Kontrasepsi Setelah Melahirkan: Kapan Bisa Dimulai dan Mana yang Aman untuk Ibu Menyusui?

Parenting & Kidsdetail-thumb

Kapan bisa mulai kontrasepsi setelah melahirkan? Ini pilihan KB setelah melahirkan yang aman untuk ibu menyusui, termasuk pil KB, IUD, implan, dan suntik KB.

Momen menghadirkan si kecil ke dunia adalah salah satu pengalaman paling emosional dan membahagiakan dalam hidup. Minggu-minggu pertama pascamelahirkan biasanya dipenuhi oleh rasa haru, kelelahan, dan proses adaptasi yang luar biasa. Di tengah malam-malam tanpa tidur dan jadwal menyusui yang menyita energi, Mommies mungkin mulai memikirkan satu pertanyaan penting: kapan waktu yang tepat untuk kembali merencanakan kontrasepsi?

Kesuburan bisa kembali lebih cepat dari yang dibayangkan, bahkan sebelum menstruasi pertama pascasalin datang.

Tanpa perencanaan yang matang, kehamilan yang tidak direncanakan dapat terjadi hanya dalam hitungan minggu setelah persalinan. Untuk mencegah stres tambahan dan memberikan waktu bagi tubuh ibu untuk pulih sepenuhnya, memilih kontrasepsi setelah melahirkan yang aman dan tepat menjadi langkah krusial.

BACA JUGA: Gairah Turun Setelah Melahirkan? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Kapan Tubuh Wanita Kembali ke Masa Subur Setelah Melahirkan?

Menurut penjelasan dr. Rony Falty Sibagariang, Sp. O.G., yang berpraktik di Primaya Hospital PGI Cikini, masa subur pada wanita pascamelahirkan dapat terjadi dalam waktu yang berbeda-beda.

Pada wanita yang tidak menyusui, rata-rata masa subur akan kembali dalam waktu 3–6 minggu setelah melahirkan. Namun, pada ibu menyusui, kembalinya masa subur bisa lebih lama, yaitu mulai dari 3 bulan, 6 bulan, hingga 1 tahun pascasalin. Hal ini disebabkan oleh perubahan hormon prolaktin dan estrogen.

Jika ibu menyusui secara eksklusif dan efektif, produksi hormon prolaktin dapat meningkat. Hormon tersebut kemudian akan menekan hormon estrogen, yaitu hormon yang berkaitan dengan terjadinya menstruasi. Sehingga, jika ibu sering menyusui dan dilakukan terus-menerus tanpa ditambahkan minuman atau cairan lain, kembalinya siklus menstruasi setelah melahirkan akan lebih lama, bisa kembali setelah 6 bulan hingga 1 tahun.

Dengan demikian, menyusui dapat dijadikan sebagai kontrasepsi alamiah.

Melansir dari Flo Health, bagi wanita yang tidak menyusui eksklusif, kesuburan memang dapat kembali dengan cepat, yaitu dalam waktu 4–6 minggu setelah melahirkan. Selain itu, meskipun metode Lactational Amenorrhea Method (LAM) atau menyusui eksklusif sangat efektif menekan ovulasi, metode ini bukanlah jaminan 100% bebas risiko.

Kehamilan tetap bisa terjadi jika frekuensi menyusui berkurang atau saat bayi mulai mengenal makanan pendamping ASI (MPASI).

Foto: kaboompics.com/Pexels

Pentingnya Memberi Jarak Antarkehamilan

Menurut penjelasan dr. Rony, memberi jarak antarkelahiran sangat penting. Jarak antarkelahiran berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan bayi. Kehamilan yang terjadi terlalu cepat setelah persalinan memberi waktu pemulihan yang lebih sedikit, sementara jarak yang terlalu panjang juga memiliki beberapa risiko.

Dalam mempersiapkan kehamilan, harus mempertimbangkan risiko dan manfaat kesehatan bersama dengan keadaan lain seperti usia, kesuburan, akses ke layanan kesehatan, dukungan pengasuhan anak, keadaan sosial dan ekonomi, serta preferensi pribadi dalam membuat pilihan untuk waktu kehamilan berikutnya.

WHO merekomendasikan jarak yang dianjurkan untuk kehamilan berikutnya adalah minimal 24 bulan. Dasar dari rekomendasinya adalah bahwa menunggu selama 24 bulan setelah kelahiran hidup akan membantu mengurangi risiko yang merugikan bagi ibu, perinatal, dan bayi. Selain itu, interval yang direkomendasikan ini dianggap konsisten dengan rekomendasi WHO untuk menyusui setidaknya selama dua tahun.

WHO juga merekomendasikan bahwa kehamilan berikutnya setelah keguguran adalah minimal enam bulan untuk mengurangi risiko yang merugikan pada ibu dan perinatal. Ini sesuai dengan riset medis mengenai hubungan ASI eksklusif dan pemulihan hormon tubuh yang dipublikasikan oleh Journal of Issues in Midwifery, serta pedoman resmi dari pelayanan kesehatan reproduksi.

BACA JUGA: Rekomendasi Merek Kontrasepsi Favorit untuk Perempuan dan Laki-Laki

Kapan Waktu Terbaik untuk Mulai KB Setelah Melahirkan?

Melansir dari Postpartum Pulse, akses terhadap KB setelah melahirkan terbagi menjadi beberapa tahapan waktu, bergantung pada kondisi kesehatan ibu serta pilihan metode pemberian ASI.

Kontrasepsi Segera

Metode ini diberikan langsung setelah persalinan, sering kali sebelum ibu meninggalkan rumah sakit. Pilihan ini mencakup pemasangan IUD/spiral atau implan secara langsung. Keuntungannya adalah kepraktisan dan perlindungan instan sebelum kesuburan kembali.

Kontrasepsi Dini

Dimulai dalam 6 minggu pertama setelah melahirkan. Tenaga medis akan mengevaluasi penyembuhan luka persalinan, status menyusui, serta risiko pembekuan darah sebelum menyarankan metode tertentu.

Kontrasepsi Lanjutan

Dimulai pada atau setelah pemeriksaan kontrol enam minggu. Pada tahap ini, pilihan kontrasepsi hormonal menjadi lebih beragam, tetapi metode yang paling sesuai tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan status menyusui ibu.

KB Setelah Melahirkan: Kapan Bisa Dimulai dan Mana yang Aman untuk Ibu Menyusui?

Foto: kaboompics.com/Pexels

Kontrasepsi yang Aman Digunakan saat Menyusui

Bagi Mommies yang sedang dalam masa menyusui, kekhawatiran utama biasanya berpusat pada tingkat produksi ASI. Berdasarkan panduan dari Postpartum Pulse dan Healthline, berikut beberapa opsi kontrasepsi untuk ibu menyusui yang efektif dan aman digunakan.

1. Metode Hormon Progestin Saja: Pil KB Mini dan Implan

Apakah pil KB bisa digunakan setelah melahirkan? Jawabannya bisa, tetapi pilihlah jenis minipill (pil KB kombinasi progestin saja).

Pil KB tradisional mengandung estrogen yang berisiko menurunkan suplai ASI. Sebaliknya, minipill tidak memengaruhi produksi ASI sehingga aman digunakan.

Selain itu, implan KB, seperti Nexplanon, merupakan opsi kontrasepsi jangka panjang (Long-Acting Reversible Contraception atau LARC) dengan tingkat efektivitas lebih dari 99% yang sangat aman untuk ibu menyusui dan dapat bertahan hingga beberapa tahun.

2. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (IUD atau Spiral)

IUD merupakan salah satu kontrasepsi jangka panjang paling efektif, yaitu lebih dari 99%. IUD terdiri dari jenis hormonal dan non-hormonal (IUD tembaga).

Pemasangan IUD tembaga sama sekali tidak memengaruhi hormon maupun produksi ASI. Kapan IUD atau spiral bisa dipasang setelah melahirkan? Pemasangan bisa dilakukan langsung dalam waktu 48 jam pascasalin atau menunggu saat kontrol minggu ke-6. Waktu pemasangan dapat disesuaikan dengan kondisi ibu dan jenis IUD yang dipilih.

3. Metode Penghalang (Barrier Methods)

Metode non-hormonal seperti kondom pria, diaphragm, spons, atau cervical cap sangat aman bagi ibu menyusui karena tidak memengaruhi hormon tubuh.

Kondom memiliki tingkat efektivitas hingga 98% bila digunakan dengan benar dan menjadi satu-satunya alat kontrasepsi yang melindungi dari infeksi menular seksual (IMS).

4. Suntik KB untuk Ibu Menyusui

Apakah suntik KB aman untuk ibu menyusui? Jawabannya adalah ya.

Suntik KB bekerja dengan melepaskan hormon progestogen ke dalam aliran darah tanpa melibatkan estrogen. Karena bebas dari estrogen, suntikan KB tidak mengganggu volume maupun kualitas ASI, menjadikannya pilihan yang sangat andal dan praktis.

BACA JUGA: MD Ask the Expert: Kontrasepsi dari Sisi Kedokteran dan Agama

Kapan Perlu Berkonsultasi dengan Dokter Sebelum Memilih Kontrasepsi?

Foto: Lucas Guimarães Bueno/Pexels

Konsultasi dengan dokter untuk memilih kontrasepsi yang tepat perlu dilakukan. Beberapa kondisi yang bisa menjadi pertimbangan dalam pemilihan kontrasepsi di antaranya:

  • Baru melahirkan atau sedang menyusui, terutama dalam 6 minggu pertama pascamelahirkan, pemilihan kontrasepsi perlu mempertimbangkan faktor menyusui, risiko trombosis, dan kondisi setelah persalinan.
  • Memiliki penyakit atau kondisi medis tertentu, misalnya hipertensi, diabetes, penyakit jantung atau stroke, riwayat trombosis/DVT atau emboli paru, gangguan pembekuan darah, dan lain-lain.
  • Memiliki riwayat komplikasi dalam kehamilan sebelumnya, seperti kehamilan dengan hipertensi atau diabetes, perdarahan pascasalin, atau seksio sesarea dengan komplikasi. Bagi ibu yang melahirkan melalui operasi caesar, pilihan kontrasepsi juga tetap beragam. Namun, kondisi setelah operasi, proses pemulihan, risiko pembekuan darah, serta keinginan untuk hamil kembali perlu menjadi pertimbangan sebelum memilih metode.
  • Sedang menggunakan obat tertentu yang dapat memengaruhi efektivitas kontrasepsi, terutama obat antikejang tertentu, rifampisin/rifabutin, dan beberapa obat lainnya.
  • Ibu ingin memilih kontrasepsi jangka panjang seperti IUD/AKDR dan implan. Konsultasi membantu menentukan jenis yang paling sesuai dan memastikan tidak ada kontraindikasi.
  • Menginginkan kontrasepsi hormonal tetapi memiliki faktor risiko, misalnya merokok, obesitas, usia >35 tahun, migrain, atau riwayat penyakit pembuluh darah.
  • Ingin segera merencanakan kehamilan berikutnya. Dokter dapat membantu memilih metode berdasarkan jarak kehamilan yang diinginkan, karena kebutuhan kontrasepsi berbeda bila ingin hamil kembali dalam 1 tahun dibandingkan beberapa tahun.
Cover: Sarah Chai/Pexels