
Anak menjadi pelaku bullying? Ini yang perlu dilakukan orang tua, mulai dari mencari tahu penyebab hingga mengevaluasi pola asuh di rumah.
Mendengar anak menjadi korban bullying saja sudah bikin hati orang tua gak karuan. Tapi bagaimana kalau suatu hari justru kita mendapat kabar bahwa anak menjadi pelaku bullying?
Rasanya mungkin campur aduk: kaget, malu, marah, kecewa, bahkan bisa muncul dorongan untuk langsung membela anak. “Masa, sih, anak saya melakukan itu?” Nah, sebelum buru-buru mengambil kesimpulan, ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan orang tua.
Psikolog Anak dan Remaja, Vera Itabiliana, membagikan beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua ketika anak diketahui melakukan bullying.
BACA JUGA: Agar Tidak Jadi Korban atau Pelaku Bullying, Remaja Wajib Punya 2 Hal Ini!
Kasus bullying dan kekerasan di lingkungan pendidikan memang bukan hal baru. Namun, setiap kali ada kasus yang ramai diberitakan, kita kembali diingatkan bahwa bullying bukan sekadar “anak-anak bercanda”.
Data PISA 2022 menunjukkan, sebanyak 25% siswi dan 30% siswa laki-laki di Indonesia melaporkan pernah menjadi korban tindakan bullying setidaknya beberapa kali dalam sebulan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara OECD, yaitu 20% siswi dan 21% siswa laki-laki.
Kabar baiknya, beberapa bentuk bullying di Indonesia justru menunjukkan penurunan dibandingkan 2018. Misalnya, siswa yang melaporkan pernah menjadi sasaran rumor buruk dari teman turun dari 20% pada 2018 menjadi 9% pada 2022.
Dalam laporan yang diterbitkan pada Februari 2026, OECD kembali menekankan bahwa bullying, baik secara langsung maupun online, merupakan penghalang bagi terciptanya pendidikan yang aman dan inklusif. Laporan tersebut menganalisis prevalensi, dampak, dan respons terhadap bullying berdasarkan data PISA dari 2015 hingga 2022.
Jadi, pembicaraan soal bullying memang gak cukup berhenti di pertanyaan, “Anak saya korban atau bukan?” Kita juga perlu membicarakan kemungkinan lain: bagaimana kalau justru anak kita yang melakukan bullying?

Secara sederhana, bullying adalah tindakan yang menyakiti, dilakukan dengan sengaja dan berulang kali, serta melibatkan ketidakseimbangan kekuatan. Artinya, ada pihak yang lebih kuat dan menyakiti, sementara korban berada dalam posisi yang sulit untuk melawan.
Bullying sendiri gak selalu berupa tindakan fisik. Ada beberapa bentuk bullying yang mungkin terjadi di sekitar anak, yaitu:
Ketika membicarakan bullying, perhatian kita sering kali tertuju pada korban atau pelaku. Padahal, menurut Vera, ada tiga pihak yang terlibat dalam peristiwa bullying, yaitu pelaku, korban, serta saksi atau bystander.
BACA JUGA: Bullying di Sekolah Masih Marak, Ini Ciri-ciri Pelaku Bullying dan Korban
Menurut Vera, pelaku bullying biasanya memiliki karakteristik tertentu. Misalnya, anak cenderung dominan, sering melakukan kekerasan atau bersikap kasar, sulit mengendalikan amarah, manipulatif, serta cenderung menyalahkan orang lain.
Anak juga bisa menunjukkan perilaku seperti suka mencari perhatian, ingin selalu menang, dan cenderung menghindari tanggung jawab.
Namun, bukan berarti setiap anak yang pernah marah, dominan, atau sulit mengendalikan emosi otomatis merupakan pelaku bullying. Perilaku anak tetap perlu dilihat berdasarkan konteks dan kejadian yang sebenarnya.
Kalau suatu hari sekolah atau orang tua lain memberi tahu bahwa anak melakukan bullying, mungkin reaksi pertama kita adalah, “Gak mungkin anak saya!”
Wajar kok kalau kaget. Tapi setelah emosi sedikit lebih tenang, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan.
Menurut Vera, hal pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah berusaha bersikap objektif.
Kumpulkan informasi dari berbagai pihak untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Jangan hanya mengandalkan cerita dari satu sisi, termasuk cerita dari anak sendiri.
Di saat yang sama, orang tua juga perlu berusaha tetap tenang ketika menerima laporan dari sekolah atau guru. Pihak yang melaporkan perlu dipandang memiliki niat baik, yaitu membantu anak berubah menjadi lebih baik.
Kalau setelah semua informasi dikumpulkan ternyata anak memang melakukan kesalahan, dibutuhkan kebesaran hati orang tua untuk mengakuinya.
Setelah mengetahui anak memang melakukan bullying, jangan buru-buru berpikir, “Namanya juga anak-anak.”
Bullying perlu dipandang sebagai masalah yang serius. Kalau orang tua justru menganggap perilakunya sepele atau membenarkan tindakan anak, anak bisa kehilangan kesempatan untuk belajar bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan yang perlu diperbaiki.
Ini juga bukan berarti orang tua harus langsung memberi hukuman berat. Yang penting, anak memahami bahwa tindakannya memiliki konsekuensi dan ada perilaku yang perlu diubah.
Setelah kejadian diketahui dan anak terbukti melakukan bullying, anak perlu belajar bertanggung jawab atas tindakannya.
Salah satunya dengan meminta maaf kepada korban. Tentunya, proses ini sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi korban dan arahan dari pihak sekolah atau orang dewasa yang terlibat.
Yang gak kalah penting, permintaan maaf sebaiknya bukan sekadar formalitas supaya masalah cepat selesai. Anak perlu memahami apa yang salah dari perilakunya dan mengapa tindakan tersebut bisa menyakiti orang lain.
Ini bagian yang mungkin bikin orang tua gak nyaman, tetapi penting dilakukan: coba lihat kembali kondisi di rumah.
Menurut Vera, orang tua perlu mengevaluasi apakah pola asuh selama ini ikut berkontribusi terhadap perilaku anak. Misalnya, bagaimana cara orang tua menerapkan disiplin: apakah terlalu ketat atau justru terlalu longgar?
Orang tua juga bisa melihat bagaimana anak selama ini belajar mengekspresikan emosi. Apakah anak sering melihat contoh ekspresi emosi yang kurang tepat dari orang dewasa di rumah?
Ada kemungkinan pula anak ternyata mengalami bullying di rumah. Karena itu, penting untuk melihat dinamika yang terjadi di rumah secara menyeluruh, bukan hanya langsung memberikan label kepada anak sebagai “anak nakal”.
Selain pola asuh, lingkungan anak juga perlu diperhatikan.
Coba lihat kembali tontonan atau permainan yang biasa dikonsumsi anak. Apakah ada banyak unsur kekerasan di dalamnya? Orang tua juga perlu mengamati dengan siapa anak bergaul dan seperti apa interaksi mereka sehari-hari.
Bukan berarti semua tontonan, game, atau teman tertentu otomatis membuat anak menjadi pelaku bullying. Namun, orang tua perlu memahami lingkungan yang membentuk perilaku anak dan melihat apakah ada pola yang perlu diperhatikan.
BACA JUGA: Cyberbullying pada Anak: Dampak Mengerikan dan Cara Melawannya

Menghadapi anak yang melakukan bullying bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan oleh orang tua sendirian.
Menurut Vera, penanganan bullying membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dari berbagai pihak. Artinya, perlu ada gerakan bersama dari sekolah, pemerintah, masyarakat, dan tentu saja keluarga.
Hal ini juga sejalan dengan perhatian OECD terhadap bullying sebagai persoalan lingkungan pendidikan. Dalam laporan 2026, OECD menempatkan pencegahan dan respons terhadap bullying sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan inklusif.
Sebagai orang dewasa yang paling dekat dengan anak, orang tua punya peran besar dalam membantu anak memahami kesalahannya, belajar bertanggung jawab, dan mengembangkan empati terhadap orang lain.
Jadi, kalau suatu hari kita mendapat kabar bahwa anak menjadi pelaku bullying, tugas orang tua bukan sekadar mencari siapa yang salah. Yang gak kalah penting adalah mencari tahu kenapa perilaku itu terjadi, apa yang perlu diperbaiki, dan bagaimana membantu anak supaya gak mengulanginya lagi.
Karena mendidik anak bukan hanya soal memastikan ia gak menjadi korban. Kita juga perlu membantunya belajar supaya gak menyakiti orang lain.
BACA JUGA: Hati-hati! Bullying pada Anak Juga Bisa Terjadi di Rumah! Ini Tandanya!
Cover: Magnific