banner-detik
PARENTING & KIDS

“Kamu Lebih Sayang Mama atau Papa?” Hindari 7 Kalimat Ini Setelah Bercerai

author

Mommies Daily・in 6 hours

“Kamu Lebih Sayang Mama atau Papa?” Hindari 7 Kalimat Ini Setelah Bercerai

Apa saja kalimat yang harus dihindari setelah bercerai? Kenali 7 ucapan yang bisa membuat anak merasa harus memilih Mama atau Papa.

“Kamu lebih sayang Mama atau Papa?”

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Bahkan bisa saja keluar begitu saja ketika orang tua sedang bercanda atau ingin tahu seberapa dekat anak dengan dirinya.

Namun, bagi anak yang orang tuanya sudah bercerai, pertanyaan seperti ini bisa terasa jauh lebih berat.

Sebab, anak mungkin tidak sedang melihatnya sebagai pertanyaan biasa. Ia bisa merasa harus memberikan jawaban yang tidak akan membuat salah satu orang tuanya kecewa.

Menurut Alan Ravitz, MD, MS, child and adolescent psychiatrist dari Child Mind Institute, anak sebaiknya tidak dijadikan pihak yang harus memilih dalam perceraian. Ketika anak merasa bahwa mencintai salah satu orang tua berarti mengkhianati yang lain, ia bisa terjebak dalam apa yang disebut loyalty bind, atau konflik loyalitas.

Jadi, setelah perceraian, bukan hanya keputusan besar yang perlu diperhatikan. Kalimat sehari-hari yang terdengar sepele pun perlu lebih dijaga.

BACA JUGA: Artis Terapkan Co-Parenting yang Kompak, Ada Acha Septriasa hingga Desta

1. “Kamu Lebih Sayang Mama atau Papa?”

 

Foto: Pexels

Anak tidak perlu membuat peringkat kasih sayang terhadap kedua orang tuanya. Ia boleh merasa sangat dekat dengan Mama sekaligus tetap menyayangi Papa.

Alih-alih bertanya siapa yang lebih disayang, coba buka percakapan dengan pertanyaan yang tidak membuat anak membandingkan.

Coba:

“Hal apa yang paling kamu suka saat bersama Papa?” atau “Gimana perasaan kamu setelah menghabiskan waktu sama Mama?”

Dengan begitu, anak bisa bercerita mengenai pengalamannya tanpa merasa harus memilih.

2. “Kamu Lebih Betah Tinggal Sama Mama/Papa, Kan?”

Ketika anak terlihat lebih nyaman di salah satu rumah, orang tua mungkin tergoda mencari kepastian bahwa dirinya adalah “pilihan” anak.

Padahal, anak bisa merasa nyaman di dua rumah dengan alasan yang berbeda.

Ia mungkin suka memasak bersama Mama, tetapi suka bermain game bersama Papa. Ia bisa nyaman bercerita kepada Mama soal sekolah, tetapi memilih Papa ketika ingin membahas hobinya.

Kedekatan yang berbeda tidak selalu berarti tingkat kasih sayang yang berbeda.

3. “Kalau Kamu Sayang Mama, Harusnya Kamu Nggak Mau Pergi Sama Papa.”

Atau sebaliknya.

Child Mind Institute menekankan pentingnya tidak menjadikan hubungan anak dengan orang tua sebagai tes loyalitas. Anak seharusnya tetap memiliki kesempatan untuk membangun hubungan dengan kedua orang tuanya tanpa merasa bahwa hal tersebut merupakan pengkhianatan terhadap salah satunya.

BACA JUGA: Tips Menjaga Hubungan Baik Antar Mantan Suami Istri

4. “Papa/Mama Nggak Pernah Peduli Sama Kamu.”

Rasa kecewa kepada mantan pasangan tentu bisa muncul, terlebih jika perceraian berlangsung tidak mudah.

Namun, anak sebaiknya tidak dijadikan tempat untuk menyampaikan semua kekecewaan tersebut.

Dr. Jamie Howard, PhD, psikolog dan clinical adviser di Child Mind Institute, menyarankan orang tua menghindari memberikan informasi yang membuat salah satu pasangan terlihat buruk di mata anak. Anak juga tidak perlu dilibatkan dalam persoalan orang dewasa seperti urusan finansial atau konflik perceraian.

5. “Papa Sekarang Punya Keluarga Baru, Papa Sudah Nggak Sayang Lagi Sama Kamu.”

Foto: Pexels

Anak mungkin kemudian mulai bertanya-tanya: Apakah aku masih disayang? Apakah aku akan digantikan? Apakah Papa lebih sayang keluarga barunya?

Jika anak memang menunjukkan kekhawatiran tentang keluarga baru atau perubahan hubungan dengan salah satu orang tua, berikan ruang untuk bercerita.

Dengan begitu, fokusnya bukan pada membandingkan kasih sayang, tetapi memahami perasaan anak.

6. “Jangan Cerita ke Papa, Ya. Ini Rahasia Kita.”

Anak sebaiknya tidak ditempatkan sebagai penjaga rahasia atau perantara komunikasi orang tua.

Misalnya, meminta anak menyembunyikan informasi tentang siapa yang ditemui, apa yang dibicarakan, atau konflik tertentu dengan mantan pasangan.

Ini bisa membuat anak merasa berada di tengah hubungan dua orang dewasa.

Menurut Child Mind Institute, orang tua perlu menjaga anak sejauh mungkin dari konflik dan persoalan hukum dalam perceraian. Anak bukan tempat untuk mencurahkan informasi tentang perselisihan orang tua.

Kalau ada hal yang memang perlu dibicarakan dengan mantan pasangan, bicarakan langsung dengan orang dewasanya.

BACA JUGA: Penyebab Hubungan dengan Mantan Pasangan Memburuk Setelah Bercerai

7. “Kamu Harus Mengerti Kondisi Mama/Papa.”

Anak memang perlu mendapatkan penjelasan tentang perubahan yang terjadi dalam keluarganya. Namun, memahami bukan berarti harus menjadi tempat orang tua bersandar secara emosional.

Ada perbedaan antara:

“Mama sedang sedih karena banyak perubahan setelah perceraian.”

dan

“Mama cuma punya kamu. Kamu harus mengerti Mama.”

Yang kedua bisa membuat anak merasa bertanggung jawab atas kondisi emosional orang tuanya.

BACA JUGA: Rekomendasi Jasa Pengacara Perceraian

Jadi, Apa yang Sebaiknya Dikatakan kepada Anak?

Beberapa kalimat yang bisa diberikan antara lain:

“Kamu tetap boleh sayang Mama dan Papa.”

“Kamu nggak perlu memilih salah satu.”

“Masalah antara Mama dan Papa adalah masalah orang dewasa.”

“Kamu nggak perlu menjaga perasaan Mama atau Papa.”

“Kalau ada sesuatu yang bikin kamu sedih atau bingung, kamu boleh cerita.”

Perubahan status hubungan Mama dan Papa tidak berarti anak harus mengubah rasa sayangnya kepada salah satu dari mereka.

Cover: Pexels

Share Article

author

Mommies Daily

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan