
Komdigi merilis 22 platform risiko tinggi bagi anak. Cek daftar lengkapnya dan tips orang tua mendampingi anak di dunia digital.
Anak sekarang mungkin belum punya SIM, belum boleh pergi sendiri ke mal, bahkan untuk menyeberang jalan pun masih kita ingatkan berkali-kali. Tapi di dunia digital, mereka bisa saja sudah “pergi” ke mana-mana hanya dengan satu klik.
Mulai dari YouTube, Discord, sampai game online, dunia digital memang sudah jadi bagian dari keseharian anak. Karena itu, ketika Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengumumkan daftar platform risiko tinggi bagi anak, wajar kalau banyak Mommies langsung bertanya-tanya, “Lho, aplikasi yang dipakai anak saya termasuk nggak?”
Dalam evaluasi enam bulan penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS, hingga 6 September 2026 Komdigi telah memverifikasi 60 Produk, Layanan, dan Fitur (PLF). Hasilnya, 38 PLF masuk profil risiko rendah dan 22 PLF masuk profil risiko tinggi bagi anak.
BACA JUGA: Pembatasan Media Sosial Anak: TikTok Nonaktifkan 1,7 Juta Akun, Apa Artinya untuk Mommies?

Jadi, aplikasi atau layanan apa saja yang masuk dalam daftar tersebut?
Berikut daftar 22 produk, layanan, dan fitur (PLF) berprofil risiko tinggi bagi anak berdasarkan hasil verifikasi Komdigi per 6 September 2026:
Daftar tersebut cukup beragam, ya, Mommies. Bukan cuma media sosial dan aplikasi chat, tetapi juga mencakup e-commerce, layanan keuangan, streaming, podcast, serta game online.
Nah, ada satu hal yang penting banget untuk dipahami sebelum kita buru-buru menyimpulkan bahwa 22 layanan ini “berbahaya”.
Menurut penjelasan Komdigi, profil risiko tinggi berarti layanan tersebut tidak aman bagi anak atau dilarang memberikan akses kepada akun anak di bawah usia 16 tahun. Jadi, status ini bukan berarti setiap konten di dalam platform otomatis berbahaya bagi setiap orang, tetapi menunjukkan bahwa layanan tersebut memiliki profil risiko yang membuatnya tidak sesuai untuk digunakan oleh anak dan membutuhkan perlindungan yang lebih kuat.
BACA JUGA: Indonesia Resmi Menunda Akses Anak di Media Sosial Mulai 28 Maret 2026, dari YouTube hingga Roblox
Nah, ini mungkin bagian yang bikin sebagian Mommies mengernyitkan dahi.
YouTube, misalnya, sangat umum digunakan untuk menonton video hiburan, belajar, mencari tutorial, sampai mengikuti konten kreator favorit. Discord juga banyak digunakan untuk berkomunikasi dan membangun komunitas, termasuk di sekitar game.
Namun, kita sebaiknya nggak menyimpulkan alasan spesifik sebuah platform masuk daftar hanya dari jenis aplikasinya. Komdigi menilai risiko berdasarkan sejumlah aspek yang dapat memengaruhi keamanan dan kesejahteraan anak, bukan sekadar apakah sebuah layanan populer di kalangan anak.
Aspek yang dinilai antara lain kemungkinan anak berkontak dengan orang yang tidak dikenal, terpapar pornografi, kekerasan atau konten yang tidak sesuai untuk anak, dieksploitasi sebagai konsumen, menghadapi ancaman terhadap keamanan data pribadi, mengalami risiko adiksi, serta risiko gangguan kesehatan psikologis dan fisiologis.
Artinya, ketika sebuah platform masuk kategori risiko tinggi, yang perlu dilihat bukan cuma “anak saya suka pakai aplikasi ini atau nggak?”, tetapi juga apakah karakteristik dan desain layanan tersebut memang sesuai dengan kebutuhan serta tahap perkembangan anak.
Selama ini, pembicaraan soal penggunaan gadget pada anak sering berhenti di durasi. Misalnya, berapa jam sehari anak boleh menonton YouTube atau bermain game.
Padahal, panduan terbaru dari American Academy of Pediatrics (AAP) menunjukkan bahwa hubungan anak dengan teknologi jauh lebih kompleks daripada sekadar menghitung jumlah jam di depan layar. Dalam kebijakan yang diterbitkan pada 2026, AAP menekankan bahwa pengalaman digital anak juga dipengaruhi karakteristik anak, pengasuh, desain platform, algoritma, konteks penggunaan, serta lingkungan sosial yang lebih luas.
AAP bahkan menilai ekosistem digital saat ini tidak bisa lagi dipandang hanya sebagai persoalan screen time. Desain yang mengejar keterlibatan pengguna, seperti autoplay, rekomendasi algoritmik, infinite scrolling, dan sistem penghargaan tertentu, dapat mendorong penggunaan yang lebih lama dan berpotensi menggeser aktivitas sehat seperti tidur, bergerak, belajar, atau berinteraksi secara langsung.
Di Indonesia sendiri, penelitian UNICEF menemukan bahwa sebagian besar anak menggunakan internet setiap hari, terutama untuk bersosialisasi dan hiburan. Namun, mereka juga menghadapi risiko seperti paparan konten yang tidak pantas, cyberbullying, serta eksploitasi dan pelecehan seksual secara daring. Yang cukup mengkhawatirkan, baru 37,5% anak dalam studi tersebut yang pernah mendapatkan informasi tentang cara menjaga keamanan saat online.
Jadi, persoalannya bukan sekadar, “Anak main HP berapa jam?”, tetapi juga, “Anak sedang melakukan apa di internet, bertemu siapa, melihat apa, dan tahu nggak harus bagaimana kalau mengalami sesuatu yang membuatnya nggak nyaman?”
Dengan begitu, Mommies nggak perlu melihat isu ini semata-mata sebagai perang melawan gadget. Yang juga penting adalah memahami bagaimana anak menggunakan teknologi dan risiko apa yang mungkin muncul dari pengalaman digitalnya.
BACA JUGA: 7 Negara yang Melarang Media Sosial untuk Anak-Anak, Ada Malaysia hingga Australia

Anak mungkin menjawab, “Aku cuma main game.”
Coba lanjutkan dengan pertanyaan yang lebih spesifik: “Main sama siapa?”, “Biasanya ngobrol lewat mana?”, atau “Kalau ada orang yang nggak dikenal ngajak chat, kamu biasanya gimana?”
Percakapan seperti ini bisa membantu Mommies memahami pengalaman digital anak tanpa membuatnya merasa sedang diinterogasi. UNICEF sendiri menemukan bahwa hubungan yang baik antara anak dan orang tua berkaitan dengan kecenderungan anak untuk berbagi aktivitas mereka, termasuk aktivitas online.
Ini penting karena pengalaman digital anak belum tentu selalu kelihatan dari luar. Anak bisa saja terlihat tenang sambil bermain, padahal di balik layar ia sedang menghadapi komentar yang menyakitkan, menerima pesan dari orang asing, atau melihat sesuatu yang belum siap ia pahami.
Ini sering kelewat karena setelah aplikasi terpasang, kita merasa tugas selesai.
Padahal, Mommies bisa mengecek kembali siapa yang dapat melihat profil anak, mengirim pesan, menambahkan sebagai teman, serta izin aplikasi untuk mengakses lokasi, kamera, mikrofon, foto, atau informasi pribadi lainnya.
Keamanan data pribadi memang menjadi salah satu aspek yang diperhitungkan dalam penilaian risiko berdasarkan aturan pelindungan anak di ruang digital. Komdigi memasukkan potensi ancaman terhadap keamanan data pribadi anak sebagai salah satu aspek dalam penilaian profil risiko PLF.
Nah, yang satu ini kadang bikin kita tersindir sedikit.
Kalau anak dilarang memegang HP saat makan, tapi Mommies dan Daddies masih sibuk membalas WhatsApp di meja makan, pesan yang diterima anak tentu jadi agak membingungkan.
AAP merekomendasikan pendekatan yang melibatkan seluruh keluarga dalam membangun hubungan dengan media digital. Dalam konsep Family Media Plan, keluarga dapat membicarakan berbagai hal seperti waktu dan tempat bebas layar, jenis konten yang sesuai, privasi, komunikasi, hingga cara menggunakan media bersama.
Jadi, aturan digital sebaiknya bukan sekadar, “Kamu nggak boleh main HP.”
