banner-detik
PARENTING & KIDS

9 Kesalahan Single Parent dalam Mengasuh Anak, Nomor 3 Sering Terjadi Tanpa Sadar

author

Mommies Dailyin 6 hours

9 Kesalahan Single Parent dalam Mengasuh Anak, Nomor 3 Sering Terjadi Tanpa Sadar

Kenali 9 kesalahan single parent dalam mengasuh anak yang sering tidak disadari, mulai dari terlalu keras pada diri sendiri hingga menjadikan anak sebagai teman curhat.

Menjadi orang tua tunggal bukan berarti seseorang tidak bisa memberikan pengasuhan yang baik untuk anak. Justru, banyak single parent yang berusaha melakukan semuanya sendiri agar kebutuhan anak tetap terpenuhi.

Menurut American Psychological Association (APA), kehidupan dalam keluarga single parent memang dapat membawa tekanan tersendiri karena orang tua harus membagi perhatian antara mengasuh anak, pekerjaan, urusan rumah tangga, hingga kondisi finansial.

Jadi, kalau pernah merasa, “Kok akhir-akhir ini cara saya menghadapi anak berubah, ya?” jangan buru-buru merasa menjadi orang tua yang buruk. Bisa jadi, Anda sedang kelelahan.

Baca juga: 10 Cara Menjelaskan Perceraian kepada Anak: Pertanyaan dan Jawabannya

Lalu, apa saja kesalahan yang sering tidak disadari oleh single parent?

Foto: Stephen Harlan/Unsplash

1. Berusaha menjadi “dua orang tua” sekaligus

Karena hanya ada satu orang tua yang menjalankan sebagian besar tanggung jawab sehari-hari, single parent bisa merasa harus memenuhi semua kebutuhan anak seorang diri.

Akibatnya, muncul pola pikir: “Saya harus bisa semuanya.”

Padahal, anak tidak membutuhkan satu orang tua yang sempurna. Anak membutuhkan orang tua yang hadir, konsisten, dan yang ia rasakan aman untuk menjadi dirinya sendiri.

Jadi, meminta bantuan bukan berarti gagal sebagai orang tua.

2. Terlalu keras pada diri sendiri dan akhirnya terlalu keras pada anak

Ketika semua tanggung jawab ada di pundak sendiri, kesalahan kecil bisa terasa seperti kegagalan besar.

Anak mendapatkan nilai yang kurang bagus, kamar berantakan, terlambat sekolah, atau lupa melakukan sesuatu, lalu respons orang tua menjadi lebih emosional daripada yang sebenarnya diinginkan.

Orang tua tetap perlu menetapkan batas dan aturan, tetapi melakukannya dengan komunikasi yang tenang, penuh perhatian, dan tanpa mempermalukan atau menakut-nakuti anak.

Sebelum bereaksi, coba berhenti sebentar dan tanyakan pada diri sendiri:

“Saya sedang marah karena perilaku anak, atau karena saya sebenarnya sedang sangat lelah?”

Jawabannya bisa membantu menentukan respons yang lebih tepat.

Baca juga: Selain Selingkuh, Ternyata Ini 10 Penyebab Perceraian Utama

3. Menjadikan anak sebagai “teman curhat” utama

Anak memang bisa menjadi orang yang paling dekat dengan orang tua. Tetapi kedekatan bukan berarti anak harus mengetahui semua masalah orang dewasa.

Misalnya, menceritakan konflik dengan mantan pasangan secara detail, membicarakan masalah keuangan, atau mengatakan betapa kesepiannya orang tua setelah berpisah.

Anak mungkin terlihat mengerti dan bahkan memberikan respons yang menenangkan.

Namun, tetap penting untuk mengingat bahwa ia adalah anak, bukan pasangan pengganti atau tempat orang tua mendapatkan dukungan emosional utama.

Boleh mengatakan:

“Mama lagi sedih hari ini. Mama butuh waktu sebentar untuk menenangkan diri.”

Tetapi berbeda dengan:

“Mama cuma punya kamu. Kalau bukan kamu, Mama harus cerita ke siapa?”

Kalimat kedua secara tidak langsung dapat membuat anak merasa bertanggung jawab atas kondisi emosional orang tuanya.

4. Terlalu protektif karena takut anak terluka

Kesalahan Single Parent dalam Mengasuh Anak
Foto: Jordan Whitt/Unsplash

Setelah melewati perceraian, kehilangan pasangan, atau perubahan besar dalam keluarga, wajar jika orang tua menjadi lebih khawatir terhadap anak.

Ada keinginan untuk memastikan anak tidak mengalami kesulitan lagi.

Namun, rasa takut tersebut kadang membuat orang tua menjadi terlalu protektif.

Anak tidak boleh bermain karena takut terjadi sesuatu. Tidak boleh mengambil keputusan sendiri karena takut salah. Bahkan, setiap masalah anak langsung diselesaikan oleh orang tua.

Padahal, anak tetap perlu belajar menghadapi masalah, membuat keputusan sesuai usianya, dan merasakan konsekuensi yang wajar.

Baca juga: Pasangan Selingkuh, Maafkan atau Bercerai? Ini Jawaban Pakar!

5. Membiarkan anak “terlalu cepat dewasa”

Kebalikannya juga bisa terjadi.

Karena tahu orang tuanya harus bekerja atau mengurus banyak hal sendirian, anak akhirnya diminta lebih mandiri dari yang seharusnya.

“Kamu kan sudah besar.”

“Mama kerja, jadi kamu harus ngerti.”

“Jangan bikin Mama tambah pusing.”

Memang penting untuk mengajarkan kemandirian. Namun, mandiri berbeda dengan harus memikul beban orang dewasa.

Anak tetap membutuhkan kesempatan untuk bermain, melakukan kesalahan, meminta bantuan, dan mendapatkan perhatian.

Jangan sampai karena anak terlihat “kuat”, orang tua lupa bahwa ia tetap membutuhkan ruang untuk menjadi anak-anak.

6. Terlalu memanjakan anak karena rasa bersalah

Foto: Brittani Burns/Unsplash

Ada juga single parent yang justru bergerak ke arah sebaliknya.

Karena merasa anak kehilangan sosok ayah atau ibu, waktu bersama berkurang, atau kehidupan keluarga berubah, orang tua kemudian berusaha “mengganti” semuanya dengan memberikan apa pun yang anak inginkan.

Lebih banyak hadiah.

Lebih banyak uang saku.

Lebih banyak kebebasan.

Lebih sedikit aturan.

UNICEF menjelaskan bahwa anak membutuhkan hubungan yang hangat sekaligus struktur. Rutinitas dan ekspektasi yang jelas dapat membantu anak merasa aman, terutama ketika keluarga sedang menghadapi perubahan atau stres.

Jadi, memberikan batas bukan berarti kurang menyayangi anak.

7. Membicarakan atau menjelekkan mantan pasangan di depan anak

Ini menjadi tantangan tersendiri, terutama jika hubungan dengan mantan pasangan masih menyisakan konflik. Namun, sebisa mungkin hindari menjadikan anak sebagai pihak yang harus memilih.

Misalnya:

“Ayah memang nggak pernah peduli sama kamu.”

atau

“Kalau bukan karena Ayah, hidup kita pasti lebih baik.”

APA mencatat bahwa konflik yang terus berlangsung antara orang tua merupakan salah satu tekanan yang dapat dihadapi keluarga single parent dan dapat berdampak pada anak.

Baca juga: 10 Penyebab Hubungan dengan Mantan Pasangan Memburuk Setelah Bercerai

8. Menganggap semua perubahan perilaku anak sebagai “kenakalan”

Kesalahan Single Parent dalam Mengasuh Anak

Foto: Rifki Kurniawan/Unsplash

Setelah perubahan besar dalam keluarga, anak bisa menunjukkan respons emosional yang berbeda-beda.

Ada yang menjadi lebih pendiam. Ada yang mudah marah. Ada yang lebih clingy. Ada juga yang justru terlihat baik-baik saja.

Menurut UNICEF, perubahan besar seperti perpisahan orang tua dapat menjadi salah satu sumber stres bagi anak. Anak juga tidak selalu memiliki kemampuan untuk menjelaskan apa yang sedang dirasakan.

9. Lupa bahwa kondisi emosional orang tua juga memengaruhi anak

Ini bukan berarti orang tua harus selalu bahagia di depan anak. Justru, anak boleh melihat bahwa orang tuanya bisa sedih, kecewa, lelah, bahkan menangis. Yang penting adalah bagaimana emosi tersebut dikelola.

Jadi, self-care bagi single parent bukan sekadar pergi ke salon atau menikmati waktu sendirian.

Tidur cukup, meminta bantuan, berbicara dengan orang yang dipercaya, atau mencari bantuan profesional ketika sudah kewalahan juga termasuk bentuk merawat diri.

Baca juga: 5 Cara Mengurus Perceraian Sendiri Tanpa Pengacara

Jadi, bagaimana pengasuhan single parent yang sehat?

Pastikan anak mendapatkan beberapa hal mendasar: merasa dicintai, didengar, aman, memiliki batas yang jelas, dan tidak dibebani masalah yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang dewasa.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan melalui PubMed bahkan menemukan bahwa dalam konteks ibu yang menjadi single parent by choice, status sebagai single parent itu sendiri tidak secara otomatis menyebabkan masalah psikologis pada anak. Faktor seperti parenting stress dan kesulitan finansial justru lebih berkaitan dengan masalah penyesuaian anak.

Artinya, yang perlu diperhatikan bukan semata-mata apakah anak dibesarkan oleh satu atau dua orang tua.

Tetapi bagaimana kualitas hubungan, dukungan, komunikasi, dan lingkungan yang diterima anak.

Cover: Hutomo Abrianto/Unsplash

Share Article

author

Mommies Daily

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan