
Anak punya teman dari game online? Kenali bahaya teman dari game online bagi anak, risiko grooming dan cyberbullying, serta 5 aturan keamanan internet yang perlu diajarkan orang tua.
Siapa di sini yang anaknya sering mengurung diri di kamar sambil lobbying atau mabar (main bareng) bareng “squad”-nya? Di zaman digital seperti sekarang, anak bermain game online bukan cuma urusan melenyapkan “boss” (menyelesaikan permainan atau mengalahkan musuh kuat di dalam game online) atau meraup skor tertinggi. Game masa kini sudah menjelma jadi tempat nongkrong virtual.
Di satu sisi, dunia baru ini menawarkan hiburan, koneksi sosial, bahkan mengasah keterampilan kognitif anak.
Tapi saat anak punya teman di game online, batas antara sosialisasi yang sehat dan potensi ancaman menjadi sangat tipis! Sebelum semuanya kebablasan, mari kita bedah manfaat, bahaya teman online bagi anak, hingga aturan keamanan anak di internet yang wajib diajarkan sejak dini.
BACA JUGA: 7 Game Online untuk Anak yang Ternyata Mendidik dan Ajarkan Ilmu Baru

Sebelum kita membahas kewaspadaan, penting untuk dipahami dulu dari sudut pandang anak. Bagi anak usia sekolah, keinginan untuk bersosialisasi dan masuk ke dalam kelompok adalah hal yang sangat alami. Game multiplayer memberi mereka wadah untuk terhubung dengan teman sebaya.
Di samping itu, melansir dari Terraskills, aktivitas anak bermain game online yang terukur sebenarnya menyimpan beberapa manfaat positif:
Kekhawatiran Mommies bukan tanpa alasan. Menurut panduan keamanan dari Internet Safety 101, beberapa bahaya teman online bagi anak yang patut diwaspadai meliputi:
BACA JUGA: Ketahui 6 Manfaat Anak Main Game Online Sebelum Melarang

Simak penjelasan Hesty Novitasary, M.Psi., Psikolog, LCPC, C.Ht., Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga yang berpraktik di Ruang Tumbuh:
Satu hal yang sering luput dari pengawasan orang tua adalah penggunaan emoji dan bahasa singkatan. Mengutip panduan dari Europol, anak-anak kerap menggunakan “bahasa rahasia” ini untuk mengelabui orang tua:
| Emoji/Kode | Arti Rahasia/Maksud |
|---|---|
| 🔪 / 💉 | Menunjukkan kecenderungan melukai diri (self-harm) |
| 🌿 / 🍁 / 🍃 | Menunjuk pada ganja (cannabis) |
| ❄️ / 💎 / 🎱 | Istilah tersembunyi untuk kokain |
| ❌ / 🍬 | Istilah rahasia untuk ekstasi atau MDMA |
| 💦 / 🍒 / 🌮 | Bermakna seksual atau merujuk pada organ tubuh (payudara) |
| 🌽 | Kode tersembunyi untuk konten pornografi |
| 💊 | Kode untuk doktrin/ideologi anti-perempuan (red pill culture/incel) |
| ☠️ / 🕷️ / 🧿 | Digunakan untuk mengindikasikan bahaya, pengawasan, atau kelompok ekstremis |
| PAWPAW | Parents Are Watching (orang tua sedang memperhatikan) |
| PIR | Parent In Room (ada orang tua di dalam ruangan) |
| KPC | Keeping Parents Clueless (membuat orang tua tetap tidak tahu) |
| LMIRL | Let’s Meet In Real Life (ajakan bertemu langsung secara fisik) |
| GNOC | Get Naked On Camera (permintaan telanjang di depan kamera) |
BACA JUGA: Aturan Gadget untuk Anak SD yang Sebaiknya Diterapkan di Rumah

“Cara menyampaikan aturan, sebaiknya hindari dengan menakut-nakuti atau dengan mengancam. Mulailah dengan membuka pembicaraan melalui minat dan rasa keingintahuan anak, serta bangun koneksi dengan anak dalam berkomunikasi,” saran Psikolog Hesty.
Orang tua bisa mulai dengan bertanya tentang pengalaman anak:
“Kamu biasanya main apa atau main sama siapa?”
“Teman-temanmu di gim biasanya ngobrol tentang apa?”
“Pernah nggak ada orang yang kamu nggak kenal tiba-tiba mengajak berteman?”
Setelah terbangun koneksi dari pertanyaan itu, orang tua bisa masuk ke pembicaraan tentang keamanan dan aturan dalam bermain game online, serta memberikan contoh konkret kepada anak.
Hindari kalimat larangan tanpa memberikan penjelasan latar belakangnya, misalnya, “Pokoknya jangan berteman dengan orang asing di internet!” atau “Gim itu berbahaya!”, karena anak bisa merasa orang tua tidak memahami dunianya. Bahkan, bisa membuat anak memilih untuk menyembunyikan aktivitas online-nya.
Lebih baik katakan:
“Mama/Papa tahu kamu senang main dan punya teman di sana. Mama/Papa bukan mau melarang kamu berteman. Mama/Papa cuma ingin memastikan kamu tetap aman, karena kita tidak selalu tahu siapa sebenarnya orang yang ada di balik akun tersebut.”
Anak juga perlu diberikan “aturan praktis”, bukan hanya peringatan. Misalnya: jangan memberikan data pribadi, jangan mengirim foto atau video pribadi, jangan mengikuti ajakan bertemu secara langsung tanpa sepengetahuan orang tua, dan segera bercerita jika ada orang yang membuatnya tidak nyaman, meminta sesuatu yang rahasia, mengancam, atau mengajak melakukan sesuatu yang tidak sesuai.
Orang tua juga perlu memberi pesan:
“Kalau kamu mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan di dunia online, kamu boleh cerita kepada Mama/Papa. Kamu tidak akan langsung dimarahi atau kehilangan semua akses bermain. Kita cari jalan keluarnya bersama.”
Pesan seperti ini sangat penting karena tujuan utama pengawasan bukan membuat anak takut kepada orang tua, tetapi membuat anak merasa aman untuk datang kepada orang tua ketika menghadapi masalah.
BACA JUGA: 3 Cara Mencegah Kecanduan Digital pada Anak di Era Gadget
Jadi, aturan bermain gim online idealnya bukan hanya tentang mengatur jadwal screen time, tetapi juga tentang digital safety, kemampuan mengendalikan diri, dan membangun komunikasi terbuka antara anak dan orang tua.