Lebih baik menjadi kesepakatan keluarga: kapan boleh menggunakan perangkat, kapan harus berhenti, apa yang boleh dibagikan, dan siapa yang harus diberi tahu kalau anak mengalami sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Pendekatan seperti ini juga membuat anak punya kesempatan memahami kenapa sebuah aturan dibuat, bukan sekadar menerima larangan.
Ini mungkin justru yang paling penting.
Kalau anak mendapat pesan aneh, melihat konten seksual, di-bully, ditakut-takuti, atau ada orang yang meminta foto pribadi, jangan sampai respons pertama orang tua membuat mereka takut untuk bercerita.
Anak perlu tahu bahwa datang kepada orang tua bukan berarti otomatis akan kehilangan HP-nya.
Data UNICEF Indonesia menunjukkan masih banyak anak yang mengalami pengalaman negatif di ruang digital. Dalam studi tersebut, 42% anak mengatakan pernah merasa tidak nyaman atau takut karena pengalaman online, sementara 37,5% baru pernah mendapatkan informasi mengenai cara menjaga keamanan saat online.
Karena itu, respons orang tua ketika anak bercerita juga penting. Alih-alih langsung memarahi atau menyalahkan, Mommies bisa mulai dengan mendengarkan, mencari tahu apa yang terjadi, lalu bersama-sama menentukan langkah berikutnya.
BACA JUGA: 10 Kebiasaan di Media Sosial Ini Penyebab Kesehatan Mental Anak Rusak, Orang Tua Harus Waspada!

Melihat daftar 22 platform tadi, mungkin ada Mommies yang langsung berpikir, “Wah, berarti semua aplikasi harus dihapus?”
Nggak sesederhana itu.
Internet juga punya manfaat untuk anak, mulai dari belajar, mencari informasi, berkreasi, berkomunikasi dengan teman dan keluarga, hingga membangun koneksi sosial. AAP juga menekankan bahwa ekosistem digital yang dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan perkembangan anak dapat mendukung pembelajaran dan kesejahteraan mereka.
Di sisi lain, WHO menekankan bahwa hubungan antara penggunaan teknologi dan kesehatan mental anak serta remaja memang kompleks. Bukti yang ada menunjukkan adanya dampak positif maupun negatif, sementara anak dan remaja yang lebih rentan dapat mengalami dampak negatif secara tidak proporsional.
Karena itu, perlindungan anak di ruang digital juga tidak bisa hanya dibebankan kepada orang tua. WHO mendorong adanya literasi digital, regulasi yang lebih kuat, desain platform yang lebih aman, serta tanggung jawab industri untuk menciptakan lingkungan digital yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan anak.
Jadi, ketika nama YouTube, Discord, atau game favorit Si Kecil muncul dalam daftar platform risiko tinggi bagi anak, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa aplikasinya pasti “jahat”.
Lebih penting untuk memahami bahwa berdasarkan penilaian Komdigi, layanan tersebut memiliki profil risiko yang tidak sesuai untuk penggunaan oleh anak, sehingga akses dan perlindungan terhadap anak perlu diperlakukan secara berbeda sesuai ketentuan yang berlaku.
Daftar Komdigi ini menjadi pengingat bahwa dunia digital anak memang perlu mendapat perhatian yang sama seriusnya dengan dunia offline.
Kita mungkin sudah mengajarkan anak untuk tidak menerima makanan dari orang asing, tidak pergi dengan orang yang tidak dikenal, dan segera mencari bantuan ketika merasa tidak aman. Di dunia digital, prinsipnya kurang lebih sama, tapi bentuknya “orang asing” dan situasinya bisa muncul lewat layar.
Dan mungkin, salah satu bekal digital paling penting yang bisa kita berikan bukan sekadar aplikasi parental control atau batas waktu screen time.
Namun rasa aman untuk berkata, “Mama, aku lihat sesuatu yang bikin aku nggak nyaman.”
Karena kalau anak tahu mereka bisa cerita tanpa langsung dimarahi, kita punya kesempatan untuk membantu sebelum masalahnya menjadi jauh lebih besar.
BACA JUGA: Pro-Kontra Pembatasan Akses Media Sosial untuk Anak di Bawah Umur, Indonesia Bagaimana?
Cover: Magnific