Sorry, we couldn't find any article matching ''

Pelajaran Relationship dan Parenting dari 'Can This Love Be Translated?', Drakor Netflix yang Bikin Refleksi Diri
Drakor Netflix ‘Can This Love Be Translated?’ menghadirkan pelajaran relationship dan parenting tentang trauma masa kecil hingga komunikasi perasaan.
Tidak semua drama romantis hanya bicara soal cinta, contohnya drama ‘Can This Love Be Translated?’. Drakor Netflix yang dibintangi Kim Seon Ho dan Go Youn Jung ini justru menghadirkan cerita tentang luka lama yang terbawa ke hubungan dewasa, cara orang tua mencintai anaknya, serta bagaimana komunikasi yang tertunda bisa membentuk masa depan seseorang.

Foto: X/Neflix KR
Baru tayang Jumat, 16 Januari 2026 lalu, ‘Can This Love Be Translated?’ sukses jadi tontonan nomor satu Netflix di beberapa negara, termasuk Indonesia. Drama Korea ini berkisah tentang Cha Mu Hee (Go Young Jung), seorang aktris yang tengah naik daun yang bertemu dengan Joo Ho jin (Kim Seon Ho), penerjemah bahasa. Mungkin membaca sinopsis awalnya membuat drama ini terlihat sebagai cerita romantis biasa. Namun ketika ditonton, Mommies akan dibuat tercengang dengan kisahnya yang ternyata cukup kompleks.
Setelah selesai menonton 12 episodenya, ternyata ada banyak pesan dan pelajaran yang bisa dipetik untuk hubungan dengan pasangan dan juga pengasuhan anak. Apa saja, ya?
BACA JUGA: Pelajaran Relationship dari Dracin Shine On Me yang Bisa Diajarkan ke Anak
Pelajaran Relationship dan Parenting dari ‘Can This Love Be Translated?’
Lewat karakter-karakternya, serial ini terasa dekat dengan realitas banyak keluarga dan pasangan. Berikut pelajaran relationship dan parenting yang bisa dipetik. Peringatan, artikel ini mengandung spoiler, ya!
1. Hubungan Lama yang Tidak Selesai Bisa Mengganggu Masa Depan

Foto: X/Netflix KR
Cha Mu Hee pergi ke Jepang dengan tujuan bertemu Kim Yu Jin, kekasihnya yang menghilang. Diketahui Kim Yu Jin mengakhiri hubungannya dengan Mu Hee tanpa penjelasan. Tidak ada perpisahan yang jelas, hanya kepergian yang meninggalkan tanda tanya. Meski sakit, setelah mengetahui kenyataannya, Mu Hee pun akhirnya move on dan bisa membuka diri pada cinta baru.
Hal berbeda terjadi juga pada Ho Jin. Dia menyukai seorang perempuan secara diam-diam, yang ternyata adalah kekasih kakak tirinya. Ho Jin pun memendam perasaan itu selama bertahun-tahun sehingga tidak membuka diri dan ragu melangkah mengejar cinta baru yang datang sehingga terjadi kesalahpahaman. Untungnya di akhir dia berhasil menutup kisah cinta sepihaknya itu dan membuka lembaran baru.
Pelajarannya sederhana tapi penting adalah hubungan yang tidak ditutup dengan baik sering kali meninggalkan beban emosional. Bahkan ketika seseorang terlihat baik-baik saja, perasaan yang tertinggal bisa memengaruhi hubungan selanjutnya.
2. Trauma Masa Kecil Tidak Hilang, Hanya Berubah Bentuk

Foto: X/Netflix KR
Cha Mu Hee tumbuh dengan luka emosional yang membuatnya menciptakan persona “Dorami” demi bertahan. Sejak kecil dia selalu menyesuaikan diri agar diterima, meski harus menekan perasaannya sendiri.
Sebagai orang tua, ini jadi pengingat bahwa trauma anak tidak selalu terlihat secara kasat mata. Anak yang tampak kuat atau “baik-baik saja” bisa saja menyimpan rasa takut, rasa tidak aman, dan keyakinan bahwa dirinya sulit dicintai, yang baru muncul ketika ia dewasa.
3. Naluri Orang Tua untuk Membela Anak Sangat Kuat
Adegan ibu Ho Jin yang membela anaknya hingga bersikap agresif menunjukkan naluri protektif orang tua yang sangat manusiawi. Saat anak terluka, orang tua sering bereaksi spontan demi melindungi, bahkan ketika yang menyerangnya adalah calon suami sendiri.
Namun, serial ini juga mengingatkan bahwa membela anak perlu diiringi dengan kebijaksanaan. Perlindungan tanpa refleksi bisa memperpanjang konflik dan justru meninggalkan luka baru dalam hubungan keluarga.
4. Jangan Berasumsi Orang Lain Bisa Membaca Perasaan Kita

Foto: X/Netflix KR
Drama ini bukan hanya tentang ‘bahasa’ tetapi juga membahas bagaimana komunikasi seseorang dalam menyapaikan isi hatinya. Mu Hee memilih terang-terangan mengakui perasaan cintanya pada Hojin. Meski sering melakukan hal yang bisa bikin Mommies ikutan malu pas nonton, yang kemudian ditolak oleh Ho Jin, Mu Hee menyampaikan isi hatinya dengan jelas.
Sebaliknya, Ho Jin justru memendam perasaan cintanya pada Ji Sun karena takut merusak hubungan kakak tirinya serta mengganggu ketenangan hidupnya. Di akhir cerita, Ji Sun ternyata baru tahu kalau Ho Jin menyukai dirinya, dan ternyata dulu Ji Sun juga suka sama Ho Jin. Sebel, kan? Makanya ngomong, dong!
Drama ini menegaskan bahwa orang lain tidak bisa membaca isi hati kita. Mengungkapkan perasaan itu adalah bentuk tanggung jawab emosional, bukan sesuatu hal yang egois.
5. Menikah Harus Berangkat dari Keyakinan, Bukan Tekanan

Foto: X/Netflix KR
Keputusan Ji Sun membatalkan pernikahannya terjadi karena menyadari bahwa Jin Suk, kekasihnya, menikah demi menghindari kerumitan hidup pasca Ji Sun terus mengajaknya menikah. Pernikahan yang berangkat dari alasan praktis sering kali rapuh secara emosional.
Serial ini mengingatkan bahwa menikah seharusnya lahir dari keyakinan. Menikah tanpa keyakinan justru malah bisa melahirkan masalah baru, bukan ketenangan hidup. Pernikahan yang sehat itu berangkat dari kesadaran, bukan sekadar tuntutan atau rasa takut tertinggal, ya.
6. Lingkungan Membentuk Cara Anak Memandang Dirinya

Foto: X/Netflix KR
Mu Hee tumbuh bersama keluarga pamannya dengan terus berpura-pura agar diterima. Pengalaman ini membentuknya menjadi pribadi yang merasa tidak pantas dicintai, takut ditinggalkan, dan penuh rasa insecure.
Bagi Mommies, ini menjadi refleksi penting bahwa rumah adalah tempat pertama anak belajar tentang cinta dan penerimaan. Lingkungan yang tidak aman secara emosional bisa membekas hingga anak dewasa. Jadi, buatlah rumah menjadi tempat anak belajar tentang cinta dan tempatnya merasa selalu diterima.
7. Kesalahpahaman yang Dibiarkan Bisa Merenggangkan Keluarga
Konflik antara Ho Jin dan ibunya berlangsung hingga 12 tahun tanpa penyelesaian. Tidak ada dialog yang benar-benar menyembuhkan, hanya jarak dan kemarahan yang dipendam. Dan, ternyata ada kesalahpahaman juga di antara ibu dan anak tersebut. Sampai akhirnya mereka ‘tak sengaja’ dipertemukan dan mengurai benang masalah, kemudian saling meminta maaf. Hubungan keluarga itu pun punya akhir cerita yang indah.
Serial ini menunjukkan bahwa waktu tidak otomatis menyembuhkan luka keluarga. Justru komunikasi yang jujur dan keberanian untuk berdamai yang bisa menghentikan luka.
8. Setiap Orang Punya “Bahasa Emosional” yang Berbeda

Foto: X/Netflix KR
Mu Hee dan Hojin sama-sama terluka, tetapi mengekspresikannya dengan cara berbeda. Mu Hee tampak insecure dan takut ditinggalkan, sementara Ho Jin terlihat tenang tapi menyimpan luka cinta. Hubungan kedua pun di awal penuh kesalahpahaman. Namun dengan memperbaiki diri sendiri dan mau saling belajar ‘bahasa’ satu sama lain, mereka akhirnya bisa saling mengerti.
Relationship yang sehat bukan tentang siapa yang paling kuat, tetapi tentang kesediaan untuk saling menerjemahkan bahasa emosional satu sama lain, yang ternyata jadi suatu hal yang sering luput dalam hubungan dewasa.
BACA JUGA: 7 Anime yang Menemani dan Bikin Kangen Masa Kecil, selain Doraemon
Serial ‘Can This Love Be Translated?’ mengingatkan kita bahwa cinta tidak berdiri sendiri. Ia dibentuk oleh masa kecil, keluarga, dan cara seseorang belajar mengungkapkan perasaan. Bagi Mommies, serial ini bisa terasa relevan karena mengajak kita berkaca: bagaimana cara kita mencintai pasangan hari ini, dan bagaimana cara kita membesarkan anak agar kelak mampu mencintai dengan sehat.
Jadi, kalo belum nonton ‘Can This Love Be Translated?’ langsung aja maraton nanti malam atau di akhir pekan! Bisa ditonton di Netflix, ya!
Cover: Instagram/netflixid
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS