Sorry, we couldn't find any article matching ''

7 Pelajaran Parenting dari Orang Tua Erling Haaland yang Bisa Ditiru
Siapa orang tua Erling Haaland? Ternyata di balik kesuksesan striker Manchester City ini ada pola asuh yang penuh dukungan. Ini pelajaran parenting yang bisa Mommies tiru.
Banyak anak bermimpi menjadi pesepak bola hebat. Namun, hanya sedikit yang akhirnya mampu menembus level dunia seperti Erling Haaland.
Striker Manchester City asal Norwegia ini dikenal karena kecepatan, kekuatan fisik, dan ketajamannya mencetak gol. Di usia yang masih muda, ia sudah memecahkan berbagai rekor di Liga Champions, Premier League, hingga menjadi salah satu pemain dengan bayaran tertinggi di dunia.
Melihat pencapaiannya, mungkin banyak orang bertanya-tanya, apa sebenarnya yang dilakukan orang tua Erling Haaland saat membesarkannya?
Apakah sejak kecil ia dipaksa berlatih setiap hari? Apakah karena ayahnya mantan pesepak bola profesional, Haaland dituntut mengikuti jejak sang ayah?
Jawabannya ternyata tidak.
Di balik kesuksesan Erling Haaland, ada pola asuh yang justru lebih banyak berisi dukungan, kepercayaan, dan kebebasan bagi anak untuk berkembang sesuai potensinya.
Bagi Mommies yang sedang mendampingi anak menemukan minat dan bakatnya, kisah keluarga Haaland menjadi pengingat bahwa prestasi besar sering kali dimulai dari rumah yang membuat anak merasa aman untuk bertumbuh.
Siapa Orang Tua Erling Haaland? Mengenal Alf-Inge Haaland dan Gry Marita Braut

Foto: Ice Cric, Town & Country Magazine
Sebelum membahas pelajaran parenting yang bisa dipetik, kenalan dulu dengan keluarga Erling Haaland.
Erling Braut Haaland lahir pada 21 Juli 2000 di Leeds, Inggris, saat sang ayah bermain untuk klub Leeds United.
Ayahnya, Alf-Inge Haaland, adalah mantan pesepak bola profesional yang pernah bermain untuk Nottingham Forest, Leeds United, dan Manchester City. Ia dikenal sebagai gelandang sekaligus bek yang tangguh sebelum kariernya berakhir lebih cepat akibat cedera lutut.
Sementara itu, ibunya, Gry Marita Braut, merupakan mantan atlet heptathlon Norwegia. Meski tidak sepopuler sang suami, Gry dikenal memiliki pengaruh besar dalam kehidupan Erling, terutama dalam membangun kebiasaan hidup sehat dan disiplin sejak kecil.
Setelah Alf-Inge pensiun dari sepak bola, keluarga mereka kembali ke Bryne, Norwegia. Di kota kecil inilah Haaland tumbuh dan mulai mengenal berbagai olahraga, bukan hanya sepak bola.
Menariknya, meski berasal dari keluarga atlet, kedua orang tuanya tidak pernah secara terbuka mengatakan bahwa Erling harus menjadi pesepak bola profesional.
Dalam wawancara bersama ESPN, Alf-Inge Haaland pernah mengatakan,
“The most important thing was that he enjoyed playing football.”
Baginya, hal terpenting bukan seberapa cepat anak menjadi juara, tetapi apakah ia menikmati proses bermain.
Pendekatan inilah yang kemudian banyak dipuji para pemerhati perkembangan anak.
BACA JUGA: 9 Pelajaran Parenting dari Meteor Garden: Privilege, Bullying, dan Empati di Mata Mommies
7 Pelajaran Parenting dari Orang Tua Erling Haaland

Foto: Instagram/erling
Di balik setiap gol yang dicetak Haaland, ada kebiasaan dan pola asuh yang dibangun sejak kecil. Berikut beberapa pelajaran yang bisa Mommies petik.
1. Mendukung Minat Anak, Bukan Memaksakan Ambisi Orang Tua
Banyak orang mengira Erling Haaland sejak kecil hanya hidup untuk sepak bola.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Saat masih anak-anak, Haaland mencoba berbagai jenis olahraga. Salah satu fakta yang cukup mengejutkan, ia bahkan pernah memegang rekor nasional Norwegia untuk lompat jauh kategori usia lima tahun dengan lompatan sejauh 1,63 meter.
Artinya, orang tuanya tidak membatasi eksplorasi hanya karena sang ayah adalah mantan pesepak bola profesional.
Ketika akhirnya Haaland memilih sepak bola, keputusan tersebut datang dari dirinya sendiri.
Dalam wawancara bersama BBC Sport, Alf-Inge Haaland menjelaskan bahwa motivasi terbesar putranya memang selalu berasal dari dalam dirinya.
“He has always loved football. The motivation has come from himself.”
Alih-alih mendorong Erling mengejar mimpi sang ayah, Alf-Inge memilih mendukung apa yang benar-benar disukai anaknya.
Psikolog Carol Dweck, penulis Mindset, juga menjelaskan bahwa anak yang memiliki motivasi intrinsik—melakukan sesuatu karena memang menyukainya—cenderung lebih bertahan menghadapi tantangan dibandingkan anak yang hanya mengejar pujian atau memenuhi harapan orang tua.
Pelajaran pentingnya, tugas orang tua bukan menentukan jalan hidup anak. Tugas kita adalah memberi ruang agar mereka menemukan minatnya sendiri, lalu mendampingi prosesnya.
2. Orang Tua Menjadi Contoh, Bukan Sekadar Pemberi Nasihat
Sulit meminta anak mencintai olahraga jika orang tua sendiri tidak pernah bergerak.
Di rumah keluarga Haaland, aktivitas fisik bukanlah aturan yang dipaksakan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ayahnya terbiasa berlatih sebagai pesepak bola profesional. Sang ibu juga memiliki latar belakang sebagai atlet heptathlon. Lingkungan inilah yang membuat Erling tumbuh dengan anggapan bahwa berolahraga adalah sesuatu yang menyenangkan, bukan kewajiban.
Menariknya, Haaland beberapa kali mengaku bahwa sosok yang paling disiplin di rumah justru ibunya.
Dalam wawancara dengan media Norwegia TV2, ia bahkan bercanda,
“She is the boss in my life.”
Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa besar pengaruh Gry Marita Braut dalam membentuk kebiasaan hidup putranya.
Bagi anak, contoh nyata jauh lebih berpengaruh dibandingkan nasihat panjang.
Kalau Mommies ingin anak gemar membaca, rajin bergerak, atau terbiasa hidup sehat, langkah pertama bukan menyuruh mereka melakukannya. Justru orang tualah yang perlu lebih dulu menunjukkan kebiasaan tersebut setiap hari.
Anak belajar jauh lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar.
3. Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil
Kalau melihat Haaland sekarang, mudah sekali mengira bahwa kesuksesannya datang begitu saja.
Padahal, perjalanan kariernya penuh proses.
Ia memulai karier profesional bersama Bryne FK, klub kecil di divisi bawah Norwegia. Dari sana ia pindah ke Molde FK, kemudian ke RB Salzburg, Borussia Dortmund, hingga akhirnya menjadi bintang utama di Manchester City.
Di setiap tahap, ia terus berkembang sedikit demi sedikit.
Mantan pelatih Molde, Ole Gunnar Solskjaer, bahkan pernah mengatakan kepada The Players’ Tribune bahwa Haaland sudah menunjukkan etos kerja luar biasa sejak remaja. Ia selalu ingin belajar lebih banyak, memperbaiki diri, dan tidak cepat puas.
Perjalanan ini menunjukkan bahwa tidak ada kesuksesan yang dibangun dalam semalam.
Carol Dweck menjelaskan bahwa anak yang diapresiasi karena usaha dan ketekunannya akan memiliki growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan dan proses belajar.
Karena itu, ketika anak berhasil, cobalah tidak hanya memuji hasil akhirnya.
Daripada berkata,
“Hebat, nilainya 100.”
Mommies bisa mengatakan,
“Mama bangga karena kamu sudah berusaha keras dan tidak menyerah.”
Kalimat sederhana seperti ini membantu anak memahami bahwa usaha adalah sesuatu yang layak dihargai, bahkan ketika hasilnya belum sempurna.
4. Disiplin Dibangun dari Rutinitas Sehari-hari

Foto: Instagram/erling
Kalau mengikuti berbagai wawancara Haaland, Mommies akan menemukan satu pola yang selalu ia ulang: tidur, makan, latihan, dan pemulihan tubuh.
Dalam podcast The Diary of a CEO, Haaland bercerita bahwa ia sangat menjaga kualitas tidurnya karena percaya tubuh berkembang ketika mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
Ia juga dikenal menjalani rutinitas makan yang disiplin, latihan teratur, hingga memperhatikan proses recovery setelah pertandingan.
Kebiasaan seperti ini tentu tidak muncul tiba-tiba saat dewasa.
Disiplin biasanya dibangun dari rutinitas kecil yang dilakukan terus-menerus sejak anak.
Pelajaran parentingnya sederhana.
Disiplin tidak selalu berarti aturan yang keras.
Justru rutinitas kecil yang konsisten, seperti tidur tepat waktu, membereskan mainan sendiri, atau menyelesaikan tanggung jawab sebelum bermain, akan jauh lebih mudah menjadi kebiasaan jangka panjang.
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), rutinitas harian yang konsisten membantu anak merasa lebih aman, meningkatkan kemampuan mengatur diri, serta mendukung perkembangan sosial dan emosionalnya.
5. Percaya pada Anak, tetapi Tetap Menjadi Tempat Pulang
Saat masih remaja, Haaland meninggalkan rumah untuk mengembangkan karier sepak bolanya.
Ia bermain di Molde, kemudian pindah ke Austria saat bergabung dengan RB Salzburg. Setelah itu, kariernya terus berkembang hingga Jerman dan Inggris.
Bagi banyak orang tua, melepas anak merantau di usia muda tentu bukan keputusan mudah.
Namun keluarga Haaland memilih memberikan kepercayaan sambil tetap menjadi tempat pulang.
Dalam podcast The Rest Is Football, Haaland mengatakan bahwa kedua orang tuanya selalu mendukung apa pun langkah yang ia pilih.
“They are proud. That’s what I try to do.”
Kalimat singkat ini menggambarkan hubungan yang hangat antara Haaland dan keluarganya.
Kepercayaan membuat anak berani mencoba.
Namun yang membuat mereka benar-benar percaya diri adalah mengetahui bahwa selalu ada rumah untuk kembali ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Itulah mengapa, ketika anak mulai ingin mencoba hal baru, ikut lomba, mengikuti ekstrakurikuler, bahkan suatu hari nanti merantau, peran orang tua bukan selalu membuka jalan, tetapi memastikan mereka tahu bahwa dukungan keluarga tidak pernah berubah.
6. Prestasi Tidak Boleh Mengorbankan Kesehatan Mental
Di balik fisiknya yang kuat dan performanya yang konsisten, Haaland dikenal sebagai atlet yang sangat memperhatikan keseimbangan hidup.
Ia berkali-kali menekankan bahwa latihan keras saja tidak cukup. Pemulihan tubuh, tidur yang berkualitas, hingga menjaga kondisi mental merupakan bagian penting dari performanya di lapangan.
Dalam wawancara bersama Men’s Health UK, Haaland mengatakan bahwa tidur merupakan salah satu “senjata” terbesarnya untuk menjaga performa.
“Sleep is maybe the most important thing in the world.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu dibangun dengan bekerja tanpa henti. Justru kemampuan mengenali kapan tubuh perlu beristirahat menjadi bagian dari proses mencapai performa terbaik.
Pelajaran ini juga relevan untuk anak-anak.
Tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar memenuhi jadwal anak dengan sekolah, les, kursus, hingga berbagai kegiatan tambahan. Tujuannya tentu baik, tetapi bila anak hampir tidak memiliki waktu bermain atau beristirahat, risiko kelelahan mental pun meningkat.
American Academy of Pediatrics (AAP) menegaskan bahwa kesejahteraan emosional memiliki peran penting terhadap kemampuan belajar, hubungan sosial, hingga perkembangan anak secara keseluruhan. Anak membutuhkan waktu untuk bermain, bergerak bebas, tidur yang cukup, dan menikmati masa kecilnya.
Karena itu, sesekali Mommies juga perlu bertanya pada diri sendiri:
Apakah jadwal anak saat ini membuatnya berkembang, atau justru membuatnya terus merasa lelah?
7. Tetap Rendah Hati Meski Sudah Berprestasi

Foto: Instagram/erling
Meski kini menjadi salah satu striker terbaik dunia dengan berbagai rekor gol, Haaland tetap dikenal sebagai sosok yang dekat dengan keluarganya.
Ia masih sering membagikan momen bersama kedua orang tuanya dalam berbagai kesempatan penting. Bahkan, ia memilih menggunakan nama lengkap Erling Braut Haaland sebagai bentuk penghormatan terhadap keluarga dari pihak ibunya.
Dalam berbagai wawancara, Alf-Inge Haaland juga berulang kali mengingatkan bahwa karier sepak bola hanyalah satu bagian dari kehidupan. Nilai-nilai seperti rasa hormat, kerja keras, dan menikmati hidup jauh lebih penting dibanding sekadar menjadi terkenal.
Hal ini terlihat dari bagaimana Haaland tetap menjalani kehidupannya dengan relatif sederhana di luar lapangan. Ia lebih sering membicarakan latihan, keluarga, atau kesehariannya dibanding membangun citra sebagai seorang selebritas.
Bagi Mommies, ini menjadi pengingat bahwa tujuan parenting bukan hanya membantu anak meraih prestasi, tetapi juga membesarkan pribadi yang tetap rendah hati ketika berhasil.
Karena pada akhirnya, karakter akan bertahan jauh lebih lama dibandingkan piala atau medali apa pun.
Kesuksesan Anak Dimulai dari Rumah
Tidak semua anak akan tumbuh menjadi Erling Haaland.
Tidak semua anak juga bercita-cita menjadi atlet profesional.
Namun, kisah keluarga Haaland menunjukkan satu hal yang berlaku di mana pun: anak-anak berkembang lebih baik ketika mereka merasa didukung, dipercaya, dan dicintai tanpa syarat.
Yang membuat Haaland menarik bukan hanya jumlah gol yang ia cetak, tetapi juga bagaimana ia dibesarkan.
Orang tuanya tidak memaksa.
Tidak menjadikan prestasi sebagai ukuran kasih sayang.
Mereka hadir, memberi contoh, mempercayai proses, dan membiarkan motivasi tumbuh dari dalam diri anak.

Foto: Instagram/isabellaa
Kini, Haaland pun memasuki babak kehidupan yang baru. Ia menjalin hubungan dengan Isabel Haugseng Johansen, teman masa kecilnya yang juga berasal dari Norwegia. Pada akhir 2024, pasangan ini dikaruniai anak pertama.
Meski sangat menjaga privasi keluarganya, Haaland beberapa kali menunjukkan bahwa menjadi seorang ayah merupakan pengalaman yang sangat berarti baginya. Dalam wawancara usai kelahiran anaknya, ia mengaku menikmati peran barunya sekaligus merasa semakin termotivasi, baik sebagai pribadi maupun sebagai pesepak bola.
Menariknya, banyak penggemar melihat bagaimana nilai-nilai yang ditanamkan orang tuanya kini perlahan ia bawa ke keluarganya sendiri. Dukungan, kehangatan, dan kedekatan keluarga yang ia rasakan sejak kecil seolah menjadi bekal ketika kini ia menjalani peran sebagai pasangan dan ayah muda.
Bagi Mommies, mungkin inilah pelajaran parenting terbesar dari keluarga Haaland.
Anak memang tidak selalu mengingat semua nasihat yang kita berikan. Tetapi mereka akan mengingat bagaimana rumah membuat mereka merasa aman, didukung, dan dipercaya.
Pada akhirnya, tujuan parenting bukan menciptakan anak yang selalu menjadi juara. Yang jauh lebih penting adalah membesarkan anak yang percaya pada dirinya sendiri, berani mencoba, mampu bangkit saat gagal, serta kelak tumbuh menjadi orang dewasa yang juga mampu membangun keluarga yang hangat.
Dan kalau suatu hari nanti mereka berhasil meraih impiannya, semoga mereka tetap ingat ke mana tempat pulang mereka berada, persis seperti yang masih ditunjukkan Erling Haaland hingga hari ini.
BACA JUGA: 5 Pelajaran Parenting dari Drakor When Life Gives You Tangerines
Cover: Instagram/erling
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS