banner-detik
PARENTING & KIDS

3 Cara Mencegah Kecanduan Digital pada Anak di Era Gadget

author

Keluarga Kitain 6 hours

3 Cara Mencegah Kecanduan Digital pada Anak di Era Gadget

Refleksi seorang ibu tentang cara mencegah kecanduan digital pada anak melalui kesepakatan penggunaan gadget, aktivitas alternatif, dan pendampingan yang konsisten di era digital.

Di masa kecilku, waktu kosong dipenuhi dengan bergerak, bertanya, berlari, serta berbincang dengan tetangga. Saat bermain, aku memanggil teman dari depan pagar, kemudian kami mengambil batu, mengumpulkan dedaunan, serta memetik bunga untuk diulek dengan cobek Ibu sampai lepek berkeringat. Kami tumbuh dengan aroma tanah hangat dan cahaya matahari yang menempel lekat di kulit.

Tak ada habisnya aku dan teman-temanku menjemput ide yang berseliweran di kepala kami. Segala hal yang kami lihat, cium, dengar, raba, maupun cecap menjadi stimulus bagi kami untuk bereksplorasi.

Namun, berbeda dengan hari ini. Di masa kecil anakku yang berusia 10 tahun, dunia seakan menyempit dalam satu kotak cahaya. Seolah seluruh alam tiba-tiba berpindah dan berkumpul di sana. Stimulusnya melimpah, tetapi tak menggugah. Tidak ada tanah yang menempel di telapak kaki, tidak ada ketakjuban pada dedaunan yang melayang tertiup angin di penghujung hari.

Ada semacam jarak yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, seperti dinding tipis antara dunia nyata dan dunia yang sedang diusap oleh jemari.

Apakah aku sebagai orang tua harus beradaptasi atau menggeser cara pandang dan menata ulang ekspektasi? Dilema. Aku takut anakku tertinggal, sekaligus takut ia kehilangan masa kanak-kanak yang sederhana tetapi sangat bermakna.

Apakah Mommies lain juga mengalaminya?

BACA JUGA: Tantangan Menjadi Orang Tua di Usia 20-an dan 30-an, Banyak yang Relate!

Orang Tua Perlu Memahami Perannya di Era Digital

Setelah berefleksi, aku menyadari bahwa beradaptasi tidak sama dengan mengikuti. Beradaptasi berarti menyelaraskan suaraku dengan suara anakku, kebutuhanku dengan kebutuhannya, serta ritme tubuhku dengan ritme tumbuh kembangnya.

Aku belajar bahwa tugas utamaku kini bukan menjauhkan dia dari dunia digital, melainkan menyiapkan dirinya agar mampu menjalani hari di dunia itu dengan tegas—dengan regulasi diri yang mantap.

Solusi agar Anak Terhindar dari Kecanduan Digital

1. Membuat Kesepakatan Penggunaan Perangkat Digital

Hari ini, hampir dua minggu anakku berjeda dari segala aktivitas bersama perangkat digitalnya. Masih sekitar enam minggu lagi dia perlu melakukannya.

Semenjak perjanjian itu, kami sepakat untuk menghentikan pemakaian semua perangkat digital di rumah. Apakah mudah? Tentu tidak.

Awalnya, kupikir hanya perlu menyimpan perangkat digital, kemudian anakku akan bermain dengan sendirinya. Ternyata, ada konsekuensi dari semua penghentian itu—aku harus mempersiapkan beragam penggantinya.

Foto: Ksenia Chernaya/Pexels

2. Memberikan Alternatif Kegiatan Tanpa Gadget

Aku perlu meluangkan waktu dan memberikan perhatian ekstra. Aku juga perlu memutar otak untuk merencanakan berbagai permainan dan pilihan kegiatan fisik untuk mengisi waktu luangnya.

Selain itu, aku perlu lebih sering mengobrol dengannya dan membacakan buku cerita. Mengasuh di era digital menjadi tanggung jawab baru yang harus aku pelajari hari-hari ini bersamanya.

Dalam prosesnya, ada kalanya dia protes, menangis, atau mencoba bernegosiasi dengan segala cara. Tiap kali itu terjadi, aku berusaha memahami bahwa dia sedang belajar menata dirinya.

Ternyata, hal ini tak hanya menjadi tantangan bagi anakku, tetapi juga tugas bagi diriku sebagai ibunya.

3. Orang Tua Juga Belajar Mengelola Diri

Aku perlu belajar kembali mengelola diri dengan terus mencari cara agar lebih sabar dan bijak memilih kata—agar tak perlu marah-marah untuk tetap teguh pendirian dalam mendampinginya.

Aku perlu mengingat impian besar bahwa masa depan anak tidak ditentukan oleh satu hal saja, melainkan oleh beragam kemampuan yang menjadi fondasi kehidupannya.

Sambil meneruskan bebersih rumah, aku berbisik pada diri sendiri:

“Aku sedang membesarkan seorang anak yang kelak akan berjalan di dunia yang tak sepenuhnya kumengerti. Ini ikhtiarku hari ini, melatihnya perlahan secara konsisten tanpa drama dan memastikan ia memiliki kemampuan untuk menghadapi dunianya. Orang yang paling dulu harus bisa beradaptasi adalah aku. Semua akan kujalani seraya terus mencintai dengan lebih baik.”

BACA JUGA: 13 Kebiasaan Orang Tua yang Bisa Membuat Anak Tidak Percaya Diri

Cover: Alex Green/Pexels

Share Article

author

Keluarga Kita

Keluarga Kita adalah organisasi non profit yang berdiri sejak 2013 dan menyusun kurikulum pendidikan keluarga berbasis teori psikologi dan pedagogi juga pengalaman dan praktik nyata pengasuhan di Indonesia. Melalui Rangkul (Relawan Keluarga Kita), para relawan orang tua belajar dan berbagi untuk menguatkan pengasuhan yang reflektif, membangun disiplin positif, dan mendampingi anak belajar secara efektif.

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan