
Anak laki-laki mulai pendiam dan tertutup? Kenali cara komunikasi dengan anak laki-laki agar ia tetap percaya, nyaman, dan mau bercerita.
Kalau Mommies dan Daddies punya anak laki-laki yang mulai memasuki usia pra remaja atau remaja, biasanya pertanyaan kita akan dikasih jawaban-jawaban singkat. Padahal dulu, mereka bisa bercerita panjang lebar tentang teman, sekolah, atau game favoritnya.
Kabar baiknya, menurut para ahli, anak laki-laki yang mulai tertutup belum tentu sedang menjauh. Masa remaja memang merupakan fase ketika mereka belajar menjadi lebih mandiri dan membangun identitas diri. Yang paling penting bukan memaksa mereka banyak bicara, melainkan menjaga agar pintu komunikasi tetap terbuka.

Remaja laki-laki sering kali diajarkan baik secara langsung maupun tidak untuk terlihat kuat dan tidak terlalu menunjukkan emosi. Di saat yang sama, mereka juga sedang belajar menyelesaikan masalah sendiri.
Akibatnya, banyak anak laki-laki memilih diam dibanding menceritakan apa yang mereka rasakan kepada orang tua. Diam bukan selalu berarti tidak percaya, tetapi sering kali karena mereka belum tahu bagaimana mengungkapkan perasaannya.
BACA JUGA: Anak Laki-laki juga Bisa Menjadi Korban KDRT! Ini Tips Menghindarinya

Pertanyaan seperti:
“Tadi di sekolah gimana?”
“Ada PR?”
“Nilainya berapa?”
sering kali terdengar seperti wawancara. Cobalah menggantinya dengan percakapan yang lebih santai. Misalnya:
“Mama lihat kamu capek hari ini.”
“Kelihatannya latihan tadi lumayan berat ya.”
Observasi sederhana membuat anak merasa diperhatikan tanpa merasa dihakimi.
Tidak semua anak nyaman berbicara sambil saling menatap. Banyak remaja laki-laki justru lebih mudah terbuka saat:
Aktivitas berdampingan sering membuat percakapan mengalir lebih alami.
BACA JUGA: Cara Menjelaskan Mimpi Basah ke Anak-anak Laki-laki
Godaan terbesar orang tua adalah langsung memberi solusi. Padahal kadang anak hanya ingin didengar. Sebelum memberi nasihat, coba katakan:
“Terus gimana?”
“Menurut kamu itu gimana rasanya?”
“Mama ngerti kenapa kamu kesal.”
Validasi emosi membantu anak merasa aman untuk kembali bercerita.
Kalau setiap anak mulai cerita lalu berakhir dengan nasihat panjang, lama-lama ia akan memilih diam. Tidak semua percakapan harus menghasilkan solusi. Kadang cukup menjadi pendengar.

Menurut Child Mind Institute, remaja akan lebih terbuka ketika mereka merasa dipercaya.
Berikan tanggung jawab sesuai usianya, misalnya mengatur jadwal belajar, mengurus perlengkapan sekolah, atau mengambil keputusan kecil. Saat merasa dipercaya, anak juga lebih mudah mempercayai orang tuanya.
Meski terlihat sibuk dengan teman-temannya, anak laki-laki tetap membutuhkan kehadiran orang tua.
Tidak harus selalu membahas masalah.
Bermain game bersama, menonton pertandingan olahraga, memasak, atau makan di tempat favorit bisa menjadi “jembatan” agar komunikasi tetap hidup.
BACA JUGA: Rekomendasi Buku Bacaan untuk Anak Laki-laki
Menjadi lebih pendiam adalah hal yang wajar pada remaja. Namun, orang tua perlu lebih waspada bila anak:
Jika perubahan berlangsung terus-menerus, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog atau profesional kesehatan mental.
Kenneth R. Ginsburg, MD, dari American Academy of Pediatrics, menekankan bahwa saat berbicara dengan remaja, yang terpenting bukan sekadar apa yang dikatakan orang tua, tetapi bagaimana orang tua mau mendengarkan tanpa langsung menghakimi. Sikap ini membuat anak merasa dihargai dan lebih nyaman membuka diri.
BACA JUGA: Cara Melatih Rasa Percaya Diri pada Anak Laki-laki
Anak laki-laki mungkin tidak selalu punya banyak cerita untuk dibagikan. Namun, bukan berarti mereka tidak membutuhkan orang tua.
Mungkin hari ini jawabannya hanya satu atau dua kata. Tidak apa-apa. Yang penting, ia tahu bahwa ketika suatu hari ingin bercerita, Mama dan Papa tetap ada untuk mendengarkan.
Sebab, komunikasi yang dekat dengan anak bukan dibangun dari seberapa banyak pertanyaan yang kita ajukan, tetapi dari rasa aman yang kita ciptakan setiap hari.