banner-detik
LIFESTYLE

Jangan Asal Donasi, Ini 7 Jenis Baju Bekas yang Sebaiknya Tidak Didonasikan

author

Dhevita Wulandariin 6 hours

Jangan Asal Donasi, Ini 7 Jenis Baju Bekas yang Sebaiknya Tidak Didonasikan

Mau donasi baju bekas? Jangan asal masukkan ke kantong donasi, Mommies. Ini 7 jenis baju bekas yang sebaiknya tidak didonasikan karena sudah tidak layak pakai. 

Pernah nggak, Mommies, sedang beberes lemari lalu menemukan tumpukan baju yang sudah lama sekali tidak dipakai? Ada yang kekecilan, ada yang sudah tidak sesuai gaya, ada juga yang sebenarnya masih bagus, tetapi entah kenapa selalu tersimpan di bagian paling belakang lemari.

Akhirnya terpikir, “Daripada menuh-menuhin lemari, mending didonasikan saja.”

Setuju. Donasi baju bekas memang bisa menjadi salah satu cara untuk memperpanjang usia pakaian sekaligus membantu orang lain. Namun, ada satu hal yang sering luput: tidak semua baju yang sudah tidak kita pakai otomatis layak diberikan kepada orang lain.

Kadang kita berpikir, “Yang penting masih berbentuk baju dan bisa dipakai.” Padahal, kalau kondisinya sudah terlalu buruk, memberikan pakaian tersebut justru bisa membuat penerimanya merasa tidak dihargai.

BACA JUGA: Tips Belanja Baju Bekas dan Rekomendasi Tempatnya, Online dan Offline

Sebelum Donasi Baju Bekas, Coba Tes dengan 3 Pertanyaan Ini

Supaya tidak bingung menentukan mana pakaian yang layak didonasikan, Mommies bisa menggunakan tiga pertanyaan sederhana:

1. Apakah saya masih nyaman kalau harus memakai pakaian ini di luar rumah?

Kalau jawabannya tidak, jangan langsung berpikir, “Tapi orang lain mungkin mau.”

2. Apakah pakaian ini masih bersih, layak pakai, dan tidak rusak?

Periksa noda, bau, jahitan, kancing, risleting, elastis, hingga kondisi kain.

3. Kalau saya menerima pakaian ini sebagai donasi, apakah saya merasa dihargai?

Nah, ini mungkin pertanyaan yang paling penting.

Karena donasi bukan sekadar memindahkan barang yang sudah tidak kita inginkan. Ada orang lain yang akan menerima dan menggunakannya.

Jangan Asal Donasi, Ini 7 Jenis Baju Bekas yang Sebaiknya Tidak Didonasikan

Foto: Towfiqu barbhuiya/Pexels

Jenis Baju Bekas yang Jangan Diberikan ke Orang Lain

Jadi, sebelum Mommies memasukkan semua isi lemari ke dalam kardus donasi, coba cek lagi satu per satu. Kalau menemukan 7 jenis baju bekas berikut ini, sebaiknya jangan didonasikan, ya.

1. Baju yang Sudah Robek atau Rusak Parah

Baju dengan robekan kecil yang masih bisa diperbaiki mungkin masih punya kesempatan untuk digunakan kembali. Tetapi, kalau robeknya sudah besar, jahitan lepas di banyak bagian, atau kainnya sudah rusak parah, sebaiknya jangan diberikan sebagai donasi.

Coba posisikan diri sebagai penerima. Kalau Mommies sendiri merasa tidak nyaman atau malu mengenakannya di luar rumah, kemungkinan orang lain juga akan merasakan hal yang sama.

Kalau masih memungkinkan untuk diperbaiki, Mommies bisa menjadikannya proyek sewing sederhana di rumah. Kalau sudah benar-benar tidak layak pakai, lebih baik cari cara lain untuk mendaur ulangnya menjadi lap, kain pel, atau material kerajinan.

2. Pakaian yang Bernoda Membandel

Ada noda yang bisa hilang setelah dicuci dengan cara tertentu. Namun, ada juga noda yang sudah menetap dan membuat pakaian terlihat kotor meskipun sebenarnya sudah dicuci berkali-kali.

Misalnya, noda makanan, minyak, tinta, atau perubahan warna akibat pemakaian.

Kalau setelah dicuci bersih pakaian masih memiliki noda yang sangat terlihat, jangan menjadikannya barang donasi. Mommies mungkin sudah tahu bahwa baju tersebut bersih, tetapi penerima tentu tidak bisa mengetahui proses di baliknya.

Dan lagi-lagi, pertanyaan sederhananya adalah: “Kalau saya yang menerima, apakah saya mau memakainya?”

Kalau jawabannya tidak, mungkin itu tanda pakaian tersebut memang sudah waktunya pensiun.

BACA JUGA: 7 Tempat Donasi Barang dan Pakaian Bekas Layak Pakai

3. Baju yang Sudah Melar atau Bentuknya Berubah

Kaos yang tadinya pas di badan, lama-lama bisa berubah bentuk karena terlalu sering dicuci. Kerah melar, bagian lengan berubah, atau potongannya sudah tidak lagi seperti bentuk aslinya.

Begitu juga dengan celana yang bagian pinggangnya sudah berubah bentuk atau pakaian yang kainnya sudah terlalu kendur.

Memang, secara fungsional pakaian tersebut mungkin masih bisa dikenakan. Tetapi, untuk donasi, kita juga perlu mempertimbangkan kelayakan dan kenyamanan penerima.

Jangan sampai karena ingin mengurangi barang di rumah, kita justru memindahkan “masalah” dari lemari kita ke lemari orang lain.

Foto: Kate Gundareva/Pexels

4. Pakaian dengan Resleting, Kancing, atau Pengait yang Rusak

Kancing copot satu mungkin masih mudah diperbaiki. Begitu juga dengan ritsleting yang rusak dan masih bisa diganti.

Tetapi, kalau kerusakannya cukup berat dan membutuhkan biaya atau usaha besar untuk memperbaikinya, sebaiknya jangan langsung diberikan sebagai donasi.

Terlebih untuk pakaian seperti jaket, celana, rok, atau dress yang fungsi utamanya sangat bergantung pada ritsleting dan pengait.

Sebelum berdonasi, coba lakukan pemeriksaan sederhana: buka-tutup ritsleting, cek semua kancing, dan pastikan tidak ada bagian yang rusak atau membahayakan saat dipakai.

5. Pakaian Dalam dan Pakaian yang Sangat Personal

Nah, yang satu ini sebaiknya tidak perlu masuk daftar donasi pakaian bekas, ya, Mommies.

Pakaian dalam bekas, bra, celana dalam, atau pakaian yang sifatnya sangat personal umumnya bukan barang yang tepat untuk diberikan kepada orang lain.

Meskipun kondisinya terlihat masih bagus dan sudah dicuci, faktor kebersihan, kesehatan, serta kenyamanan tetap perlu dipertimbangkan.

Kalau Mommies punya pakaian dalam yang sudah tidak terpakai, lebih baik cari tahu apakah ada program daur ulang tekstil atau kelola sesuai jenis materialnya.

Untuk pakaian yang bersentuhan sangat dekat dengan area tubuh, prinsipnya sederhana: tidak semua barang yang masih bisa dipakai berarti layak didonasikan.

Foto: cottonbro studio/Pexels

6. Baju dengan Bau yang Sulit Hilang

Pernah punya baju yang sudah dicuci, dijemur, bahkan diberi pewangi, tetapi tetap punya bau tertentu?

Bisa karena keringat, lembap, asap rokok, jamur, atau penyimpanan yang terlalu lama.

Kalau baunya sudah sangat melekat dan tidak kunjung hilang, sebaiknya jangan diberikan kepada orang lain.

Apalagi bagi penerima yang mungkin tidak memiliki akses terhadap fasilitas mencuci yang sama seperti kita. Jangan berasumsi, “Nanti juga hilang kalau dicuci lagi.”

Kalau sudah berbagai cara dilakukan tetapi baunya tetap ada, lebih baik pakaian tersebut tidak dimasukkan ke kantong donasi.

7. Baju yang Sudah Terlalu Kusam dan Tipis

Ada kalanya sebuah baju masih utuh, tidak robek, tidak bernoda, dan bahkan semua kancingnya masih lengkap. Namun, kalau diperhatikan lebih dekat, warnanya sudah sangat pudar dan kainnya menipis.

Untuk pakaian tertentu, kondisi seperti ini bisa menjadi tanda bahwa materialnya sudah mendekati akhir masa pakainya.

Mommies bisa mencoba menerawang kain atau menariknya sedikit untuk melihat apakah materialnya masih cukup kuat. Jika kain sudah sangat tipis, mudah sobek, atau terlihat rapuh, sebaiknya tidak didonasikan.

Daripada diberikan kepada orang lain, pakaian seperti ini mungkin lebih tepat dimanfaatkan sebagai kain untuk kebutuhan rumah tangga atau masuk ke proses daur ulang tekstil.

BACA JUGA: Rekomendasi Bank Sampah dan Tempat Donasi Barang-Barang Bekas Layak Pakai

Jangan Jadikan Donasi sebagai Tempat Buang Barang

Mungkin niat awal Mommies baik: ingin melakukan decluttering sekaligus membantu orang lain.

Namun, penting untuk membedakan antara donasi dan pembuangan barang yang sudah tidak kita perlukan.

Kalau sebuah pakaian memang sudah tidak layak pakai, jangan memaksakan diri untuk mendonasikannya hanya karena merasa sayang untuk membuangnya.

Pakaian yang masih bagus, bersih, utuh, dan layak pakai bisa diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Sementara pakaian yang sudah rusak bisa diarahkan ke jalur lain, misalnya didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.

Jadi, saat beberes lemari berikutnya, nggak perlu merasa bersalah kalau ada baju bekas yang akhirnya tidak masuk kantong donasi. Justru dengan memilahnya dengan baik, kita sedang belajar untuk berdonasi dengan lebih bertanggung jawab.

Karena pada akhirnya, Mommies, donasi bukan tentang seberapa banyak barang yang bisa kita keluarkan dari rumah.

Tapi tentang seberapa layak dan bermanfaat barang tersebut ketika sampai di tangan orang lain.

Cover: Julia M Cameron/Pexels

Share Article

author

Dhevita Wulandari

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan