banner-detik
EDUCATION

Anak Ingin Gap Year? Jangan Langsung Menolak, Ini Faktanya

author

Katharina Mengein 6 hours

Anak Ingin Gap Year? Jangan Langsung Menolak, Ini Faktanya

Anak ingin gap year setelah SMA? Jangan langsung menolak, Mommies. Kenali manfaat, risiko, alasan, dan cara membuat rencana gap year sebelum kuliah.

Mommies, bagaimana kalau suatu hari anak pulang sekolah lalu bilang, “Aku mau gap year dulu sebelum kuliah”?

Buat sebagian orang tua, kalimat ini mungkin langsung bikin alarm berbunyi. “Kenapa harus gap year? Teman-temannya sudah kuliah.” atau “Nanti malah keterusan gak kuliah, gimana?”

Wajar kalau Mommies khawatir. Apalagi setelah bertahun-tahun mendampingi anak sekolah, rasanya setelah lulus SMA seharusnya ada satu tujuan yang jelas: masuk kuliah, memilih jurusan, lalu lanjut ke tahap berikutnya.

Tapi ternyata, gap year gak selalu berarti anak malas atau gak punya masa depan. Dalam kondisi tertentu, jeda sebelum kuliah justru bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk mengenali minat, mempersiapkan diri, memperbaiki strategi belajar, atau memikirkan pilihan pendidikan dengan lebih matang.

Yang penting, masa jeda sebelum kuliah bukan berarti “libur setahun”. Ada perbedaan besar antara mengambil jeda dengan tujuan yang jelas dan sekadar menunda kuliah tanpa rencana.

BACA JUGA: 12 Kegiatan Gap Year yang Bisa Dilakukan Sebelum Kuliah

Apa Itu Gap Year?

Secara sederhana, gap year adalah periode jeda yang diambil seseorang setelah menyelesaikan pendidikan menengah sebelum melanjutkan ke perguruan tinggi. Selama periode tersebut, anak bisa melakukan berbagai kegiatan seperti mengikuti kursus, bekerja, magang, menjadi relawan, belajar bahasa, mengikuti program tertentu, atau mempersiapkan diri untuk masuk perguruan tinggi.

Masa jeda pendidikan ini juga gak harus selalu berarti pergi ke luar negeri atau traveling berbulan-bulan seperti yang sering terlihat di media sosial. Anak bisa saja tetap tinggal di rumah dan menjalani kegiatan yang memang relevan dengan tujuan pendidikan atau pengembangan dirinya.

Jadi, kalau anak mengatakan ingin mengambil jeda sebelum kuliah, pertanyaan pertama yang sebaiknya muncul mungkin bukan “Kenapa?”, tetapi “Kamu mau melakukan apa selama gap year?”

Dari jawabannya, Mommies bisa mulai mengetahui apakah anak memang sedang mempertimbangkan pilihan dengan serius atau sebenarnya sedang ingin menghindari sesuatu.

Jangan Langsung Menganggap Gap Year Berarti Anak Gak Serius Kuliah

Kekhawatiran orang tua soal gap year sebenarnya cukup masuk akal. Takut anak kehilangan motivasi, terlalu nyaman di rumah, atau akhirnya gak jadi kuliah sama sekali adalah hal yang mungkin terlintas.

Namun, penelitian tentang gap year menunjukkan bahwa hasilnya gak sesederhana “gap year = buruk” atau “gap year = pasti bagus”.

Salah satu penelitian mengenai mahasiswa yang mengambil gap year menemukan bahwa mahasiswa yang menunda masuk perguruan tinggi justru memiliki nilai universitas yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang langsung kuliah. Penelitian tersebut juga menemukan keuntungan nilai lebih terlihat pada kelompok mahasiswa dengan performa akademik sebelumnya lebih rendah. Penelitian ini memang terbit pada 2007, jadi hasilnya sebaiknya dibaca sebagai salah satu bukti, bukan kesimpulan bahwa masa jeda pasti meningkatkan prestasi akademik.

Sementara itu, penelitian lain yang membandingkan jalur setelah SMA menemukan bahwa dampak gap year terhadap perkembangan psikologis dan pencapaian gak selalu sama pada setiap kelompok. Artinya, mengambil jeda bukan otomatis memberikan hasil yang lebih baik daripada langsung kuliah.

Artinya, yang perlu dilihat bukan sekadar apakah anak mengambil gap year atau tidak, tetapi apa yang dilakukan selama periode tersebut.

Alasan Anak Ingin Mengambil Gap Year!

Foto: Magnific

1. Anak Belum Yakin dengan Jurusan Kuliahnya

Ini salah satu alasan yang cukup masuk akal untuk dipertimbangkan.

Bayangkan anak memilih jurusan hanya karena teman-temannya masuk ke sana, mengikuti keinginan orang tua, atau karena merasa jurusan tersebut sedang populer. Lalu, baru beberapa bulan kuliah, ia menyadari bahwa bidang tersebut ternyata gak sesuai dengan dirinya.

Bukan gak mungkin akhirnya anak ingin pindah jurusan, berhenti kuliah, atau menjalani kuliah dengan setengah hati.

Padahal, penelitian yang diterbitkan pada Learning and Individual Differences pada 2024 menemukan bahwa proses memilih program studi yang lebih matang dan adanya kecocokan antara minat mahasiswa dengan program yang dipilih berkaitan dengan kepuasan, prestasi akademik, dan keberlanjutan studi.

Jadi, kalau anak ingin menggunakan masa jeda ini untuk mengeksplorasi jurusan dan karier, Mommies justru bisa mengajak dia membuat rencana yang konkret.

Misalnya, kalau anak tertarik dengan psikologi, jangan cuma berhenti di tahap “kayaknya aku suka psikologi”. Ia bisa mulai mengikuti kelas pengantar, membaca buku, mencari informasi tentang bidang kerja lulusan psikologi, mengikuti webinar, atau berbicara dengan mahasiswa dan profesional di bidang tersebut.

Dengan begitu, gap year menjadi masa eksplorasi, bukan sekadar penundaan.

2. Anak Ingin Mempersiapkan Diri untuk Seleksi Masuk Kuliah

Ada juga anak yang sebenarnya sudah tahu ingin kuliah di mana dan mengambil jurusan apa, tetapi belum berhasil masuk melalui jalur yang diinginkan.

Daripada menganggap kegagalan tersebut sebagai akhir dunia, mada jeda bisa menjadi kesempatan untuk mengevaluasi strategi.

Anak bisa melihat kembali hasil belajar sebelumnya, mengidentifikasi bagian yang masih lemah, lalu membuat jadwal belajar yang lebih realistis. Mommies juga bisa membantu dengan memastikan targetnya jelas dan bukan sekadar, “Tahun depan harus lolos.”

Untuk konteks Indonesia, aturan penerimaan mahasiswa baru juga perlu diperhatikan karena status lulusan dan tahun kelulusan bisa berpengaruh terhadap jalur seleksi yang dapat diikuti. Untuk UTBK-SNBT 2026, misalnya, peserta bisa berasal dari lulusan 2024, 2025, dan 2026, dengan ketentuan yang berlaku. Lulusan Paket C juga memiliki ketentuan usia tertentu.

Jadi sebelum anak memutuskan gap year khusus untuk mencoba seleksi masuk PTN lagi, cek dulu aturan SNPMB pada tahun yang akan diikuti. Jangan sampai sudah menyusun rencana setahun penuh, tetapi ternyata jalur yang ditargetkan memiliki persyaratan yang berbeda.

3. Anak Ingin Mencoba Dunia Kerja

“Kalau gap year, aku mau kerja dulu.”

Kalimat ini juga gak selalu berarti anak sudah gak tertarik kuliah.

Bagi sebagian anak, bekerja justru bisa menjadi cara untuk belajar tentang tanggung jawab, mengatur uang, berkomunikasi dengan orang lain, dan mengenal dunia kerja secara langsung.

Tentu, Mommies tetap perlu melihat jenis pekerjaannya. Kalau memungkinkan, pilih pekerjaan yang aman dan memberikan pengalaman yang bisa membantu perkembangan anak.

Anak juga bisa membuat target sederhana, misalnya berapa lama bekerja, keterampilan apa yang ingin dipelajari, berapa uang yang ingin ditabung, dan apa hubungannya pengalaman tersebut dengan rencana kuliah atau karier.

Jadi bukan sekadar “kerja dulu karena belum mau kuliah”, tetapi “aku mau menggunakan beberapa bulan ini untuk mendapatkan pengalaman kerja.”

4. Anak Ingin Mengembangkan Skill yang Belum Didapat di Sekolah

Gap year juga bisa digunakan untuk mempelajari sesuatu yang mungkin gak cukup didapatkan di bangku sekolah.

Misalnya, anak tertarik belajar coding, desain grafis, bahasa asing, public speaking, fotografi, memasak, atau keterampilan lain yang ingin ia kembangkan.

Yang menarik, penelitian pendidikan juga semakin banyak melihat pentingnya kemampuan di luar nilai akademik, termasuk kemampuan mengatur diri, menentukan tujuan, dan membangun kebiasaan belajar.

Sebuah studi open access yang diterbitkan di Higher Education pada 2024, misalnya, menemukan bahwa mahasiswa menghadapi tantangan dalam membangun kebiasaan belajar mandiri ketika beralih ke kehidupan perguruan tinggi. Tujuan yang jelas dan kemampuan mengatur diri menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Karena itu, kalau gap year membuat anak belajar mengatur jadwal, menentukan target, dan bertanggung jawab terhadap pilihannya sendiri, pengalaman tersebut bisa menjadi bekal yang berguna ketika ia akhirnya masuk kuliah.

5. Anak Butuh Waktu untuk Menentukan Arah

BACA JUGA: 6 Program Magang Berbayar untuk Anak SMA, Dapat Pengalaman Sekaligus Uang Saku

Ada anak yang lulus SMA dengan sudah punya lima pilihan jurusan.

Ada juga yang ketika ditanya, “Mau kuliah jurusan apa?”, jawabannya cuma, “Gak tahu.”

Dan honestly, gak semua anak punya jawaban ketika berusia 17 atau 18 tahun.

Mommies mungkin sudah punya gambaran tentang masa depan anak, tetapi anaklah yang nantinya akan menjalani kuliah dan pekerjaan tersebut. Karena itu, memberikan ruang untuk mengeksplorasi pilihan bisa lebih membantu daripada memaksa anak segera mengambil keputusan hanya karena takut tertinggal.

Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai gap year menjadi alasan untuk terus menunda keputusan. Anak tetap perlu punya timeline, target, dan evaluasi berkala.

Tapi Gap Year Juga Punya Risiko, Mommies

Nah, ini bagian yang juga penting.

Artikel tentang gap year jangan sampai membuat Mommies berpikir bahwa mengambil jeda setahun otomatis akan membuat anak lebih matang, lebih pintar, atau lebih sukses.

Tidak ada jaminan seperti itu.

Gap year bisa bermanfaat kalau diisi dengan kegiatan yang terarah. Sebaliknya, kalau anak gak punya rutinitas, gak memiliki target, dan menghabiskan sebagian besar waktu hanya untuk bermain atau scrolling tanpa tujuan, satu tahun bisa berlalu begitu saja.

Belum lagi ada risiko anak merasa semakin sulit kembali ke rutinitas belajar setelah terlalu lama berhenti.

Karena itu, Mommies dan anak perlu membicarakan hal-hal yang cukup praktis sejak awal: kegiatan sehari-hari, target pendidikan, biaya, durasi gap year, serta kapan dan bagaimana anak akan kembali mendaftar kuliah.

Jadi, Haruskah Mommies Mengizinkan Anak Gap Year?

Foto: Pexels

Jawabannya tidak bisa sekadar “iya” atau “tidak”.

Coba lihat dulu alasan anak.

Kalau anak ingin gap year karena memang punya rencana untuk mengeksplorasi jurusan, mengikuti program, bekerja, mengembangkan skill, atau mempersiapkan seleksi masuk perguruan tinggi, Mommies bisa mempertimbangkannya bersama.

Sebaliknya, kalau anak ingin gap year hanya karena takut menghadapi dunia kuliah, gak mau belajar lagi, atau ingin menghindari keputusan yang sulit, mungkin justru itu yang perlu dibicarakan lebih dalam.

Mommies bisa mengajukan pertanyaan sederhana seperti:

“Apa yang ingin kamu capai selama gap year?”

“Kalau setahun sudah selesai, kamu ingin berada di mana?”

“Kegiatan apa yang akan kamu lakukan setiap minggu?”

“Bagaimana kita tahu kalau rencana ini berhasil?”

Dari sini, obrolannya bisa berubah dari debat “boleh atau gak boleh gap year” menjadi diskusi tentang masa depan anak.

BACA JUGA: 8 Kesalahan dalam Memilih Jurusan Kuliah yang Sering Dianggap Sepele

Gap Year Bukan Berarti Anak Ketinggalan

Di usia remaja akhir, mungkin anak sering merasa semua orang sedang berlari.

Ada teman yang sudah diterima kuliah, yang mulai ikut ospek, hingga sudah punya kehidupan kampus. Sementara dirinya masih berada di titik yang sama.

Mommies juga mungkin ikut merasa panik.

Tapi perjalanan pendidikan anak gak harus selalu terlihat sama dengan teman-temannya. Yang lebih penting adalah apakah anak punya kesempatan untuk membuat keputusan yang cukup matang dan memahami konsekuensinya.

Penelitian tentang pilihan studi pada mahasiswa juga menunjukkan pentingnya eksplorasi dan kecocokan antara minat dengan program pendidikan yang dipilih.

Jadi, kalau anak datang dan mengatakan ingin gap year, mungkin gak perlu langsung menjawab, “Gak boleh!”

Dengarkan dulu alasannya.

Tanyakan rencananya.

Bantu ia menghitung konsekuensinya.

Dan kalau akhirnya Mommies dan anak sepakat bahwa gap year memang pilihan yang tepat, pastikan satu tahun tersebut benar-benar punya tujuan.

Karena gap year yang terencana bukan berarti anak berhenti melangkah. Bisa jadi, ia justru sedang mengambil jeda supaya langkah berikutnya gak salah arah.

Pada akhirnya, yang Mommies perlukan bukan keputusan untuk langsung mengizinkan atau menolak gap year, tetapi percakapan yang membuat anak belajar bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Kalau setelah berdiskusi ternyata rencananya masuk akal, buat target bersama, tentukan timeline, dan sepakati kapan perlu mengevaluasi kembali rencana tersebut.

Sebab, kuliah bukan perlombaan siapa yang paling cepat sampai. Yang penting, ketika akhirnya anak melangkah, ia tahu kenapa memilih jalan itu dan ke mana ingin pergi.

BACA JUGA: Mau Anak Lebih Siap Kuliah dan Kerja? Ajarkan Cara Membuat LinkedIn Sejak Remaja

Cover: Pexels

Share Article

author

Katharina Menge

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan