwa pertumbuhan setiap orang berbeda; dan berbeda bukan berarti tertinggal.

“Ada yang tinggi duluan, ada yang belakangan. Ada yang badannya kecil, ada yang lebih berisi. Tubuh kamu juga sedang bertumbuh. Sabar ya, sambil tetap berusaha untuk rutin olahraga, tidur cukup dan makan bergizi supaya kamu tumbuh sehat.”

Jangan bilang: “Kalau kamu diet, nanti bisa kurus.”
Coba bilang: “Kita jaga tubuh supaya tetap sehat dan kuat.”

Ketika anak mulai mengeluhkan berat badan, orang tua bisa membantu anak untuk membangun hubungan yang sehat antara makanan dan tubuhnya. Hindari membuat anak merasa bahwa makanan tertentu membuatnya “baik” atau “buruk”, atau bahwa tubuh yang lebih kurus otomatis lebih sehat dan lebih menarik.

Pembicaraan mengenai kesehatan bisa diarahkan pada kebutuhan tubuh dan menerapkan pola makan gizi seimbang, sebab “Tubuh kamu butuh makanan supaya punya energi untuk belajar, bermain, dan bertumbuh.”

Jangan bilang: “Mama juga gendut, makanya Mama diet,” atau “Mama juga gendut tapi mama pede aja, tuh!”
Coba bilang: “Mama juga sedang belajar merawat tubuh Mama.”

Bagaimana orang tua memandang dan merawat tubuhnya, akan menjadi teladan bagi anak. Kalau anak sering mendengar orang tua berkata:

“Duh, Mama gendutan!” atau “Celana ini sudah nggak muat,” atau “Mama harus kurus!”

Anak bisa menangkap bahwa tubuh yang berubah adalah sesuatu yang harus diperbaiki segera.

Sebaliknya, ketika orang tua berkata: “Ah nggak apa-apa gendut, yang penting sehat dan percaya diri,” bisa menyesatkan anak untuk membiarkan tubuhnya tidak perlu dirawat. Padahal kondisi pada kondisi tertentu, kelebihan berat badan bisa mengarah pada obesitas dan menimbulkan risiko penyakit.

Cobalah berkata: “Mama sedang berusaha lebih sehat supaya badan Mama lebih enak diajak beraktivitas.” Ini menujukkan pada anak bahwa merawat diri didasari oleh rasa sayang terhadap tubuh sendiri.

Baca juga: 13 Kebiasaan Orang Tua yang Bisa Membuat Anak Tidak Percaya Diri

Jangan bilang: “Kamu harus percaya diri dong!”
Coba bilang: “Mama tahu kamu mungkin sedang nggak nyaman. Kita cari tahu sama-sama, ya.”

Rasa percaya diri tidak bisa tiba-tiba timbul hanya karena diminta. Ketika mereka merasa tidak nyaman, yang anak butuhkan adalah validasi, atau didengarkan tanpa dihakimi atau diremehkan.

Orang tua bisa mengatakan: “Mama mengerti kamu lagi merasa nggak nyaman. Tapi Mama mau kamu tahu, kamu tetap berharga meskipun kamu sedang nggak nyaman dengan penampilanmu.”

Baca juga: Jangan Anggap Sepele! Ini 10 Tanda Anak Remaja Kurang Percaya Diri

Jangan bilang: “Jangan lihat media sosial terus!”
Coba bilang: “Menurut kamu, apa yang kamu lihat di sana selalu sama dengan kenyataannya?”

Psikolog Leslie Heinberg, PhD, dari  Cleveland Clinic menjelaskan bahwa media sosial dapat memperkuat tekanan terhadap penampilan karena anak terus terpapar pesan mengenai bagaimana seseorang seharusnya terlihat.

Daripada hanya melarang, orang tua bisa mengajarkan anak untuk lebih kritis.

“Menurut kamu, foto itu pakai filter tidak?”
“Kenapa orang biasanya memilih foto yang paling bagus untuk di-upload?”
“Kalau lihat foto itu, kamu jadi merasa bagaimana terhadap dirimu sendiri?”

Dengan begitu, anak tidak hanya belajar membatasi media sosial, tetapi juga belajar memahami bahwa apa yang terlihat di layar bukan keseluruhan kenyataan.

Anak laki-laki juga bisa merasa tidak percaya diri dengan tubuhnya

Body image sering dianggap sebagai persoalan anak perempuan. Padahal, anak laki-laki juga dapat merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Bedanya, tekanan yang mereka rasakan bisa berbentuk berbeda. Misalnya, merasa terlalu kurus, kurang tinggi, kurang kuat, atau tidak cukup atletis dibandingkan teman.

Jadi ketika anak laki-laki berkata, “Aku kurus banget,” atau “Badanku kecil dibandingkan teman-teman,” tanyakan kembali: “Kamu merasa terganggu karena badanmu berbeda dari mereka?”

Percakapan yang terbuka sejak awal akan membuat anak tahu bahwa ia selalu punya tempat aman untuk bercerita ketika mulai merasa tidak nyaman dengan dirinya.

Kapan Orang Tua Perlu Khawatir?

Tidak semua anak yang mulai membandingkan tubuhnya sedang mengalami masalah body image.

Namun, Mommies perlu mulai waspada ketika pembicaraan mengenai tubuh menjadi semakin sering dan mulai memengaruhi perilaku, misalnya anak:

  • terus mengatakan dirinya gemuk, jelek, atau tidak menarik;
  • sering membandingkan tubuhnya dengan teman;
  • mulai takut makan atau sengaja melewatkan waktu makan;
  • menghindari makanan tertentu karena takut gemuk;
  • berolahraga secara berlebihan demi mengubah bentuk tubuh;
  • sering bercermin atau mengecek bagian tubuh tertentu;
  • mulai menghindari foto, kegiatan, atau pergaulan karena malu dengan tubuhnya;
  • terlihat sangat sedih atau cemas ketika membicarakan penampilan.

Jangan ragu mencari bantuan psikolog anak dan remaja atau tenaga profesional yang sesuai.

Baca juga: Cara Memperbaiki Komunikasi dengan Anak Remaja yang Telanjur Putus: Ini 10 Caranya Menurut Psikolog

Cover: Image by magnific