Perempuan Disekap Pacar Selama 3 Tahun hingga Kritis, Kenali 7 Red Flag dalam Hubungan yang Tak Boleh Diabaikan

Sex & Relationship

Dhevita Wulandari・in 6 hours

detail-thumb

Kasus perempuan yang diduga disekap pacarnya selama 3 tahun di Bandung menjadi pengingat penting untuk mengenali red flag dalam hubungan. Simak tanda-tandanya di sini. 

Mommies, beberapa hari terakhir publik dibuat terkejut oleh kabar seorang perempuan asal Bandung yang diduga disekap dan mengalami kekerasan oleh pacarnya selama hampir 3 tahun. Yang lebih menyedihkan, korban ditemukan dalam kondisi kritis dengan luka berat dan dilaporkan mengalami kebutaan permanen akibat penganiayaan yang dialaminya.

Kasus ini bukan hanya soal tindak kriminal. Ini juga menjadi pengingat bagi kita semua bahwa hubungan yang terlihat baik-baik saja dari luar ternyata bisa menyimpan kekerasan yang tidak terlihat.

Sebagai orang tua, pasangan, sahabat, atau bahkan individu yang sedang menjalin hubungan, penting bagi kita untuk memahami tanda-tanda red flag agar tidak terjebak dalam hubungan yang berbahaya.

BACA JUGA: 10 Penyebab Pasangan Bertahan dalam Pernikahan Tidak Bahagia

Kronologi Kasus Perempuan yang Diduga Disekap Pacarnya Selama 3 Tahun

Seorang perempuan berinisial YTR (29) diduga menjadi korban penyekapan dan penganiayaan oleh kekasihnya sendiri yang berinisial TH (30) selama hampir tiga tahun. Korban diduga disekap di wilayah Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Melansir dari Instagram @narasinewsroom, korban ditemukan dalam kondisi luka berat dan mengalami gangguan serius pada penglihatannya yang menyebabkan kebutaan permanen. Mulai dari mata kanan yang mengalami infeksi berat, mata kiri mengecil dan tidak dapat melihat, bibir atas hilang, hingga kaki dan tangan dipenuhi bekas bacokan serta luka lainnya.

Menurut keterangan keluarga, korban mulai menjalin hubungan dengan pelaku pada tahun 2023. Sejak saat itu, keluarga kehilangan kontak dengan korban hingga akhirnya ditemukan kembali pada Juni 2026. Pihak keluarga kemudian mendapat kabar bahwa korban dirawat di RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung pada 10 Juni 2026.

Hingga saat ini, polisi masih melakukan penyelidikan terkait motif pelaku.

Foto: Timur Weber/Pexels

Mengapa Korban Sulit Keluar dari Hubungan yang Berbahaya?

Mungkin banyak orang bertanya, “Kenapa korban tidak kabur?”, atau “Kenapa tidak lapor ke keluarga dan polisi?”

Faktanya, dalam hubungan yang penuh kekerasan, korban sering mengalami apa yang disebut sebagai coercive control atau kontrol yang sangat dominan dari pasangan. Pelaku bisa mengisolasi korban dari keluarga, mengontrol komunikasi, membatasi akses keuangan, hingga membuat korban merasa tidak punya pilihan selain bertahan.

Kondisi ini membuat korban perlahan kehilangan rasa percaya diri dan kemampuan untuk mencari pertolongan.

Karena itu, penting bagi kita untuk tidak menyalahkan korban. Fokus yang lebih penting adalah memahami bagaimana mencegah situasi seperti ini terjadi.

7 Red Flag dalam Hubungan yang Tidak Boleh Diabaikan

Mommies, berikut beberapa tanda bahaya yang perlu diwaspadai sejak awal hubungan:

1. Terlalu Mengontrol Kehidupan Pasangan

Pasangan selalu ingin tahu di mana, bersama siapa, bahkan meminta akses ke media sosial dan ponsel.

Awalnya mungkin terlihat sebagai bentuk perhatian. Namun, jika berlebihan, ini bisa menjadi tanda kontrol yang tidak sehat.

2. Menjauhkan dari Keluarga dan Teman

Pelaku kekerasan sering membuat pasangannya perlahan menjauh dari lingkungan terdekat.

Kalimat seperti, “Keluargamu nggak suka sama aku,” atau “Teman-temanmu memberi pengaruh buruk,” bisa menjadi cara manipulatif untuk mengisolasi korban.

3. Mudah Marah dan Meledak-ledak

Ledakan emosi yang tidak proporsional terhadap masalah kecil sering menjadi sinyal awal perilaku abusif.

4. Selalu Menyalahkan Orang Lain

Saat terjadi konflik, pasangan tidak pernah mengakui kesalahan dan selalu menjadikan orang lain sebagai kambing hitam.

5. Mengancam Saat Bertengkar

Ancaman, baik verbal maupun emosional, tidak boleh dianggap sepele. Misalnya, mengancam menyakiti diri sendiri, menyebarkan rahasia pribadi, atau mengintimidasi pasangan.

6. Membuat Takut Mengungkapkan Pendapat

Hubungan sehat seharusnya membuat kita merasa aman untuk berbicara. Jika Mommies terus-menerus takut membuat pasangan marah, ada yang perlu dievaluasi.

7. Pernah Melakukan Kekerasan Fisik Sekecil Apa Pun

Mendorong, menjambak, melempar barang, atau menampar tetap termasuk kekerasan. Tidak ada alasan yang membenarkan tindakan tersebut.

Perempuan Disekap Pacar Selama 3 Tahun hingga Kritis, Kenali 7 Red Flag dalam Hubungan yang Tak Boleh Diabaikan

Foto: Timur Weber/Pexels

Jika Menemui Pasangan Red Flag, Apa yang Harus Dilakukan?

Jangan menunggu sampai situasinya memburuk. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:

1. Percayai Insting

Jika ada sesuatu yang terasa tidak nyaman atau tidak aman, jangan abaikan perasaan tersebut.

2. Ceritakan kepada Orang Terdekat

Jangan memendam semuanya sendiri. Berbicaralah kepada keluarga, sahabat, atau orang yang Mommies percaya.

3. Simpan Bukti Jika Ada Kekerasan

Dokumentasikan pesan ancaman, foto luka, atau bukti lain yang mungkin diperlukan jika suatu saat harus melapor.

4. Tetapkan Batasan yang Jelas

Hubungan sehat dibangun dengan rasa hormat. Jika pasangan tidak menghormati batasan yang Mommies buat, itu perlu menjadi alarm serius.

5. Cari Bantuan Profesional

Psikolog, konselor, atau lembaga perlindungan perempuan dapat membantu menyusun langkah yang aman untuk keluar dari hubungan berbahaya.

6. Jangan Takut Mengakhiri Hubungan

Kadang keputusan paling mencintai diri sendiri adalah pergi dari hubungan yang tidak sehat.

BACA JUGA: 16 Tanda Toxic Family yang Sering Tidak Disadari dan Dampaknya pada Anak

Pelajaran untuk Kita Semua

Kasus perempuan yang diduga disekap dan dianiaya selama tiga tahun ini menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam hubungan tidak selalu dimulai dari tindakan besar. Sering kali semuanya berawal dari kontrol berlebihan, manipulasi, dan isolasi yang perlahan dianggap normal.

Mommies dan Daddies, hubungan yang sehat seharusnya membuat kita merasa aman, dihargai, dan berkembang. Jika sebuah hubungan justru membuat Mommies hidup dalam ketakutan, mungkin sudah waktunya untuk berhenti bertanya “bagaimana cara mempertahankannya” dan mulai bertanya “apakah hubungan ini masih layak dipertahankan?”

Karena cinta yang sehat tidak pernah membutuhkan rasa takut untuk bertahan.

Cover: Timur Weber/Pexels