Sorry, we couldn't find any article matching ''

12 Kegiatan Gap Year yang Bisa Dilakukan Sebelum Kuliah
Ini 12 kegiatan gap year sebelum kuliah, mulai dari kursus, magang, kerja paruh waktu, hingga eksplorasi karier untuk anak remaja Mommies.
Setelah lulus SMA, tidak semua anak langsung siap masuk kuliah. Ada yang masih bingung memilih jurusan, ingin mencoba bekerja dulu, belum berhasil masuk kampus atau program studi yang diinginkan, sampai merasa butuh waktu untuk berhenti sejenak dan menentukan arah.
Di sinilah istilah gap year biasanya muncul.
Tapi, Mommies mungkin langsung berpikir, “Kalau anak saya gap year, nanti selama setahun mau ngapain?” Pertanyaan yang wajar. Sebab, gap year bukan berarti anak berhenti melakukan apa-apa selama satu tahun. Justru, periode ini bisa dimanfaatkan untuk mencoba berbagai pengalaman yang mungkin sulit didapatkan saat masih sibuk dengan sekolah.
Yang penting, gap year sebaiknya tidak hanya menjadi waktu untuk menunggu pendaftaran kuliah berikutnya. Anak bisa mengisinya dengan kegiatan yang membantu mengembangkan keterampilan, mengenali minat, mendapatkan pengalaman kerja, atau mempersiapkan diri untuk pendidikan berikutnya.
Lantas, apa saja yang bisa dilakukan saat gap year?
BACA JUGA: Mau Anak Lebih Siap Kuliah dan Kerja? Ajarkan Cara Membuat LinkedIn Sejak Remaja
Apa Itu Gap Year?
Gap year adalah periode ketika seseorang mengambil jeda dari pendidikan formal, biasanya setelah lulus SMA dan sebelum melanjutkan ke perguruan tinggi. Selama periode tersebut, seseorang dapat melakukan berbagai kegiatan seperti bekerja, mengikuti kursus, menjadi relawan, magang, bepergian, atau mengeksplorasi minat.
Gap year juga tidak selalu berarti harus benar-benar “menghilang” selama satu tahun. Durasi dan bentuknya bisa berbeda-beda, tergantung kebutuhan dan rencana masing-masing anak.
Bahkan, beberapa universitas membuka opsi deferral atau penundaan masuk kuliah sehingga calon mahasiswa dapat mengambil waktu jeda sebelum mulai kuliah. Misalnya, University of Queensland memungkinkan calon mahasiswa tertentu untuk menunda mulai kuliah hingga satu tahun, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
Jadi, kalau anak Mommies sedang mempertimbangkan gap year, yang perlu dipikirkan bukan hanya “mau kuliah kapan?”, tetapi juga “selama masa jeda ini mau berkembang ke arah mana?”
Apa Saja yang Bisa Dilakukan Saat Gap Year?

Foto: Magnific
Ada banyak pilihan kegiatan gap year yang bisa dilakukan. Tidak harus semuanya dijalani sekaligus, kok, Mommies. Pilih yang paling sesuai dengan tujuan dan kondisi anak.
1. Mengikuti Kursus atau Pelatihan
Kalau anak sudah punya bayangan ingin mengambil jurusan tertentu, gap year bisa digunakan untuk memperkenalkan dirinya lebih jauh dengan bidang tersebut. Misalnya, anak ingin masuk jurusan desain komunikasi visual. Selama gap year, ia bisa mengikuti kursus desain grafis, ilustrasi, fotografi, atau video editing.
Begitu juga kalau anak tertarik dengan bidang teknologi. Ia bisa mencoba belajar pemrograman, desain UI/UX, data analysis, atau keterampilan digital lainnya. Tidak harus langsung mengambil kursus yang mahal karena saat ini ada banyak pilihan kelas online maupun offline dengan tingkat dan durasi yang beragam.
Yang penting, pilih kursus yang memang bisa menghasilkan skill yang bisa dipraktikkan, bukan sekadar mengumpulkan sertifikat.
2. Mengikuti Magang
Magang bisa menjadi salah satu kegiatan gap year yang paling berguna, terutama kalau anak masih bingung dengan dunia kerja atau ingin mengetahui apakah bidang tertentu memang cocok untuknya.
Misalnya, anak bercita-cita menjadi psikolog. Ia mungkin belum bisa bekerja sebagai psikolog karena belum memiliki pendidikan dan kualifikasi yang dibutuhkan. Namun, ia bisa mencari pengalaman magang yang relevan, seperti membantu administrasi di lembaga pendidikan, organisasi sosial, atau bidang lain yang masih berkaitan dengan minatnya.
Pengalaman seperti ini dapat membantu anak memahami bahwa pekerjaan yang terlihat menarik dari luar belum tentu sama dengan pengalaman menjalaninya sehari-hari. Dan itu justru informasi yang berharga.
3. Bekerja Paruh Waktu
Kalau memungkinkan, gap year juga bisa diisi dengan pekerjaan paruh waktu. Tidak harus pekerjaan yang sesuai dengan cita-cita. Anak bisa bekerja di kafe, toko, event organizer, bisnis keluarga, atau pekerjaan lain yang sesuai dengan usia dan aturan ketenagakerjaan.
Dari sini, anak bisa belajar hal-hal yang tidak selalu diajarkan di sekolah, seperti datang tepat waktu, berkomunikasi dengan orang lain, menyelesaikan tanggung jawab, bekerja dalam tim, sampai mengatur penghasilan sendiri.
Kalau mendapatkan penghasilan, Mommies juga bisa mengajak anak belajar membuat anggaran sederhana. Misalnya, berapa yang boleh digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, berapa yang ditabung, dan berapa yang bisa digunakan untuk mengikuti kursus atau mempersiapkan kuliah.
Jadi, bukan hanya mendapatkan uang, tetapi juga belajar mengelolanya.
BACA JUGA: Masa Perkuliahan Belum Mulai dan Anak Remaja Ingin Kerja Part Time? Ini Link Lowongannya
4. Menjadi Relawan
Kegiatan gap year tidak harus selalu berhubungan dengan pekerjaan atau pendidikan formal. Menjadi relawan juga bisa menjadi pilihan.
Anak dapat mencari kegiatan sosial yang sesuai dengan minatnya, seperti mengajar anak-anak, membantu komunitas lingkungan, kegiatan kebencanaan, perlindungan hewan, atau organisasi sosial. Selain memberikan pengalaman bekerja bersama orang lain, kegiatan seperti ini juga bisa membuat anak bertemu dengan orang-orang dari latar belakang berbeda.
Namun, Mommies tetap perlu memastikan organisasi atau kegiatan yang dipilih terpercaya dan memiliki sistem yang jelas untuk relawannya.
5. Belajar Bahasa Asing
Kalau anak punya rencana kuliah di luar negeri, belajar bahasa asing selama gap year tentu bisa menjadi investasi yang bermanfaat. Misalnya, memperdalam bahasa Inggris untuk persiapan tes kemampuan bahasa, belajar bahasa Jepang karena ingin kuliah di Jepang, atau bahasa lain sesuai negara tujuan.
Tidak harus selalu lewat kursus. Anak bisa menggabungkan kelas formal dengan kebiasaan sehari-hari seperti membaca buku, menonton film tanpa subtitle, mendengarkan podcast, atau berbicara dengan language partner.
Dengan begitu, satu tahun tidak terasa hanya dihabiskan untuk belajar teori.
6. Mempersiapkan Tes Masuk Kuliah
Kalau alasan anak mengambil gap year adalah belum berhasil masuk kampus atau jurusan yang diinginkan, tentu waktu ini bisa digunakan untuk mempersiapkan diri menghadapi seleksi berikutnya.
Anak dapat mengevaluasi hasil seleksi sebelumnya. Apakah nilai kurang? Strategi belajarnya belum tepat? Kurang latihan soal? Atau ternyata jurusan yang dipilih memang belum sesuai dengan kemampuannya?
Setelah tahu bagian yang perlu diperbaiki, buat jadwal belajar yang realistis. Jangan sampai karena tidak lagi sekolah, seluruh waktu justru dihabiskan untuk belajar tanpa jeda. Tetap sisakan waktu untuk olahraga, bersosialisasi, beristirahat, dan melakukan kegiatan lain.
7. Mengembangkan Hobi Menjadi Skill

Foto: Magnific
Anak suka fotografi? Coba buat portofolio. Suka memasak? Bisa belajar membuat produk makanan sederhana. Suka menggambar? Mulai belajar ilustrasi digital. Suka membuat video? Coba belajar editing dan produksi konten.
Hobi yang selama ini dianggap sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang ternyata bisa dikembangkan menjadi keterampilan. Bahkan, bisa saja dari sini anak menemukan bidang yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan sebagai pilihan pendidikan atau karier.
8. Membuat Portofolio
Kalau anak tertarik dengan bidang yang membutuhkan karya, gap year bisa menjadi waktu yang tepat untuk membuat portofolio.
Misalnya:
- desain grafis,
- fotografi,
- ilustrasi,
- video,
- tulisan,
- musik,
- pemrograman,
- atau proyek digital.
Portofolio akan membuat anak punya sesuatu yang konkret untuk ditunjukkan ketika mendaftar kuliah, magang, mengikuti program tertentu, atau mencari pekerjaan paruh waktu.
Jadi, jangan hanya mengumpulkan sertifikat.
Karya yang benar-benar dibuat juga penting.
9. Mengikuti Kompetisi atau Proyek
Gap year juga bisa digunakan untuk mengikuti kompetisi sesuai minat anak. Mulai dari lomba menulis, desain, fotografi, bisnis, teknologi, debat, sampai kompetisi olahraga.
Atau, anak bisa membuat proyek sendiri. Misalnya, membuat akun edukasi, membangun website sederhana, membuat proyek sosial di lingkungan sekitar, atau mengembangkan bisnis kecil-kecilan.
Pengalaman menyusun ide, membuat perencanaan, menghadapi kegagalan, lalu mencoba lagi dapat menjadi pembelajaran tersendiri.
10. Travel atau Mengikuti Program Pertukaran
Kalau kondisi finansial keluarga memungkinkan, bepergian juga bisa menjadi salah satu kegiatan gap year. Tapi bukan berarti harus pergi ke luar negeri atau melakukan backpacking berbulan-bulan.
Perjalanan sederhana ke kota atau daerah lain pun dapat menjadi pengalaman. Anak bisa belajar merencanakan perjalanan, mengatur anggaran, menggunakan transportasi umum, berkomunikasi dengan orang baru, dan beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda.
Kalau ingin mengikuti program luar negeri, Mommies tetap perlu melakukan riset mendalam mengenai penyelenggara, biaya, keamanan, visa, serta pendampingan peserta.
11. Belajar Keterampilan Hidup
Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi justru bisa sangat berguna sebelum anak masuk kuliah.
Selama gap year, anak bisa belajar:
- memasak makanan sederhana,
- mencuci dan merawat pakaian,
- mengatur keuangan,
- membuat rekening atau mengelola pembayaran digital,
- mengurus dokumen pribadi,
- menggunakan transportasi umum,
- membuat CV,
- mengikuti wawancara kerja,
- dan mengatur jadwal sendiri.
Apalagi kalau setelah kuliah anak akan tinggal sendiri atau di luar kota. Kemampuan seperti ini mungkin tidak masuk CV, tetapi akan sangat terasa manfaatnya ketika anak mulai hidup lebih mandiri.
12. Melakukan Career Exploration
Kalau alasan utama gap year adalah karena anak masih bingung memilih jurusan, jangan buru-buru memaksanya menentukan satu pilihan. Justru, ini bisa menjadi waktu untuk melakukan eksplorasi karier.
Anak bisa mencoba career test, berdiskusi dengan konselor pendidikan, mengikuti seminar, berbicara dengan orang yang bekerja di bidang yang diminati, atau mengikuti job shadowing jika ada kesempatan.
Penelitian terbaru mengenai pengambilan keputusan karier pada remaja menunjukkan bahwa career decision-making self-efficacy atau keyakinan seseorang terhadap kemampuannya mengambil keputusan karier berkaitan dengan bagaimana remaja menghadapi kebimbangan dalam menentukan pilihan karier. Penelitian yang diterbitkan pada 2025 tersebut menemukan bahwa tingkat career decision-making self-efficacy berperan dalam perubahan pola kebimbangan karier pada remaja.
Kemudian ada penelitian lain yang dilakukan pada mahasiswa pendidikan vokasi di Indonesia juga menunjukkan bahwa self-efficacy berperan dalam proses pemilihan karier.
Artinya, membantu anak memahami pilihan pendidikan dan karier sejak awal bisa menjadi langkah yang lebih baik daripada sekadar meminta mereka memilih jurusan secepat mungkin.
BACA JUGA: 10 Jurusan Kuliah Paling Relevan dengan Kebutuhan Industri Masa Depan
Apakah Gap Year Harus Diisi dengan Banyak Kegiatan?
Tidak juga, Mommies.
Ini justru salah satu hal yang perlu diperhatikan. Gap year bukan kompetisi siapa yang punya CV paling panjang.
Anak tidak perlu mengikuti lima kursus, dua organisasi, magang, kerja paruh waktu, sekaligus ikut berbagai kompetisi hanya supaya satu tahun terlihat “produktif”. Yang lebih penting adalah apa yang anak pelajari dari pengalaman tersebut.
Penelitian kualitatif yang diterbitkan pada 2026 mengenai pengalaman pre-college gap year menemukan bahwa peserta menggambarkan adanya perkembangan dalam self-awareness, kematangan, motivasi akademik, kejelasan karier, dan keterampilan interpersonal setelah menjalani gap year. Namun, penelitian tersebut hanya melibatkan 10 mahasiswa, sehingga hasilnya lebih tepat dipandang sebagai gambaran pengalaman peserta, bukan bukti bahwa semua anak yang mengambil gap year pasti akan mendapatkan manfaat yang sama.
Jadi, jangan sampai istilah productive gap year justru membuat anak merasa harus terus produktif setiap hari.
Ada waktu untuk belajar, waktu untuk bekerja, waktu untuk mencoba sesuatu yang baru, dan ada juga waktu untuk beristirahat serta memikirkan apa yang sebenarnya ingin dilakukan.
Bagaimana Membuat Rencana Gap Year?
Supaya tidak terasa seperti satu tahun yang berlalu begitu saja, Mommies bisa mengajak anak membuat rencana sederhana. Misalnya, bagi satu tahun menjadi beberapa target:
Target pendidikan:
Apa yang ingin dipelajari atau dipersiapkan untuk masuk kuliah?
Target pengalaman:
Pengalaman apa yang ingin dicoba, seperti magang, kerja, atau menjadi relawan?
Target keterampilan:
Skill apa yang ingin dikuasai?
Target pribadi:
Hal apa yang ingin diperbaiki, seperti kemampuan mengatur uang atau hidup mandiri?
Target kuliah:
Kapan mulai mendaftar dan apa saja yang perlu dipersiapkan?
Dengan begitu, anak punya arah tanpa harus merasa seluruh hidupnya sudah harus direncanakan sampai detail.
Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan Saat Gap Year?
Pada dasarnya, kegiatan gap year tidak harus terlihat keren di mata orang lain. Yang penting, kegiatan tersebut membantu anak menjadi lebih siap menghadapi tahap kehidupan berikutnya.
Bisa dengan mengikuti kursus, magang, bekerja paruh waktu, menjadi relawan, belajar bahasa asing, mempersiapkan tes masuk kuliah, membuat portofolio, mengembangkan hobi, mengikuti proyek, belajar mandiri, sampai mengeksplorasi pilihan karier.
Dan kalau di tengah proses itu anak ternyata berubah pikiran? Tidak apa-apa. Mungkin justru itulah salah satu fungsi gap year: memberikan ruang untuk mencoba sebelum mengambil keputusan yang lebih besar.
Karena memilih jurusan kuliah bukan perkara kecil. Ada waktu, tenaga, biaya, dan harapan yang ikut dipertaruhkan di dalamnya.
Jadi, kalau anak Mommies memang membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak sebelum melanjutkan pendidikan, gap year tidak harus dilihat sebagai satu tahun yang terbuang. Dengan rencana yang realistis, satu tahun tersebut bisa menjadi waktu untuk belajar, mencoba, gagal, mengenal diri sendiri, dan akhirnya lebih yakin dengan langkah berikutnya.
Dan untuk Mommies yang anaknya sedang mempertimbangkan gap year, mungkin yang paling dibutuhkan anak bukan pertanyaan, “Kamu selama setahun mau ngapain?” Melainkan, “Kamu ingin menggunakan satu tahun ini untuk mencari tahu apa tentang dirimu sendiri?”
Sementara untuk remaja yang sedang ada di fase ini, tidak apa-apa kalau sekarang belum punya jawaban yang sempurna. Tidak semua orang harus langsung tahu akan menjadi apa setelah lulus SMA.
Yang penting, jangan biarkan satu tahun berlalu tanpa arah sama sekali. Gunakan waktu ini untuk mencoba, belajar, bertemu orang baru, mengenal kemampuan sendiri, dan perlahan mencari tahu kehidupan seperti apa yang ingin kamu bangun.
Karena kadang, kita memang perlu berhenti sebentar bukan karena tertinggal.
Tapi supaya ketika melangkah lagi, kita tahu mau ke mana.
Cover: Magnific
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS