Friendship Burnout: Alasan Orang Dewasa Mulai Kehilangan Teman Tanpa Disadari

Self

Dhevita Wulandari・in 6 hours

detail-thumb

Friendship burnout membuat banyak orang dewasa kehilangan teman tanpa disadari. Kenali penyebabnya, tanda-tandanya, dan cara menjaga hubungan pertemanan tetap sehat di tengah kesibukan.

Banyak orang dewasa mulai merasa hubungan pertemanan mereka semakin renggang. Bukan karena bertengkar, tetapi karena hidup berjalan terlalu cepat. Kesibukan pekerjaan, mengurus anak, merawat orang tua, hingga kelelahan mental membuat pertemanan perlahan-lahan berada di urutan paling bawah dalam daftar prioritas.

Fenomena ini bahkan mulai dikenal dengan istilah friendship burnout atau kelelahan dalam mempertahankan hubungan pertemanan.

Dalam beberapa tahun terakhir, para psikolog juga menyebutnya sebagai bagian dari friendship recession, yaitu kondisi ketika orang dewasa memiliki lebih sedikit teman dekat dan semakin jarang menghabiskan waktu bersama mereka.

Friendship Burnout: Alasan Orang Dewasa Mulai Kehilangan Teman Tanpa Disadari

Apa Itu Friendship Burnout?

Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa kelelahan secara emosional untuk menjaga hubungan pertemanan, meskipun sebenarnya masih menyayangi teman-temannya.

Misalnya:

  • Chat belum dibalas berminggu-minggu.
  • Selalu menunda ajakan bertemu.
  • Merasa setiap pertemuan membutuhkan energi yang besar.
  • Mulai menjauh bukan karena marah, melainkan karena terlalu lelah.

Sering kali kondisi ini muncul bersamaan dengan burnout di pekerjaan, tekanan menjadi orang tua, atau tuntutan hidup yang terus bertambah.

Baca juga: Kenapa Perempuan Sering Menunda Membalas chat? Ini Penjelasan Psikolog

Kenapa Orang Dewasa Makin Kehilangan Teman?

Foto: Mommies Daily

1. Semua Orang Sama-Sama Sibuk

Saat sekolah atau kuliah, bertemu teman terjadi hampir setiap hari. Namun, setelah bekerja, menikah, atau memiliki anak, jadwal setiap orang berbeda. Mencari waktu yang sama untuk sekadar makan siang saja bisa menjadi tantangan besar. Lama-kelamaan, komunikasi menjadi semakin jarang.

2. Energi Habis untuk Keluarga dan Pekerjaan

Banyak orang menganggap pertemanan bisa “menunggu”. Setelah seharian bekerja lalu pulang mengurus keluarga, energi sosial sudah habis. Akibatnya, membalas pesan teman pun terasa seperti pekerjaan tambahan.

3. Pertemanan Tidak Lagi Terjadi Secara Alami

Saat sekolah, teman datang dengan sendirinya. Saat dewasa, kita harus secara sengaja menjaga hubungan itu. Jika tidak ada usaha dari kedua belah pihak, hubungan perlahan memudar.

4. Media Sosial Memberi Ilusi Kedekatan

Melihat Instagram Story teman setiap hari membuat kita merasa masih dekat. Padahal, mengetahui kabar seseorang tidak sama dengan benar-benar berbicara dengannya. Interaksi digital tidak selalu menggantikan kualitas hubungan yang terbangun lewat percakapan nyata.

5. Prioritas Hidup Berubah

Ada teman yang fokus membangun karier. Ada yang sedang mengurus bayi. Ada pula yang merawat orang tua atau pindah ke kota lain. Perbedaan fase kehidupan sering membuat frekuensi bertemu menurun tanpa ada konflik apa pun.

Baca juga: Pertemanan Berubah Setelah Menikah dan Punya Anak, Ini Alasan Menurut Pakar

Apakah Normal Kehilangan Teman Saat Dewasa?

Jawabannya, ya.

Hubungan pertemanan memang bisa berubah seiring bertambahnya usia. Yang perlu diperhatikan bukan jumlah teman, melainkan apakah kita masih memiliki hubungan yang membuat kita merasa didengar, diterima, dan didukung.

Baca juga: 7 Kelas Hobi untuk Usia 40 Tahun yang Seru dan Produktif, Saatnya Punya Waktu untuk Diri Sendiri

Foto: Mommies Daily

Tanda-Tanda Kamu Mengalami Friendship Burnout

  • Merasa lelah setiap kali harus membalas chat.
  • Selalu membatalkan rencana untuk bertemu.
  • Merasa bersalah karena sulit menjaga komunikasi.
  • Merasa kesepian meski memiliki banyak teman di media sosial.
  • Tidak tahu harus menghubungi siapa ketika sedang mengalami masalah.

Baca juga: 100 Ide Time untuk Ibu Biar Nggak Gampang Burnout

Cara Memperbaiki Hubungan Pertemanan Tanpa Harus Memulai dari Nol

Foto: Mommies Daily

1. Mulai dengan Satu Pesan Sederhana

Tidak perlu meminta maaf panjang lebar karena lama menghilang. Sapaan singkat seperti, “Apa kabar?” sudah cukup membuka kembali komunikasi.

2. Turunkan Ekspektasi

Tidak semua teman harus bertemu setiap minggu. Hubungan yang sehat bisa tetap hangat meski jarang bertemu.

3. Buat Rutinitas Kecil

Misalnya, makan siang bersama sebulan sekali, video call setiap beberapa minggu, atau berjalan pagi bersama.

4. Prioritaskan Kualitas Dibanding Kuantitas

Memiliki dua atau tiga teman yang benar-benar bisa diandalkan sering kali lebih berharga daripada puluhan teman yang hanya saling menyukai unggahan di media sosial.

Baca juga: Kapan Harus Medical Check-up? Ini Daftar Pemeriksaan Wajib untuk Usia 30-40 Tahun

Cover: Elina Fairytale/Pexels