banner-detik
PARENTING & KIDS

Cara Memperbaiki Komunikasi dengan Anak Remaja yang Telanjur Putus: Ini 10 Caranya Menurut Psikolog

Cara Memperbaiki Komunikasi dengan Anak Remaja yang Telanjur Putus: Ini 10 Caranya Menurut Psikolog

Komunikasi dengan anak remaja telanjur putus? Ini cara memperbaiki komunikasi Mommies dengan anak remaja menurut psikolog.

Dulu, ngobrol sama anak terasa begitu mudah. Dari urusan makanan favorit sampai hal-hal di sekolah, semua diceritakan tanpa diminta. Tapi begitu memasuki usia belasan, situasinya berubah 180 derajat. Obrolan hangat berubah jadi jawaban satu kata: “Ya,” “Enggak,” atau “Terserah.” Anak remaja tidak mau bicara, lebih sering mengurung diri di kamar, dan tatapannya seolah tidak lepas dari layar ponsel.

Kondisi ini sering kali bikin orang tua panik, bingung, hingga merasa terasing di rumah sendiri. Banyak orang tua yang akhirnya berbisik dalam hati: bagaimana cara memperbaiki komunikasi dengan anak remaja yang telanjur putus dan terasa makin jauh?

Kabar baiknya, hubungan yang terasa renggang masih bisa diperbaiki. Cara memperbaiki komunikasi dengan anak remaja bukan berarti Mommies harus memaksa mereka kembali bercerita seperti ketika masih kecil. Justru, prosesnya perlu dimulai dengan mendengarkan, menghargai kemandirian mereka, membangun kembali rasa aman, dan menciptakan momen-momen kecil yang konsisten.

Fenomena anak remaja sulit diajak bicara juga bisa menjadi bagian dari proses perkembangan menuju kemandirian. “Biasanya kendala komunikasi mulai muncul sekitar usia 10 tahunan, lebih kuat di usia 12 tahunan, makin kuat di usia 14 tahunan. Puncaknya sekitar usia 16 tahunan. Mereda sekitar 18 tahunan,” terang Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Sci., Psikolog, Psikoterapis yang kerap disapa Nina.

Di usia ini, remaja sedang gencar-gencarnya membangun kemandirian, mengelola stres, dan mencari jati diri. Penelitian juga menunjukkan bahwa kualitas komunikasi antara orang tua dan anak berkaitan dengan kesehatan mental remaja. Sebuah systematic review terhadap 37 laporan dari 26 studi menemukan adanya hubungan antara kualitas komunikasi orang tua-anak yang dirasakan remaja dengan berbagai aspek kesehatan mental, termasuk depresi dan kecemasan.

Namun, hubungan yang renggang bukan berarti semuanya sudah terlambat. Membangun kembali hubungan orang tua dan remaja justru bisa dimulai dari hal-hal kecil yang mungkin selama ini terlihat sepele.

BACA JUGA: Tips Komunikasi Efektif dengan Anak Sesuai Usia, Ini Kata Psikolog

Penyebab Putusnya Komunikasi Antara Orang Tua dan Anak Remaja

Menurut Psikolog Nina, penyebab komunikasi antara orang tua dengan anak remaja menjadi rusak umumnya bisa berasal dari anak maupun pihak orang tua.

1. Keterampilan komunikasi orang tua yang bisa jadi bermasalah

Orang tua mungkin kurang memiliki keterampilan mendengarkan dan malah terlalu sibuk memberi nasihat. Padahal, ketika anak sedang bercerita, belum tentu mereka selalu membutuhkan solusi. Terkadang mereka hanya ingin didengarkan terlebih dahulu.

2. Tanpa sadar memberikan tekanan

Orang tua juga terkadang tanpa sadar memberikan anak tekanan dengan membandingkan anak dengan orang lain atau dengan kondisi orang tua di masa lalu.

Misalnya dengan bilang, “Mama dulu seumuran kamu bisa bla bla bla.”

Bagi orang tua, kalimat tersebut mungkin dimaksudkan sebagai motivasi. Namun, bagi anak, perbandingan tersebut bisa terdengar seperti pesan bahwa dirinya belum cukup baik.

3. Memberikan tekanan dengan nada marah atau ancaman

Orang tua juga sering kali memberikan tekanan dengan nada marah atau ancaman, seperti HP diambil, uang saku dipotong, akan lapor ke guru, dan lain-lain.

Batasan dan konsekuensi tetap dibutuhkan dalam pengasuhan. Namun, jika setiap percakapan berakhir dengan ancaman, anak bisa belajar bahwa berbicara dengan orang tua berarti siap menghadapi konsekuensi.

4. Tekanan dari media sosial

Sedangkan dari sisi anak, sering kali tekanan media sosial juga memperburuk relasi. Misalnya karena berpikir orang tuanya akan seperti yang dia lihat di media sosial atau membandingkan orang tua sendiri dengan gambaran “orang tua idaman” yang mereka lihat secara online.

5. Emosi remaja yang sedang berkembang

Remaja juga cenderung meledak-ledak emosinya, dan beberapa hal mudah memicu kemarahannya. Apabila di usia lebih muda hubungan dengan orang tua kurang hangat, maka di masa remaja ini jadi lebih sulit lagi biasanya.

Apa yang Sering Bikin Komunikasi Makin Memburuk?

Ketika Mommies dan Daddies merasakan adanya jarak, naluri alami orang tua pasti ingin langsung membereskannya. Tapi hati-hati, niat baik dengan pendekatan yang salah justru bisa bikin remaja makin menutup diri.

American Academy of Pediatrics menyarankan orang tua untuk tidak langsung menyalakan “alarm orang tua” ketika anak mulai bercerita. Respons yang terlalu menghakimi atau membuat masalah terdengar jauh lebih buruk dapat membuat remaja enggan kembali bercerita.

Melansir dari The Rooted Counseling Co, beberapa kebiasaan berikut sering kali malah memperkeruh suasana:

  • Memaksa obrolan serius: Duduk berdua untuk “bicara dari hati ke hati” secara mendadak sering kali terasa sebagai tekanan ketimbang ajakan terkoneksi.
  • Ucapan yang bikin anak merasa bersalah: Kalimat seperti “Kamu kok sekarang beda banget, dulu kan kita dekat…” membuat remaja merasa bersalah dan bertanggung jawab atas emosi orang tuanya.
  • Ingin membereskan segalanya secara instan: Gestur besar dalam sekejap jarang bisa memperbaiki hubungan. Konsistensi kecil jauh lebih berdampak.
  • Menghindari ketegangan: Mengabaikan konflik atau rasa sakit hati yang pernah terjadi hanya akan memperbesar jarak yang ada.

Anak Remaja Butuh Ruang atau Memang Sedang Menjauh?

Ini bagian yang sering bikin orang tua bingung. Ketika anak mulai lebih sering berada di kamar, punya dunia pertemanan sendiri, atau tidak lagi menceritakan setiap detail kehidupannya, bukan berarti hubungan dengan Mommies otomatis bermasalah.

Remaja memang sedang membutuhkan lebih banyak ruang untuk membangun kemandirian. Sejumlah kajian tentang perkembangan remaja menunjukkan bahwa kebutuhan akan otonomi meningkat seiring bertambahnya usia, sehingga pola pengasuhan juga perlu ikut menyesuaikan.

Yang perlu diperhatikan adalah perubahan yang ekstrem dan menetap. Misalnya, anak yang sebelumnya masih berinteraksi kemudian benar-benar menarik diri, mengalami perubahan suasana hati yang drastis, kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya disukai, mengalami perubahan tidur atau makan, prestasi sekolah menurun, atau menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya sedang kesulitan secara emosional.

Jadi, anak remaja tidak mau bicara bukan berarti otomatis mengalami depresi atau kecemasan. Namun, jika perubahan tersebut menetap dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan hanya menganggapnya sebagai “namanya juga remaja”.

10 Cara Memperbaiki Komunikasi dengan Anak Remaja yang Telanjur Putus

Foto: Magnific

Kalau komunikasi dengan anak remaja sudah terasa renggang, Mommies mungkin bertanya-tanya, masih bisakah hubungan ini diperbaiki? Jawabannya, masih. Namun, prosesnya bukan dengan memaksa anak kembali menjadi sosok yang selalu cerita seperti ketika masih kecil, melainkan dengan membangun kembali rasa aman dan kepercayaan secara perlahan.

Berikut 10 cara memperbaiki komunikasi dengan anak remaja yang bisa Mommies coba di rumah.

1. Validasi Emosi Anak

Validasi adalah kunci meredakan sikap defensif. Validasi bukan berarti menyetujui semua perilaku anak, melainkan mengakui emosi nyata yang sedang mereka rasakan.

Melansir panduan dari Tracy Kimberg Counseling, ketika remaja merasa didengar dan dipahami, orang tua dapat membantu menciptakan kondisi yang lebih tenang sehingga anak lebih siap untuk berkomunikasi. Dibanding membantah dengan logika, cobalah berkata, “Pasti kesal banget ya berada di posisi itu.”

Mengganti respons koreksi menjadi koneksi bisa menjadi salah satu cara memahami perasaan anak tanpa langsung memicu konflik.

Prinsip ini juga sejalan dengan panduan American Academy of Pediatrics (AAP), yang menyarankan orang tua untuk mendengarkan remaja tanpa langsung bereaksi atau menghakimi. Menurut AAP, yang lebih penting bukan selalu menemukan kalimat yang tepat, tetapi benar-benar mendengarkan apa yang ingin disampaikan anak.

2. Kenali Pola Perilaku, Bukannya Menghakimi

Remaja sangat sensitif terhadap rasa dihakimi. Dibanding terus menyalahkan saat mereka bersikap tertutup, cobalah amati pola hubungan yang terjadi.

Menurut Psychology Today, fokus pada perubahan pola interaksi antara orang tua dan remaja dapat membantu memperbaiki komunikasi. Active listening atau mendengarkan secara aktif juga menjadi salah satu cara yang dapat membuat interaksi orang tua dan anak lebih produktif.

Coba tanyakan pada diri sendiri: apakah setiap kali anak mulai bercerita, Mommies langsung memberikan nasihat? Apakah perbedaan pendapat hampir selalu berakhir dengan pertengkaran? Atau mungkin anak sebenarnya mau bicara, tetapi hanya pada waktu tertentu ketika suasana hatinya sudah lebih tenang?

Kadang, masalah komunikasi dengan anak remaja bukan hanya tentang perilaku anak, tetapi juga pola interaksi yang terbentuk di antara keduanya.

3. Fokus pada Saat Ini

Saat merasa frustrasi, orang tua sering kali mengungkit kesalahan masa lalu anak sebagai bukti bahwa mereka benar. Strategi ini justru bisa membuat percakapan semakin buntu.

Dikutip dari Psychology Today, fokus pada perilaku atau langkah yang bisa dilakukan ke depan dapat lebih produktif daripada terus berdebat mengenai kejadian masa lalu.

Jadi, ketika sedang membahas anak pulang terlambat hari ini, misalnya, cobalah fokus pada kejadian tersebut. Tidak perlu langsung mengeluarkan daftar kesalahan yang pernah dilakukan anak sejak beberapa tahun lalu.

Bukan berarti Mommies harus melupakan masalah sebelumnya, tetapi berikan ruang untuk menyelesaikan masalah yang sedang ada tanpa membuat anak merasa semua kesalahannya sedang ditumpuk kembali.

4. Selalu Siap dan Hadir untuk Anak

Mommies dan Daddies tidak bisa memaksa anak untuk mau bicara detik ini juga. Semakin dikejar atau diinterogasi, mereka justru bisa semakin menjauh.

Seperti yang diulas dalam situs wikiHow Life, salah satu hal yang dapat dilakukan orang tua adalah selalu menyediakan waktu dan tempat bagi anak untuk bicara. Ketika anak merasa siap dan nyaman, kesempatan untuk mereka datang dan bercerita dengan sendirinya akan lebih besar.

Prinsip ini juga sejalan dengan panduan AAP. Orang tua disarankan untuk tetap menjadi sosok yang bisa diandalkan dan memberikan ruang ketika remaja membutuhkan waktu untuk mengatur emosinya.

Jadi, ketika anak menjawab, “Nanti aja, Ma,” tidak selalu berarti pintu komunikasi sudah tertutup. Mungkin memang belum waktunya.

5. Waspadai Tanda-Tanda Depresi dan Kecemasan

Kadang, anak tidak mau bicara bukan karena sengaja menarik diri, melainkan adanya masalah kesehatan mental mendasar seperti kecemasan atau depresi.

Panduan dari wikiHow Life menyarankan orang tua untuk mengenali gejala depresi pada remaja yang bisa terlihat berbeda dari orang dewasa, seperti mudah marah atau perubahan drastis pada pola tidur mereka.

Namun, penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa setiap anak yang pendiam atau lebih suka berada di kamar sedang mengalami depresi. Masa remaja memang merupakan periode ketika anak mulai membutuhkan ruang pribadi dan lebih banyak kemandirian.

Yang perlu diperhatikan adalah perubahan yang menetap dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Misalnya, anak mengalami perubahan suasana hati yang drastis, kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya disukai, perubahan pola tidur atau makan, prestasi sekolah menurun, atau semakin menarik diri dari keluarga dan teman.

AAP juga menyarankan orang tua memperhatikan perubahan suasana hati, rutinitas, energi, dan kehidupan sosial remaja sebagai tanda bahwa mungkin ada sesuatu yang sedang mengganggu mereka.

6. Ciptakan Ruang yang Aman

Anak hanya akan terbuka jika mereka merasa tidak akan langsung dimarahi atau dihakimi.

Mengutip saran dari ParentingPod, ciptakan lingkungan yang aman di mana anak merasa nyaman membagikan isi pikiran dan perasaan mereka tanpa takut dihakimi.

Bukan berarti Mommies harus selalu setuju dengan semua yang dikatakan anak. Tetapi, sebelum memberikan penilaian atau solusi, berikan kesempatan kepada mereka untuk menyelesaikan ceritanya terlebih dahulu.

AAP juga menekankan pentingnya membuat percakapan tentang hal-hal sulit terasa aman bagi remaja. Anak yang takut akan langsung dihakimi, diceramahi, atau dihukum cenderung lebih enggan membicarakan masalah sensitif dengan orang tua.

7. Berubah dari “Diktator” Menjadi “Konsultan”

Seiring bertumbuhnya anak, peran orang tua harus bergeser.

Diktator menuntut kepatuhan mutlak, sedangkan konsultan menawarkan saran yang bisa diterima atau ditolak.

Hargai privasi remaja sebagai bentuk pendewasaan diri yang sehat, namun tetap buka pintu jika mereka membutuhkan bantuan. Memberikan ruang bukan berarti Mommies kehilangan kendali sebagai orang tua, melainkan menyesuaikan cara mendampingi anak dengan usianya.

Psychology Today juga menyoroti bahwa memberikan kesempatan kepada remaja untuk mengambil keputusan sendiri dan tetap menyediakan struktur keluarga yang dapat diandalkan bisa membantu orang tua mempertahankan kedekatan tanpa menghambat proses kemandirian anak.

8. Biarkan Anak Menjadi “Pakar”

Ingin dianggap jadi orang tua yang asyik tanpa mengencerkan prinsip?

Melansir tips dari The Rooted Counseling Co, cobalah minta anak mengajarkan atau menunjukkan sesuatu yang mereka sukai dan ahli melakukannya, entah itu gim yang sedang mereka mainkan, musik favorit, olahraga, atau video-video lucu.

Rasa ingin tahu orang tua tanpa kesan menguji bisa menjadi cara sederhana untuk membuka kembali percakapan.

Mommies tidak harus pura-pura memahami dunia mereka. Justru, sesekali bertanya, “Ini mainnya gimana?” atau “Kenapa kamu suka lagu ini?” bisa membuat anak merasa bahwa dunianya menarik untuk diketahui.

The Rooted Counseling Co sendiri memang menangani anak dan remaja serta menekankan pendekatan yang berfokus pada hubungan dan ruang yang aman.

Foto: Magnific

9. Terapkan Aturan 70/30

Salah satu cara paling ampuh dalam membangun kepercayaan anak adalah dengan mengurangi porsi bicara kita.

Biarkan anak remaja berbicara sebanyak 70% dari durasi obrolan, sementara Mommies dan Daddies mendengarkan sebanyak 30%. Tahan dorongan untuk langsung memberi solusi; tunjukkan bahwa orang tua percaya pada kemampuan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri.

Namun, angka 70/30 ini sebaiknya dipahami sebagai panduan praktis, bukan aturan psikologi yang harus diterapkan secara kaku pada setiap percakapan.

Intinya adalah memberikan anak cukup ruang untuk menyampaikan apa yang mereka pikirkan tanpa percakapan langsung diambil alih oleh orang tua.

Hal ini sejalan dengan panduan AAP yang menekankan bahwa orang tua perlu lebih banyak mendengarkan daripada berbicara ketika berkomunikasi dengan remaja.

10. Kuasai Seni Meminta Maaf dan Memperbaiki Relasi

Konflik dalam keluarga itu wajar, namun yang terpenting adalah proses memperbaikinya.

Jika obrolan sempat memanas, turunkan ego dan gunakan kalimat ini:

“Maaf ya tadi Mama/Papa meresponsnya pakai emosi. Mama/Papa tetap mau dengar cerita kamu kalau kondisi kita sudah sama-sama tenang. Nanti kita ngobrol lagi, ya?”

Contoh dari Tracy Kimberg Counseling ini mengajarkan anak tentang rasa tanggung jawab dan membuktikan bahwa hubungan jauh lebih penting daripada sekadar merasa paling benar.

Meminta maaf juga tidak otomatis membuat orang tua kehilangan wibawa. Justru, Mommies sedang menunjukkan kepada anak bahwa orang dewasa pun bisa mengakui kesalahan dan berusaha memperbaikinya.

Psychology Today juga menyoroti pentingnya orang tua mengakui kesalahan dan memahami bahwa hubungan dengan anak remaja membutuhkan proses saling belajar, termasuk memberikan ruang ketika memang sudah waktunya bagi anak untuk lebih mandiri.

BACA JUGA: Orang Tua Salah tapi Susah Minta Maaf? Ini Dampaknya pada Anak!

Kapan Orang Tua Harus Cari Bantuan?

Proses memperbaiki komunikasi memang butuh waktu. Namun, ada kalanya bantuan dari ahli sangat dibutuhkan.

“Ada beberapa kondisi, misalnya ketika permasalahan sudah terjadi lama dan tidak kunjung membaik. Apalagi kalau kondisi kesehatan mental orang tua/anak juga jadi terpengaruh, misalnya jadi mudah marah/tersinggung atau saling menghindari. Lalu jika hubungan dalam keluarga sudah makin menegang, atau sebaliknya justru semakin dingin,” jelas Psikolog Nina.

Jika situasi di rumah sudah mencapai tahap ini, memanfaatkan konseling keluarga atau terapi bersama psikolog bisa menjadi ruang netral yang sangat membantu orang tua menemukan jalan kembali menuju hati anak remaja mereka.

Terlebih, hubungan orang tua dan anak bukan sekadar soal seberapa sering mereka mengobrol. Kualitas komunikasi juga berkaitan dengan kondisi psikologis remaja secara lebih luas. Systematic review terbaru menunjukkan bahwa kualitas komunikasi yang dirasakan remaja berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan mental, meski penelitian tersebut juga menekankan bahwa sebagian besar studi yang dianalisis bersifat observasional sehingga hubungan sebab-akibat tidak bisa disimpulkan begitu saja.

Jadi, kalau sekarang Mommies merasa hubungan dengan anak sudah telanjur putus, jangan buru-buru berpikir semuanya sudah terlambat.

Mungkin komunikasi kalian memang tidak akan kembali persis seperti ketika ia masih kecil. Dan itu tidak apa-apa. Anak yang dulu selalu bercerita tentang teman sebangku mungkin sekarang hanya menjawab, “Biasa aja, Ma,” ketika ditanya soal sekolah.

Yang penting, tetap hadir.

Tetap sediakan tempat untuk pulang, tetap dengarkan ketika ia akhirnya ingin bicara, dan tetap tunjukkan bahwa di balik segala perbedaan pendapat, Mommies ada di pihaknya.

Karena membangun kembali komunikasi dengan anak remaja bukan tentang membuat mereka kembali menjadi anak kecil yang selalu bercerita. Ini tentang membangun hubungan baru dengan mereka, sebagai pribadi yang sedang tumbuh, mencari jati diri, dan perlahan belajar berdiri dengan kakinya sendiri.

Cover: Pexels

Share Article

author

Fannya Gita Alamanda

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan